Vita Agustina, dari Kampung Membangun Literasi Bangsa

 Vita Agustina, dari Kampung Membangun Literasi Bangsa

Tumpukan kardus berisi buku buku yang baru saja digunakan untuk bazar buku bersama komunitas seni “Histeria” di Semarang. (foto: ernaningtyas)

JAYAKARTA NEWS – Suara pemandu rute Google Maps dari hapeku berkata, “Anda sudah sampai di tujuan”. Kusisir satu per satu bangunan terdekat dengan tempatku berhenti. Tak ada papan nama bertuliskan “Bening Rua Pustaka”. Setiap bangunan yang masuk dalam jangkauan pandangku kuperhatikan. Hanya satu yang berpapan nama, perusahaan rumahan Bakpia 576, jajanan khas Yogyakarta.  

Lewat ponsel kuhubungi Vita Agustina, pemenang Satu Indonesia Award (SIA) tingkat Provinsi DIY bidang Pendidikan tahun 2018, untuk menanyakan letak kantor “Bening Rua Pustaka”. “Di samping bakpia,” jawabnya singkat. Ternyata, aku berada persis di depan rumah yang kucari. Alamatnya: Jalan Harjuna, Jomegatan, Ngestiharjo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, DIY.  

Tak ada papan nama sebagai penanda bahwa rumah sederhana setara tipe 45 itu difungsikan sebagai kantor. Bangunan itu tak ubahnya rumah tinggal. Lanskap di sekelilingnya khas perkampungan pinggir kota Yogya: padat, tertata, tak banyak orang lalu lalang.

Setegukan air berikutnya Vita, demikian nama sapaannya, bergerak keluar menyambutku. Cerah raut mukanya, ramah tutur sapanya, senyuman selalu membekas di wajahnya. Ia mengajakku masuk. Aku berjalan melewati halaman sempit yang telah diparkiri satu sedan kota warna putih dan sebuah sepeda motor. Sesampai di dalam, barulah aromanya sebagai kantor penerbitan terasa kental.

Ruang depan berukuran 3,3 kali 2,4 meter didominasi tumpukan kardus. “Kardus ini berisi buku-buku sisa dari pameran di Semarang kemarin,” jelas Vita. Dua buah rak besar beda ukuran penuh buku baru, menutupi setengah sisi tembok bagian dalam. Sebuah banner setinggi manusia dewasa menjadi pelengkap sesaknya kamar tamu itu.

Tak ada geliat karyawan berkegiatan di rumah yang dijadikan kantor Penerbit “Bening Rua Pustaka” ini pada Kamis pagi akhir November silam. Vita menuturkan bahwa para koleganya sedang mengadakan pameran buku di Solo. “Kalau besok, tempat ini ramai,” tambahnya.

Berdua kami duduk lesehan di dekat pintu depan. Aku menghadap ke dalam, Vita bersila di depanku. Kesederhanaan ini menambah asyiknya mendengarkan cerita Vita, pegiat literasi yang bermarkas dan berkegiatan di kampung.

Kiri: Vita Agustina bersama banner yang baru saja digunakan untuk bazar buku di kampung Jatiwatang dan Bustaman Semarang akhir November 2021. Kanan: Vita Agustina dengan buku buku terbitannya dan novel karyanya yg siap diangkat ke layar lebar “Akademi Harapan”. (foto: ernaningtyas)

Bening Pustaka   

Sepak terjang Vita, lulusan S2 jurusan Filsafat Agama dari Universitas Islam Negeri (UIN) Yogyakarta ini, diawali tahun 2015. Setelah novelnya yang berjudul “Akademi Harapan” menyabet juara satu dalam sebuah sayembara tingkat nasional, tekadnya bulat untuk membangun dunia literasi. Lantas ia mendirikan “Bening Pustaka”.

Vita mengambil nama “Bening” karena kecintaannya pada karya-karya Jalaluddin Rumi, penyair sufi asal Persia. Dari pengarang legendaris dunia itu Vita mendapatkan kata “sofun” yang berarti suci. Dari kata “suci” inilah ia menemukan kata “bening”. Akhirnya nama “Bening Pustaka” digunakan Vita  untuk mewadahi aktivitasnya di kancah literasi. 

Awalnya Vita melangkah sendirian. Tidak lama kemudian, seorang kawannya bernama Ganjar Sudibyo, bergabung. Lantas nama-nama lain berdatangan mendukungnya. Kini tercatat puluhan orang bahu membahu membesarkan komunitas literasi dan lini-lini usaha yang dirintisnya.

Ada dua kegiatan utama di “Bening Pustaka”. Pertama, pelatihan menulis dan kedua sebagai wadah bagi para penulis pemula untuk menerbitkan karya mereka. “Penulis pemula sulit menembus penerbit besar,” kata Vita, yang juga alumnus Pondok Pesantren Al Amin Sumenep Madura ini, memberikan alasannya.

Tidak dipungut biaya bagi penulis yang menerbitkan karyanya lewat “Bening Pustaka”. Bahkan penulis mendapatkan bagian royalti dari buku yang terjual. Bila penulis ingin mendapatkan semua keuntungan, maka ia bisa memilih menerbitkan buku secara self publishing, namun penulis menanggung semua beaya penerbitan.

Di awal berkegiatan “Bening Pustaka” menerbitkan dua buah buku. “Islam dan Kaweru Kamanungsan” karya Lia, seorang dosen yang pernah mengisi pelatihan menulis di kampus baik di kota Malang maupun Surabaya. Kedua, kumpulan cerita pendek (cerpen) hasil karya peserta pelatihan. Menurut catatan Vita, selama tahun 2015 itu, “Bening Pustaka” berhasil menerbikan sekitar 10 sampai 15 buku.

Penerbit yang bergabung dengan “Krisan Book” dalam acara bazar buku kampung di Semarang. (foto: ernaningtyas)

Dua tahun berjalan, Vita menggulirkan program baru di bidang pemasaran. “Krisan Book” adalah  nama yang ia pilih untuk mengurusi khusus penjualan buku-buku terbitan “Bening Pustaka”.  “Menebitkan sekaligus menjual buku, ribet rasanya, karena itu penerbitan dan pemasaran mesti dipisah,” tuturnya.

“Krisan Book” bergerak cepat menangkap peluang pasar. Penjualan dilakukan secara offline maupun lewat marketplace. Tak sekadar menjual buku terbitan sendiri. Seiring dengan perkembangan waktu, “Krisan Book” berjejaring dengan penerbit lain. Bersama kolega sejawat itulah sayap ini menjadi pilar tangguh “Bening Pustaka” untuk urusan pemasaran. Pada tahun 2021, “Krisan Book” telah bermitra dengan sejumlah 27 penerbit lain.  

Setahun kemudian, ada babak baru dalam sejarah perjalanan Vita Agustina. Ia mendirikan “Rua Aksara”. “Rua Aksara” khusus menerbitkan buku-buku berat,” katanya.  Buku berat yang ia maksudkan adalah, buku berbobot dari pengarang yang berkompeten.

Vita menyebut dua buku cetakan pertama yang masuk dalam kriteria “Rua Pustaka”. Pertama, “Secangkir Kopi Filsafat Perdamaian” karya Bante Dira, seorang Biksu asal kota Medan. Kedua, buku berjudul “Psikologi Jawa” karya Darmanto Jatman, sastrawan dan Guru Besar Universitas Diponegoro Semarang, yang diterbitkan tahun 2019.

Ganjar Sudibyo, direktur “Rua Pustaka” di ruang kerjanya. (foto: ernaningtyas)
Ruang penyimpanan buku di “Rua Pustaka”. (foto: ernaningtyas)

“Kami juga menerbitkan buku-buku terjemahan dari Barat disamping mengalihbahasakan karya-karya dari pengarang Asia Timur,” tuturnya. Tentu saja, “Rua Pustaka” melakukan penyortiran. Ia memilih buku-buku yang penerbitnya memberikan izin penerjemahan secara gratis.

Risikonya, tentu banyak penerbit lain yang juga melakukannya. “Kami bersaing di kualitas penerjemahan dan penampilan termasuk desain sampul,” tambah Vita.

Vita menuturkan, pihaknya juga merambah penerbitan buku stensilan. “Buku ini dijahit secara manual, diproduksi terbatas, tanpa ISBN,” tuturnya. Lini  yang khusus menangani buku stensilan bernama “Penjaja Buku”.

Menurut cerita Vita, “Penjaja Buku” lahir tahun 2019.  Waktu itu, ia didatangi sekelompok mahasiswa asal Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). “Penjaja Buku menjadi wadah mereka untuk berkreasi,” tutur Vita.

Sejatinya bukan sekadar alasan demi kreativitas saja. Mahalnya harga buku dan maraknya tindakan penggandaan ilegal lewat foto kopi menyulut keprihatinan mereka. Para pegiat “Penjaja Buku” ini memiliki mimpi-mimpi. Pertama penurunan harga buku. “Stensilan menjadikan harga buku turun, lebih murah dibanding harga gorengan,” tuturnya. Kedua, sebagai upaya melawan fotokopi buku.

Karena dijahit, buku stensilan tidak bisa digandakan dengan cara difoto kopi. Karena dijahit pula, buku ini selalu hadir dalam hitungan halaman yang tidak tebal. “Paling tebal atara 50-70 halaman saja,” tambah Vita. Buku jahitan yang pernah diterbitkan “Penjaja Buku” ini antara lain naskah lakon atau drama.

Total buku jahitan yang pernah dilempar ke pasaran sejumlah 12 judul. Harganya dibanderol Rp 10.000 hingga Rp 20.000 per buah.

Bak bola salju, begitulah sepak terjang Vita. Bermitra dan berjejaring melancarkan langkahnya. Bermula dari “Bening Pustaka”, kemudian ia merambah dunia literasi yang lebih luas.

Vita bersama para pegiat literasi. (Foto istimewa)

Legal Formal

Untuk memantapkan sepak terjang usahanya di dunia literasi, sejak awal Vita menempuh langkah aman. Tahun 2016 ia mencari Akta Notaris untuk “Bening Pustaka”. Tahun 2021, ia kembali mencari Akta Notaris untuk “Bening Rua Pustaka”, kemudian mendaftarkan nama itu ke Kemenkumham (Kementerian Hukum dan HAM). “Dua kali saya berurusan untuk melegalkan usaha,” kata Vita.

Pada Akta Notaris itu Vita tercatat sebagai Komisaris. Sementara Direktur Utama dipegang Ganjar Sudibyo, penulis buku “Variasi Kebahagiaan dan Beberapa Roman”. Aspek legalitas itu sangat membantu Vita dalam melangkah.  Sementara tempat berkegiatan, bisa ia lakukan di manapun. Awalnya “Bening Pustaka” berkantor di kawasan Maguwoharjo Yogya. Selanjutnya mereka mengontrak rumah di bilangan Kasihan Bantul.

Terakhir, Vita berkantor di lokasi yang saat itu kami jadikan tempat bertemu. Sebuah rumah kontrakan yang baru ditempati sekitar dua bulan. Di lokasi perkampungan inilah, ia bersama koleganya setiap hari menapaki langkah membangun dunia literasi.

“Para penulis di sini dipertemukan oleh semesta,” kata Ganjar yang siang itu keluar dari kamar kerjanya menuju ke ruang tamu. Ia ikut nimbrung  pembicaraan kami.

“Yogya itu ibu kota buku,” tutur Ganjar.  Lantas ia memberikan alasannya, bahwa di kota Yogya banyak terdapat toko buku. Di samping itu, rupa-rupa acara literasi pun digelar sambung-menyambung di banyak tempat. Wujudnya bisa diskusi buku, pameran atau bazar buku, menulis dan menerbitkan buku.

Aku memberikan kisaran angka satu sampai sepuluh. Lantas kutanya Ganjar, “Di angka berapa literasi Yogya berada?”  “Delapan,” sahutnya cepat. Menurutnya, angka penilaiannya itu berada di atas kota-kota lain.   

Ganjar balik ke ruang kerjanya. Aku kembali mendengarkan cerita Vita perihal literasi masuk kampung.

Vita menjadi pembicara di sebuah acara kepenulisan. (Foto istimewa)

Masuk Kampung

Tahun 2020 ada perkembangan di “Rua Aksara”. Vita mendirikan “Bukit Buku”, sebuah event organizer yang bergerak di bidang perbukuan. Tidak sendirian ”Bukit Buku” menjalankan aksinya. Di era seperti sekarang ini berjejaring menjadi sebuah keharusan.

Akhir November 2021 silam, “Bukit Buku” ambil bagian dari sebuah event penting. Ada komunitas seni bernama “Histeria” dari kota Semarang yang memiliki agenda seni masuk kampung. “Bukit Buku bekerjasama dengan Histeria, pada saat acara seni berlangsung kami menggelar bazar buku,” papar Vita.

Vita mengakui, sulit mengundang orang untuk datang ketika agenda acara sebatas bazar buku saja. Pentas seni lebih menarik orang untuk datang. Karena itu, acara “Histeria” menjadi momen penting. “Bukit Buku” pun berjejaring dengan rekan sejawat. Sejumlah 30-an penerbit Indie mengikutsertakan buku-buku terbitan mereka. Di antara peserta itu ada dua penerbit mayor, Obor dan Mizan. “Sebenarnya ada lagi penerbit mayor yang ingin bergabung, tetapi momen ini lebih kami fokuskan untuk penerbit Indie,” tambahnya.

Dua kampung yang menjadi tempat perhelatan adalah Kampung Bustaman dan Jatiwayang. Keduanya berada di kota  Semarang. Selama lima hari, total nilai penjualan buku mencapai Rp 20 juta. “Jumlah ini sudah mewah banget mengingat kita masih dalam suasana pandemi,” tutur Vita.

Menurut pemaparan Vita, sebelumnya setiap kali mengikuti bazar buku, ia dan penerbit koleganya bisa meraup total penjualan sebesar Rp 50-an juta.

Vita akan terus menggulir acara literasi di kampung seperti itu di kemudian hari. Ini sangat menarik, sebab, ia tak hanya sekadar menjual. Event itu digunakan juga untuk membuka stand baca buku gratis. 

Ruang penyimpanan buku di “Rua Pustaka. (foto: ernaningtyas)

Kegelisahan

Vita terus bercerita.Ia tak henti menebar senyum kendati tema pembicaraan kami kali ini menyinggung pilihan hidup Vita di dunia literasi yang nada-nadanya kalah pamor di bidang keuntungan materi dibanding profesi lain. “Vita mengapa kamu tertarik pada dunia literasi yang belum tentu bisa menghasilkan banyak uang?” tanyaku.

“Literasi tidak akan membuat saya kaya, tapi membuat saya senang,” jawabnya mantap. Kecintaan perempuan pegiat literasi ini pada dunia buku berawal dari kegelisahan.

Pertama, dara Madura ini gelisah pada kenyataan bahwa minat baca masyarakat rendah. Karena itu, ia termotivasi untuk ikut medongkraknya. “Buku stensilan kami bisa mendorong orang untuk tertarik membaca,” tuturnya. Ini salah satu upaya. Upaya lain adalah menggelar even buku masuk kampung, membaca gratis, diskusi buku dll.

Kegelisahan kedua adalah akhir-akhir ini, terutama sejak pandemi merebak, Vita merasakan munculnya gelombang “The Dead of Book”. Buku fisik yang sudah eksis sejak puluhan tahun silam tergeser oleh kehadiran buku elektronik. “Menurutku membaca buku elektronik tidak senyaman membaca buku fisik,” tuturnya.

Sebagai pegiat literasi Vita tak menginginkan “The Dead of Book” itu benar-benar terjadi. Dan memang, ia yakin bahwa buku fisik masih memiliki tempat di hati pembacanya. Namun, harus ada kreativitas yang mengiringi. Misalnya, kegiatan mendongeng oleh ibu-ibu untuk anak-anak mereka. 

“Selama buku anak masih dibeli orang tua, maka ini berperan penting untuk mempertahankan buku fisik,” tegas Vita. Menurutnya, anak-anak atau siapa saja yang terbiasa membaca buku, akan kangen atau ingin berostalgia dan mengulanginya di waktu-waktu mendatang. Buku fisik pun mudah dibawa, ditandai, dicoreti. Aktivitas ini tentu menambah keasyikan tersendiri.          

Salah satu jurus Vita mempertahankan eksistensi buku fisik adalah dengan meggelar acara diskusi buku, musikalisasi puisi, pembuatan film dll. “Bagaimana caranya, pokoknya jangan sampai habislah buku fisik ini,” harapnya. Peserta diskusi atau penonton musikalisasi puisi bisa mendapatkan tiket masuk dengan membeli buku yang sedang dibahas. Menurut pengalamannya, buku yang sedang dibahas pasti laku, sementara buku yang kurang laku disandingkan  untuk menarik pembeli. “Cara ini bisa membuat kita sejahtera bersama,” katanya.   

Vita mengakui, jatuh dan bangun di dunia literasi sudah menjadi santapan rutin. Namun ia tetap realistik. Di satu sisi ia mempertahankan keberadaan buku fisik yang memasuki masa-masa redupnya. Sementara era digital dunia perbukuan pun tetap ia sambut. Tahun 2021 ini ia juga melakukan alih wahana dari cetak ke digital. “Bagaimanapun juga buku online jangkauannya lebih luas,” paparnya.

“Berusahalah sekuat tenaga sampai Tuhan menentukan takdirNya,” kata Vita ketika kutanya apa semboyan hidup yang menyemangati saat ia malang melintang di dunia literasi.    

Vita mengidolakan JK Rowling. Yang menarik dari penulis Harry Potter itu baginya adalah sukses diraih setelah jatuh bangun.

“Novel saya, Akademi Harapan akan difilmkan oleh sebuah production house,” pungkas Vita berbinar. Ia membocorkan nilai kontraknya yang mencapai Rp 300 juta. Sebuah takdir yang indah pada sepenggal waktu jatuh dan  bangunnya di dunia literasi.

Vita tak ingin meraih sukses sendirian. Ia tak pernah lelah berbagi ilmu. Tahun 2022, ia berencana melahirkan lini baru yang bergerak di bidang konsultan naskah. Fokusnya adalah mendampingi penulis mulai dari awal berkarya hingga menerbitkan buku.

Vita bercerita, senyum gembira selalu membekas di wajah-wajah siapa saja yang bisa menerbitkan buku. Tawa suka cita juga ia dapati pada raut siapa saja yang bergabung dengan komunitasnya dalam acara-acara literasi. Dari kampung Vita meletakkan satu demi satu “batu bata” untuk membangun literasi bangsa. (Ernaningtyas)

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *