Jembatan Damai dari Pangandaran

 Jembatan Damai dari Pangandaran

Ai bersama para murid, asal Selayar, Jayawijaya, Parigi Moutong dan Malaysia. (foto: ist)

JAYAKARTA NEWS – Sudah lama Ai Nurhidayat gelisah. Hatinya tercekat menyaksikan bom waktu bernama perbedaan, yang siap meledak kapan saja jika tidak dikelola dengan baik. Baginya, perbedaan itu harus “dibenturkan”, untuk mendapatkan output yang positif. Dan mengelola sekolah multikultural, menggabungkan siswa dari berbagai latar belakang budaya, suku dan agama yang berbeda, bagi Ai, merupakan salah satu jawabannya.

Ai memang tidak berlebihan. Jika tidak dikelola dengan baik, perbedaan akan melahirkan konflik horizontal yang jelas mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. Sejumlah koflik di Tanah Air, mulai dari Ambon, pilkada DKI hingga pilpres 2019 lalu jelas berawal dari perbedaan. Perbedaan yang dimanfaatkan untuk kepentingan politik, dan dampaknya hingga kini masih terus membekas di tengah-tengah masyarakat.

Bagi Ai, sebagaimana diungkapkannya kepada Jayakarta News pada Oktober 2020 di Jakarta Selatan, sebenarnya perbedaan itu indah. “Perbedaan itu karunia Tuhan,” tandas Ai. Sayangnya belum tercipta kesamaan pandangan dalam memahami perbedaan itu.

Ai Nurhidayat. (foto: jayakarta news)

Perbedaan masih dianggap sesuatu yang salah dan perbedaan pandangan ini akhirnya mengarah ke perpecahan. Tindak kekerasan berlatar belakang   perbedaan ideologi, budaya dan etnis serta agama kerap mewarnai atau menjadi pemicu konflik. Esensi masalahnya jelas, menurut Ai, ada kegagalan ketika merespon perbedaan secara bijaksana.

Memang guna  menyikapi  perbedaan atau kemajemukan diperlukan sebuah gerakan nyata dan salah satunya melalui jalur pendidikan. Melalui pendidikan bisa diberikan penegasan betapa penting menghargai perbedaan. Situasi ini yang membuat hati Ai Nurhidayat tergerak. Bersama sejumlah rekannya, Ai berinisiatif mendirikan sekolah gratis di Pangandaran. Resminya pada 2016, SMK Bakti Karya dengan konsep multikultural pun berlangsung.  

Mendirikan SMK Bakti Karya tentu tidak segampang membalik telapak tangan. Ada proses yang penuh tantangan untuk mewujudkannya. Berawal saat usai  menyelesaikan pendidikannya di Universitas Paramadina, 2013, Ai kembali ke kampungnya di Pangandaran. Ketika itu belum ada pikiran untuk mendirikan sekolah sama sekali. Malah awalnya Ai mendirikan komunitas belajar, hasil dari  diskusi  dengan para pemuda setempat. Forum diskusi  tersebut kemudian melahirkan sebuah komunitas bernama Komunitas Belajar Sabalad. Komunitas ini memiliki motto unik, “mencari ilmu selama-lamanya, mencari kawan sebanyak-banyaknya”. Sabalad dalam bahasa Sunda, artinya perkawanan.

Jika pada akhirnya ada sekolah yang kini memberikan ruang untuk kelas multikultural, berawal  adanya info sebuah sekolah yang terancam  bangkrut. “Saya dikasi tau teman, kalau ada sekolah yang muridnya nyaris tidak ada sehingga sekolah itu akan ditutup. Dari situlah saya memutuskan untuk mengambil dan mengelolanya bersama teman-teman komunitas,” kisah pria kelahiran Ciamis 22 Juni 1989 ini.

Ai berpikir, setelah adanya sekolah ini, maka lahir lah kelas multikultural. Kelas ini lahir dari hasil bincang-bincang mengenai multikultural. “Muncul begitu saja ide kalau  multikutural tidak bisa hanya dibicarakan di luar sekolah formal. Alangkah baiknya jika kelas multikultural ada di sekolah formal.”

Maka pada tahun 2016,  kelas multikultural pun resmi dijalankan. Angkatan pertama terdiri dari murid-murid yang berasal dari enam propinsi. “Enam propinsi itu dari daerah konflik. Di antaranya Aceh, Ambon, dan Kalimantan Utara.

Dari kiri: Ida Yesnath, Friska Mabel, Ai, Anita Yesubut, dan Linus Logo. (foto: ist)

Kisah Teman dari Papua

Menurut Ai, untuk mengatasi konflik perbedaan, harus dimulai dari diri sendiri. Dalam perjalanan hidupnya, Ai beberapa kali mengalami kegundahan ketika ada peristiwa-peristiwa yang besinggungan dengan perbedaan. Baik itu tentang agama, atau bahkan juga kondisi fisik suku tertentu. Ai mencontohkan satu kisah yang dialaminya, yaitu Kisah Papua.

Kisaran tahun 2014, Ai mengalami peristiwa yang tidak mengenakkan hatinya. Ketika itu dua  temannya dari Papua berkunjung ke Pangandaran. “Mereka mau melihat, Pangandaran seperti apa sih,” ujar Ai. Nah, begitu mereka tiba di Pangandaran, orang-orang kaget melihat teman Ai yang berasal dari Papua itu. Melihat cara mereka memperhatikan temannya, Ai jadi merasa tidak enak. “Saya kalau ingat itu, benar-benar tidak enak. Saya merasa seperti pelecehan,” ujarnya sedikit melemah suaranya.

Ai merasa heran, mengapa orang di Pangandaran itu merasa aneh melihat teman Papuanya. Karena, menurut Ai, sebagai daerah wisata, seharusnya mereka tidak seperti itu. “Kalau melihat orang bule, mereka memang sudah biasa. Tapi ketika teman saya lewat, orang-orang itu  pada kaget. Saya juga merasa aneh, kenapa sampai segitunya mereka melihat teman saya itu,” kisah Ai.  

Dari peristiwa, itu menurut Ai, muncul kesadaran dalam dirinya kalau orang berbicara soal keberagaman atau perbedaan, sering kali hanya cerita saja. “Gila ya, masyarakat ngomongin Pancasila, bicara Bhineka Tunggal Ika, ternyata cuma cerita. Karena begitu melihat yang berbeda, langsung kelihatan kikuk dan tidak jelas. Bisa jadi karena belum pernah ketemu dan pas ketemu bertatap-tatapan sampai melotot.”

Dari peristiwa itu Ai mengambil kesimpulan, ada problem dalam menyikapi perbedaan. Jangankan memahami orang dari suku lain, atau orang yang hanya pakai koteka, untuk berkenalan saja dengan orang Papua sepertinya mustahil. “Orang kampung Pangandaran  kenalan dengan orang Papua. Kok, jadi aneh rasanya,” tandas Ai.

Bukan hanya itu, menurut Ai, “Sering sesama suku, kita juga tidak nyambung obrolannya  karena terdiri dari berbagai bahasa. Apalagi dengan suku-suku lainnya. Kita ini terdiri dari 1.340 suku dengan 700-an bahasa. Di antaranya sekitar 230-an bahasa yang dikenal di umum. Bayangkan betapa sulitnya untuk bisa nyambung  dalam banyaknya perbedaan. Dan bila hanya mengandalkan slogan, menurut Ai, maka bisa dipastikan ada yang tidak beres. “Suatu saat bisa terjadi perpecahan,” ucapnya lagi.

Kelas multikultural baginya juga sebagai rasa tanggungjawabnya untuk dirinya sendiri. “Saya tidak mau terlalu jauh, misalnya mengatakan kalau kelas ini untuk bangsa dan negara. Bukan. Tapi lebih merupakan tanggung jawab diri sendiri.”

Suasana belajar di SMK Bakti Karya Parigi Jl Raya Cintaratu, Desa Cintakarya, Kecamatan Parigi Kabupaten Pangandaran Provinsi Jawa Barat. (foto: ist)

Jembatan Damai

Sebenarnya Ai membentuk kelas multikultural, seperti dikatakan sebelumnya, untuk dirinya sendiri. Dia pernah mengajak istrinya untuk coba memahami kehidupan bersama di tengah banyaknya perbedaan. “Saya dan istri hidup bersama. Lalu punya anak-anak. Saat itu anak-anaknya hidup dalam situasi yang masyarakatnya saling curiga, intoleran, ruang publiknya diskriminatif. Saya tidak mau ini terjadi untuk anak-anak saya. Nggak tenang hidup,” tandasnya.

Jadi apa yang dilakukan Ai ini  untuk diri sendiri dan untuk keluarga. “Saya sepakat dengan istri, kita selesaikan saja yang bisa kita lakukan. Kita buat jembatan damai sesama anak bangsa. Jangan sampai menyesal di kemudian hari karena tidak buat apa-apa,” urainya.  Maka tidak mengherankan jika kemudian Ai  bertekad membangun kelas multikultural di sekolah formal. Dan ia melakukannya di SMK Bakti Karya yang kini dikelola bersama komunitasnya di Pangandaran.

Angkatan pertama tahun 2016, Ai menerima 42 murid beasiswa, sekolah tanpa bayar dari enam provinsi. Tahun berikutnya bertambah menjadi 11 provinsi. Kemudian bertambah lagi menjadi 13 Provinsi. “Dan, tahun ini sudah ada 21. Propinsi, tiga di antaranya sudah lulus. Jadi, yang aktif sekarang ini dari 18 Provinsi. Dan sampai 2019, sekolah ini sudah meluluskan 35 siswa,” jelasnya. Hingga saat ini, Ai telah mendidik sekitar 80 siswa dari 25 suku berasal dari 21 provinsi. Ada dari Aceh, Sumatera Utara, Bengkulu, Sumatera Selatan, Riau, Lampung, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Selayar, Jeneponto, Maluku, Papua Barat (Tambraw), Papua, Flores, DKI Jakarta, dan tentu saja ada dari Pangandaran.

Para siswa dalam kelas multikultural yang berasal dari berbagai pelosok negeri, diajarkan untuk dapat hidup bersama. Mereka diajarkan untuk membangun hubungan, membangun koneksi di antara mereka, antar ras, suku, agama, budaya, juga kondisi ekonominya.

Untuk menjaring  siswa ini, Ai bekerja sama dengan para relawan yang tersebar di seluruh pelosok. Ada sekitar 250-an relawan. Dan relawan ini lah yang akan menjelaskan apa dan bagaimana program yang akan dijalankan para murid. Selain melalui relawan, Ai juga menayangkan di berbagai Media Sosial mengenai sekolahnya itu.

Sesuai dengan namanya, yaitu kelas multikultural, tentu saja para siswa harus belajar menerima, mengapresiasi, memberi tempat dan melindungi kebhinekaan Indonesia. “Program ini memberikan kesempatan bagi siswa untuk belajar di SMK Bakti Karya Parigi secara gratis. Program ini juga melibatkan masyarakat setempat dengan konsep Kampung Nusantara,” ujar Ai.

Suasana belajar di sekolah multikultural yang dikelola Ai. (foto: ist)

Tentu saja tidak mudah untuk menjalankan sekolah gratis. Seperti yang diakui Ai, sumber dana berasal dari para sponsor. Namun orang tua murid juga ada yang memberikan sumbangannya sesuai dengan kemampuan masing-masing. Para murid bukan hanya gratis dalam bidang pendidikan. Tetapi juga untuk kehidupan mereka selama tiga tahun, ditanggung  pihak sekolah. Sekolah gratis ini juga dilengkapi dengan pendidikan teknologi agar para siswa tidak ketinggalan informasi. “Bahkan bisa mengakses dunia,” papar Ai.

Mencari dana untuk keberlangsungan sekolah ini, Ai dan teman-temannya mendirikan “jembatan” antara sekolah dan masyarakat yang bernama Bakti Karya Fellow. Melalui program ini banyak mahasiswa yang bisa menjadi kakak asuh bagi murid di SMK Bakti Karya Parigi. Kakak asuh yang dijaring melalui Bakti Karya Fellow, akan memberikan dana minimal Rp 50 ribu setiap bulannya.

Dengan dana tersebut, sekolah bisa terus berjalan hingga saat ini, angkatan kelima. Bahkan juga melakukan program pendidikan lainnya dengan tenaga pengajar para pemuda berusia 20 hingga 22 tahun. Tenaga pengajar bisa juga dari masyarakat luas yang menjadi relawan mengajar. Biasanya program relawan mengajar ini setiap hari Sabtu. “Kami sudah mendatangkan berbagai profesional ke tempat ini. Bahkan juga jurnalis pernah mengajar di sini,” ujar Ai.

Sedangkan dari pihak sekolah, pelajaran yang diberikan seperti multimedia, ekologi, bahkan ada sekitar 60 pokok multikulturalisme yang mengacu pada lima konsep dasar. Yaitu penanaman nilai toleransi, semangat perdamaian, semangat berjaringan, berbudaya, dan pembelajaran aktif. Ia juga menjelaskan bahwa konsep belajar pun lebih banyak di luar ruangan. Seperti bercocok tanam, kegiatan masyarakat dan kegiatan tradisi daerah.

Untuk sekolah di SMK Bakti Karya diperlukan kepercayaan. Murid yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia harus berpisah dengan orang tuanya. “Mereka baru tamat SMP, bisa dibayangkan mereka masih sangat muda. Harus ada di sini selama tiga tahun. Itu artinya dibutuhkan kepercayaan dari orang tua jika memberikan anaknya untuk sekolah di SMK Bakti Karya,” jelasnya.

Satu hal yang istimewa di sekolah ini, setiap anak yang masuk di sekolah  akan langsung mempunyai jaringan nasional. “Bayangkan, setiap anak langsung mempunyai jaringan nasional. Bisa mempunyai teman dari berbagai daerah di Indonesia. Bukan hanya teman sekecamatan, atau sekotanya saja, atau dengan agama yang relatif sama,” papar Ai.

Menjadi nilai lebih di sekolah ini terlihat dalam  interaksi multikultural-nya. Berbicara  apa saja di antara para siswa  pasti berbeda-beda dan dari berbagai perspektif. Masing-masing siswa harus bisa menjelaskan mengenai budayanya. “Jadi otomatis mereka belajar budayanya dengan sungguh-sungguh sehingga kalau ada yang tanya harus bisa menjelaskan. Ini adalah suatu kekayaan bagi kita jika kita bisa menjelaskan budaya kita dan mempertahankan tradisi kita,” katanya.

Di kelas multikultural ini juga secara rutin diadakan Festival. Festival ini  disesuaikan dengan bahasa dari para murid yang sedang belajar. Seperti yang diadakan pada tahun 2019, ada Festival 28 Bahasa. “Inilah kekayaan kita. Tiap murid bisa memahami dan menjelaskan filosofi di sukunya, menjelaskan budayanya,” urainya.

Misalnya seperti yang diuraikan Friska Mabel, siswa asal Papua, yang mengaku senang bisa belajar tentang budaya Sunda. Begitu juga dengan Fajar Riantoby, dari Nunukan, Kalimantan Utara. Kelas multikultural baginya kesempatan menyelami keberagaman. “Saya merasakan benar-benar hidup di Indonesia dan akan tetap menjadi orang Indonesia,” ujarnya.

Melihat dan mengamati kelas multikultural dari Ai, bagi saya, melihat berbagai perbedaan yang alamiah, bawaan dari lahir seperti suku, agama, yang ditempatkan bersama dalam satu tempat, sehingga setiap orang di dalamnya bisa ikut merasakan dan turut memahami perbedaan itu sebagai jembatan damai. Inilah yang dinamakan kekayaan itu. Kekayaan di Bumi Indonesia. (Melva Tobing)

Link Video Terkait:

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *