PLTMH Datang, Desa Terpencil Terang

 PLTMH Datang, Desa Terpencil Terang

Mengusung material di Mumes, Papua Barat. (foto: harianto)

JAYAKARTA NEWS – Setelah 76 tahun Indonesia merdeka, belum semua titik di negeri ini teraliri listrik. Perusahaan Listrik Negara (PLN) tak sepenuhnya mampu melistriki kawasan yang terpencil letaknya, terjal medannya, sedikit penduduknya, sepi kondisinya dari pusat-pusat kegiatan ekonomi dan pariwisata serta jauh jaraknya dari gardu-gardu  penyedia setrum.

“Daerah-daerah yang belum teraliri listrik adalah tempat yang terisolir dan untuk mencapainya medannya cukup berat,” kata Harianto Albarr kepada JayakartaNews.Com, Minggu (17/10). Harianto Albarr adalah pendiri PT Mandiri Pro Nusantara, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pembangunan energi listrik dengan memanfaatkan potensi lokal utamanya PLTMH (Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro).

Anto, demikian sapaan akrab Harianto Albarr, membangun PLTMH pertama kali di kampungnya sendiri Dusun Ampiri, Desa Bacu Bacu, Kecamatan Pujananting, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan. Namun, ia tak rela bila hanya kampung halamannya sendiri yang teraliri listrik. Dengan semangat jiwa mudanya, Anto terbakar komitmen untuk menghadirkan listrik di pelosok-pelosok nusantara.

Bagi peraih penghargaan Satu Indonesia Award (SIA) yang digelar Astra Internasional Tbk pada tahun 2012 di bidang teknologi ini, listrik tak sekadar menyalakan lampu. Energi terbarukan itu sekaligus menjadi motor kesejahteraan, membuka akses informasi dan menjadi jalan untuk memasuki dunia pendidikan yang lebih luas.

Harianto Albarr menerima Subroto Award.

Awal Mula

Tahun 2007 adalah titik awal sepak terjang Anto di bidang pembangunan PLTMH. Waktu itu, pemuda Ampiri ini menjadi satu-satunya warga kampung yang bersekolah sampai SMA lantas melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi.  

Di tahun pertama kuliahnya setiap kali pulang kampung saat liburan, Anto selalu dihujani pertanyaan yang sama. “Nak, bawa apa dari Makassar?” atau “Apa yang bisa kamu lakukan?” tuturnya menirukan pertanyaan-pertanyaan dari keluarga dan warga kampungnya.

Tak hanya sekali dua pertanyaan serupa menggampari gendang telinga putra asli Desa Bacu Bacu ini.  “Akhirnya saya berpikir-pikir, apa ya yang bisa saya lakukan?” tutur Anto mengenang peristiwa empat belas tahun silam tersebut.

Buat mahasiswa satu-satunya asal Ampiri waktu itu, Anto maklum pada harapan besar yang diletakkan ke pundaknya. Ia sangat memahami sikap warga kampungnya yang memiliki ekspektasi tinggi terhadap seorang mahasiswa. Sepertinya, bagi warga Ampiri Bacu Bacu, mahasiswa adalah figur yang serba bisa dan tahu segalanya. Hati Anto terpanggil untuk berpartisipasi membangun desanya, tetapi ia mengaku belum tahu harus berbuat apa. 

Kenyataan yang paling menohok matanya adalah lokasi Ampiri yang terpencil. Dusun ini hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki di atas tanah terjal tanpa aspal. Jalanan di kampung ini belum bisa dilalui kendaraan. Menurutnya, pembangunan infrastruktur jalan adalah jawaban atas  pertanyaan dari warga kampungnya itu. “Tetapi saya tidak bisa membuat jalan,” tuturnya jujur. 

Kepala Anto kembali riuh oleh upaya menemukan jawaban. Akhirnya, kesadarannya menangkap kenyataan bahwa Bacu Bacu belum dialiri listrik. Karena itu ia berencana menghadirkan pembangkit listrik. Pilihannya jatuh kepada PLTMH sebab kampung halamannya itu memiliki sungai dengan air mengalir sepanjang masa. Lanskap daerah asalnya itu pun berbukit-bukit. Aliran air abadi dan perbukitan khas desa itu menjadi modal dasar untuk pengadaan PLTMH.

Anto tak memiliki pengetahuan soal listrik. Tetapi, itu bukan masalah. Semua hal ihwal tentang PLTMH bisa ia pelajari secara otodidak. “Tahun 2007 itu saya mulai belajar listrik dari literatur dan internet,” papar Anto mahasiswa jurusan Kimia Universitas Negeri Makassar ini. 

Pada liburan semester dua tahun 2008 Anto bergerak ke Ampiri. Saya mendiskusikan rencana pembuatan PLTMH dengan orang tua. Gayung bersambut. “Baguslah, ayo apa dan bagaimana caranya agar bisa terwujud, agar ada lampu dan penerangan di kampung kita,” kata Anto menirukan respon La Sossong, sang ayah. Nurhayati, sang ibu pun sependapat. 

Ide membangun PLTMH itu memantik rasa bangga kedua orang tua Anto. Dulu, La Sossong dan Nurhayati pernah kecewa oleh keberadaan listrik di kampungnya yang tak lama. Sekitar satu atau dua tahun sebelumnya, telah ada listrik mengalir di Ampiri, Bacu Bacu. Genset pembangkitnya, solar bahan bakarnya, bantuan dari Pemerintah Daerah (Pemda) asalnya.

Sayangnya, pembangkit bertenaga disel itu tak berumur panjang. Karena tidak tepat guna, penghasil listrik model ini mangkrak. “Biaya operasionalnya tinggi hingga akhirnya tidak beroperasi,” papar Anto. 

Untuk mendapatkan BBM (Bahan Bakar Minyak) warga Ampiri harus berjalan kaki belasan kilometer menuju ibu kota kabupaten. Sulit didapat dan mahalnya harga BBM ini membuat disel di Ampiri terbengkelai. Ampiri yang sempat terang oleh listrik, kembali gelap. Hanya pelita yang menjadi andalan warga demi penerangan di malam hari.

Sosialisasi listrik desa bersama pemerintah desa Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan. (foto: harianto)

Awalnya Tak Percaya

Setelah berdiskusi dengan orang tuanya, Anto segera mengeksekusi pembangunan PLTMH. Namun, di tengah rasa optimis akan kehadiran pembangkit mini bertenaga air itu, suara-suara sumbang terdengar ramai. “Mana mungkin bisa buat listrik dari tenaga air, Pemda saja yang menggunakan genset kewalahan untuk menyalakan listriknya, apalagi hanya pakai air,” kata Anto mengenang kicauan warga Ampiri saat itu.

Menurut cerita Anto, banyak warga yang menyatakan bahwa seandainya air bisa menjadi listrik, sudah lama ada listrik di kampung ini. Sebab, sungai di Ampiri sudah ada sejak dahulu kala. Masyarakat Ampiri berkeyakinan bahwa mustahil ada listrik berasal dari air.  

Ibarat peribahasa “anjing menggongong kafilah tetap berlalu”, Anto tak pernah menggubris nada-nada tidak percaya itu.  Untunglah di tengah riuhnya suara miring itu, Anto memiliki orang tua yang bulat mendukungnya. Ia pun mempunyai keluarga besar yang seratus persen membantu. “Saat membangun PLTMH di hari pertama yang paling banyak mensuport adalah orang tua dan keluarga,” tegasnya.

Titik awal mandiri energi di Ampiri ini dirintis Anto untuk empat rumah saja, milik orang tua dan saudaranya. “Ada empat orang yang ikut terlibat waktu itu,” tuturnya. Kendati bulat dukungan dari keluarga besarnya, namun kepercayaan Anto  sempat goyah juga. “Latar belakang pendidikan saya jurusan kimia, saya  tidak yakin seratus persen karena tidak memiliki pengalaman,” tuturnya.  

Anto memaparkan, justru orang-orang yang bersedia membantunya itulah yang menguatkan keyakinannya. Karena itu, ia mantap menyusun skenario optimis untuk membangun PLTMH di Ampiri.

PLTMH ampiri, kapasitas 50KW (Barru, Sulsel). (dok. Harianto)

Dana Patungan

Langkah Anto seratus persen mantap. Dukungan keluarga pun lengkap, baik spirit maupun  finansial. Ringan hati keluarga Anto merogoh kocek. Mereka mengumpulkan uang dengan cara patungan demi mewujudkan pembangunan PLTMH dengan kapasitas tak sampai 1000 Watt. “Orang tua dan saudara kumpul-kumpul uang untuk beli kabel, semen, pipa,” cerita Anto.

Tidak semua properti yang dibutuhkan dibeli dalam kondisi baru. Anto menciptakan kincir kayu dari material bekas. Kabel yang dibutuhkan sepanjang 500 meter ia beli baru. “Kita masih memakai kabel merah hitam yang harganya Rp 2.500 per meter. Sekitar sejuta rupiah dibutuhkan untuk membeli kabel ini,” tuturnya.  

Tersulut oleh tekad kuat, Anto dan koleganya bekerja keras membendung aliran sungai, membangun kincir dan seluruh instalasinya. Akhirnya PLTMH Ampiri bisa mengalirkan listrik ke rumah warga. Ide Harianto menghadirkan listrik dengan tenaga mikro hidro bukan pepesan kosong atau pekerjaan yang mengada-ada. Mimpi Harianto, mahasiswa jurusan Kimia membangun PLTMH sukses terwujud.      

Rasa tidak percaya warga pada PLTMH runtuh bertepatan dengan saat pertama kali lampu menyala di Ampiri. “Mereka (warga yang tidak percaya-red) butuh pembuktian, aksi nyata dan fakta,” tegas Anto.

Anto menuturkan, warga yang semula tidak percaya adalah orang-orang pertama yang mengatakan keinginannya agar PLTMH Bacu Bacu dibangun dengan kapasitas yang lebih besar lagi. Bahkan, Anto bersaksi bahwa orang-orang yang membutuhkan bukti nyata tersebut akhirnya menjadi pejuang listrik terdepan. 

“Masyarakat cukup senang. Dari awalnya satu instalasi lantas kita kembangkan dengan membuat kelompok-kelompok, bisa sampai sepuluh rumah. Mereka kumpul-kumpul menjual sapi atau apa saja  untuk beaya membangun PLTMH.

Akhirnya sejumlah tujuh instalasi listrik menerangi hampir seluruh rumah yang ada di kampung kami. Bagi saya itu sesuatu yang luar biasa,” papar Anto yang selalu menyaksikan senyum dan tawa warga merekah begitu melihat  lampu listrik menyala di rumah mereka.

Beaya perawatan dan operasional didapat dari iuran warga. Per rumah memberi pasokan Rp 10 ribu hingga Rp 20 ribu per bulan atau setara tiga liter beras. Warga setempat yang mengurus semua hal yang berkaitan dengan operasional PLTMH.

Dalam perjalanan waktu selanjutnya, PLTMH Bacu Bacu tidak menggunakan kincir kayu. Turbin menjadi pilihan demi efisiensi dan energi yang didapat jauh lebih besar.   

Pada saat listrik PLN mencapai Bacu Bacu tahun 2016, PLTMH tetap berfungsi. Listrik PLN acapkali tidak mengalir selama 24 jam penuh alias sering terjadi pemadaman dari pusat oleh sebab rupa-rupa alasan.

Berlanjut

Ternyata PLTMH Harianto Albarr berlanjut. Seiring dengan perjalanan waktu, kabar tentang PLTMH itu  menyebar ke desa lain. “Ada orang datang untuk melihat, lalu mereka berkata kita mau juga membuat di kampung kami,” kata Anto menirukan permintaan warga. Akhirnya ia membantu masyarakat di desa-desa tetangga yang membutuhklan listrik.

Para peminat PLTMH itu optimis sebab lanskap kampung mereka setipe dengan Bacu Bacu, ada sungai dengan aliran air abadi ditambah tekstur dataran yang memiliki kemiringan. Kondisi alam itu menjadi modal utama untuk mengalirkan air dengan tekanan yang mencukupi guna menggerakkan turbin.

Tahun 2012 Harianto Albarr meraih penghargaan Satu Indonesia Award yang digelar Astra Internasional Tbk. Prestasi ini otomatis mendongkrak publikasi PLTMH. “Itu menjadi titik tolak yang luar biasa sehingga lebih banyak orang yang berkunjung, banyak orang yang menghubungi saya, banyak yang bilang bisa nggak dibantu, saya bilang bisa,” kata Anto menceritakan antusiasme masyarakat terpencil terhadap PLTMH. 

Awalnya, untuk membangun PLTMH sejak dari survei sampai dengan listrik sukses menerangi kawasan itu, Anto tinggal di suatu daerah sampai enam bulan lamanya. Tetapi setelah ia mendirikan PT Mandiri Pro Nusantara tahun 2014, ia fokus ke bagian riset dan pengembangan. Perusahaan yang bergerak di bidang pembangunan energi dengan memanfaatkan potensi lokal itu telah memiliki sejumlah sumber daya manusia dengan tugas masing-masing. Selain mikro hidro, Anto juga mengembangkan energi surya dan bayu.   

“Per hari ini kita sudah membangun lima puluhan unit energi listrik mikro hidro,” tambahnya. Dana pembangunannya dari beragam sumber antara lain CSR, swadaya, dana desa dll. Sejumlah 50 unit PLTMH buatan Haryanto Albarr itu tersebar di kawasan Indonesia Timur, mulai dari desa-desa tetangganya atau desa-desa di kabupaten lain seperti Bone, Gowa, Malino (Sulawesi Selatan), Kolaka dan Kolaka Utara (Sulawesi Tenggara), berlanjut  ke propinsi  Maluku, Maluku Utara dan akhirnya mencapai Papua. Beberapa diantaranya sedang dalam proses pembangunan, salah satunya PLTMH di kawasan Raja Ampat.

Anto di Kolaka, Sulawesi Tenggara. (foto: harianto)
Anto menuju Kampung Kumes dan Teluk Mayalibit di Papua Barat. (foto harianto)

“Saat ini kami sedang menyelesaikan proyek pembangkit di kampung Mumes dan Teluk Mayalibit,” kata Anto menceritakan pekerjaannya di tanah Papua. Sementara studi kelayakan di pulau paling timur Indonesia itu sedang ia gelar di Kampung Gamta, Misol Selatan dan beberapa kampung lainnya.

Diakuinya, pekerjaan di Papua tersendat akibat pandemi Covid-19. Bulan Agustus 2021 ia baru aktif kembali melanjutkan proyek-proyek pembangkit di bumi Cendrawasih itu setelah sempat dihentikan beberapa bulan.   

Berbagai penghargaan bergengsi telah disabet putra Sulawesi ini. Setelah Satu Indonesia Award tahun 2012, Anto diganjar rupa-rupa apresiasi diantaranya Subroto Award pertama yang diberikan kepada individu inisiator pembawa energi, penghargaan energi dari kementrian ESDM, Markplus, Majalah Swa, penghargaan dari Gebernur Sulawesi Selatan di bidang pemanfaatan energi tepat guna dll.

“Penghargaan itu memacu saya untuk terus berkarya,” tuturnya. Anto memiliki semboyan hidup “karya itu nyata”. Keduanya, penghargaan dan semboyan, klop mendorong Harianto untuk mengambil bagian dalam berpartisipasi membangun bangsa,

Survei sungai di Kampung Gamta, Papua Barat. (foto: harianto)

Spirit Bacu Bacu

Bagi Harianto Albarr, Bacu Bacu telah memberinya spirit luar biasa. PLTMH pertamanya itu menjadi titik awal untuk berkontribusi membantu masyarakat desa terpencil di pelosok nusantara agar mendapatkan aliran listrik. Mimpinya, semua tempat di titik-titik terpencil negeri ini menikmati listrik, tanpa terkecuali. Ini sejalan dengan cita-cita Pemerintah untuk mencapai elektrifikasi 100 persen.  

“Saya siap menjadi bagian dari proses perencanaan jangka panjang Pemerintah,” kata bapak dua anak ini mantap. Menurut pengalamannya ada tiga tantangan terbesar yang selama ini ia jumpai. Pertama banyak potensi lokal yang bisa dikembangkan, tetapi sumber daya untuk membangunnya terbatas. 

Kedua, acap kali Anto menjumpai mitra yang meragukan kemampuannya. “Tetapi di sisi lain ada juga mitra yang begitu melihat latar belakang kami langsung berkata, oh ini anak desa yang bisa berbuat sesuatu itu ya,” cerita Anto. Setelah mengetahui sepak terjangnya, tingkat kepercayaan mitra langsung terdongkrak. Anto menegaskan bahwa pihaknya selalu membayar kepercayaan mitra dalam bentuk hasil kerja yang sesuai dengan perencanaan.

Ketiga, daerah-daerah yang belum teraliri listrik adalah tempat yang terisolir dan untuk mencapainya medannya cukup berat. Untuk itu Anto membutuhkan dukungan pemerintah dan berbagai elemen yang punya cita-cirta yang sama untuk menerangi Indonesia.

“Saya lahir dari desa dan besar di desa yang tidak memiliki listrik kemudian masuk ke kota untuk kuliah. Pemikiran saya adalah pengin berbuat sesuatu untuk kampung. Untuk desa saya dan alhamdulillah bisa terwujud, jadi inti dari semua itu adalah karya itu nyata,” pungkasnya. 

Ketika banyak para sarjana baru di tempat lain bergerak ke kota besar berebut pekerjaan, Harianto justru malakukan karya nyata untuk kampung halamannya Bacu Bacu dan kampung-kampung terpencil lainnya.

Kehadiran pembangkit listrik tenaga mikro hidro Harianto menebar terang di pelosok-pelosok nusantara.  Energi mikro hidro itu tak sebatas menyalakan lampu di waktu malam tetapi juga mendorong kemajuan dan kesejahteraan. Lewat PLTMH desa terpencil memasuki era keterbukaan informasi dan mendapatkan akses  pendidikan. Listrik membuka kesadaran masyarakat bahwa dunia tak sebatas kampung sendiri.

Senyum dan tawa selalu merekah pada wajah-wajah siapa saja yang menjadi saksi hidup melihat lampu menyala untuk pertama kalinya. (Ernaningtyas)

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *