Cerita Cinta dari Kobrey

 Cerita Cinta dari Kobrey

Risna Hasanuddin (kanan) bersama Agnes Kadepa (kiri), mahasiswa UNIPA kawan diskusi soal perempuan dan pangan adat. (foto: dok pri)

Kisah Pejuang Pendidikan Risna Hasanudin
Jatuh Bangun di Pusaran Suku Arfak

Saat pertama tiba di Kobrey, Papua Barat, Risna Hasanudin langsung dihadapkan pada serba-serbi masalah: anak-anak putus sekolah, perempuan-perempuan buta huruf dan angka, pasangan-pasangan muda berumah tangga di umur yang belum waktunya, kesenjangan sosial yang tajam serta orang-orang yang mencueki pola hidup sehat. Ia merasa, itu semua potensial menjadi bom waktu pemicu konflik horizontal.

Risna, demikian sapaan akrab Risna Hasanudin, yakin bahwa pendidikan adalah kunci kompatibel untuk mengurai semua persoalan itu. Lantas, ia menggagas berdirinya RC-KPA, Rumah Cerdas-Komunitas Perempuan Arfak. Langkah ini ia ambil untuk merespon kenyataan bahwa para pemangku kepentingan seperti susah peduli. “Pemerintah kabupaten cenderung melakukan pembiaran, kurang sosialisasi di bidang pendidikan maupun kesehatan,” papar Risna.  

Risna berharap, lewat RC-KPA penghuni Kobrey tak kian terpuruk dalam kehidupan mereka yang menurutnya dominan serampangan dan tak acuh pada pendidikan dan aturan, ketimbang menata diri agar lebih baik dari hari ke hari.

Ibarat sebatang lilin, begitulah warga Desa Kobrey, Distrik Ransiki, Kabupaten Manokwari Selatan (Mansel), Provinsi Papua Barat memaknai kehadiran Risna. Pancaran sinarnya ditangkap para ibu dan anak-anak Suku Arfak sebagai sumur cinta yang tak pernah habis ditimba. Cinta itu mengantarkan barisan perempuan dan bocah Arfak menuju era pencerahan melalui rupa-rupa pembelajaran.

Cinta Risna kepada Papua juga menjadi energi penyulut semangatnya sendiri untuk bangkit tatkala ia ditikam macam-macam persoalan: mulai dari gaji telat tiba, hingga pelecehan seksual, percobaan perkosaan, plus penganiayaan yang tak terlupakan.

Warga Kobrey hampir kehilangan cahaya lilin itu. Sebab, pascapenganiayaan dan ancaman perkosaan pada dirinya, Risna pulang kampung. Binar sang lilin meredup. Untunglah, sebelum mencapai titik padam, ia menemukan energi untuk kembali berkobar. Daya hidup itu bersumber dari cinta Risna kepada anak bangsa di tanah Papua. Cinta itu tak pernah mati. Ia lolos uji melewati rupa-rupa tragedi

Risna balik ke Kobrey. Para wanita dan bocah Suku Arfak mendapatkan energinya kembali.  Gairah belajar mereka berkobar seperti bara tersiram minyak. Skenario optimis disusun.  Bersama Risna, komunitas Orang Asli Papua (OAP) itu serempak mengayun langkah demi meraih masa depan yang lebih cerah.

Jalan Menuju Papua

Selasa 30 September 2014, cuaca cerah. Kumpulan awan terbentuk amat tipis, melayang ringan, seringan kaki Risna melangkah ke atas pesawat yang bakal membawanya dari Ambon, transit Jakarta, berlanjut ke Manokwari, Papua Barat. Yang terlihat berat padanya adalah bergepok-gepok buku yang dikemas dalam sebuah tas ransel besar setara 60 kilogram. “Buku di ruang perpustakaan saya di Ambon hampir habis karena nyaris semua bacaan saya bawa,” tutur Risna.

Ulah Risna menguras isi taman pustaka pribadinya itu mengundang gerutu para koleganya. “Teman-teman saya ngomel-ngomel karena bawaan saya paling banyak,” tambahnya. Dengan beban yang kelewat berat, pergerakan Risna tampak paling ribet dibandingkan enam rekan sejawatnya yang berangkat bersama dari Ambon dan tigabelas lainnya yang bergabung dari berbagai daerah di Indonesia.      

Tingkah polah Risna itu tak hanya meletupkan gerundel kawan-kawan seperjalanannya, tetapi juga mengundang rasa was-was Wa Ani Lapai, sang bunda. “Mama menjadi kepikiran, jangan-jangan saya akan menetap di Papua,” papar Risna menceritakan kekhawatiran ibunya.   

Sebenarnya mama Risna sama sekali tidak keberatan dirinya berangkat ke Papua. Bahkan sebaliknya ia bahagia, karena Risna mendapatkan pekerjaan tetap atau paling tidak buah hatinya itu memiliki pekerjaan. Namun demikian, Wa Ani Lapai tetap berharap, tidak akan selamanya putri keduanya itu berdiam di tempat yang berjarak jauh darinya. Sang Bunda tahu, dua tahun saja kontrak kerja Risna di tanah Papua. Akad itu berakhir pada 31 Agustus 2016.

Tahun 2012-2013 menjadi momentum awal pintu pembuka Risna menuju Papua. Kala itu ia mendapatkan info tentang program Pemuda Sarjana Penggerak Pembangunan di Pedesaan (PSP3) dari seorang kawannya. Program ini memiliki dua aspek penting. Pertama, menggembleng para pemuda agar potensi diri mereka mekar, dan kedua, sebagai bentuk sumbangsih mereka untuk turut bertanggung jawab pada masa depan bangsa dan negara.

Tahun 2014, wilayah Papua masuk ke dalam daftar tujuan program yang digulir Kementerian Pemuda dan Olah Raga (Kemenpora) itu. Ini klop dengan cita-cita Risna yang ingin menginjakkan kaki di tanah Papua. Jika lolos menjadi peserta PSP3, Risna tak sekadar bertandang ke Papua. Seperti kata pepatah sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui, Risna memperoleh dua keuntungan sekaligus: hijrah di tanah Papua sesuai impiannya dan mendapatkan penghasilan dari pekerjaannya.

Saat Risna masih duduk di bangku kuliah, kabar tentang Papua seliweran masuk ke telinganya. Yang acapkali menggampari indera pendengarannya adalah isu Papua merdeka atau berita pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di bumi Cendrawasih. Setiap kali menerima rupa-rupa berita tentang Papua, kian membara rasa penasaran Risna pada kondisi yang sebenarnya terjadi di pulau paling timur itu. “Saya ingin melihat Papua secara nyata, bukan lewat televisi atau media sosial,” tuturnya. 

Karena itulah, saat program PSP3 digulir tahun 2014, Risna mantap mendaftarkan diri. Serangkaian tes ia jalani. Untunglah, Risna lolos seleksi. Baginya ini sebuah rezeki. Sebab, lewat cara demikian, sang mama pasti merestui. Sementara jika pergi atas inisiatif sendiri, sudah pasti izin orang tua tak mungkin ia dapati. Dan betul dugaan Risna, saat dirinya masuk daftar peserta PSP3, Hasanudin Ladjaenu sang ayah, tiga orang saudaranya dan terutama sang bunda, senang sekali.

Perkampungan Kobrey di Pegunungan Arfak, Papua Barat. (foto: getlostsafely.com)

Berdinas di Kobrey

Tak hanya Ambon yang melepas kepergian Risna dengan cuaca cerah. Di sepanjang enam jam perjalanan udara, langit biru benderang terhampar serasa karpet merah yang digelar semesta untuk jalur penerbangan pesawat yang ditumpanginya. 

Setiba di Bandara Rendani Manokwari, ia masih merasakan kehangatan alam berbaur dengan wajah ceria penyambutnya, personel dari Dispora (Dinas Pemuda dan Olah Raga) Provinsi Papua Barat. Si Aparat Sipil Negara (ASN) itu pula yang mengantarkan Risna dan rombongan melanjutkan perjalanan ke Kabupaten Manokwari Selatan (Mansel) dengan menumpang bus khusus. “Butuh waktu tiga jam untuk tiba di Mansel karena saat itu kondisi jalanan masih buruk,” katanya. Daerah Tingkat II Mansel merupakan pemekaran dari Kabupaten Manokwari.

Risna mengaku berdebar-debar saat akan berangkat ke Mansel untuk melihat secara langsung kehidupan warga Papua di zona kepala burung itu. Sebelumnya, lulusan FKIP Universitas Pattimura (Unpati) Ambon ini membayangkan kabupaten yang baru resmi berdiri 17 November 2012 itu sebagai wilayah yang udik dan tertinggal. Namun, setelah ia melihat dengan mata kepala sendiri, ternyata ada gap antara bayangan di benaknya dan fakta di hadapannya. “Saya terkejut melihat kehidupan di kota Mansel yang sudah modern, masyarakatnya tidak kaku, gedung sekolah ada di mana-mana, bahkan mereka sudah menggunakan hape,” ceritanya. 

Tak ada upacara penyambutan spesial. Risna dan rombongan yang berjumlah dua puluh orang muda kandidat pembangun desa itu diterima Dinas Pendidikan Kabupaten Mansel untuk kepentingan pembekalan dan pembagian lokasi penugasan. “Kami diberi pengarahan sekaligus informasi nama desa tempat kami ditugaskan,” tutur Risna. Ia mendapatkan jatah penempatan di Kobrey. “Sejak awal pergi ke Papua, saya tidak tahu kalau akan ditempatkan di Kobrey,” imbuhnya.    

Kobrey berada di Distrik Ransiki, tempat di mana ibukota Mansel berada. Perjalanan Kobrey-Ransiki yang berjarak sekitar enam kilometer, cukup ditempuh dalam tempo duapuluh menit berkendara.

Kobrey dan wilayah Mansel pada umumnya, didiami Suku Besar Arfak. Awalnya, mereka berdiam di Pegunungan Arfak yang terhampar di sebelah barat Kabupaten Mansel. “Dahulu orang-orang Suku Arfak hijrah ke Mansel untuk bekerja sebagai buruh di perkebunan coklat,” cerita Risna. Daripada pulang pergi Mansel-Pegunungan Arfak yang jauh jaraknya, berat medannya dan lama waktu tempuhnya, masyarakat Arfak memutuskan tinggal di Mansel. Buruh migran ini beranak pinak di tempat itu sampai sekarang.

Kesan awal di mata Risna, Kobrey tergolong kampung “bertegangan tinggi”. Ibarat mercon, rata-rata penghuninya bersumbu pendek. Begitu banyak persoalan di tempat ini. Tapi kenyataan itu tak menyurutkan semangat Risna. Sebaliknya, gairah berbaktinya justru melesat bak roket pelontar pesawat. (Ernaningtyas)

Artikel terkait: 

Rumah Cerdas Komunitas Perempuan Arfak

Ke Kobrey Ku Kan Kembali

Risna dan NKRI Harga Mati

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *