Kangen Bentakan dan Lemparan Sandal

 Kangen Bentakan dan Lemparan Sandal
Azwar AN, “pepunden para kadang” Teater Alam. Foto: Nana Amita Azwar

AZWAR AN adalah TEATER itu sendiri. Di Teater Alam, namanya melekat abadi. Sebab, setelah hengkang dari Bengkel Teater yang ia dirikan bersama Rendra, hampir seluruh hidup dan kehidupannya, ia curahkan untuk Teater Alam. Di usianya yang 81 tahun, Azwar ditemani tiga anaknya, Ronny, Nana, dan Renny hadir di Gedung Societet Yogyakarta, Minggu (24/6) menghadiri halal bihalal keluarga besar Teater Alam.

Lelaki kelahiran Palembang, 6 Agustus 1937 itu memiliki torehan sejarah berteater yang sangat panjang. Bahkan bisa jadi yang terpanjang. Berteater sejak usia 17 tahun, dan tidak lama kemudian sudah menghasilkan sejumlah pertunjukan yang sebagian besar dipentaskan di Tanjung Karang, Lampung. Di antara karyanya, Pemetik Lada, Ayahku Pulang, dan Terima Kasih, Pujaanku. Dari Tanjung Karang, ia hijrah ke Yogyakarta awal tahun 60-an.

Itu hanya sekelumit kisah Azwar dari catatan perjalanan berteater yang panjang. Penantar itu sekaligus menempatkan sosok Azwar sebagai pemeran utama tulisan ini. Bagian kedua dari tiga tulisan tentang halal bihalal Teater Alam yang bersejarah.

Kehadiran Azwar siang itu membuat tak kurang dari 60 eksponen Teater Alam berkesempatan melepas rindu. Beberapa di antaranya malah kangen dipisuhi (dimaki, seperti saat-saat latihan teater dulu). Bisa jadi, ada juga yang kangen dilempar sandal….

Selain Bang Azwar, sejumlah senior juga hadir. Di antaranya Meritz Hindra, murid pertama Teater Alam. Lalu hadir juga Tertib Suratmo, teman Azwar di Bengkel Teater yang kemudian juga bergabung ke Teater Alam. Ada juga yang datang khusus dari Jakarta, Tetet Srie Wd.

Di deretan senior Teater Alam lain, tampak Gege Hang Andhika, Liek Suyanto, Yono Gandhem, Puntung CM Pudjadi. Tak kurang dari Dekan Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta, Prof Dr Yudiaryani, MA hadir, sebagai salah satu eksponen Teater Alam.

Duduk lesehan dari kiri: Agung, Budi AA, Gege Hang Andika, Liek Suyanto, dan Gde Mahesa. Duduk di kursi: Meritz Hindra dan Azwar AN. Foto: Nana Azmita Azwar
Dari kiri: R. Bambang Nursinggih, Tetet Srie Dw, Agus Leylor, dan Meritz Hindra. Foto: Nana Azmita Azwar
Azwar AN, Gde Mahesa, dan Tertib Suratmo. Foto: Nana Azmita Azwar

Pembawa acara, Udik Supryanta dan Sugeng Iwak Bandeng menggilir para senior untuk membabar kata, mengumbar rasa. Azwar AN tak bisa menyembunyikan rasa haru dan bahagia bisa bertemu puluhan orang yang pernah di-pisuhi-nya dulu. Azwar AN tak bisa menutupi rasa rindu bertemu dengan orang-orang yang pernah ia lempar sandal saat latihan teater dulu. “Ayo… jangan hanya berkumpul dan berkumpul, tapi mari berteater untuk Yogyakarta,” katanya.

Tampak benar, kerinduan Bang Azwar untuk kembali berteater bersama teman-temannya, bersama anak buahnya yang dulu dididiknya di sanggar Teater Alam. “Saya tahu, Tetet keliling dunia membawa nama Teater Alam. Tapi yang ia bawa tari. Saya juga tahu Daras menjadi wartawan dan tetap membawa nama Teater Alam. Sekarang, mari kita kembali berteater. Bikin karya, bikin pementasan dengan kualitas terbaik. Tunjukkan kita cinta teater dan cinta Yogyakarta,” ujarnya antusias.

Setali tiga uang, mas Ratmo, begitu Tertib Suratmo akrab disapa, pun tergugah dengan ajakan bang Azwar. “Jika perlu, saya dan bang Azwar siap tampil,” ujarnya, disusul tepuk tangan meriah hadirin.

Prof Dr Yudiaryani, MA. Foto: Nana

Mas Ratmo juga mengomentari apa yang disampaikan Prof Yudiaryani sebelumnya. Menurut Prof Yudi, kita harus optimis dunia teater akan terus berkembang, selagi ada anak muda. Sebab, anak-anak muda banyak yang suka teater. Sayang, tambahnya, “Kalau dulu latihan bisa enam jam bahkan delapan jam sehari, anak-anak sekarang latihannya hanya tahan satu jam.”

Soal cara bang Azwar mendidik cantrik-cantriknya yang, juga sempat disinggung Prof Yudi. Ia bahkan sempat mempraktekkannya. “Saya bentak, dan bila perlu saya lempar sandal… sampai-sampai ada rekan dosen yang keberatan. Saya katakan, ya harus begitu kalau ingin mencetak lulusan fakultas seni pertunjukan yang mandiri dan tahan banting,” kata Yudiaryani.

Tak lupa, Prof Yudi juga mengapresasi rekan-rekan Teater Alam yang masih produktif berkarya, seperti Puntung CM Pudjadi, Meritz Hindra, Liek Suyanto, dan lain-lain. Ia pun termasuk yang mendukung dan menyambut baik ajakan Bang Azwar untuk kembali membuat pementasan lintas generasi.

Meritz Hindra sebagai senior terakhir yang diberi mic oleh Udik untuk bicara tiga menit, tercatat hanya menggunakan dua menit saja. Intinya, dia menyambut tantangan Bang Azwar untuk membuat pementasan. “Tahun 2019 kita buat pementasan kolosal,” tekadnya.

Oh ya… sebelumnya, Tetet Srie Wd yang juga diberi kesempatan bicara sempat diwanti-wanti oleh Udik, “Ojo nangiiiissss…..” Mas Tetet, begitu para juiornya memanggil, memang berhati lembut. Mudah tersentuh, dan tak kuasa menahan air mata jika menyangkut sesuatu yang mengoyak emosi jiwa.

Tak urung, ketika ia menceritakan bagaimana mendapat gemblengan Teater Alam, kemudian mengembangkan seni tari sampai akhirnya bisa menyabet sejumlah prestasi tingkat dunia di berbagai negara, sesekali ia harus jeda bicara untuk mengatur napas. Rasa haru yang membuncah demi mengingat masa lalunya di Teater Alam, membuat tenggorokan tersekat… dan air mata meleleh.

Refleksi Teater Alam

Purwadmadi Atmadipurwa. Foto: Nana

Dalam kesempatan itu, panitia “dadakan” juga mengundang “orang luar”, penyair, novelis dan jurnalis senior Yogyakarta, Purwadmadi Atmadipurwa untuk menyampaikan refleksi terhadap kiprah Teater Alam. Dalam paparan tiga lembar, Purwadmadi memposisikan diri laksana manusia dengan mata rabun yang mengintip dari lubang kecil, terhadap dunia teater, khususnya Teater Alam.

Mungkin maksudnya, mencoba tidak ingin melukai siapa pun ketika paparannya dianggap, atau setidaknya ada yang menganggap tidak pas, bahkan keliru. Sebagai penyair, bahasanya mengalir, berombak, kadang tenang dan kadang beriak. Isinya pun bukan tong kosong yang nyaring bunyinya.

Ia bahkan membawa Teater Alam tidak semata dalam konteks dunia teater di Yogyakarta dan Indonesia, bahkan hingga ke tradisi Mataram. Sebuah intipan mata rabun, yang sejatinya sebuah penerawangan tajam, jernih, dan dalam. Di antara tiga hal hasil intipan Purwadmadi, justru di point ketiga yang boleh dikata kontekstual sekaligus visioner.

Ia berbicara mengenai keniscayaan dunia digital. Ia berbicara tentang effort orang datang ke gedung kesenian, membeli tiket, lalu menikmati pertunjukan teater sebagai sebuah kemewahan. Sementara di sisi lain, kehidupan kekinian telah ada di genggaman (gadget). Karena itu, “memindahkan” panggung teater ke dalam “genggaman” (gadget) seyogianya menjadi sebuah keniscayaan.

Purwadmadi benar. Apa yang dia sampaikan, bukan saja tantangan dan keniscayaan yang harus dihadapi Teater Alam, tetapi juga dunia teater pada umumnya. Itu jika menghendaki teater tidak hidup dalam kuburan zaman now. ***

Gallery Halal Bihalal Teater Alam

Gde Mahesa, Azwar AN, Puntung CM Pudjadi. Foto: Nana Azmiwa Azwar
Ada yang menjuluki foto ini “para pendekar Teater Alam”. Di antara mereka tampak Yono Gandhem (tengah bertopi), Tetet Srie Dw, Puntung CM Pudjadi, Meritz Hindra, dan lain-lain. Foto: Nana Azmita Azwar
Azwar AN sedang membubukan tanda tangan di atas kanvas, sementara Agus Leylor menunggu giliran di belakangnya. Foto: Nana Azmita Azwar
Agung (sepatu besi), Tertib Suratmo, Yono Gandhem. Foto: Nana Azmita Azwar
Nano, Puntung, Bambang JP, Ndaru Maheldaswara. Foto: Nanan Azmita Azwar
Tampak wajah: Hendy, Mimin, Yuni. Foto: Nana Azmita Azwar
Roso Daras dan Bambang Nursinggih. Foto: Nana Azmita Azwar
Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *