Ke Kobrey Ku Kan Kembali

 Ke Kobrey Ku Kan Kembali

Anak Kobrey dalam puncak semangat belajar. (foto: dok pri))

Lazimnya, trauma membuat para korban menghindari pelaku kejahatan atau tempat kejadian perkara. Risna berbeda. Cintanya kepada Kobrey tak luntur apalagi lenyap kendati di tempat itu beberapa kali ia dihantam tragedi. Tanggung jawab sebagai peserta PSP3 tak bisa ia lepas begitu saja.

Hanya ada satu kata yang ia mau untuk Kobrey: maju! Karenanya, kendati trauma jiwa dan luka sobek di kening belum sepenuhnya pulih, keputusannya untuk kembali ke Papua bulat utuh setelah satu bulan ia menjalani perawatan di Ambon.

Tak ada dendam di hati Risna. Keluarga besarnya pun seratus persen mendukungnya. Risna ingat betul peristiwa cedera kening yang membuatnya terbaring sendirian di rumah sakit. Begitu mendengar kabar putrinya dirawat inap, sang mama Wa Ani Lapai, mendadak sontak terbang ke Manokwari.

Kepada sang bunda, Risna menceritakan petaka yang menimpanya. “Malam hari, sepulang dari Kampus STIE Mahesa Manokwari untuk menghadiri acara diskusi masalah lingkungan terutama sampah dan illegal logging serta mencari bantuan buku-buku bacaan, saya dicegat segerombolan anak muda. Seseorang menarik saya dan ia melakukan pelecehan seksual. Ia menyentuh area sensitif saya, payudara kanan. Pikiran saya, diam berarti diperkosa atau dibunuh. Karena itu saya melawan, spontan turun dari motor dan berteriak. Kami beradu argumen. Saya katakan bahwa perlakuan mereka sangat kasar. Lalu saya menyuruh tukang ojek untuk cepat-cepat keluar dari area ini menuju Pasir Putih tempat saya akan menginap.   Namun sebelum motor beranjak jauh, mereka kembali menghadang. Saya dan si tukang ojek turun, melampiaskan amarah. Seorang pemuda mendorong saya dan yang lain melempar saya dengan batu karang besar. Dalam kondisi berdarah, saya berteriak marah. Mereka kaget dan mendadak kabur. Lalu datang seorang ibu dan anaknya menolong saya. Akhirnya si tukang ojek membawa saya ke rumah sakit,” cerita Risna panjang lebar. Syok dan kaget Wa Ani Lapai melihat kondisi Risna dan cerita tragedi yang menimpa putrinya itu.

Setelah tiga hari menjalani perawatan medis, Risna memutuskan keluar dari rumah sakit dan bergerak ke Kobrey. Sebab, tim dari Astra dan wartawan Tempo akan menyambangi Kobrey untuk mengecek kegiatannya. Saat itu Risna sedang mengikuti kontes Satu Indonesia Award (SIA) yang dihelat Astra, perusahaan otomotif papan atas di tanah air.

“Mama kaget melihat kondisi Kobrey. Mama menyaksikan sendiri anak-anak di sini tidak mendapatkan asupan gizi, sanitasi buruk, tingkat kesehatan rendah,” tutur Risna menceritakan kesan sang bunda tentang kampung tempatnya mengabdi selama ini.   

Membuat kaum remaja dan orang tua menjadi gemar membaca. (foto: dok pri)

Pulang ke Ambon

Akhirnya, melihat dan menimbang luka serius yang diderita Risna, Wa Ani Lapai sepakat membawa Risna berobat ke Ambon. “Saya memutuskan berobat ke Ambon karena di Manokwari tidak ada dokter spesialis mata dan terutama spesialis syaraf,” papar Risna.

Di Ambon, luka di kening Risna dijahit ulang. Dokter yang merawat berpesan agar ia rutin kontrol. Pengawasan medis itu penting sebab, luka itu membuat Risna kesulitan menundukkan kepala. Indera penciumannya pun acapkali berdarah, dan pendarahan ini berlangsung sampai enam bulan ke depan.

Selama beberapa minggu berada di Ambon Risna sering menyaksikan sang mama bercerita kepada siapa saja yang ia temui tentang kondisi Kobrey yang menurutnya memprihatinkan. Sementara kakak dan kedua adiknya tak pernah berhenti memberikan dukungan kepadanya. Support orang-orang terdekatnya itu, bagi Risna ibarat jutaan liter bahan bakar yang mengobarkan semangatnya untuk kembali berdinamika bersama warga Kobrey.

Tak hanya dukungan keluarga. Gairah Risna berkobar-kobar bila ia teringat kejadian di areal sumur dekat tempatnya tinggal, sesaat sebelum meninggalkan Kobrey menuju Ambon. Ibu Kepala Kampung Yosina Saiba, Mama Jein penolongnya dari percobaan perkosaan di rumah YI, Mama Tresya dan alamarhumah mamanya Yosi berlinang air mata ketika mendengar kabar Risna akan pulang kampung. “Mereka kompak bertanya, mengapa saya harus pulang?” kata Risna.

Bagi para wanita Kobrey itu, Risna dianggap sebagai figur yang bisa memahami mereka. “Siapa lagi yang sudi membantu, orang lain tidak ada yang melihat kitong (kita) seperti kakak Risna,” ratap ibu-ibu itu seperti yang dituturkan Risna. Kala itu Risna tak kuasa menahan haru.  Air matanya pun terpancing barjatuhan. Risna turut merasakan kegelisahan mereka kehilangan dirinya sebab para wanita itu sedang berada di puncak semangat untuk belajar.

Seorang pelajar SLTA tengah menikmati bacaan di “Perpustakaan Jalanan” Risna. (foto: dok pri)

Kembali ke Kobrey

Seperti ketika Risna berangkat ke Papua yang pertama, cuaca cerah mengawal penerbangannya ke Manokwari untuk yang kedua kalinya. Rasa optimisnya mekar bak bunga mawar, tersemangati oleh dukungan keluarga tersayang. Ia siap melanjutkan semua program di lingkup PSP3 yang telah ia canangkan.

Setiba di Kobrey nanti ia berencana mengajak para wanita untuk menyuarakan sekeras-kerasnya akan pentingnya membangun ruang yang ramah bagi perempuan Papua. Dalam kesendirian menikmati perjalanan udara dan daratnya Risna selalu teringat pesan Wa Ani Lapai. “Mama menyemangati saya untuk terus memberikan pelayanan literasi dan mencari solusi untuk masalah perempuan di Kobrey,” tuturnya. 

Pesan sang mama itu seperti pas dengan permasalahan di Kobrey dan juga Papua pada umumnya. Di tempat ini Risna banyak mendapati kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), gizi buruk dan anak kelaparan, stunting dan juga perusakan hutan. “Semua itu mereka anggap biasa, padahal banyak pejabat di Papua tetapi mereka tak peduli pada kultur dan kondisi masyarakatnya,” tutur Risna.   

Sore hari Risna sampai di Kobrey. Beragam sikap para penyambutnya. Ada yang senang, beberapa kaget dan ada yang tampak biasa-biasa saja mendapati sosok Risna kembali. “Saat tiba, saya tidak menemui banyak orang karena bertepatan dengan waktu berladang mereka,” kata Risna.

Menggiring generasi muda Kobrey mengubah kebiasaan beraktivitas tanpa guna, menjadi aktivitas belajar. (foto: dokpri)

Berlanjut

Bulan Agustus 2016 masa purna bakti Risna sebagai peserta PSP3 tiba. Dua tahun sudah ia berdinamika bersama masyarakat Kobrey dengan segala suka dukanya. Sebenarnya, tak ada lagi kewajiban tercantel di pundaknya. Risna bebas mengayunkan kaki ke mana saja ia mau.  Tetapi langkahnya tertahan oleh suara lantang yang bersumber jauh di kedalaman lubuk hatinya, “Aku ingin tetap berada di Kobrey.”

“Ada kedekatan emosional yang sangat mengikat saya,” papar Risna memberikan alasan di balik keteguhan hatinya untuk tetap berdinamika di tengah pusaran kehidupan Suku Arfak. Ia sama sekali tak berniat mencari pekerjaan di tempat lain yang secara finansial lebih menjanjikan, yang jaraknya dengan keluarga tersayang berdekatan, yang mungkin saja memberikannya aneka fasilitas dan rupa-rupa kenikmatan.

Bagi Risna berpaling dari wajah-wajah wanita hebat yang tekun mengeja kata hanya akan membuatnya nelangsa, berjarak dari tangan-tangan perempuan muda menganyam noken pasti membuatnya rindu berat, berjauhan dari anak bangsa yang tengah mekar dan bersemangat belajar hanya akan membuatnya melamun berkepanjangan.

Persahabatannya dengan OAP di Kobrey tak sebatas senyum di bibir atau basa-basi di ranah kata-kata, tetapi telah mencapai level penyatuan hati nurani yang teramat sulit untuk dipisahkan. Para warga Kobrey pun seperti tak sudi melepaskan Risna. Isak tangis para ibu yang dulu menyaksikannya pulang kampung selepas perisiwa kening berdarah tak pernah bisa enyah dari memori otaknya.

Bukan hanya dinamika bersama OAP yang membuat Risna betah. Alam Kobrey membiusnya serasa berada di jagad nirwana. Mencuci di sungai, keluar masuk hutan mencari binatang buruan dan sayuran produk hutan, menghirup hawa segar Kobrey yang dipenuhi pepohonan membuatnya seperti tak henti berpesta bersama semesta.

Semua hal yang membuat hatinya mekar itu menghapus kisah duka yang pernah dialaminya. Risna pernah disyakprasangkai akan mengambil banyak hal dari Kobrey. Ini terjadi setelah ia mendapatkan penghargaan dari Astra pada ajang “Satu Indonesia Award” tahun 2015.  Padahal yang terjadi sebaliknya. Hadiah sebagai pemenang “Satu Indonesia Award” berupa uang tunai senilai Rp 60 juta ia gunakan untuk membiayai rupa-rupa kegiatan belajar warga Kobrey.

Ujian lain adalah persoalan biaya hidup. Pascaprogram PSP3 berarti tak ada lagi penghasilan. Risna bersyukur, masih ada honor dari Pemerintah Desa sebesar Rp 500 ribu per enam bulan dan pemasukan dari kegiatannya memberikan les pelajaran. Keduanya cukup untuk membiayai hidup kesehariannya.

Andai Risna bukan pribadi yang tahan banting, mungkin sudah sejak lama ia mengucapkan sayonara kepada Kobrey. Seumpama Risna mendahulukan kenyamanan di pelukan sang Mama, bisa jadi ia memilih meninggalkan Papua. Untunglah Risna bukan serupa ranting kering yang rapuh dan mudah patah. Untunglah ia bukan serupa bayi pipit yang tak sudi lepas dari dekap hangat sayap induknya. Risna bagai kombinasi antara baja dan karet yang kuat, ulet, lentur sekaligus tahan banting di segala tempat dan aneka cuaca. Ke Kobrey ia menuju, ke Kobrey ia kembali dan akan terus mengabdi bagi warga yang tinggal di pelosok kepala burung Papua. (Ernaningtyas)

Artikel terkait:

Cerita Cinta dari Kobrey

Rumah Cerdas Komunita Perempuan Arfak

Risna Hasanudin dan NKRI Harga Mati

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *