Rumah Cerdas Komunitas Perempuan Arfak

 Rumah Cerdas Komunitas Perempuan Arfak

Program Rumah Cerdas Komunitas Perempuan Arfak (RC-KPA). (foto: dok pri)

Dunia pendidikan membetot perhatian Risna sejak menginjakkan kaki di Manokwari Selatan (Mansel). “Sangat miris hati ini melihat kondisi pendidikan di Kobrey, angka anak putus sekolah dan perempuan buta huruf sangat tinggi,” tutur Risna. Lantas, ia menggagas berdirinya Rumah Cerdas Komunitas Perempuan Arfak (RC-KPA).

Risna berharap RC-KPA mampu merangsang minat belajar para pelajar, anak-anak putus sekolah dan wanita Arfak. Ia optimis Orang Asli Papua (OAP) di Kobrey nantinya akan menjadi pribadi-pribadi yang maju dan mampu meraih masa depan yang bahagia melalui pintu gerbang pendidikan. Namun Risna tak lantas begitu saja mendirikan RC-KPA. Untuk sampai pada titik eksekusi rumah belajar bersama itu, Risna membutuhkan data-data pendukung.

Kendati berita tentang Papua telah menggampari indera telinganya saat kuliah dulu dan meski kini tanah Papua telah diinjaknya, bagi Risna wilayah itu tetap serupa rimba raya dan ia seperti makhluk asing yang kapan saja bisa tersesat bila terburu-buru melangkah. Ia merasa wajib mengenal dekat masyarakat, budaya, alam dan apa pun yang ada di Kobrey terutama wajah pendidikan formal. Ia mesti paham kondisi sekolah dasar dan menengah di seantero kampung, dari pusat desa sampai ke titik-titik terjauh. Ia pun harus mengecek data pendidikan dasar Mansel yang dimiliki instansi terkait setempat. Kelak, setelah semua data ada dalam genggaman, keyakinan diri Risna untuk mewujudkan RC-KPA seratus persen mantap.

Pendekatan Partisipatoris

Risna memulai perjuangannya. Ia mengawali kiprahnya dengan pendekatan partisipatoris.  Jarak dengan warga ia potong agar keberadaannya di tengah masyarakat Kobrey menyatu sempurna. Risna bergabung dan bergaul dengan barisan anak-anak muda dan ibu-ibu Kobrey dari detik ke detik, dari satu kegiatan ke lain acara, hampir sepanjang hari, seminggu penuh. Inilah cara jitu Risna untuk bisa mendengarkan mereka sekaligus memahami lebih mendalam  kehidupan sosial, budaya, spiritual dan pendidikan kaum Arfak.

“Saya berbaur dengan masyarakat, terlibat langsung dalam kegiatan rutin mereka keluar masuk hutan, memburu tikus tanah, kelelawar, keong mas, udang rawa-rawa atau memanen segala macam sayur-mayur liar di rimba Papua,” papar Risna. Ia menceritakan, para OAP terbiasa menghabiskan waktu sehari semalam di hutan. Mereka membangun rumah-rumah papan di kebun coklat untuk menginap. “Sembari berburu, warga Kobrey juga melihat pohon-pohon coklat milik mereka,” tutur Risna.

Bagi OAP, hutan serasa pasar gratis. Sekembali dari rimba, warga Kobrey menenteng rupa-rupa hasil hutan menuju rumah masing-masing, persis emak-emak belanja sembako pada setiap tanggal muda. Mereka menenteng jamur, daun labu, daun pepaya, daun ubi ungu, keong, udang rawa, tikus tanah juga kelelawar. “Saya hanya ambil sayur dan keong saja,” kata Risna. 

Risna bersaksi, semua insan yang terlibat dalam perburuan itu tampak gembira hati dan sangat menikmati. Kebahagiaan belum selesai ketika perburuan berakhir. Wajah-wajah sumringah kembali terpancar saat hasil buruan itu tersaji di piring. Ragam kuliner hutan ini menjadi santapan lezat masyarakat dan sumber nutrisi tiada henti. Sudah layak dan sepantasnyalah bila momen-momen penyatuan warga dengan alam itu disambut dengan suka cita.

Akhirnya, Risna mendapatkan jawaban. Dunia luar lebih menarik ketimbang suasana belajar dengan duduk di bangku yang berderet kaku dan menyimak materi pelajaran dari para guru. “Anak-anak muda lebih senang kumpul-kumpul untuk makan pinang, minum kopi, bermain di sungai, pergi ke kebun, keluar masuk hutan ketimbang menghabiskan beberapa jam di sekolah-sekolah formal,” jelasnya.

Risna menjadi tidak heran ketika mendapati kenyataan bahwa para muda Kobrey adalah pribadi-pribadi acuh tak acuh untuk menimba ilmu. Menurut pengamatannya, OAP di tempatnya mengabdi ini tergolong kelompok manusia yang malas untuk tahu. Kesimpulan Risna, di mata bocah-bocah Kobrey, sekolah sama sekali tidak asyik. 

Celakanya, Risna mendapati kenyataan bahwa para pemangku kepentingan tampak antipati melihat kondisi faktual para muda yang lebih memilih kongko-kongko ketimbang belajar di sekolah. “Sama sekali tidak ada proses penyadaran akan pentingnya pendidikan,” tegas Risna.  Ia mensinyalir, sikap tak simpati itu juga dipicu oleh faktor intern. Kesejahteraan guru diabaikan. Gaji maupun dana operasional tak sebanding dengan tuntutan jam kerja yang dipatok pemerintah.

Tekanan ekonomi keluarga turut andil memperparah situasi. Orang tua yang tidak mampu membayar biaya sekolah berakibat pada pembiaran pendidikan anak-anak. “Masih saja ditemukan bahwa siswa harus dibebani biaya sekolah yang terkadang orang tua tidak mampu membayar sehingga timbul di benak mereka untuk acuh tak acuh terhadap pendidikan anak,” papar Risna. Ia mendapatkan fakta bahwa pendidikan yang sebenarnya dicanangkan Pemerintah bebas biaya, tidak pernah terlaksana dengan baik di Kobrey. Di wilayah ini pun, sarana dan prasarana untuk pendidikan tampak sangat terbatas.  

Rupa-rupa kendala itu akhirnya bermuara pada wajah dunia pendidikan di wilayah Kobrey yang terkesan serampangan. Pembiaran oleh pihak yang bertanggung jawab di dunia pendidikan formal, para muda Kobrey yang hobi senang-senang, orang tua yang acuh tak acuh  itu dipandang Risna sebagai tiga hal yang akhirnya kompak membawa masyarakat suku Arfak itu menjalani kehidupan di bawah standar.

Perilaku menyimpang marak di lingkungan anak muda seperti seks bebas, mengkonsumsi narkoba dan minuman keras, merokok, membolos sekolah, hamil di luar nikah serta kawin pada usia sangat muda. Akhirnya angka putus sekolah pun meroket. Buta huruf terjadi pada banyak wanita. Sekadar menerapkan PHBS (Pola Hidup Bersih dan Sehat) paling sederhana, warga Kobrey tak bisa. Kesadaran akan kesehatan diri serta lingkungan yang baik nyaris tak ada. 

Risna mengaku syok melihat kehidupan masyarakat Kobrey. Begitu banyak masalah yang membuat masyarakatnya sulit maju. Kenyataan itu tak lantas membuat Risna patah arang.  Sebaliknya, ia terbakar komitmen untuk mewujudkan idealismenya mencerdaskan warga Kobrey agar mereka mampu mengurai persoalan hidup dan menjadi sederajat dengan sesama anak bangsa di titik-titik lain Indonesia.

Tekad Risna kian membara setelah didatangi Yosina Saiba, istri kepala kampung, penyandang buta angka dan aksara. Sorot mata Yosina saat meminta diajari membaca, menggugah rasa kemanusiaan Risna. Ibarat peribahasa dari mata turun ke hati, ambisi Risna sontak mengeras melebihi baja untuk segera membangun kultur belajar untuk warga penghuni pelosok kepala burung Papua ini.

“Perpustakaan Jalanan” Risna. (foto: dok pri)

RC-KPA

Pascapengumpulan data lapangan, Risna mulai menyusun proposal pendirian RC-KPA. Proposal itu memudahkannya bertindak atas dasar langkah-langkah yang tersusun, terukur dan visioner. Eksekusi program diupayakan tidak menyimpang dari garis-garis yang telah dipatok. Inilah proses dialektika sederhana yang membantu Risna untuk melakukan evaluasi pada tataran hasil. Jika gagal, bagaimana solusinya, pun jika berhasil, langkah lanjutan apa yang kemudian mesti ia jalankan.

Ada tiga bidang utama yang segera dihelat Risna sesuai yang tertera di dalam proposal: pertama literasi, kedua bimbingan belajar (bimbel) untuk anak-anak usia 5 sampai dengan 15 tahun, dan ketiga membuka sekolah buta huruf untuk perempuan-perempuan Arfak.  

Membangun dunia literasi di tempuh Risna dengan membuka perpustakaan jalanan dan umum.  Jadwal buka perpustakaan jalanan setiap Jumat dan Sabtu, gratis dan terbuka bagi siapa saja, baik warga Kobrey di pusat desa sampai mereka yang bermukim di titik-titik wilayah terjauhnya. Sementara perpustakaan umum diadakan di tempat tinggal Risna setiap hari Senin dan Minggu.

“Fasilitas penunjang pendidikan, seperti perpustakaan, toko buku, dan media pembelajaran sangatlah minim. Bahkan di beberapa daerah pegunungan, media belajar seperti buku-buku pelajaran untuk kebutuhan anak didik tidak tersedia,” papar Risna memberikan alasan di balik kegiatan perpustakaan itu. “Literasi ini demi mewujudkan pendidikan yang merata di tanah Papua,” tambahnya.

“Bimbingan belajar di lakukan di rumah saya sebagai fasilitator, pada Hari Kamis, Jumat, Sabtu dan Minggu setelah ibadah,” tutur Risna. Bimbingan belajar ini tak hanya sebatas menyentuh persoalan akademis. Kegiatan Bimbel memberikan kesempatan kepada anak perempuan berlatih menjahit noken (tas tradisional asli  Papua terbuat dari serat kulit kayu yang dibawa dengan menggunakan kepala).

“Sekolah buta huruf diadakan di rumah saya pada jam-jam yang telah ditentukan pada hari Senin, Rabu dan Jumat,” tutur Risna. Risna mengakui, awalnya hanya satu dua ibu yang niat belajar. Tidak mudah untuk mengajak para wanita yang sehari-hari sudah disibukkan oleh kegiatan di seputar rumah tangga, kebun dan berburu bahan pangan di hutan baik untuk dikonsumsi atau dijual  ke pasar. Akhirnya, menurut catatan Risna, di tahun 2020 ada 16 ibu murid sekolah buta huruf. “Seorang ibu wafat akibat kanker,” tambahnya.

Usha Risna memberantas buta huruf dan buta angka. (foto: dok pri)

Bahagia

Kendati di masa-masa awalnya tak mudah, namun tak ada kata menyerah dalam kamus hidup Risna untuk terus melangkah membesarkan RC-KPA. Sejak memulai kiprahnya, ia tidak pernah berpangku tangan. Jadwal kegiatannya terhitung padat. Akhirnya, usaha tak memungkiri hasil.

Kobrey, kawasan pedesaan sederhana dengan masyarakat yang berkemampuan terbatas itu lambat laun menjadi kental dengan suasana belajar. Namun tak berarti sepak terjang Risna itu menyetop kegiatan pendidikan formal. Ia tetap menyemangati dan mendorong agar para siswa menyelesaikan pendidikan mereka di bangku sekolah. Bahagia dan bersyukur menyelimuti hati Risna tatkala menyaksikan keseharian hidup masyarakat di Kobrey yang menampakkan perubahan.

Di perpustakaan baik jalanan maupun rumahan, anak-anak merubungi buku seperti kawanan lebah di tengah bunga-bunga. Di markas RC-KPA, para ibu berteriak menyebut nama huruf-huruf dan angka-angka. Di empat itu pula, tangan-tangan para remaja putri dan ibu-ibu lincah merajut serat kayu untuk dijadikan noken (tas rajut khas Papua). Wajah-wajah sumringah kembali mekar ketika noken terjual. “Seratus persen hasil penjualannya kami kembalikan kepada pemilik,” tandas Risna. Merajut noken ini menjadi prioritas Risna sebab para remaja kampung mulai meninggalkan warisan leluhur ini. Padahal, nilai ekonomis noken sangat tinggi. “Harga sebuah noken mencapai ratusan ribu rupiah“ kata Risna.

Sesuai dengan prinsipnya yakni teruslah berbuat kebaikan karena tindakan kebaikan akan membahagiakan jiwa, Risna menjalani hidup keseharian di Kobrey dengan suka cita. Penghasilan yang dijanjikan Pemerintah senilai Rp 4 juta per bulan yang belum ia terima selama empat bulan pertamanya pun tak membuatnya patah semangat. Kondisi telat gaji ini menyulut rasa tak terima orang tuanya, dan mereka menyarankan agar Risna pulang kampung saja. Namun, pendirian Risna untuk terus berdinamika di Kobrey tak bisa dihentikan hanya oleh nafkah yang terlambat. Rasa bahagia Risna tak terkikis secuil pun kendati untuk hidup keseharian ia mengandalkan uang kiriman dari orang tua.

Tragedi

Namun, kebahagian Risna akhirnya terciprati petaka. Tragedi itu seperti melemparkannya ke titik nadir. Ada dua kemalangan yang menimpanya itu, pelecehan seksual dan percobaan perkosaan disertai penganiayaan.

Suatu haridi bulanOktober 2014 tepat pukul 13.00 siang WIT, Risna mandi. Sama sekali di luar dugaannya ketika masih ada di kamar mandi, dalam kondisi tanpa busana, saat akan mengambil handuk, ada benda menyentuh pinggangnya. Risna kaget, spontan berteriak dan ia meluapkan amarahnya ketika sadar bahwa senggolan itu bersumber dari tangan manusia. Risna sadar ada yang mengintip dirinya, si pemilik rumah tempatnya tinggal berinisial YI bersama putranya yang masih duduk di kelas 3 SMP berinisial OI. Rupanya bapak-anak itu kompak  bersekongkol. Risna berpikir, apabila dirinya bisa mereka taklukkan, tak hanya sekadar mengintip atau menyenggol pinggang seperti ulah OI, tetapi bisa lebih fatal lagi semisal pemerkosaan. Untunglah Risna bisa lolos.   

Syok berat menghantam jiwa raga Risna. Pascatragedi siang hari itu, ia segera beranjak ke Desa Bahama. Di tempat itu ada markas PSP3. Selama dua pekan menenangkan diri di tempat itu, Risna memilih bungkam. Ia justru menceritakan tragedi yang menimpanya kepada kawan-kawannya di Manado. Mereka menyarankan agar Risna segera keluar dan mencari lokasi pengganti.

Dua minggu di posko membuat Risna tenang. Ia lantas kembali ke Kobrey untuk bertemu YI.  Kepadanya Risna menjelaskan alasan mengapa ia memilih tinggal di Posko. Ia juga memberikan pemahaman kepada si pemilik rumah itu agar memperhatikan anak-anak mereka. Bila abai, mungkin ke depan si anak akan menjadi pelaku kejahatan perkosaan.

Sejatinya, tak hanya sebatas marah sikap Risna atas perlakuan OI dan YI. Ia berniat melaporkan peristiwa tersebut ke polisi. Namun, karena sadar diri tak memiliki kekuatan apa-apa, rencana itu ia urungkan. Sejak kembali ke rumah YI, waspada situasi selalu ia tegakkan. Untunglah di tempat ini ada Mama Jein, adik ipar YI yang mau membantu mengawasi dirinya dari kejauhan saat mandi. Agar aman, bebersih diri itu pun selalu ia lakukan kala siang hari.

Kendati telah berhati-hati, Risna masih kecolongan juga. Awal Januari 2015, dalam suasana tahun baru, percobaan perkosaan menimpanya. “Jam 4 sore selesai mengambil air wudhu, saya beranjak ke kamar untuk sholat ashar. YI mendatangi saya, menerobos masuk. Dalam keadaan mabuk, ia berusaha memeluk dan menciumi saya. Saya marah dan berteriak keras-keras. Untunglah, mama Jein datang menolong. Saya marah, dan spontan membereskan barang-barang saya waktu itu juga dibantu Mama Jein bersama suami,” cerita Risna panjang lebar.

Rumah Kepala Kampung, Esap Inyomusi menjadi pilihan Risna untuk mendapatkan perlindungan.  Untungnya, Esap tanggap situasi dan tulus hati memberikan pertolongan.  Orang nomor satu Kobrey itu meminjamkan salah satu rumahnya. Tak hanya untuk tinggal, tempat itu juga menjadi markas RC-KPA. Di mata Risna, Esap seorang pemimpin peduli. Tak hanya memberikan tempat tinggal sekaligus arena berkegiatan begitu ia membutuhkan. Jauh sebelumnya,  Esap mengizinkan Balai Kampung sebagai tempat berkegiatan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang ia namai “Absito”.

Tahu Risna pindah, YI marah. Dalam kondisi mabuk ia mengusir Risna dari Kobrey dan     menuduhnya mencemarkan nama baik. Kemarahan YI tak sebatas menyasar Risna, tetapi juga para pihak yang telah menolongnya. Ibarat peribahasa anjing menggonggong kafilah tetap berlalu, begitulah sikap Risna.  Kendati YI pejabat publik, Risna tak  peduli. Pun ketika demi nafsu setannya YI mengiming-iminginya menjadi tenaga honorer di Dinas Pendidikan setempat, Risna menolak tegas.

Di tempat barunya itu Risna lebih tenang. Namun, tragedi kembali menyatroninya, masih di tahun yang sama, 2015. Kali ini telak. Ojek yang ditumpanginya dicegat segerombolan anak muda. Tampaknya niat mereka memperkosa, tapi gagal. Kegagalan nafsu bejat itu tergantikan oleh lemparan batu karang besar yang merobek keningnya. Risna menjalani rawat inap. Pascakejadian itu ia pulang ke Ambon. (Ernaningtyas)

Artikel terkait: 

Cerita Cinta Dari Kobrey

Ke Kobrey Ku Kan Kembali

Risna dan NKRI Harga Mati

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *