“Baduy Craft”, Berburu Sinyal ke Ciboleger

 “Baduy Craft”, Berburu Sinyal ke Ciboleger

Narman dan sejumlah produk kerajinan koleksi Baduy Craft. (foto: ist)

JAYAKARTA NEWS – Keterbatasan pendidikan tidak membuat Narman, pria Baduy Luar ini menyerah. Hambatan tradisi sukunya tidak menyurutkan langkahnya. Minimnya ketersediaan fasilitas tak pula dianggapnya sandungan. Belum lagi ditambah akses teknologi modern yang bisa diibaratkan jauh panggang dari api.

Warga kampung Marengo, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Labak, Banten ini terus melangkah menerobos seribu rintangan. Itu semua demi satu tekad: mengangkat perekonomian rakyat.

Keuletan serta kegigihannya mulai berbuah manis. Geliat “Baduy Craft” yang dirintisnya menunjukkan grafik naik. Lebih menyenangkan lagi, ia hadir tanpa merusak kemurnian tradisi Baduy Luar.

“Baduy Craft” adalah nama akun yang digunakan Narman memasarkan berbagai kerajinan tangan khas sukunya melalui media sosial, baik Instagram ataupun Facebook. Tidak ketinggalan Narman juga membuka gerai online di Lazada, Bukalapak, dan Shopee.

Tidak saja memanfaatkan platform e-commerce, dia juga rajin mengikuti pameran-pameran di Jakarta dan sekitarnya. Tapi itu cerita lalu, saat wabah Covid-19 belum menyergah.

Saat ini, Narman masih terus menjalankan “Baduy Craft” di tengah tradisi yang memagari, serta resesi ekonomi.

Menguak lebih dalam sosok Narman dengan kreativitasnya, ternyata perlu effort lebih. Bayangkan, chat whatsapp hari ini, dua-tiga hari kemudian baru di-read dan di-reply. Begitu sibukkah dia? Tidak juga. Usut-punya-usut, rumah tempat tinggalnya belum terjangkau signal internet.

Untuk mengetahui pesan-pesan yang masuk melalui telepon selularnya, Narman harus berjalan kaki dua kilometer menuju Ciboleger. Mengingat sulitnya berkomunikasi, Jayakarta News pun menyambangi Narman ke Bumi Kanekes, November 2020.

Pada hari yang disepakati, Narman telah menunggu di sana. Wajahnya good looking. Anak sekarang bilang, cool. Apalagi dibalut pakaian serba gelap. Dan yang lebih memukau, adalah tutur kata yang runut, santun, tapi lugas. Keterpukauan kedua muncul nanti, setelah perbincangan, demi mengetahui ternyata ia tidak pernah mengenyam bangku sekolah.

“Tidak sekolah bukan berarti saya tidak belajar. Tidak sekolah bukan berarti saya tidak punya cita-cita,” ujar Narman sambil tersenyum.

Kampung Marengo, tempat tinggal Narman. Suasana kampung-kampung lain kurang lebih sama seperti foto di atas. (foto: ist)

Warung dan Ladang

Narman lahir di Kampung Gajeboh, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten pada 1 April 1989 dari bapak Kendut dan ibu Pulung. Ia anak kedua dari empat bersaudara. Seperti anak lainnya, Narman tidak sekolah.

Di Baduy secara adat melarang anak-anak pergi sekolah. Tapi, bukan berarti mereka tidak boleh belajar. Narman kecil diajarkan baca tulis dan sedikit pengetahuan umum oleh orangtuanya. “Di Baduy, orang tua berperan penting mendidik anak-anaknya,” ujar Narman.

Orang tua yang dimaksud Narman, bukan hanya bapak dan ibu, tetapi juga termasuk paman, saudara atau tetangga sekitar yang mampu memberikan pendidikan bagi anak-anak suku Baduy.

Saat itu, Narman juga diajarkan berwirausaha dengan membantu orang tua berjualan di warung kelontong. Usia bermain Narman hanya dinikmati sampai umur sembilan. Menginjak 10 tahun, Narman sepenuhnya sudah bekerja membantu orang tua.

Bila orang tua ke ladang, Narman ikut ke ladang. Jika orang tua belanja keperluan warung, Narman juga turut serta. Ia belajar untuk mengetahui apa-apa saja yang akan dijual. Ia melayani pembeli. Ia menyiapkan barang-barang dagangan, menghitung uang masuk dan keluar sedikit demi sedikit. Warungnya termasuk ramai, karena satu-satunya di Kanekes (saat itu).

Usia 13 tahun, orang tuanya pindah ke Kampung Marengo, masih di Desa Kanekes. Kurang lebih 400 meter saja dari Kampung Gajeboh. Di Kampung Marengo ini, mereka tetap membuka warung kelontong.

Dari pelajaran orang tua berwirausaha Narman pun mempunyai cita-cita untuk mempunyai usaha sendiri. Hal ini mulai tercetus di benaknya pada usia 16 tahun. Walaupun Narman belum tahu, apa yang akan dijual dan bagaimana cara menjualnya. Sedikit-demi-sedikit ia menimba ilmu dari buku-buku bacaan yang tak bisa dibilang lengkap.

Untungnya, Desa Kanekes kerap dikunjungi mereka yang ingin mengenal kehidupan masyarakat Baduy. “Jika ada kunjungan, misalnya rombongan mahasiswa, bisa puluhan orang. Mereka menginap di rumah-rumah warga sehingga suasana desa jadi ramai,” ujar Narman.

Keadaan itu dimanfaatkan Narman untuk berjualan keliling. Narman menawarkan kerajinan tangan yang dibuat ibunya, saudara, atau tetangga. “Saya jual gelang-gelangan, kalung, apa saja yang mudah dibawa-bawa keliling. Kalau barangnya tidak laku, saya kembalikan kepada mereka,” kenang Narman.

Dari para pengunjung itu, tidak jarang, ada buku-buku yang tertinggal. Buku-buku itu diambil dan disimpan Narman. Setiap sore, jika teman-temannya bermain, maka Narman mengisi waktu membaca buku-buku milik para mahasiswa yang tertinggal.

Narman saat mengikuti acara menanam padi di ladang. (foto: ist)

Baca Koran di Dinding

Membaca menjadi kegiatan utamanya setelah membantu orang tua. “Biasanya jam enam sore saya sudah masuk kamar. Menyalakan lampu teplok dan mulai membaca. Sementara teman-teman bermain di halaman,” katanya.

Sebelum ada buku-buku, Narman hanya membaca lembaran-lembaran koran yang menjadi pelapis dinding papan kamarnya. Sambil tertawa Narman mengisahkan bahwa dia sampai hafal, apa saja isi koran tersebut. “Kamar saya kecil. Biliknya dilapisi koran. Setiap hari, saya baca semua tulisan yang ada di lembaran itu. Sampai saya hafal judulnya, isinya. Semua saya hafal,” katanya sambil menyeringai.

Kegigihan Narman “membangun” dirinya berimbas pada tekadnya untuk mempunyai usaha sendiri. Khususnya setelah menikah di usia 22 tahun dengan Vetia, wanita dari Kampung Kadujangkung yang jaraknya 3 Km dari Marengo. Dari pernikahan dengan Vetia yang kini berusia 24 tahun, Narman memiliki dua anak. Anak pertama, laki-laki, bernama Fedriandi usia 6 tahun dan kedua perempuan, diberi nama Nira usia 2 tahun.

Narman bersama istri dan kedua anaknya. (foto: ist)

“Setelah berumah tangga, mulai kepikiran usaha,” paparnya. Apalagi setelah Narman memperhatikan potensi yang tersedia di lingkungan adatnya, yaitu banyaknya perajin yang kesulitan menjual hasil produksinya. “Tidak semua orang bisa menjual hasil kerajinannya. Mereka harus dibantu,” ujar Narman.

Keprihatinan itu membuat Narman bertekad membuka usaha yang hanya menjual hasil karya para perajin Baduy. Ditambah dengan pengalaman selama ini berjualan keliling di “pasar kaget” di kampung dan pelajaran wirausaha dari ayahnya. Narman pun memulai usahanya. “Kecil-kecilan dulu,” ujarnya. Usaha yang dia sebut kecil-kecilannya itu berjalan hingga Narman berusia 25 tahun.

Namun Narman tidak fokus. Ia hanya bisa berjualan jika banyak pengunjung datang ke kampungnya. “Kalau tidak ada pengunjung, saya ke ladang atau mengerjakan pekerjaan yang lain. Jadi, saya tidak fokus mengurus usaha saya itu,” ujar Narman.    

Hingga pada 2016 ada kegiatan Festival Baduy yang diselenggarakan Pemkab Lebak. Dari kegiatan itu, Narman mendapat masukan berharga dari salah satu pengunjung yang sudah memahami kehidupan warga Kanekes. Yaitu agar Narman memasarkan kerajinan tangan Baduy secara online. Masukan itu ditanggapinya serius. Dengan segera, Narman membangun usaha online dengan nama akun “Baduy Craft”.

Perjalanan Baduy Craft   

Bukan hal mudah bagi Narman untuk membangun dan membesarkan Baduy Craft. Apalagi dijalankan melalui online. Sementara di Baduy, penggunaan teknologi modern jelas-jelas merupakan larangan turun-temurun. Narman juga masih belum paham pengertian online, internet, e-commerce, marketplace, dan istilah-istilah shopping online.

Pendek kalimat, gerai online Baduy Craft diluncurkan. “Saya menjual kain tenun, tas koja, gelang, kalung, cincin. Semua itu hasil kerajinan tangan warga. Jadi, saya pikir sangat pas dengan nama Baduy Craft,” dalihnya.

Narman berharap, kata “baduy craft” segera dikenali google web search. “Saya ingin masyarakat tidak hanya mengenal tenun dari suku-suku lain di Indonesia. Baduy juga memiliki kain tenun, di samping aneka jenis kerajinan tangan lain yang unik, menarik, dan eksotik,” tambahnya.

Penulis bersama Narman di “gudang Baduy Craft” Kampung Ciboleger. (foto: jayakarta news)

Membantu Ekonomi Warga

Melalui Baduy Craft, tujuan Narman adalah membantu perekonomian masyarakat di Bumi Kanekes. Narman pun bekerjasama dengan para warga. Ia mengambil produk dari para perajin di kampungnya atau kampung tetangga. “Karena mereka adalah perajin, tentu saja sehari-harinya mereka memproduksi tenunan atau aksesoris kerajinan tangan. Jadi ketersediaan produk selalu ada. Pola kerjanya ada tiga macam. Pertama sistem beli putus. Kedua bagi hasil. Ketiga, titip jual,” paparnya.

Sesuai prinsip semula, Narman tidak egois hanya memasarkan produk sendiri. “Prinsipnya bukan untuk keuntungan pribadi, tapi membantu warga mendapatkan pendapatan lebih dari hasil karya mereka selama ini,” ujarnya.

Satu tahun menjalankan bisnis melalui online, Narman mulai memperluas jangkauan pasarnya. Tahun 2017 Narman bergabung dengan ASEPHI (Asosiasi Eksportir dan Produsen Handikraf Indonesia). Untuk hal ini pun, Narman belajar sendiri. Mencari tahu sendiri.

Melalui asosiasi ini, Narman bisa mengikuti pameran demi pameran untuk memasarkan produknya. Dalam satu bulan, Narman bisa dua kali ikut pameran. “Di sini saya belajar banyak hal, mulai dari pelatihan ekspor, kualitas produk, pengembangan skill dan lainnya,” ujar Narman. 

Sepanjang tahun 2017-2018, usaha Narman berjalan dengan baik. Bahkan pesat. Hampir 20 kali Narman mengikuti pameran dengan hasil memuaskan. “Keuntungan satu bulan bisa berkisar 10 – 16 juta rupiah,” kata Narman senang.

Diakui Narman, semula masyarakat sekitar melihatnya aneh. Walaupun sebenarnya, Narman bukanlah orang pertama yang berjualan kerajinan Baduy secara online. Namun, Narmanlah yang terbilang sukses. “Lama kelamaan mereka yang tadinya merasa aneh, akhirnya malah mengikuti jejak saya,” katanya sambil tersenyum. Bagi Narman, semakin banyak yang membuka usaha seperti miliknya, bukan masalah karena dia memang ingin memajukan ekononi masyarakat yang sangat menjaga kemurnian tradisinya itu. Narman tidak pernah menganggap sebagai saingan.  

Jalan setapak seperti ini yang menuju perkampungan Baduy. (foto: ist)

Kendala Signal dan Listrik

Saat ini orang melihat Narman sukses. Akan tetapi, sedikit orang yang paham bahwa sejatinya jalan sukses itu begitu terjal dan berliku. Sebagai orang Baduy, walaupun Baduy Luar, Narman hidup terikat dengan adat dan tradisi yang menolak pemakaian teknologi.  Bumi Kanekes, menolak pembangunan. Tidak ada listrik. Tidak ada pembangunan jalan. Tidak ada pembangunan gedung. Warganya tidak boleh menggunakan telepon genggam. Ini tentu saja tantangan berat bagi Narman yang menjalankan usahanya dengan mengandalkan listrik dan signal.

Karena itu, ketika Narman di rumah, ponsel tidak bisa digunakan, sehingga bila ada pesan masuk melalui WA atau media sosial lainnya, Narman tidak langsung mengetahuinya, dan tentu tidak pula bisa langsung merespons.

Untuk mendapatkan signal, Narman harus berjalan dua kilometer ke Ciboleger. “Ciboleger adalah batas kampung yang diperbolehkan ada sentuhan modernisasi. Boleh ada pembangunan jalan, boleh membuat bangunan dari beton, dan boleh menggunakan listrik,” kata Narman.

Jarak dua kilometer, ia tempuh dengan jalan kaki selama satu jam. Jalnnya hanya jalan setapak dan berliku. Jika musim hujan, ia kesulitan melewati jalan itu, sehingga jarang ke Ciboleger.

Di Ciboleger inilah Narman bisa mendapatkan signal dan berkesempatan mengisi baterai ponsel. Anda tahu? Untuk urusan “bisnis”-nya, Narman bisa tiga kali bolak-balik ke Ciboleger. “Terkadang, ada pembeli yang minta motif terentu dan menanyakan satu jenis kerajinan dalam jumlah tertentu. Karenanya, Narman harus balik ke kampung dan bertanya ketersediaannya. Ada kalanya, saya merespon komplain pelanggan yang terlambat menerima kiriman,” tuturnya.

Keterbatasan inilah yang menjadi hambatan usaha Narman. Selain itu, untuk mendapatkan signal, Narman harus menumpang di emperan orang. “Saya juga sering numpang nge-cas hape. Bukan hanya numpang mendapatkan signal tapi juga numpang mendapatkan listrik,” kisah perjuangan Narman di awal usahanya.

Demi kelancaran usahanya, pada 2018 Narman dibantu orang tuanya mendapatkan tempat di Ciboleger. Dia menamakannya “gudang”. Di gudang inilah Narman, menjalankan usaha onlinenya. Di gudang ini juga Narman menyimpan barang-barang yang dipasarkannya. Dengan adanya gudang ini, tentu saja Narman tidak perlu lagi numpang di emperan orang. “Demi sinyal, saya mengambil gudang ini,” kata Narman di gudangnya yang berukuran 8 x 4 meter. Nah, di gudang ini pula Narman menerima Jayakarta News.

Tantangan lainnya adalah inovasi. Tidak mudah membuat pembaruan untuk karya-karya Baduy. “Sering terbentur dengan tradisi dan adat yang berlaku. Akhirnya saya mencari celah, atau area mana yang boleh saya jalani untuk mempromosikan produk-produk ini,” katanya. Diakui Narman, penggunaan internet bisa mengganggu kemurnian tradisi. Bahkan Narman pernah ditegur Kepala Adat, namun dia berusaha meyakinkan bahwa apa yang dikerjakannya adalah demi masyarakat Baduy sendiri.

Lolos dari teguran Kepala Adat, Narman makin gigih memasarkan kerajinan-kerajinan Baduy. Beberapa kerajinan yang dijualnya seperti kain tenun, seharga Rp 200 ribu hingga Rp 400 ribu. Tas kepek seharga Rp 200 ribuan, tas koja seharga Rp 150 ribuan.      

Koleksi “Baduy Craft”. (foto: ist)

Potensi Besar

Narman melihat, bahwa sesungguhnya masyarakat Baduy mempunyai banyak potensi. “Keahlian mereka itu, perlu kita bantu, yaitu dengan mepromosikan hasil kerajinan tangannya, supaya masyarakat bisa melihat, oohhh…  ternyata keahlian ini bisa dimanfaatkan lho, untuk membantu dari segi ekonomi,” papar Narman lagi.

Meski menggarap pasar modern, Narman sama sekali tidak berkeinginan keluar dari tradisi. Ia bahkan berkeinginan masyarakat Baduy tidak perlu keluar wilayahnya untuk mencari nafkah. Sebab, dengan bekerja di luar dikhawatirkan bisa terpengaruh budaya di luar adatnya.

Narman berharap, ke depan, suku Baduy bisa lebih mandiri. Saat ini, pencaharian masyarakat umumnya dari bertani, berladang, dan membuat kerajinan tangan. Ia memikirkan bagaimana potensi Baduy bisa dimonetasi menjadi sumber kesejahteraan dan kemakmuran. “Di Baduy, adat dan tradisi itu nomor satu. Meski kita bekerja di luar desa adat, bukan berarti bisa dan boleh meninggalkan adat serta tradisi,” paparnya.

Nilai-nilai budaya luhur di Baduy harus tetap dijaga dan dijalankan. “Kebersamaan, kekerabatan, tolong menolong, harus menjadi satu dalam masyarakat Baduy,” ucap Narman lagi. Dan, melalui Baduy Craft, Narman masih ingin terus mengembangkan potensi yang ada di Baduy, bukan hanya kerajinan tangannya.

“Melalui Baduy Craft saya ingin memajukan Baduy di Indoensia. Bahkan tidak melulu kerajinannya. Melalui filosofi karya-karya Baduy pun bisa digunakan. Melalui filosofi kehidupan masyarakat Baduy pun, kita bisa mengenalkan Baduy sebagai salah satu suku di Indonesia yang memiliki keyakinan jika hidup mau aman, jika hidup mau damai, jika hidup mau sejahtera, kita harus berdamai dengan alam.” (Melva Tobing) 

Judul Terkait:

Nirwana Nyata di Bumi Kanekes

Video Terkait:

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *