FIFA ASEAN Cup 2026 Berpotensi Ditonton Lebih dari 1 Miliar Orang, Ini Dampak Ekonominya!

JAYAKARTA NEWS— Indonesia berpeluang menjadi pusat perhatian pecinta sepak bola dunia saat menjadi tuan rumah FIFA ASEAN Cup 2026. Turnamen yang mempertemukan negara-negara Asia Tenggara dan tim undangan tersebut memiliki potensi jangkauan penonton lebih dari 1 miliar orang.

Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Erick Thohir mengatakan besarnya potensi audiens tersebut berasal dari populasi sepak bola negara-negara peserta ASEAN serta negara yang menjadi tim undangan.

“Jadi secara pertandingan ini populasinya sangat besar. Dan ini yang menjadi menarik, yang nanti juga disiarkan di televisi-televisi masing-masing negara seperti Bangladesh, Pakistan, dan tentu di Indonesia yang disiarkan secara resmi oleh Emtek Media,” ujar Erick, dilansir InfoPublik.

Menurut Erick, besarnya jumlah audiens menjadikan FIFA ASEAN Cup bukan sekadar kompetisi olahraga, tetapi juga memiliki potensi ekonomi yang besar bagi negara dan daerah penyelenggara.

Turnamen tersebut dapat menggerakkan berbagai sektor yang berkaitan dengan penyelenggaraan olahraga, mulai dari transportasi, akomodasi, kuliner, perdagangan, UMKM, hingga industri kreatif.

Erick menjelaskan, penyelenggaraan FIFA ASEAN Cup sejalan dengan upaya FIFA mendorong federasi sepak bola di berbagai negara agar memiliki program kompetisi dan fondasi finansial yang kuat.

Menurutnya, penguatan federasi penting karena perkembangan industri sepak bola jangan sampai justru membuat pembinaan tim nasional terpinggirkan.

“Jangan sampai federasi dan timnas ini menjadi tertutup potensinya dengan persaingan dan ekonomi sepak bola secara menyeluruh, di mana di banyak negara sekarang ini lahir tim-tim super dan banyak juga liga yang sangat besar, yang akhirnya perkembangan tim nasional di banyak negara menjadi dinomorduakan,” jelas Erick.

Ia mengatakan FIFA sebelumnya telah mengembangkan sejumlah turnamen yang bertujuan memperkuat ekosistem sepak bola antarnegara, salah satunya FIFA Arab Cup yang mulai digelar pada 2021.

Konsep tersebut kemudian diterapkan melalui FIFA ASEAN Cup untuk kawasan Asia Tenggara dan negara-negara di luar kawasan yang menjadi peserta undangan.

“Nah, FIFA ASEAN Cup tujuannya sama. Lewat FIFA ASEAN Cup, FIFA ingin mulai melakukan benchmark negara-negara di kawasan Asia Tenggara dan di luar wilayah itu supaya kompetisinya juga kompetitif,” katanya.

Indonesia Tuan Rumah Divisi 1

FIFA ASEAN Cup 2026 akan terbagi dalam dua divisi. Indonesia menjadi tuan rumah Divisi 1, yang diikuti enam negara Asia Tenggara dan dua negara undangan.

Enam negara Asia Tenggara tersebut yakni Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, dan Filipina. Sementara dua negara undangan adalah Bangladesh dan Pakistan.

Adapun Divisi 2 digelar di Hong Kong dengan peserta Hong Kong, Myanmar, Laos, Kamboja, Timor Leste, dan Brunei Darussalam.

Menurut Erick, kepercayaan FIFA kepada Indonesia menjadi kehormatan sekaligus tanggung jawab untuk menunjukkan kemampuan Indonesia dalam menyelenggarakan kompetisi olahraga internasional.

Sebelumnya, Indonesia juga dipercaya menjadi tuan rumah Piala Dunia FIFA U-17 serta FIFA Series.

Karena itu, persiapan FIFA ASEAN Cup 2026 terus dilakukan, termasuk meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat di dua kota yang menjadi lokasi pertandingan, yakni Jakarta dan Bandung.

Dampak Ekonomi

PSSI juga menjalankan trophy tour untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap turnamen tersebut sekaligus membangun antusiasme sebelum kompetisi berlangsung.

Selain pertandingan, penyelenggaraan FIFA ASEAN Cup 2026 juga akan dimanfaatkan untuk memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada masyarakat internasional.

PSSI menyiapkan Fans Zone di sekitar stadion yang telah mendapat persetujuan FIFA. Area tersebut akan menghadirkan berbagai atraksi budaya, musik, dan kuliner khas Indonesia.

Menurut Erick, keberadaan Fans Zone diharapkan membuat pengalaman penonton tidak berhenti pada pertandingan sepak bola.

“Ini kesempatan untuk ikut mengenalkan budaya kita, musik kita, makanan kita juga. Mudah-mudahan ini menjadi hype, sehingga penonton tidak hanya mendapat hiburan sepak bola, tetapi juga pengalaman musik, budaya, dan kuliner Indonesia yang terkenal,” ungkapnya.

Konsep tersebut sekaligus membuka peluang keterlibatan pelaku UMKM dan industri kreatif lokal. Produk kuliner, kerajinan, pertunjukan seni, hingga berbagai produk kreatif Indonesia dapat menjadi bagian dari pengalaman para penonton dan suporter mancanegara.

Dengan demikian, momentum FIFA ASEAN Cup dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat di luar sektor olahraga.

Potensi lebih dari satu miliar audiens menjadi peluang bagi Indonesia untuk memperluas promosi sebagai destinasi olahraga sekaligus destinasi wisata.

Kehadiran suporter dan delegasi dari berbagai negara juga berpotensi meningkatkan aktivitas ekonomi di kota penyelenggara. Pergerakan penonton membutuhkan layanan transportasi, akomodasi, makanan dan minuman, serta berbagai kebutuhan selama berada di Indonesia.

Di saat yang sama, siaran pertandingan ke berbagai negara dapat menjadi sarana promosi Indonesia kepada audiens internasional.

Erick berharap seluruh pihak mampu memanfaatkan momentum tersebut dengan memberikan pengalaman terbaik kepada peserta maupun penonton.

Bagi Indonesia, keberhasilan menjadi tuan rumah bukan hanya diukur dari kelancaran pertandingan. Pengalaman penonton, kualitas pelayanan, keamanan, serta kemampuan menghadirkan suasana yang ramah juga menjadi bagian penting dari citra Indonesia di mata dunia.

FIFA ASEAN Cup 2026 pun menjadi momentum untuk memperkuat posisi Indonesia dalam penyelenggaraan olahraga internasional sekaligus mendorong pertumbuhan ekosistem sepak bola nasional.

Jika dikelola secara optimal, kompetisi tersebut dapat mempertemukan kepentingan olahraga, ekonomi, pariwisata, dan industri kreatif dalam satu momentum internasional.

Indonesia kini tidak hanya dituntut menjadi tuan rumah yang sukses menyelenggarakan pertandingan, tetapi juga mampu menjadikan FIFA ASEAN Cup sebagai panggung untuk memperkenalkan potensi bangsa kepada dunia. (*/di)

Krisis Kepercayaan FIFA Makin Panas, DBU Desak Pergantian Presiden

JAYAKARTA NEWS— Asosiasi Sepak Bola Denmark (DBU) kembali melancarkan kritik terhadap Presiden FIFA Gianni Infantino. Kali ini, DBU menuding Komite Hukum FIFA menghindari sejumlah pertanyaan penting mengenai rencana kontroversial yang sebelumnya diajukan Infantino.

Presiden DBU Jesper Moller mengaku kecewa setelah isu FIFA Forward Enterprise, yang kini telah dibatalkan, tidak masuk dalam agenda rapat Komite Hukum FIFA.

Padahal, menurut Moller, forum tersebut semestinya menjadi tempat untuk membahas persoalan hukum terkait FIFA, termasuk kontroversi seputar rencana penjualan hak komersial turnamen FIFA.

“Saya secara alami menggunakan pertemuan itu untuk mengajukan sejumlah pertanyaan kritis mengenai proses tersebut, yang hingga kini masih saya anggap sangat bermasalah,” kata Moller dalam pernyataannya.

Moller juga mempertanyakan alasan FIFA tidak membahas FIFA Forward Enterprise dalam rapat Komite Hukum.

“Saya terkejut bahwa FIFA Forward Enterprise tidak dibahas oleh Komite Hukum, karena justru badan inilah yang seharusnya dimintai pendapat mengenai persoalan hukum yang menyangkut FIFA,” ujarnya.

Menurut Moller, upayanya mendapatkan jawaban dari FIFA tidak membuahkan hasil. FIFA disebut memilih menunggu pembahasan dalam rapat Dewan FIFA yang dijadwalkan pada Oktober.

“Sayangnya, tidak mungkin mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut karena FIFA ingin menunggu pembahasan dalam rapat Dewan FIFA pada Oktober,” katanya.

Moller menilai situasi tersebut seharusnya menjadi kesempatan bagi pimpinan FIFA untuk menjelaskan persoalan yang dipermasalahkan.

“Ini jelas merupakan kesempatan yang baik bagi pimpinan FIFA untuk memberikan penjelasan.”

Al Jazeera telah menghubungi FIFA untuk meminta tanggapan.

Dewan FIFA memiliki 37 anggota, terdiri atas Presiden Gianni Infantino, delapan wakil presiden, serta 28 anggota lain yang dipilih oleh asosiasi anggota.

DBU memastikan tekanan terhadap FIFA belum akan berhenti.

“Kami akan terus mendesak agar ada jawaban dan saya yakin kami akan mengusut tuntas masalah yang sepenuhnya tidak dapat diterima ini,” kata Moller.

Ia bahkan kembali menyerukan pergantian pucuk pimpinan FIFA.

“Pertemuan tersebut menegaskan bahwa FIFA tidak dapat memulihkan kredibilitasnya di bawah kepemimpinan saat ini. Sudah saatnya ada pergantian presiden di FIFA.”

DBU Ingin Cari Penantang Infantino

DBU sebelumnya telah menyatakan akan mencari kandidat yang dianggap kredibel untuk menantang Infantino dalam pemilihan Presiden FIFA 2027.

Sikap tersebut diambil setelah DBU menyatakan kehilangan kepercayaan terhadap Infantino menyusul gagalnya rencana FIFA Forward Enterprise. Proposal tersebut sebelumnya berkaitan dengan penjualan hak komersial turnamen FIFA, termasuk Piala Dunia.

“Saya akan terus bekerja sama erat dengan rekan-rekan dari Eropa untuk mencari kandidat yang mampu meraih dukungan mayoritas. Tidak ada lagi kepercayaan terhadap Infantino maupun kepemimpinan FIFA,” ujar Moller.

FIFA sebelumnya telah meminta maaf kepada asosiasi anggotanya terkait kesalahan dalam proses pengajuan rencana tersebut.

Namun, setelah pertemuan krisis di Maroko, jajaran pimpinan FIFA kembali menegaskan dukungan mereka terhadap Infantino.

Bagi DBU, langkah tersebut belum cukup untuk mengakhiri persoalan.

Federasi sepak bola Denmark itu menilai kontroversi FIFA Forward Enterprise telah memicu “krisis kepercayaan mendasar terhadap kepemimpinan FIFA”.

Menurut DBU, krisis tersebut tidak dapat dipulihkan hanya dengan membatalkan proposal atau menyampaikan permintaan maaf.

Meski ‘Digoyang’ Infantino Berpotensi Menang Lagi!

Di sisi lain, Infantino masih diperkirakan memiliki dukungan suara yang cukup untuk memenangkan pemilihan kembali.

Sejumlah sumber yang mengetahui pembahasan tersebut mengatakan kepada Reuters bahwa kondisi itu membuat kubu yang menentang Infantino harus mengubah strategi. Mereka disebut perlu berfokus bukan hanya untuk menggagalkan pemilihan kembali Infantino, tetapi juga membatasi kekuasaannya.

Pemilihan Presiden FIFA akan digelar di Rabat, Maroko, pada 18 Maret 2027.

Penolakan terhadap Infantino Meluas

Kontroversi terkait rencana Infantino telah memicu reaksi keras dari berbagai konfederasi dan asosiasi sepak bola.

UEFA, Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), serta CONCACAF termasuk pihak yang menyerukan perubahan di jajaran pimpinan FIFA. Wacana mengenai kemungkinan mosi tidak percaya terhadap kepemimpinan Infantino juga ikut mencuat.

Penolakan juga mulai terlihat di tingkat asosiasi nasional Eropa.

Sejumlah federasi telah menarik dukungan terhadap pencalonan kembali Infantino, termasuk Federasi Sepak Bola Prancis pada Kamis dan Asosiasi Sepak Bola Austria (OFB).

Dewan Pengawas OFB bahkan mengambil keputusan secara bulat untuk tidak mendukung Infantino.

“Dewan Pengawas OFB secara bulat memutuskan untuk tidak mendukung pencalonan kembali Gianni Infantino sebagai Presiden FIFA,” demikian pernyataan OFB.

Mereka menyebut keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan perkembangan yang terjadi dalam beberapa pekan dan bulan terakhir.

“Keputusan ini didasarkan pada perkembangan situasi dalam beberapa minggu dan bulan terakhir, serta perubahan signifikan pada kondisi dan kerangka kerja yang diakibatkannya.” (Sumber: Al Jazeera, Reuter, sumber lainnya)

Lionel Messi segera Punya Klub di Divisi Dua Spanyol, Eldense Jadi Target Akuisisi

JAYAKARTA NEWS— Lionel Messi semakin serius membangun kerajaan sepak bolanya di luar lapangan. Megabintang Argentina itu dikabarkan tinggal  selangkah lagi menguasai Eldense, klub yang bermain di divisi dua Liga Spanyol.

Informasi tersebut telah dikonfirmasi oleh Daily Mail Sport.

Dalam rencana akuisisi tersebut, Messi akan mengambil alih saham yang saat ini dimiliki Grupo TH, kelompok investasi asal Kolombia. Transaksi itu akan membuat Messi menjadi pemegang saham mayoritas Eldense.

Meski kesepakatan prinsip telah tercapai, proses pengambilalihan belum sepenuhnya rampung. Sejumlah prosedur hukum dan kontrak akhir masih harus diselesaikan sebelum transaksi dapat dituntaskan.

Akuisisi tersebut juga membutuhkan persetujuan dari Dewan Olahraga Tinggi Spanyol atau Consejo Superior de Deportes (CSD). Jika seluruh proses berjalan sesuai rencana, kesepakatan diperkirakan selesai dalam beberapa hari mendatang.

Untuk nilai transaksi, belum ada angka yang diumumkan kepada publik.

Foto: Instagram leomessi

Eldense Sedang dalam Situasi Sulit

Kehadiran Messi sebagai calon pemilik baru datang ketika Eldense justru sedang menghadapi awal musim yang tidak mudah.

Klub yang berbasis di Valencia tersebut baru mengumpulkan dua poin dari empat pertandingan pembuka. Kondisi itu semakin sulit setelah pelatih Claudio Barragan dipecat pada awal pekan ini.

Eldense kini harus menjalani periode berikutnya tanpa seorang manajer tetap.

Padahal, perjalanan klub menuju divisi dua baru saja kembali terjadi. Eldense berhasil promosi ke kasta kedua pada musim panas lalu setelah sebelumnya sempat turun kasta.

Messi Sudah Lebih Dulu Membeli Cornella

Jika akuisisi Eldense terealisasi, langkah tersebut akan memperkuat ekspansi Messi di sepak bola Spanyol.

Beberapa bulan sebelumnya, Messi telah membeli 100 persen saham UE Cornella, klub semi-profesional yang bermarkas di pinggiran Barcelona.

Cornella didirikan pada 1951 dan saat ini berkompetisi di kasta kelima sepak bola Spanyol.

Pihak klub menyambut investasi Messi sebagai awal dari babak baru dalam sejarah mereka. Kehadiran sang pemain diharapkan dapat membantu mendorong pertumbuhan klub dari sisi olahraga maupun kelembagaan, memperkuat fondasi yang sudah ada, serta melanjutkan investasi terhadap talenta.

Cornella juga menegaskan bahwa proyek tersebut dibangun dengan visi jangka panjang. Rencana strategisnya menggabungkan ambisi, keberlanjutan, serta hubungan yang kuat dengan akar lokal klub.

Lionel Messi/Foto: Instagram leomessi

Bukan hanya Klub di Spanyol

Investasi Messi di dunia sepak bola sebenarnya tidak berhenti di Spanyol.

Pemain berusia 39 tahun itu juga tercatat sebagai salah satu pemilik klub Uruguay, Deportivo LSM. Dalam kepemilikan tersebut, Messi berbagi posisi bersama rekan setimnya di Inter Miami, Luis Suarez.

Di Amerika Serikat, Messi juga mempunyai opsi untuk memperoleh kepemilikan saham secara langsung di Inter Miami. Opsi tersebut memungkinkan dirinya membeli sebagian saham klub MLS tersebut setelah mengakhiri karier bermainnya.

Dengan demikian, rencana pembelian Eldense akan menjadi tambahan terbaru dalam portofolio sepak bola Messi yang terus berkembang.

Bisa Jadi Masalah Jika Eldense dan Cornella Naik Kasta

Namun, kepemilikan Messi atas dua klub di Spanyol berpotensi menghadirkan persoalan tersendiri apabila keduanya terus berkembang.

Saat ini, Eldense dan Cornella masih terpaut tiga tingkat kompetisi. Akan tetapi, apabila keduanya suatu saat berhasil mencapai level yang sama, kecil kemungkinan Federasi Sepak Bola Kerajaan Spanyol (RFEF) mengizinkan kedua klub berkompetisi di divisi yang sama dengan struktur kepemilikan tersebut.

Artinya, semakin tinggi prestasi kedua klub, semakin besar pula kemungkinan persoalan kepemilikan harus mendapat perhatian.

Eldense Punya Sejarah Panjang

Eldense bukanlah klub baru dalam sepak bola Spanyol. Klub tersebut didirikan pada 1921 dan sebagian besar sejarahnya dihabiskan di luar dua divisi teratas kompetisi Spanyol.

Mereka berhasil promosi ke kasta kedua pada 2023, sekaligus menjadi kali pertama Eldense bermain di level tersebut sejak 1964.

Namun, perjalanan mereka di divisi dua hanya bertahan hingga 2025 sebelum akhirnya terdegradasi. Eldense kemudian berhasil kembali mendapatkan promosi ke kasta kedua pada musim panas lalu.

Untuk pertandingan kandang, Eldense bermarkas di Nuevo Pepico Amat yang berada di kota Elda. Stadion tersebut memiliki kapasitas 5.776 penonton.

Kini, klub tersebut berada di ambang perubahan besar. Jika seluruh proses akuisisi selesai dan mendapat persetujuan yang diperlukan, Lionel Messi bukan hanya akan dikenal sebagai salah satu pemain terbesar dalam sejarah sepak bola, tetapi juga sebagai pemilik klub di divisi dua Spanyol. (Sumber: Daily Mail/di)

Indonesia Kirim 1.021 Atlet ke Asian Games 2026, Target Peringkat Tiga Besar

JAYAKARTA NEWS— Indonesia mengirimkan 1.021 atlet untuk berlaga pada 48 cabang olahraga (cabor) di Asian Games XX edisi 2026 di Aichi-Nagoya, Jepang. Pemerintah menargetkan kontingen Indonesia mampu mempertahankan posisi tiga besar seperti pada penyelenggaraan SEA Games sebelumnya.

Hal tersebut disampaikan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir dalam laporan persiapan kontingen Indonesia menjelang keberangkatan ke Asian Games 2026 di Istana Negara pada Rabu (9/9/2026).

Erick mengatakan, para atlet telah menjalani pemusatan latihan nasional (pelatnas) selama kurang lebih dua setengah bulan sebagai persiapan menghadapi ajang olahraga multicabang terbesar di Asia tersebut.

“Ke depan kita akan lebih jangka panjang lagi seperti arahan Bapak Presiden, karena Bapak Presiden ingin 21 cabor ke depan ini menjadi lumbung daripada medali kita ke depan,” ujar Erick.

Menurutnya, pemerintah akan memperkuat pola pembinaan atlet secara lebih panjang. Pelatnas untuk sejumlah cabang olahraga prioritas bahkan diarahkan dapat berlangsung selama satu hingga dua tahun sebagai persiapan menuju Olimpiade Los Angeles 2028.

“Jadi nanti kita akan lakukan sesuai arahan Bapak, pelatnas itu bisa setahun sampai dua tahun untuk Olimpiade 2028 di Los Angeles,” katanya.

Dalam Asian Games 2026, pemerintah juga memasang target prestasi tinggi. Indonesia diharapkan mampu mempertahankan capaian tiga besar seperti pada SEA Games sebelumnya di Kamboja.

“Kita ingin menjaga tentu di ranking tiga seperti di Cambodia,” kata Erick.

Ia menyebut tantangan untuk mencapai target tersebut tidak ringan. Menurutnya, perolehan medali pada ajang sebelumnya juga dipengaruhi oleh adanya sejumlah nomor yang tidak dipertandingkan.

“Walaupun memang waktu Cambodia itu ada 87 emas, ada 41 emas yang tidak dipertandingkan. Jadi kita harus kejar sekarang bagaimana dari sisa emas yang memang masih ada untuk mencapai mungkin emas sekitar 80 lebih juga, supaya kita bisa ranking tiga,” tandasnya.

Dari total 1.021 atlet yang menjadi bagian kontingen Indonesia, sekitar 281 atlet hadir secara langsung dalam prosesi pelepasan resmi kontingen di Istana Merdeka.

Jumlah atlet yang hadir dalam acara tersebut lebih sedikit dibandingkan total kontingen karena sebagian atlet telah lebih dahulu berada di lokasi pertandingan maupun menjalani pemusatan latihan di luar negeri.

Sejumlah cabang olahraga dilaporkan telah berada di Jepang maupun lokasi persiapan masing-masing. Di antaranya tim bola basket serta cabang olahraga wushu yang tengah menjalani training camp.

Sementara itu, tim bulu tangkis dijadwalkan menyusul keberangkatan untuk menjalani persiapan sebelum kompetisi dimulai.

Asian Games XX Aichi-Nagoya 2026 dijadwalkan berlangsung pada 19 September hingga 3 Oktober 2026 di Jepang.

Erick menegaskan peningkatan sistem pembinaan atlet tidak terlepas dari dukungan Presiden. Pemerintah kini memperkuat sistem pelatnas dengan spesifikasi yang lebih jelas sesuai jenjang kompetisi.

“Jadi alhamdulillah, berkat dukungan Bapak Presiden, sekarang yang namanya pemusatan latihan nasional itu kita sudah punya spesifikasi,” ujarnya.

Ia menjelaskan, tata kelola pelatnas kini diarahkan secara lebih terstruktur untuk menghadapi berbagai jenjang kompetisi, mulai dari SEA Games, Asian Games, hingga Olimpiade.

Dengan sistem tersebut, pelatnas tidak hanya menjadi wadah organisasi, tetapi juga menjadi bagian dari strategi pembinaan prestasi atlet secara berkelanjutan.

Pola pembinaan jangka panjang tersebut diharapkan mampu menghasilkan cabang olahraga yang konsisten menyumbangkan medali bagi Indonesia pada berbagai ajang internasional.

Penguatan pembinaan olahraga berprestasi tersebut sejalan dengan semangat Asta Cita, khususnya dalam pembangunan sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing serta penguatan prestasi Indonesia di tingkat global. (*/di)

Tangis di Ujung Era: Lionel Messi Resmi Tinggalkan Timnas Argentina, Sang Legenda Akhirnya Berkata “Cukup”

JAYAKARTA NEWS— Dunia sepak bola kembali dibuat terdiam. Lionel Messi, nama yang selama lebih dari dua dekade menjadi wajah sepak bola Argentina, akhirnya mengambil keputusan besar: ia resmi mengakhiri kariernya bersama tim nasional Argentina.

Keputusan tersebut diumumkan Messi pada Senin, 31 Agustus 2026, melalui sebuah pesan emosional di media sosial. Bagi banyak penggemar, ini bukan sekadar pengumuman seorang pemain yang meninggalkan tim nasional. Ini adalah penanda berakhirnya sebuah era.

Surat Messi/Foto: Instagram leomessi

Namun, ada satu hal penting yang perlu digarisbawahi: Messi belum pensiun dari sepak bola profesional secara keseluruhan. Ia masih memperkuat Inter Miami di Major League Soccer. Kontraknya dengan klub Amerika Serikat tersebut bahkan masih berjalan hingga 2028.

Jadi, yang benar-benar berakhir adalah perjalanan Messi bersama Argentina.

“Keputusan yang menyakitkan hingga ke dalam jiwa”

Messi mengaku keputusan tersebut bukan sesuatu yang mudah. Setelah kekalahan Argentina dari Spanyol di final Piala Dunia 2026, ia membutuhkan waktu untuk memikirkan masa depannya.

Dalam pesan perpisahannya, Messi menulis:

“Ini adalah keputusan yang menyakitkan dan masih terasa menyakitkan jauh di dalam diri saya, tetapi saya memahami bahwa waktunya telah tiba.”

Ia juga menegaskan bahwa selama membela Argentina, dirinya selalu memberikan segalanya.

“Saya selalu memberikan semuanya untuk seragam ini, untuk membawa kebahagiaan kepada kalian dan membuat kalian bangga menjadi orang Argentina melalui sepak bola.”

Kutipan tersebut menggambarkan betapa emosionalnya keputusan Messi. Ia bukan pergi karena kehilangan kecintaan terhadap Argentina. Justru sebaliknya, rasa cinta itu menjadi salah satu alasan mengapa perpisahan ini terasa begitu berat.

Foto: Instagram leomessi

Messi juga menyebut bahwa waktunya di tim nasional memang sudah memasuki babak akhir. Ia merasa generasi muda Argentina kini sudah siap mendapatkan kesempatan.

“Saya telah memberikan semuanya yang saya miliki; sekarang saya tidak punya lagi yang bisa diberikan.”

Pesan itu menjadi simbol bahwa Messi ingin meninggalkan panggung internasional dengan kepala tegak, bukan menunggu sampai dirinya benar-benar tak mampu lagi bersaing.

Akhir Perjalanan 21 Tahun yang Luar Biasa

Messi pertama kali memperkuat tim senior Argentina pada 2005. Dari seorang pemain muda bertubuh kecil yang sempat mendapatkan kritik keras, ia berkembang menjadi kapten, pencetak gol terbanyak, sekaligus pemain dengan penampilan terbanyak dalam sejarah Albiceleste.

Catatannya luar biasa: 207 pertandingan dan 125 gol untuk Argentina. Ia juga tampil dalam enam edisi Piala Dunia.

Foto: Instagram leomessi

Tetapi perjalanan Messi bersama Argentina tidak selalu indah.

Ia pernah kehilangan tiga final besar secara beruntun. Puncaknya terjadi pada periode 2014–2016, ketika Argentina gagal memenangkan Piala Dunia 2014 serta Copa América 2015 dan 2016.

Bahkan pada 2016, Messi sempat menyatakan pensiun dari tim nasional setelah Argentina kembali kalah dari Chile melalui adu penalti.

Namun, Messi kembali.

Dan keputusan untuk kembali itu kemudian mengubah seluruh kisahnya.

Dari pemain yang dikritik menjadi simbol kejayaan Argentina

Pada 2021, Messi akhirnya memenangkan trofi senior pertamanya bersama Argentina setelah mengalahkan Brasil di final Copa América.

Setahun kemudian, datang momen yang selama bertahun-tahun terasa seperti mimpi.

Piala Dunia 2022 di Qatar.

Messi memimpin Argentina menjadi juara dunia dan tampil luar biasa sepanjang turnamen. Dalam final dramatis melawan Prancis, ia mencetak dua gol sebelum Argentina akhirnya menang melalui adu penalti.

Seolah belum cukup, Argentina kembali memenangkan Copa América pada 2024.

Kini, setelah lebih dari dua dekade, Messi meninggalkan tim nasional dengan hampir seluruh pencapaian terbesar yang mungkin diraih seorang pemain.

Piala Dunia? Ada.

Copa América? Ada.

Finalissima? Ada.

Medali emas Olimpiade? Ada.

Rekor gol dan penampilan Argentina? Ada.

Dan yang paling penting: ia akhirnya berhasil membuat rakyat Argentina bangga.

Kekalahan dari Spanyol menjadi pertandingan terakhir

Ironisnya, pertandingan terakhir Messi bersama Argentina bukanlah kemenangan.

Argentina kalah dari Spanyol di final Piala Dunia 2026. Messi dan rekan-rekannya harus puas menjadi runner-up.

Namun, kekalahan itu tidak menghapus apa yang sudah dibangun Messi.

Dalam Piala Dunia terakhirnya, Messi masih mampu memberikan kontribusi besar. Ia mencetak delapan gol sepanjang turnamen dan menunjukkan bahwa pada usia 39 tahun, dirinya masih mampu bersaing di level tertinggi.

Tak lama setelah turnamen berakhir, Messi sebenarnya sudah menulis pesan perpisahannya. Ia mencatat bahwa keputusan tersebut telah dipikirkannya sejak Juli.

Kematian sang ayah, Jorge Messi, beberapa waktu kemudian semakin memperkuat keyakinannya untuk mengakhiri perjalanan bersama Argentina. Jorge bukan hanya ayah Messi, tetapi juga figur penting dalam perjalanan karier sang megabintang.

Bukan Pensiun Total

Di sinilah banyak judul berita berpotensi membuat pembaca salah paham.

Messi tidak berhenti bermain sepak bola sekarang juga.

Ia masih menjadi pemain Inter Miami dan masih tampil di MLS. Bahkan setelah Piala Dunia, Messi sempat mencetak empat gol dalam kemenangan besar Inter Miami atas Montreal.

Artinya, para penggemar masih bisa melihat Messi bermain.

Hanya saja, mereka tidak akan lagi melihatnya mengenakan jersey Argentina dalam pertandingan internasional.

Dan mungkin justru di situlah rasa kehilangan itu terasa paling kuat.

Tidak akan ada lagi Messi berdiri di tengah lapangan dengan ban kapten Argentina. Tidak ada lagi momen ketika stadion menyanyikan namanya sebelum pertandingan besar. Tidak ada lagi harapan bahwa si nomor 10 akan menciptakan keajaiban di menit-menit terakhir untuk Albiceleste.

Dunia Maya Langsung Ramai

Pengumuman Messi langsung memicu gelombang reaksi dari penggemar sepak bola.

Di Reddit, salah satu unggahan tentang pensiunnya Messi dari tim nasional mendapatkan lebih dari seribu upvote dalam waktu singkat. Salah satu komentar yang paling sederhana sekaligus menggambarkan suasana hati banyak penggemar berbunyi:

“The GOAT. Pleasure to watch him.”

Ada pula komentar yang menyebut:

“End of an era.”

Sementara penggemar lain mengatakan mereka justru lega melihat Messi pergi pada waktunya, setelah menyaksikan sang pemain tetap tampil luar biasa di Piala Dunia terakhirnya.

Di Argentina sendiri, suasananya bahkan jauh lebih emosional. Media lokal menggambarkan pengumuman tersebut sebagai “Fin de una era” — akhir sebuah era.

ANSA melaporkan bahwa jutaan tanda suka dan ratusan ribu komentar membanjiri unggahan Messi. Salah satu ungkapan yang ramai dirangkum media Argentina adalah:

“Gracias eternamente, Leo.”

Terima kasih selamanya, Leo.

Bahkan Presiden Argentina Javier Milei turut memberikan penghormatan dengan mengunggah foto Messi mengenakan jersey tim nasional disertai pesan singkat: “¡Muchas gracias, hombre imposible!”

Kini Messi menjadi penonton bagi Argentina

Ada satu bagian paling menyentuh dari pesan Messi.

Ia mengatakan bahwa mulai sekarang, dirinya akan menjadi salah satu orang yang mendukung Argentina dari luar lapangan.

Bayangkan sosok yang selama bertahun-tahun menjadi pusat perhatian kini hanya akan menyaksikan generasi berikutnya berjuang dari pinggir lapangan.

Messi telah memberikan lebih dari cukup.

Ia datang sebagai anak muda Rosario yang membawa mimpi besar. Ia melewati kritik, kegagalan, kekalahan di final, bahkan sempat meninggalkan tim nasional.

Namun ia kembali.

Dan ketika akhirnya pergi, ia meninggalkan Argentina sebagai juara dunia.

Itulah alasan mengapa perpisahan ini terasa berbeda.

Messi tidak pergi sebagai pemain yang gagal memenuhi harapan negaranya.

Ia pergi sebagai kapten yang telah memenangkan hampir semuanya.

Sepak bola selalu memiliki batas waktu. Pemain datang, berkembang, mencapai puncak, kemudian perlahan meninggalkan panggung.

Tetapi tidak semua pemain meninggalkan jejak seperti Lionel Messi.

Selama 21 tahun bersama Argentina, ia menciptakan terlalu banyak momen untuk dihitung: gol, assist, dribel, trofi, tangisan, kekalahan, kemenangan, dan akhirnya sebuah Piala Dunia.

Kini babak itu resmi berakhir.

Messi sendiri menutup pesannya dengan rasa bangga terhadap negaranya dan kecintaannya kepada Argentina.

Dan mungkin itulah kalimat yang paling tepat untuk menggambarkan perpisahan ini:

Messi tidak benar-benar meninggalkan Argentina. Ia hanya berhenti bermain untuk Argentina.

Nomor 10 mungkin suatu hari akan dikenakan pemain lain. Kapten baru akan berdiri di lingkaran tengah. Generasi baru akan mengejar trofi.

Tetapi bagi jutaan orang, nama Lionel Messi akan selalu melekat pada satu warna: biru-putih.

Sang legenda telah pergi dari lapangan internasional.

Namun kisahnya bersama Argentina akan tetap hidup. (di/Sumber: Daily Mail, Reuters, dan sumber lainnya)

Jorge Wafat, Messi Kehilangan Kompas: “Aku tidak Tahu Apa yang akan Kulakukan Tanpamu”

JAYAKARTA NEWS— Lima hari telah berlalu sejak kepergian ayah tercinta, Jorge Messi, Lionel masih terbenam dalam kesedihan mendalam. Seolah kehilangan Kompas, ia sangat kebingungan bahkan untuk menentukan arah kariernya sepeninggalan ayahnya.

Jorge Messi, sang ayah sekaligus orang yang menjadi bagian penting dari perjalanan kariernya, meninggal dunia pada 7 Agustus dalam usia 68 tahun. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi Messi—bahkan membuat kapten Argentina itu mulai mempertanyakan masa depannya sendiri di sepak bola.

“Ayah, aku masih tidak percaya Ayah sudah tiada. Rasanya belum meresap sepenuhnya, atau lebih tepatnya, aku tidak ingin menerimanya,” tulis Messi dalam surat yang ia unggah di Instagram.

Ia mengaku sulit membayangkan kehidupan tanpa sosok yang selama ini selalu ada di sisinya.

“Sangat sulit bagiku membayangkan tidak akan pernah melihat Ayah lagi, tidak akan pernah berbicara dengan Ayah lagi. Aku tahu Ayah menderita dan ini adalah jalan terbaik, tapi Ayah pergi terlalu cepat. Masih banyak hal yang ingin kita nikmati bersama.”

Lionel Messi dan ayahnya Jorge Messi/Foto: Instagram leomessi

Lalu, Messi menuliskan kalimat yang membuat masa depan kariernya di lapangan menjadi tanda tanya.

“Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan tanpamu, aku tidak tahu bagaimana harus melangkah. Hidupku hanya seputar sepak bola, dan kini aku sangat ragu apakah aku akan melanjutkannya lebih lama lagi.”

Bagi Messi, Jorge Bukan Sekadar Seorang Ayah

Jorge adalah orang yang menemaninya sejak langkah-langkah pertama di dunia sepak bola, menjadi agen dan manajer bisnis de facto, sekaligus sosok yang berada di belakang berbagai keputusan penting dalam karier putranya.

Karena itu, kepergian Jorge terasa seperti hilangnya bagian dari perjalanan panjang yang selama ini mereka jalani bersama.

“Ayah selalu mendampingiku sejak awal, padahal kita sudah begitu dekat dengan akhir perjalanan itu. Mengapa Ayah tidak bisa bertahan sedikit lebih lama lagi agar kita bisa menyelesaikannya bersama-sama?” tulis Messi.

Piala Dunia yang ingin dipersembahkan untuk sang ayah

Lionel Messi dan ayahnya Jorge Messi/Sumber Foto: tangkap layar Instagram fersvaluto

Jorge bahkan menjadi salah satu alasan utama Messi memutuskan tetap bermain di Piala Dunia musim panas ini.

Sang ayah terus meminta Messi untuk tampil di turnamen tersebut. Namun, beberapa hari sebelum turnamen dimulai, kondisi kesehatan Jorge memburuk.

Itu menjadi kali pertama Jorge tidak bisa hadir di sebuah turnamen yang diikuti putranya.

Meski demikian, ibu Messi terus meyakinkannya bahwa Jorge akan membaik dan cukup sehat untuk bepergian. Messi pun mengatakan kepada sang ayah bahwa Argentina akan melaju ke final agar Jorge bisa datang menyaksikannya.

Namun, harapan itu tidak pernah terwujud.

“Setiap kali pertandingan usai, saya selalu menunggu dan merindukan pesan dari Ayah. Saat itulah saya sadar situasinya benar-benar serius,” kenang Messi.

Ia tetap berusaha membawa Argentina melangkah sejauh mungkin. Salah satu alasannya sederhana: memberi Jorge waktu untuk pulih dan kesempatan menyaksikan pertandingan-pertandingan putranya.

Argentina akhirnya mencapai final di New York.

Tetapi Jorge tidak bisa hadir.

Messi ingin memenangkan trofi itu untuk ayahnya. Ia ingin membawanya pulang, memperlihatkannya secara langsung kepada Jorge, dan berbagi momen tersebut dengannya.

Namun, tubuh Messi tidak mampu memberikan apa yang ia inginkan.

“Saya tidak mampu; fisik saya sudah tidak sanggup lagi. Kali ini saya mencoba melawan keterbatasan fisik saya, tetapi gagal. Kondisi saya tidak pernah benar-benar fit,” katanya.

Argentina akhirnya kalah 1-0 dari Spanyol di final.

Yang lebih menyakitkan bagi Messi, Jorge bahkan tidak benar-benar bisa menikmati perjalanan tersebut.

“Saat saya tiba, Ayah mengira kami kalah di final lewat adu penalti. Kami tidak bisa membahas apa pun yang telah terjadi. Ayah tidak bisa menikmati momen itu sama sekali.”

Argentina memang tidak menjadi juara. Namun bagi Messi, perjalanan tersebut tetap memiliki arti yang sangat besar.

Jorge Messi, Lionel Messi (Foto: 2017)/Foto: Instagram Jorge.Sole

“Ayah tidak tahu betapa kami menikmati setiap pertandingannya. Sekali lagi, Ayah benar: saya memang harus berada di sana dan bermain.”

Messi mengatakan kisah tersebut adalah satu-satunya hal yang belum sempat mereka bicarakan.

“Saya menceritakan hal ini karena inilah satu-satunya topik yang tidak sempat kami bahas, sementara hal-hal lainnya sudah Ayah ketahui. Dulu kita biasa mengobrol setiap hari dan bertemu kapan pun memungkinkan, mengingat kesibukan saya.”

Kini, percakapan-percakapan itu berhenti.

Ronaldo ikut mengirim pelukan

Kabar meninggalnya Jorge memicu gelombang penghormatan dari dunia sepak bola.

Salah satu pesan yang paling menyentuh datang dari Cristiano Ronaldo, rival berat Messi sekaligus pemain yang memahami kehilangan seorang ayah dalam usia muda.

Ronaldo Merespon Unggahan Messi

Ronaldo menanggapi unggahan Messi dengan pesan singkat: “Pelukan hangat untukmu dan keluarga di masa-masa sulit ini, Leo. Semoga diberi kekuatan.”

Cristiano Ronaldo/Foto: Instagram cristiano

Ronaldo tentu memahami rasa kehilangan tersebut. Ia sendiri kehilangan ayahnya pada 2005 ketika baru berusia 20 tahun.

Selain Ronaldo, penghormatan juga datang dari klub pertama Messi, Newell’s Old Boys, Barcelona, serta tim nasional Argentina.

Messi sendiri melewatkan pertandingan ketika Inter Miami kalah dari Monterrey pada hari Minggu. Ia memilih pulang ke rumah setelah kematian sang ayah.

Melalui Instagram Stories, Messi kemudian menyampaikan terima kasih kepada mereka yang memberikan dukungan.

“Saya ingin mengucapkan terima kasih yang tulus kepada semua orang atas segala cinta, rasa hormat, dan perhatian luar biasa yang telah kalian tunjukkan kepada saya dan keluarga di masa yang sangat menyakitkan ini akibat kepergian Ayah.”

“Terima kasih telah mendampingi kami, atas setiap pesan, setiap gestur, dan yang terpenting, atas penghormatan kalian terhadap duka dan privasi kami.”

Ia juga mengunggah foto bersama sang ayah dengan keterangan sederhana dalam bahasa Spanyol:

“Aku mencintaimu, Pa.”

Air mata Messi di Piala Dunia

Kepergian Jorge sebenarnya didahului oleh tanda-tanda bahwa kondisi kesehatannya telah lama memburuk.

Dalam beberapa bulan terakhir, kepala keluarga Messi itu menghadapi masalah kesehatan yang tidak pernah dikonfirmasi secara resmi. Kondisinya bahkan sempat mengharuskannya dilarikan ke rumah sakit di Argentina.

Kabar mengenai penyakit Jorge pertama kali menjadi sorotan publik ketika Lionel Messi menangis di lapangan dalam Piala Dunia.

Bagi pemain yang selama bertahun-tahun dikenal mampu menjaga emosinya di hadapan publik, momen tersebut terasa berbeda.

Setelah mencetak hat-trick melawan Aljazair dalam pertandingan pembuka grup Argentina di Kansas City, Messi ditanya wartawan mengenai air matanya.

“Tidak, sejujurnya ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan olahraga. Ini adalah hari-hari yang sulit dan rumit,” kata Messi.

Beberapa jam kemudian, jurnalis Eduardo Feinmann mengungkapkan alasan di balik tangisan tersebut melalui Radio Mitre, salah satu stasiun radio yang paling banyak didengarkan di Argentina.

“Hal ini berkaitan dengan ayahnya. Kondisi kesehatan ayahnya sedang tidak baik,” kata Feinmann.

“Sudah cukup lama, beberapa bulan, sejak tahun lalu. Dan minggu ini ada situasi yang membuat kesehatannya sedikit memburuk, sehingga Messi sedang menghadapi pergulatan batin ini. Dengan kata lain, layaknya manusia pada umumnya.”

Belakangan dilaporkan bahwa Jorge mengalami masalah kesehatan serius di rumahnya pada Januari tahun ini hingga harus menjalani perawatan di rumah sakit.

Setelah kejadian tersebut, ia dikabarkan menjalani pemeriksaan kardiovaskular dan neurologis. Namun, keluarga tidak pernah memublikasikan diagnosis resminya karena ingin menjaga privasi kondisi kesehatan Jorge dari sorotan media.

Kesehatan Jorge kembali menjadi berita utama pada Juni, ketika seorang penyiar Argentina secara keliru mengabarkan bahwa ia telah meninggal dunia.

Penyiar tersebut kemudian menyampaikan permintaan maaf secara emosional dan mengundurkan diri dari pekerjaannya.

Sebulan lebih kemudian, kabar yang sebenarnya akhirnya datang.

Jorge benar-benar pergi.

Lionel Messi/Foto: Instagram leomessi

Jorge Berada di Balik Legenda Messi

Lionel adalah anak ketiga dari empat bersaudara pasangan Jorge dan Celia Cuccittini. Keduanya menikah pada 1978 dan tetap bersama hingga akhir hayat Jorge. Mereka membagi waktu tinggal antara Rosario dan Miami, tempat Lionel kini bermain bersama Inter Miami milik David Beckham di Major League Soccer (MLS).

Sebelum menjadi agen Lionel, Jorge bekerja di sebuah perusahaan manufaktur baja di Villa Constitucion. Ia bertemu Celia ketika masih muda di Rosario, kota yang kemudian menjadi tempat keluarga mereka menetap dan membesarkan anak-anak.

Messi memiliki dua kakak laki-laki, Rodrigo dan Matias, serta seorang adik perempuan, Maria Sol.

Di antara keempat anak tersebut, Lionel kemudian menjadi nama yang dikenal di seluruh dunia.

Namun, perjalanan menuju status sebagai salah satu pesepak bola terbesar sepanjang masa tidak pernah benar-benar ia jalani sendirian.

Jorge selalu berada di dekatnya.

Karier Messi bermula di Argentina bersama Newell’s Old Boys sebelum ia pindah ke Spanyol dan bergabung dengan akademi Barcelona, La Masia, pada 2000.

Selama 21 tahun yang luar biasa di Barcelona, Messi mengukuhkan dirinya sebagai salah satu pemain terbaik sepanjang masa.

Ketika dunia sepak bola dikejutkan oleh kepindahannya ke Paris Saint-Germain pada 2021, Jorge berada di balik proses tersebut.

Dua tahun kemudian, Messi meninggalkan ibu kota Prancis dan pindah ke Amerika Serikat untuk bergabung dengan Inter Miami.

Kini, di usia 39 tahun, ia masih bermain.

Namun, untuk pertama kalinya setelah perjalanan karier yang begitu panjang, Messi mengaku tidak yakin berapa lama lagi ia akan melanjutkannya.

Sebab, orang yang selama ini selalu ada di sampingnya sudah tidak ada.

Bersama Melewati Masa-masa Sulit

Hubungan Jorge dan Lionel tidak hanya diuji oleh keberhasilan.

Ketika Messi menghadapi kasus penipuan pajak pada 2016, sang ayah juga tetap berada di sisinya.

Keduanya duduk bersama di hadapan pengadilan. Jorge saat itu bertindak sebagai manajer bisnis putranya.

Jaksa menuduh Messi gagal membayar pajak secara semestinya atas pendapatan dari hak citra dirinya antara 2007 dan 2009.

Pada akhirnya, ayah dan anak tersebut dinyatakan bersalah atas tiga pelanggaran pajak.

Keduanya pada awalnya dijatuhi hukuman penjara 21 bulan dengan masa percobaan.

Hukuman Jorge kemudian dikurangi menjadi 15 bulan setelah peninjauan kembali oleh Mahkamah Agung Spanyol pada 2017. Keduanya juga dikenai denda dalam jumlah besar.

Sepanjang karier Messi—dari Rosario, Barcelona, Paris, hingga Miami—Jorge hampir selalu menjadi bagian dari cerita.

Ia melihat putranya tumbuh dari seorang anak yang mengejar bola menjadi salah satu pesepak bola terbesar dalam sejarah.

Ia mendampingi Messi ketika karier itu dimulai.

Ia mengurus berbagai urusan bisnisnya.

Ia berada di sisinya ketika menghadapi persoalan hukum.

Dan ketika tubuhnya mulai melemah, ia masih meminta putranya bermain di Piala Dunia.

Kini, setelah Jorge pergi, Messi berdiri di titik yang berbeda.

Ia telah memenangkan hampir segala sesuatu yang bisa dimenangkan seorang pesepak bola. Namun, ada satu hal yang tidak sempat ia berikan kepada ayahnya: kesempatan untuk mengangkat trofi Piala Dunia bersama-sama.

Dan di tengah duka itu, Messi hanya bisa mengajukan satu pertanyaan kepada dirinya sendiri: ‘Bagaimana melangkah ketika orang yang selama ini selalu berjalan bersamanya sudah tidak ada?’ (Sumber: Daily Mail)

Siap-siap! FIFA ASEAN Cup 21 September di GBK Senayan, Timnas Turun dengan Kekuatan Penuh!

JAYAKARTA NEWS— Setelah ‘ambruk’ di Piala AFF, kini Indonesia bersiap menghadapi turnamen akbar FIFA ASEAN Cup yang bakal digelar di stadion Gelora Bung Karno (GBK) Senayan Jakarta dan stadion Si Jalak Harupat, Bandung, 21 September-3 Oktober 2026.

Tidak seperti di AFF, kali ini Timnas akan menurunkan skuad utamanya, termasuk 15 pemain diaspora yang merumput di Eropa, seperti Ole Romeny, Jaj Idzes, Calvin Verdonk, Kevin Diks, Justin Hubner, Emil Audero, Maarten Paes, dll.

“ASEAN Cup masuk kalender FIFA Matchday yang digabungkan di bulan September dan Oktober. Kalau melihat seperti ini pasti kan semua pemain terbaik Indonesia bisa hadir dan kita harapkan prestasinya bisa maksimal,” kata Ketum PSSI Erick Thohir, Selasa (11/8/2026).

Turnamen FIFA ASEAN Cup baru pertama kali digelar dan Indonesia berkesempatan menjadi tuan rumah. Di sisi lain peluang ini juga menjadi kesempatan bagi Timnas membuktikan diri, apalagi bermain di ‘kandang’ sendiri.

Indonesia akan berada di Grup A bersama dengan India, Malaysia juga Singapura. Hanya saja untuk India masih tanda tanya lantaran dikabarkan negara itu pada waktu yang sama dijadwalkan akan menghadapi Brasil dalam ajang uji coba.

Sempat ada isu India akan mundur dari ASEAN Cup, namun Federasi Sepak Bola India (AIFF) membantah. Mereka ingin kedua turnamen berjalan bersamaan. Salah satu solusinya adalah membagi timnya menjadi dua, untuk ASEAN Cup dan uji coba lawan Brasil.

Persiapan Keamanan Ketat

Selain persiapan timnas, yang tak kalah penting adalah persiapan pengamanan kelancaran jalannya turnamen. Polri saat ini telah melakukan persiapan,  bukan hanya untuk mengamankan pertandingan tapi juga hal-hal di luar pertandingan. Misalnya, dukungan terhadap kelancaran mobilitas tim, termasuk perjalanan dari dan menuju tempat latihan.

Hal ini dikatakan Astama Ops Polri Komjen Pol. Fadil Imran saat menghadiri Rapat Koordinasi Dukungan Pemerintah Penyelenggaraan FIFA ASEAN Cup 2026 di Gedung Kemenpora, Jakarta, dilansir Humas Polri.

Rapat tersebut dipimpin langsung Menpora Erick Thohir dan dihadiri sejumlah kementerian, lembaga, serta pemerintah daerah yang terlibat dalam persiapan penyelenggaraan FIFA ASEAN Cup 2026.

Saat menghadiri rapat koordinasi, Astama Ops Polri Komjen Pol. Fadil Imran didampingi Kakorlantas Polri Irjen Pol. Wibowo.

Astama Ops Polri Komjen Pol. Fadil Imran mengatakan, Polri akan mengoptimalkan pengamanan dengan mengacu pada pengalaman dalam mengamankan berbagai event olahraga sebelumnya.

“Kami dari Kepolisian tentu akan mengoptimalkan pengamanan. Sport industry, sport tourism ini menjadi sebuah ekosistem yang harus dipahami oleh kepolisian juga. Ini harus kita dukung sepenuhnya,” ujar Fadil.

Menurut Fadil, Polri juga akan melakukan evaluasi serta perbaikan terhadap sejumlah aspek pengamanan. Sejumlah stadion yang akan digunakan untuk pertandingan juga telah menjalani asesmen.

Stadion Si Jalak Harupat, Jawa Barat, dan Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, disebut telah memenuhi persyaratan untuk digunakan sebagai lokasi pertandingan.

“Hampir semua pertandingan di lapangan sepak bola yang sering dipakai oleh PSSI kita sudah lakukan asesmen,” kata Fadil.

Selain pengamanan pertandingan, Polri juga menyiapkan dukungan terhadap kelancaran perjalanan tim dari dan menuju tempat latihan. Salah satunya melalui dukungan penggunaan Lapangan PTIK sebagai lokasi latihan Timnas Indonesia.

“Kami akan terus memperbaiki hal-hal lain terkait dengan kelancaran aktivitas dari dan ke tempat latihan, termasuk dukungan Polri untuk penggunaan Lapangan PTIK untuk tempat latihan Timnas,” kata Fadil.

Government Guarantee 

Sementara itu dalam rapat, Menpora Erick Thohir Erick mengatakan pemerintah memberikan dukungan penuh terhadap Indonesia sebagai tuan rumah. Presiden juga telah mengeluarkan Government Guarantee yang kemudian dikirimkan kepada FIFA.

“Alhamdulillah Bapak Presiden sudah mengeluarkan surat Government Guarantee yang langsung dikirimkan kepada FIFA dan FIFA sendiri alhamdulillah sudah menjawab bahwa kita menjadi tuan rumah,” ujar Erick.

Erick mengatakan saat ini masih terdapat proses negosiasi terkait host contract. Menurutnya, isi kontrak tersebut tidak jauh berbeda dengan penyelenggaraan Piala Dunia U-17 yang sebelumnya digelar di Indonesia. (*/di)

Pecahkan Rekor Transfer Rp1 Triliun! James Trafford Jadi Kiper Inggris Termahal Sepanjang Masa

JAYAKARTA NEWS— James Trafford dari Manchester City menjadi kiper Inggris termahal sepanjang masa menyusul konfirmasi Leeds terkait perekrutannya yang bernilai 45 juta poundsterling (biaya 40 juta pounsterling ditambah 5 juta pounsterling dalam bentuk bonus tambahan) atau Rp1 trilun lebih.

James Trafford yang pada Piala Dunia lalu menjadi kipper pilihan ketiga skuad Timnas Inggris memutuskan pindah ke Yorkshire demi mendapatkan lebih banyak waktu bermain.

Mengutip Daily Mail, Trafford awalnya berharap bisa mengenakan seragam nomor 1 saat bergabung dengan tim asuhan Pep Guardiola musim panas lalu, namun ia tersisih ketika City memanfaatkan kesempatan untuk mendatangkan Gianluigi Donnarumma dari Paris Saint-Germain.

Pemain berusia 23 tahun itu akhirnya hanya bermain empat kali di bawah asuhan Guardiola di Liga Premier, meskipun ia sempat tampil dalam 13 pertandingan piala saat timnya menjuarai Piala FA dan Piala Carabao.

Foto: Instagram jamestrafford

Newcastle sempat berbicara dengan City dalam beberapa pekan terakhir mengenai Trafford dan sebelumnya pernah mencoba merekrutnya, namun akhirnya beralih menjajaki opsi lain.

Trafford, berdasarkan laporan Daily Mail, bergabung dengan City musim panas lalu dalam kesepakatan senilai £27 juta dari Burnley—hanya dua tahun setelah City menjualnya seharga £14 juta—sehingga mereka memperoleh keuntungan yang cukup besar.

Foto: Instagram jamestrafford

Ia menjadi rekrutan ketiga Leeds musim panas ini setelah kedatangan Harry Wilson dan Tarik Muharemovic, sekaligus mencatatkan diri sebagai kiper Inggris termahal sepanjang masa.

Trafford Pecahkan Rekor Transfer Tertinggi

Rekor biaya transfer tertinggi sebelumnya dipegang oleh kepindahan Jordan Pickford senilai £30 juta dari Sunderland ke Everton pada tahun 2017; sementara itu, hanya Kepa (£68 juta) dan Alisson (£62 juta) yang memiliki nilai transfer lebih tinggi daripada Trafford.

Trafford juga menjadi rekrutan pemecah rekor klub bagi Leeds, melampaui nilai transfer £35,5 juta untuk Georginio Rutter pada Januari 2023.

Foto: Instagram jamestrafford

Saat membahas minimnya waktu bermain di Etihad pada bulan Februari lalu, Trafford sempat mengungkapkan kesulitan yang dihadapinya setelah kepindahannya tersebut.

“Rasanya menyenangkan (bisa bermain), meski bukan seperti itu yang saya harapkan saat memasuki musim ini,” ujar Trafford usai kemenangan di Piala FA melawan Salford City.

“Saya sudah berusaha mengantisipasi situasi ini agar tidak terjadi, namun kenyataannya memang demikian. Saya sadar bahwa setiap kali bermain, saya harus memberikan kemampuan terbaik, berusaha meraih kemenangan, dan terus berkembang.” ‘Begitulah situasi yang saya hadapi saat ini.’

Dalam wawancara terpisah, ia menambahkan: ‘Jelas sekali situasinya naik-turun sepanjang musim karena saya tidak banyak bermain, dan tentu saja ada keputusan yang harus saya ambil pada musim panas lalu.

Foto: Instagram jamestrafford

‘Saat mengambil keputusan, kita semua tentu mengharapkan hasil terbaik—dan jelas hasilnya tidaklah demikian—namun saya terus berusaha untuk berkembang setiap hari serta tetap positif dan bahagia. Sepanjang tahun ini, saya mendapatkan pelajaran yang sangat berharga.’ Trafford, yang telah mencatatkan dua penampilan bersama timnas Inggris, memperkuat sektor penjaga gawang di Elland Road yang kehilangan Karl Darlow dan Ilan Meslier pada musim panas ini. (Sumber: Daily Mail)

Lise Klaveness Digadang-gadang Jadi Presiden FIFA Gantikan Gianni Infantino

JAYAKARTA NEWS— Posisi Gianni Infantino sebagai Presiden FIFA terus digoyang. Langkah yang sekarang sedang dirancang adalah melaporkan ulah Infantino pada Komite Etik. Tiga poin yang jadi sorotan adalah terkait rencana penjualan saham Piala Dunia. Meskipun rencana tersebut sudah dibatalkan namun hal itu, konon, termasuk dalam materi aduan.

Kasus pembatalan sanksi Florian Balogun, serta pemberian Penghargaan Perdamaian kepada Presiden Trump, juga termasuk yang akan dilaporkan.

Mengutip Daily Mail, pelaporan tersebut akan dilakukan Presiden Asosiasi Sepak Bola Norwegia (NFF), Lise Klaveness, yang digadang-gadang menggantikan Gianni Infantino.

Sebagaimana diketahui, UEFA menuntut pelengseran Infantino. Mereka juga mengancam memboikot turnamen-turnamen FIFA selama Infantino masih menjabat sebagai presiden FIFA.

Klaveness—yang disebut-sebut sebagai calon pengganti Infantino—mendukung sikap tersebut setelah rapat pengurus bulanan mereka. Mantan presiden FIFA, Sepp Blatter, termasuk di antara pihak yang mendukung Klaveness untuk menggantikan Infantino.

Mantan pengacara berusia 45 tahun itu juga akan mengajukan aduan resmi ke Komite Etik FIFA, badan yang memiliki wewenang untuk menjatuhkan sanksi larangan berkecimpung dalam dunia sepak bola.

Presiden Donald Trump dan Presiden FIFA Gianni Infantino/Foto: Instagram gianni_infantino

Aduan tersebut, demikian dikutip dari Daily Mail, tidak hanya akan menyoroti usulan penjualan saham Piala Dunia senilai £3,1 miliar kepada investor swasta, tetapi juga keputusan pemberian Penghargaan Perdamaian FIFA (*FIFA Peace Prize*) yang bersifat *ad hoc* kepada Presiden Donald Trump, serta pembatalan sanksi kartu merah Florian Balogun di Piala Dunia yang diduga akibat tekanan politik dari Trump.

“Dewan pengurus menyatakan bahwa kami tidak lagi menaruh kepercayaan kepada Gianni Infantino. Kami tidak memilikinya pada pemilihan lalu, dan kami pun tidak memilikinya saat ini,” ujar Klaveness.

“Tidak ada jalan kembali bagi Gianni Infantino. Komunitas sepak bola internasional sangat terpecah, dan kita harus bersatu sekarang.

“Kami akan meminta presiden FIFA untuk mundur sekarang juga. Tidak diragukan lagi: ada krisis mendalam dalam kerja sama sepak bola internasional.

“Telah terjadi pelanggaran yang tidak dapat dipulihkan lagi,” tambahnya terkait keputusan untuk melapor ke komite etik.

“Kita telah sampai pada situasi di mana langkah-langkah luar biasa diperlukan untuk menciptakan perubahan yang langgeng.”

Dukungan untuk Infantino

UEFA memimpin upaya untuk melengserkan Infantino dari kursi Presiden FIFA. Namun, administrator sepak bola asal Swiss itu tampaknya masih mendapat dukungan dari Afrika, Amerika Selatan, dan Asia—dukungan yang cukup kuat untuk menangkis segala tantangan terhadap kepemimpinannya.

Sementara itu, Meksiko mengambil langkah berbeda dari sikap oposisi CONCACAF terhadap Infantino, dengan menegaskan kembali kepercayaan mereka terhadap kepemimpinan FIFA.

Penolakan UEFA saat ini untuk berpartisipasi dalam kompetisi FIFA akan menimbulkan masalah komersial yang signifikan bagi badan induk sepak bola tersebut, yang berpotensi mendorong Infantino untuk mempertimbangkan kembali posisinya di puncak dunia sepak bola. (Sumber: Daily Mail)

Jorge Messi Meninggal Dunia, Tangisan Lionel Messi di Piala Dunia Kembali Jadi Sorotan

JAYAKARTA NEWS— Setelah berjuang berbulan-bulan melawan penyakitnya, Jorge Horacio Messi — ayah bintang Argentina, Lionel Messi— meninggal dunia pada Jumat (7/8/2026) pada usia 68 tahun. Jorge Messi meninggal sekitar pukul 22.00 waktu setempat di rumah sakit di Rosario, Argentina.

Mengutip Daily Mail, kabar duka ini pertama kali dilaporkan oleh media lokal di Argentina dan kemudian dikonfirmasi melalui pernyataan resmi dari klub pertama Messi, Newell’s Old Boys.

Dalam pernyataannya, Newell’s Old Boys menulis dalam bahasa Spanyol: “Club Atletico Newell’s Old Boys melepas kepergian Jorge Messi dengan rasa duka dan kesedihan mendalam; beliau meninggal dunia pada usia 68 tahun di kota Rosario.

“Beliau dikenal sebagai penggemar setia ‘Leproso’, seorang pengusaha, dan ayah dari kapten tim nasional Argentina, Lionel Andrés Messi. Jorge adalah sosok pilar yang mendukung karier pemain terhebat sepanjang masa tersebut dengan visi, keteguhan, dan kasih sayang, bersama istrinya, Celia Cuccittini.

“Kehadirannya yang senantiasa mendampingi serta kepemimpinannya di balik layar sangatlah penting dalam mendukung setiap langkah Lionel, mulai dari awal kariernya di Malvinas hingga mencapai puncak kejayaan sepak bola dunia. Terima kasih telah mengajarkannya untuk mencintai warna kebanggaan ini.

Jorge Messi, Lionel Messi dan ibunya, Celia Cuccittini (Foto: 2017)/Foto: Instagram Jorge.Sole

“Dewan Direksi, anggota, atlet, dan seluruh keluarga besar ‘Leprosa’ menyampaikan pelukan hangat dan kasih sayang kepada Celia, Lionel, Rodrigo, Matías, dan María Sol, beserta seluruh kerabat dan orang-orang terdekat di masa sulit ini. Selamat jalan selamanya, *Leproso*.”

Daily Mail mengungkapkan hingga kini belum terungkap penyebab meninggalnya Jorge Messi.

Melalui unggahan di platform X, CONMEBOL—badan induk sepak bola Amerika Selatan—menyampaikan: “CONMEBOL sangat berduka atas meninggalnya Jorge Messi, ayah dari pesepak bola Argentina, Lionel Messi. Kami turut mendampingi Lionel, keluarga, teman, dan orang-orang terkasih dengan rasa hormat dan kasih sayang di saat penuh duka ini. Semoga beliau beristirahat dengan tenang.”

Legenda sepak bola Messi memiliki hubungan yang sangat erat dengan ayahnya, yang juga berperan sebagai agen sekaligus manajer bisnis *de facto* sepanjang kariernya, serta mengelola kerajaan bisnis bernilai jutaan dolar milik sang putra di luar lapangan.

Namun, dalam beberapa bulan terakhir, sosok kepala keluarga tersebut menghadapi masalah kesehatan yang belum terkonfirmasi secara resmi, yang mengharuskannya dirawat di rumah sakit di negara asalnya.

Kabar mengenai penyakitnya pertama kali mencuat ketika Lionel, 39 tahun, menangis di lapangan saat pertandingan Piala Dunia—sebuah momen langka di mana ia menunjukkan emosinya di depan publik.

Foto: Instagram Jorge.Sole

Setelah mencetak *hat-trick* melawan Aljazair dalam pertandingan pembuka grup Argentina di Kansas City, Messi ditanya oleh para jurnalis dan berkata: “Tidak, sejujurnya ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan olahraga. Ini adalah hari-hari yang sulit dan rumit.”

Hanya beberapa jam kemudian, jurnalis Eduardo Feinmann menjelaskan alasan di balik air mata tersebut dalam sebuah wawancara di Radio Mitre, salah satu stasiun radio yang paling banyak didengarkan di negara itu.

“Ini berkaitan dengan ayahnya. Kondisi kesehatan ayahnya sedang tidak baik,” ujarnya. “Sudah cukup lama, beberapa bulan, sejak tahun lalu.”

“Dan minggu ini ada situasi tertentu yang sedikit memperburuk kesehatannya, sehingga Messi sedang mengalami pergulatan batin ini. Dengan kata lain, layaknya manusia biasa.”

Jorge Alami ‘Insiden Medis’?

Belakangan dilaporkan bahwa Jorge mengalami “insiden medis” di rumahnya pada bulan Januari tahun ini, yang menyebabkannya harus dirawat di rumah sakit, mengutip Daily Mail.

Setelah kejadian itu, ia dikabarkan menjalani pemeriksaan kardiovaskular dan neurologis, namun pihak keluarga tidak membagikan diagnosis resmi apa pun karena mereka berupaya menjaga privasi kesehatan Jorge dari sorotan media.

Kesehatan Jorge kembali menjadi berita utama pada bulan Juni, ketika seorang penyiar di Argentina secara keliru mengklaim bahwa ia telah meninggal dunia—sebelum akhirnya menyampaikan permintaan maaf yang emosional dan mengundurkan diri dari pekerjaannya.

Lionel adalah anak ketiga dari empat bersaudara pasangan Jorge dan istrinya, Celia Cuccittini; keduanya tetap bersama hingga akhir hayat Jorge. (Sumber: Daily Mail)