Wanita Berkebaya di Gerbong MRT

 Wanita Berkebaya di Gerbong MRT

Wanita-wanita berkebaya di stasiun MRT Lebak Bulus, Jakarta Selatan. (foto: ist)

JAYAKARTA NEWS – Suasana stasiun MRT (Mass Rapid Transit) di Lebak Bulus, Jakarta Selatan beda dari biasanya. Hari itu, hari Minggu tanggal 6 November 2022. Hari “istirahat” kaum pekerja Ibu kota. Yang berbeda bukan pada kepadatan penumpang.

Di antara gerbong yang relatif kosong, tampak sekelompok wanita berkebaya. Mereka berkumpul dan naik MRT bersama-sama menuju Jl. Thamrin, Jakarta Pusat.

Usut-punya-usut, pemandangan itu ternyata tidak hanya terjadi di MRT Lebak Bulus – MH Thamrin. Hari itu, kaum Hawa dari berbagai penjuru Jabotetabek berbondong-bondong menuju Jalan Thamrin. Tujuan mereka satu: Parade Budaya Nusantara & Gerakan Berkebaya (PBN&GB), di jantung kota Jakarta, Jalan MH Thamrin.

Remaja Puteri ikut berParade Kebaya dr Sarinah-HI-Sarinah. (foto dini)

Lebih menarik lagi karena penyelenggara kegiatan itu adalah BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) yang bekerjasama dengan Kebaya Foundation. Tak heran bila pagi itu, Kepala BNPB Komjen Pol Boy Rafli Amar berada di lokasi itu juga. “Kebaya saat ini sedang diperjuangkan ke tingkat UNESCO. Kami mendukung kebaya menjadi identitas kaum perempuan di Tanah Air,” ujarnya.

Kebaya Goes to Unesco Single Nomination dengan memecahkan rekor MURI. Boy mengutarakan budaya bangsa adalah vaksinasi yang efektif untuk mencegah perkembangan virus intoleransi, radikalisme dan terorisme. Pasalnya dalam budaya bangsa terkandung nilai nilai penghormatan terhadap keagamaan antar suku bangsa di Indonesia.

Menurut panitia Gerakan Berkebaya dan pengamatan di lapangan, lebih dari 6 ribu peserta, wanita tua muda menggunakan kain kebaya dengan berbagai warna dan model serta beragam atribut mengikuti Parade Kebaya. Meskipun sebagian peserta tampak kelelahan tapi mereka tetap bersemangat dan penuh canda tawa, beriringan jalan menyelesaikan  jalan kaki dari Sarinah Thamrin hingga bundaran  HI dan kembali lagi ke Sarinah Thamrin.

Berparade dengan membawa spanduk, (foto: ist)
Usai berparade. (foto: dini)

Bahkan mereka berjoget sambil bernyanyi dan serta joget poco-poco. Acara PBN & GB yang dimulai pukul tujuh pagi, tidak hanya diramaikan dengan parade kebaya, tetapi juga berbagai kegiatan seperti lomba memasak Nusantara, hiburan rakyat seperti Tari Kuda Lumping, Permainan  Angklung, Reog Ponorogo dan Ondel- ondel.

Selain itu digelar pula bazar aneka produk buatan Indonesia.  Acara Gerakan Berkebaya kali ini merupakan yang kedua kali (Pertama kali bulan Juli 2022 lalu). Diikuti organisasi Kewanitaan di antaranya Perempuan Pelestari Budaya, Pertiwi Indonesia, NKRI Berkebaya, Bunda Milenial, Perempuan Indonesia Maju serta berbagai organisasi kewanitaan.

Di samping, para peserta dari berbagai daerah, seperti Papua, Minang, Minahasa, dan DKI Jakarta. Elemen pemerintahan juga terlibat, di antaranya dari Kementrian P&K, Kominfo, Kementrian Pemuda & OR, KemenKop UKM, BUMN.

Acara pendukung Kebaya goes to UNESCO tidak saja berlangsung di Jakarta. Meski semua ditampilkan dengan tajuk yang berbeda. Pada bulan Oktober lalu di kota Solo diselenggarakan acara Berkebaya Bersama Ibu Negara, Iriana Jokowi yang diikuti ribuan peserta dari kota Solo dan sekitarnya.

Sebulan sebelumnya ratusan peserta perempuan Bali mengikuti Parade Kebaya Nusantara di Puri Agung Tabanan, Bali. Layak kita acungkan jempol banyaknya pihak berkampanye Kebaya goes to UNESCO.

Ikatan Kelg Franco Indonesia (IKFI) berkebaya di Museum Lovre Paris. (foto:ist)
Perempuan Indonesia yang sudah bermukim lebih dr 20 thn di Perancis berfoto didepan Istana Fontainebleau, Chateau. (foto: ist)

Acara yang sama  dengan peserta lebih fantastis diadakan di Medan akhir bulan Agustus 2022. Dengan peserta   lebih dari 10 ribu perempuan. Bahkan di beberapa negara serangkaian acara memperagakan  Kebaya berlangsung di Amerika, Swiss, Belanda, Perancis. Mereka semua berpartisipasi dalam mendukung GB.

Di AS lebih dari seratus perempuan yang tergabung dalam Dharma Wanita KBRI Washington DC mengenakan aneka kebaya. Demikian pula di Perancis. Para wanita Indonesia yang bersuamikan orang Perancis yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Franco Indonesia (IKFI) yang diketuai oleh Vina Neret memakai kebaya Nasional Indonesia di Museum Lovre Paris.

Mereka mendukung Kebaya sebagai warisan Tak Benda (Intangible Heritage) UNESCO. “Kami juga akan terus menggiatkan upaya promosi kebaya sebagai busana Nasional Indonesia agar lebih dikenal oleh Publik Perancis,” ujar Elly Rosita yang bersuamikan Alain Cailly.

Sementara itu  Ketua Kebaya Foundation Tuti Roosdiono bahkan mendesak Pemerintah tetapkan Hari Kebaya Nasional. Kita ketahui, kebaya sebagai warisan busana Nusantara telah ada sejak ratusan tahun. Kini sudah saatnya diakui dunia sebagai busana khas Indonesia dengan beroleh pengakuan warisan dunia tak benda dari UNESCO.

Berhasilkah usaha pelestarian Kebaya yang diusung ke pengakuan dunia/ UNESCO? Tentu kita semua berharap. Semoga. (handini nbm)

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.