“Bambang Ekalaya” Malam ini Memotong Ibu Jarinya

Menjejak usia yang ke-54 tahun, Teater Alam Yogyakarta kembali naik panggung. Hari ini, Rabu 5 Agustus 2026 pukul 19.30 bertempat di Taman Budaya Yogyakarta (TBY), kelompok teater yang didirikan Azwar AN (1937 – 2021) itu mementaskan karya anggotanya sendiri, Agus Leyloor yang berjudul “Bambang Ekalaya”.

Naskah aslinya berjudul “Si Bambang Ekalaya”. Leyloor, sapaan akrab Agus Prasetiya ini, menulisnya tahun 2006 untuk keperluan ujian akhir Program Pascasarjana di ISI Yogyakarta.

“Jadi, naskah Bambang Ekalaya itu berbasis riset. Pilihan lakon ini, menurut saya kontekstual dengan gonjang-ganjing ijazah palsu Jokowi,” ujar Leyloor, dalam obrolan santai di halaman Grya Abhipraya, Yogyakarta baru-baru ini.

Meski berlatar belakang cerita pewayangan, tetapi Leyloor menarasikannya dalam bahasa keseharian, bahkan cenderung jenaka. Benar-benar tipikal penulisnya yang terkenal ‘ndagel’.

Agus “Leyloor” Prasetiya

Di tempat terpisah, sutradara Meritz Hindra menuturkan ihwal ketertarikannya memainkan Bambang Ekalaya guna merayakan 54 tahun Teater Alam. “Bisa dibilang ini karya sendiri, karena Agus Leyloor adalah anggota Teater Alam, sekalipun kemudian mendirikan kelompok sendiri dan aktif mengajar di jurusan teater ISI Yogyakarta,” tuturnya.

Ia antusias menyutradarai lakon ini, dan mendedikasikannya untuk almarhum Azwar AN. Meritz lalu mengilas balik pertautannya dengan Azwar AN.

“Bermula tahun 1972. Ketika itu saya masih di Asdrafi, mendapat kabar bahwa Azwar AN salah seorang dedengkot Bengkel Teater baru saja keluar dari grup teater yang didirikannya bersama W.S. Rendra, dan akan mendirikan grup teater sendiri,” kenangnya.

Meritz dan kawan-kawan Asdrafi, antara lain Yoyok Aryo dan Ganti Winarno, akhirnya datang ke Jl. Sawojajar nomor 25, ke rumah yang ditempati Azwar AN. Benar, sampai di rumah Azwar AN mereka disambut dengan baik, dan langsung ditawari ajakan membuat grup teater. Tanpa berpikir panjang mereka sepakat dan berkomitmen.

Tepat tanggal 5 Januari 1972 Teater Alam berdiri. Pendirinya tujuh orang yang sebagian besar dari Asdrafi. Mereka adalah Azwar AN, Yoyok Aryo, Hendra Cipta, Abdul Kadir, Ramidi Rogojampi, Ganti Winarno, dan Meritz Hindra. Satu-dua minggu setelah didirikan bergabunglah sejumlah nama lain, seperti Bambang Darto, Kunthil, Saif Bakham, Nanok Haryono, Kuswadi, Wahyu dan lain-lain.

Meritz Hindra

Refleksi Moral

Kembali ke konteks pementasan Bambang Ekalaya. Sepakat dengan Agus Leyloor sang penulis naskah, Meritz juga menganggap lakon ini ada relevansinya dengan situasi negeri ini. “Tapi saya menggarapnya tidak terlalu ‘wayang banget’, meski tetap berbau wayang,” tuturnya.

Relevansi cerita, tidak melulu menggaris-bawahi ihwal ijazah atau formalitas dunia pendidikan. Meritz justru mengagungkan sikap pemuliaan guru oleh Ekalaya. Dalam tradisi Islam –dan agama lain—guru diposisikan sebagai orang tua kedua yang membimbing akal dan jiwa, sehingga adab terhadap guru ditempatkan sangat tinggi.

Meritz menyitir sejarah Jepang. Pasca kekalahan Jepang dari Sekutu 14 Agustus 1945, negara itu dalam kondisi luluh lantak, setelah Hiroshima dan Nagasaki dibom atom. Hal pertama yang dilakukan Kaisar Hirohito adalah mengumpulkan para jenderalnya.

Alih-alih menanyakan jumlah sisa tentara atau senjata, ia justru bertanya, “Berapa jumlah guru yang tersisa?” Peristiwa ini menandai titik balik penting di mana Jepang menempatkan pendidikan dan guru sebagai fondasi utama kebangkitan bangsa dari reruntuhan perang.

Sekilas Cerita Ekalaya

Kisah Bambang Ekalaya (yang dalam pewayangan Jawa sering juga disamakan dengan tokoh Palgunadi dari kerajaan Paranggelung) adalah salah satu cerita yang paling mengharukan sekaligus tragis dalam wiracarita Mahabharata.

Ekalaya adalah seorang pangeran dari kaum Nishada (kaum pemburu atau masyarakat pinggiran) yang memiliki tekad luar biasa untuk menguasai ilmu memanah (dhanurveda). Ia bercita-cita menjadi murid Resi Drona (Dronacharya), guru perang para kesatria Pandawa dan Kurawa atau trah Bharata.

Namun, karena latar belakang sosialnya, Resi Drona (biasa juga disebut Resi Durna) menolak menerima Ekalaya sebagai murid secara langsung demi menjaga status sosial dan eksklusivitas para pangeran istana. Meskipun ditolak, Ekalaya tidak putus asa.

Ia pulang ke hutan, membuat sebuah patung tanah liat yang menyerupai Resi Drona, dan menganggap patung itu sebagai gurunya. Berkat ketekunan, disiplin, dan rasa hormat yang tinggi, Ekalaya berlatih seorang diri di depan patung tersebut hingga akhirnya menjadi pemanah ulung yang kesaktiannya setara—bahkan dalam beberapa versi disaingi—dengan Arjuna, murid kesayangan Drona.

Suatu hari, ketika Resi Drona dan para Pandawa sedang berburu di hutan, anjing pemburu milik Arjuna tersesat dan menggonggong kepada Ekalaya. Ekalaya, yang sedang berkonsentrasi penuh, melepaskan anak panah tanpa melihat sasaran dan berhasil membungkam gonggongan anjing tersebut dengan rentetan anak panah yang menutupi mulut si anjing tanpa melukainya sedikit pun.

Arjuna terkejut melihat kehebatan pemanah misterius itu dan merasa khawatir posisinya sebagai pemanah terbaik di dunia akan tergeser. Resi Drona pun mendatangi Ekalaya dan terkejut mengetahui bahwa Ekalaya mencapai tingkat keahlian itu hanya dengan “berguru” pada patungnya.

Mengingat janjinya kepada Arjuna bahwa tidak boleh ada pemanah lain yang melebihi kehebatan Arjuna, Drona meminta tanda guru (daksuhina) berupa ibu jari (jempol) tangan kanan Ekalaya. Tanpa ragu-ragu dan diliputi rasa hormat yang mutlak kepada sang guru, Ekalaya memotong sendiri ibu jari kanannya dan mempersembahkannya kepada Drona. Akibatnya, kemampuan memanahnya menurun drastis.

KRU dan MANAJEMEN

Stage Manager: Dinar Saka

Pemeran: Dr Drs Hajar Pamadi, MA, Anastasia, Nano Asmorodono, Nobi Pristianti  Dewi, Oka Swastika Mahendra, Sutra Fidana, Jamil AN, Eko Pamulihono, Wiji Jhoe, Anto Azis, Junior FLK.

Penari: Isti M, Kristina R, Retno Azis, Puri, Yoanariris, Saptowati, Carla, Ridwan Rizaldi, Rama Miki, Dhimas Duta, Rozak.

Pemusik: Nanang Garuda, Buteng Swami Ahimsa, Miftah Rizak, Mamad.

Artistik: B’djo Ludiro (setting & property), Eddy Subroto, Siti Amini (penata kostum), Alexander Deska (penata cahaya), Nanang Garuda (penata musik), Isti M, Eko Pamulihono (penata tari).

Dokumentasi: Rakhmat Supriyono, Bambang Wartoyo (foto), Joni Asman (video).

Pengarah: Dr Drs Hajar Pamadi, MA (Hons), Roso Daras, Drs HM Satriya Wibawa, M.Un

Manajemen: Ir Ena Azmita Azwar (Ketua), Dra A. Sri Hestutiningsih (Sekretaris), Naning Kartaatmaja, SKM (Bendahara), Erny Aznita Azwar (Usaha Dana). (erde)

“Oidipus” Wafat (Lagi)

In Memoriam: Gege Hang Andhika

YOGYAKARTA, JAYAKARTA NEWS – Suasana duka menyelimuti jagat teater Yogyakarta, dan nasional. Aktor senior Teater Alam, Gege Hang Andhika meninggal dunia, Kamis (Legi), 7 September 2023 pukul 19.40 WIB, dalam usia 74 tahun.

Terbersit di benak saya, “Oidipus” wafat (lagi). Gege sangat identik dengan tokoh Oidipus. Sejumlah repertoar Teater Alam yang mementaskan drama Yunani karya Sophokles itu (hampir) selalu menempatkan sosok Gege sebagai pemeran Oidipus. Tak heran jika tokoh Oidipus begitu lekat dengan almarhum.

Ia sosok yang humble dan mudah bergaul. Sebagai senior, Gege terkadang bahkan tidak menyadari senioritasnya. Ia bisa lekas akrab dengan siapa pun, termasuk para juniornya di komunitas Teater Alam.

Menarik garis waktu lebih ke belakang. Melihat sosok Gege, seketika teringat suaranya yang serak-serak-seksi, ditambah wajahnya yang tampan membuat Gege bak primadona Teater Alam. Status biologis sebagai adik kandung Titiek Azwar, istri Azwar AN pendiri Teater Alam, adalah salah satu faktor mengapa Gege ikut tertarik terjun ke dunia teater.

Gege Hang Andhika. (foto: bambang wartoyo)

Bengkel Teater

Sejak tahun 1971 ia bahkan sudah diajak kakak ipar, Azwar AN masuk Bengkel Teater pimpinan W.S. Rendra. Di Bengkel Teater itulah ia mulai belajar teater. Pengalaman pertamanya pentas bersama Bengkel Teater adalah “Mini Kata” yang disutradarai Rendra.

“Mastodon dan Burung Kondor”, salah satu karya drama fenomenal Rendra, dipentaskan pertama kali di Yogya tahun 1973. Gege ikut pula dalam pementasan itu.

Lalu ia juga terlibat pementasan “Kisah Perjuangan Suku Naga. Sebuah naskah drama bernuansa kritik terhadap pemerintah (Orde Baru) oleh Rendra.

“Pentas terakhir saya bersama Bengkel Teater adalah lakon ‘Pangeran Hunberg’, Desember 1975. Saat itu bang Azwar sudah keluar dari Bengkel Teater, dan mendirikan Teater Alam,” ujarnya suatu hari.

Benar. Azwar keluar dari Bengkel Teater akhir 1971, dan mendirikan Teater Alam awal 1972. “Saya bertahan di Bengkel Teater sampai tahun 1976. Tahun itu Rendra memutuskan hijrah ke Jakarta. Saya memutuskan bertahan di Yogya,” kata Gege.

Keputusannya tidak ikut hijrah ke Jakarta bersama Rendra dan Bengkel Teater-nya, disusul langkah ringannya menuju markas Teater Alam di Jl Sawojajar, Yogyakarta.

“Antara Bengkel Teater dan Teater Alam, tidak jauh berbeda. Cara melatih Bang Azwar sama kerasnya dengan Rendra. Disiplin adalah hal utama yang beliau tanamkan,” kata Gege ketika mengenang Azwar.

Di Teater Alam, ketika itu, sudah bercokol nama-nama seperti Meritz Hindra, Yoyok Aryo dan Ganti Winarno. Sejumlah nama lain, di antaranya Yoyok Aryo, Hendra Cipta, Abdul Kadir, dan Ramidi Rogojampi. Lebih junior dari mereka, ada Bambang Darto, Kunthil, Saif Bakham, Nanok Haryono, Kuswadi, Wahyu, dan lain-lain.

Banyak repertoar besar yang diproduksi Teater Alam, banyak pula peran besar yang jatuh ke pundak Gege. Tahun 1978 misalnya, ia terlibat pementasan “Hamlet” (William Shakespeare). Ia pula yang berperan sebagai Hamlet.

Foto kenangan tahun 2020, sebelum pementasan Oidipus. Dari kiri: Meritz Hindra, Roso Daras, Azwar AN, dan Gege Hang Andhika. (foto: Teater Alam)

Disangka Edan

Tahun yang sama, Teater Alam juga mementaskan karya Shakespeare yang lain, yang berjudul “Machbet”. Lagi-lagi, Gege pula yang berperan sebagai tokoh Machbet, seorang prajurit hebat Skotlandia yang menjadi raja setelah membunuh raja sebelumnya, Duncan.

“Saya banyak mendapat peran utama, termasuk di lakon Oidipus,” kata Gege. Beberapa kali Teater Alam melakonkan Oidipus, salah satunya penciptaan rekor tahun 1999 saat Teater Alam mementaskan Trilogi Oidipus: Oidipus Rex, Oidipus di Colonus, dan Oidipus Antigone. “Itu pentas teater terpanjang yang pernah ada,” kata Gege, dengan mata menerawang.

Gege tak bisa melupakan kenangangan pentas marathon dari pukul 20.00 hingga 05.00 subuh. Termasuk kenangan terindah sekaligus terlucu saat ia menemani Nining, istri tercintanya belanja ke pasar Beringharjo. Selagi istrinya berbelanja, Gege berada di belakangnya dengan mulut komat-kamit menghafal dialog.

Seorang pedagang, sambil meladeni Nining, tak kuasa melempar tanya, “Bu, maaf, suaminya ‘gini’ ya?” kata si pedagang sambil menyilangkan jari telunjuknya di depan jidat. “Miring”, maksudnya.

Mendapat pertanyaan seperti itu, Nining spontan tertawa ngakak, alih-alih marah. Dengan sabar, Nining pun menjelaskan, “Oh, dia sedang menghafal naskah drama. Sebentar lagi mau pentas di Purna Budaya, dan dia aktor utamanya. Kalau besok pas pentas, njenengan nonton yaaaa….”

Gege Hang Andhika, dalam peran Oidipus. (foto: Teater Alam)

“Aja Mendem”

Sebagai orang “titer”, Gege termasuk “alim”. Biarpun banyak temannya akrab dengan minum-minuman keras dan mabuk-mabukan, Gege nyaris tidak pernah. “Saya lebih senang merokok dan ngomong jorok, dibanding mabok,” kata Gege sambil terkekeh, suatu hari.

Usut-punya-usut, Gege memegang betul nasihat kakak iparnya, Azwar AN. “Gege! Kamu harus rajin, jujur, displin, dan aja mendem! Kalau kamu suka mabuk, jangankan di Jakarta, di Yogya saja tidak bakal laku (sebagai aktor),” begitu nasihat mendiang Azwar.

Terbukti, Gege berhasil melakoni dunia seni peran, termasuk merambah dunia film dan sinetron dengan baik. Bahkan, hari-hari akhir, ia aktif juga di KFT (Karyawan Film dan Televisi).

Hingga akhir hayatnya, Gege tidak pernah jauh dari Teater Alam. Bahkan tahun 2020, di usia yang sudah menginjak kepala 7, ia masih prima memerankan Oidipus pada pentas 18 Januari 2020 di Taman Budaya Yogyakarta.

Pada kegiatan-kegiatan tahunan Teater Alam, Gege pun turut serta menyumbangkan waktu, tenaga, pikiran, dan semangat untuk membersamai para juniornya. Pada pentas Teater Alam terakhir, Opera Ikan Asin (OIA), 15 Agustus 2023 lalu, Gege sempat hadir di TBY, meski tidak bisa bertahan lama, karena kondisi fisiknya yang mulai lemah.

Innalihahi wa inna ilaihi roji’un, lelaki bernama lengkap Andhika Sugirman Irsyad itu pun wafat pada usia 74 tahun, Kamis (legi) 7 September 2023 pukul 19.40. Malam itu, jenazah disemayamkan di Rumah Duka Panembahan PB 2/110, sebelum esok harinya, Jumat (8/9/2023), dimakamkan di Taman Makam Pakuncen, usai shalat Jumat.

Almarhum meninggalkan anak dan menantu, Febri Maulana Budiwan, Muhammad Reza Setiawan & Luthfiana Irmasari, Novita Dyah Wulandari & Oki Pralambang. Serta cucu-cucu: Ibrahim Muflih S, Lakeisha A.S., M. Naladipa V.P., dan M. Narendra V.P. (*)

Catatan Kenangan
Roso Daras
Jurnalis, Anggota Teater Alam

Tiga Pentolan Teater Beri Materi Workshop

JAYAKARTA NEWS – Pagi ini, Minggu (9/10), tiga pentolan Teater Alam Yogyakarta akan memberikan materi workshop teater. Mereka adalah Meritz Hindra, Puntung CM Pudjadi, dan Wahyana Giri MC. Workshop Teater ini adalah bagian dari rangkaian acara peringatan 50 Tahun Teater Alam (1972 – 2022).

Meritz Hindra

“Workshop teater hari ini menyajikan tiga materi menarik. Masing-masing, yakni keaktoran, penyutradaraan, dan penulisan naskah,” ujar Dinar Saka, penanggung jawab workshop, di Yogyakarta, hari ini (9/10).

Meritz Hindra, salah satu anggota Teater Alam angkatan awal (70-an), akan menyajikan materi “Keaktoran”. Sedangkan, Puntung CM Pudjadi, senior Teater Alam yang lain, berbagi ilmu tentang “Penyutradaraan”. Adapun materi “Penulisan Naskah”, diampu oleh Wahyana Giri, yang sarat prestasi di bidangnya.

Puntung CM Pudjadi

Dinar Saka menambahkan, panitia workshop awalnya membatasi jumlah peserta di angka 50 orang. Akan tetapi animo calon peserta ternyata sangat besar. “Akhirnya kami beri toleransi tambahan peserta, sehingga total menjadi 60,” ujar Dinar Setiawan, nama lengkapnya.

Anggota Teater Alam tahun 2000-an ini juga mengatakan, dibatasinya jumlah peserta antara lain karena pertimbangan “pementasan”. “Tidak bisa dibayangkan, kalau kami buka pendaftaran hingga ratusan peserta, bagaimana pengaturan pementasannya. Di samping itu, ada kekhawatiran, materi kurang terserap dengan baik jika peserta terlalu banyak,” katanya.

Workshop Komplet

Wahyana Giri MC

Menurut Dinar, workshop teater “50 Tahun Teater Alam” ini adalah paket workshop komplet. “Pemateri bukan hanya menyajikan teori, tetapi juga praktek pentas,” tambah Dinar. Karena itulah, workshop dibagi menjadi dua sesi besar. Yakni, sesi penyajian materi teknis dan sesi pembahasan pementasan.

Saat sesi teori, tiga materi diselenggarakan secara terpisah. Menurut Dinar, peserta dikelompokkan berdasarkan minat. “Jadi Gedung Societet, Taman Budaya Yogya tempat berlangsungnya workhsop, kami bagi menjadi tiga. Bagian lobby untuk materi penyutradaraan, bagian panggung untuk materi keaktoran, dan bagian taman untuk materi penulisan naskah,” paparnya.

Workshop dimulai pukul 09.00 WIB dan berakhir 16.45 WIB. “Peserta tidak dipungut biaya. Kami beri konsumsi, sertifikat, dan pengalaman pentas. Pentas hasil workshop akan dilakukan pada puncak acara peringatan 50 Tahun Teater Alam pada tanggal 17 November 2022.

Dinar Saka

Bukan hanya itu. Menurut Dinar, peserta workshop yang berkenan, bahkan bisa langsung menjadi anggota Teater Alam. “Jadi workshop ini adalah bagian dari pola regenerasi di tubuh Teater Alam,” ujar Dinar yang juga berprofesi sebagai guru. (rr)

Meritz Hindra Pentas Monolog “Mulih”

JAYAKARTA NEWS – Aktor teater kawakan Yogyakarta, Meritz Hindra termasuk satu di antara sedikit aktor teater yang menolak diam. Sabtu (6/3/2021) besok, pukul 19.00 WIB, Meritz akan mementaskan monolog berjudul “Mulih”. Mulih, adalah kata Jawa yang artinya “Pulang”.

Pentas monolog “Mulih” digelar di Taman Sowan Desa, Kretek, Karangrejo, Borobudur, Magelang. Mendukung pementasannya, Meritz dibantu Emha Irawan sebagai penata artistic dan dua penata music: Ki Mujar Sangkerta dan Jojo Sumardjo.

Kepada Jayakarta News, Meritz menjelaskan, “Mulih” adalah karya monolog yang ia lahirkan secara spontan di atas pentas. “Jadi, tidak ada naskah. Idenya datang dari Jokosaw Koentono, tuan rumah acara ini, Taman Sowan Desa,” ujar aktor jebolan Asdrafi Yogyakarta, itu.

Hakikat “Mulih”, tambah aktor pendiri sekaligus angkatan pertama Teater Alam Yogyakarta itu, adalah “pulang kampung”. Lebih jauh, pulang ke diri sendiri, ke sejatinya diri. “Kembali ke jati diri. Maknanya sangat universal, sebab di sana ada nilai tradisi dan nasionalisme. Inilah esensi karya monolog yang akan saya bawakan besok,” urai seniman berambut gondrong-putih ini.

Ya… inilah hidup di pinggiran kota. Tidak ada hiruk-pikuk kendaraan bermotor, mobil, bus kota…. Tidak ada polusi yang menyebar, polusi yang menyebar bagaikan jutaan virus menggerogoti nafas, mengotori rongga paru, menyerang jantung. Polusi yang membuat kita sesak dan terdiam bagaikan patung….,” Meritz melantunkan sepenggal monolog “Mulih”.

Disinggung tentang konsep pementasan, Meritz mengatakan, pertunjukan yang ia gelar esok malam lebih bicara pada “seni kejadian”. Apa yang terjadi di panggung bersifat spontan dan mengalir. Tidak ada pretensi menggurui. Moralnya, tetap saling menghormati, saling menghargai antara aktor dan audiens.

Usai pementasan, akan digelar sarasehan bertajuk “Merawat Jejak Keaktoran”. Pembicara yang tampil, Meritz Hindra (Royal House Cultural Activities), Jokosaw Koentono (Taman Sowan Desa), Nindito (MENDUT Institute), dan Mahmoed Elqadrie (GRK Asdrafi). Adapun Andreas Damtoz akan memandu jalannya sarasehan. (rr)

Marlon Brando dan Meritz Hindra dalam “Pusaran”

Marlon Brando dan Meritz Hindra. (ist/bb wartoyo)

Jayakarta News – Aktor Marlon Brando adalah salah satu pesohor fenomenal Hollywood. Di antara puluhan film yang dibintanginya, dua di antaranya berbuah piala Oscar. Yang pertama diraih tahun 1954 untuk film On The Waterfront, dan Oscar kedua diraih tahun 1972 untuk film legendaris The Godfather.

Marlon Brando lahir 3 April 1924 di Nebraska, Amerika Serikat. Ia wafat 1 Juli 2004 dalam usia 80 tahun. Film box office terakhir yang ia bintangi adalah Superman Returns tahun 2006. Di akhir usia, ia tidak lagi membintangi film komersial. Karya terakhirnya tercatat Blood, Sweat & Brando tahun 2008, dengan kategori archive footage (rekaman arsip).

Marlon Brando di Amerika, Meritz Hindra di Yogyakarta. Meritz juga seorang aktor. Faktor apa gerangan yang membuat dua nama beda negara itu menjadi layak dipersandingkan? Sesungguhnya, ini bukan soal layak dan tidak layak. Ini murni tentang sosok dua aktor berkualitas yang pada banyak titik mengalami persinggungan, meski dalam ruang dan waktu yang berbeda.

Coba perhatikan tanggal lahirnya. Marlon Brando 3 April 1924, sedangkan Meritz Hindra 24 April 1949. Mereka lahir di bulang yang sama. Karier keaktoran mereka, sama-sama berangkat dari panggung teater. Marlon Brando adalah aktor Broadway. Sementara, Meritz Hindra adalah murid pertama Teater Alam, salah satu kelompok teater tertua di Yogyakarta, yang didirikan oleh Azwar AN (setelah keluar dari Bengkel Teater). Banyak lakon pernah ia mainkan. Banyak panggung tempat ia berakting.

Brando dua kali menyabet Oscar, Meritz juga sama. Ia adalah Aktor sekaligus Sutradara Terbaik pada Festival Teater Remaja se-DKI Jakarta (1979) pada lakon Belenggu Promotheus. Prestasi lain, pria bernama asli Hindrarto itu pernah menyabet juara melukis antar Gelanggang se-DKI Jakarta tahun 1978. Meritz juga gemar menulis.

Nah, jika Marlon Brando berangkat dari panggung teater merambah dunia film, Meritz tidak bisa dibilang sepenuhnya begitu. Meritz memang masuk dunia film, termasuk sinetron, tetapi tidak pernah setotal Brando. Dunia Meritz adalah dunia panggung teater. Ia merasa nyaman di sana. Sesekali, menjadi sutradara teater. Sinetron dan film baginya hanya persinggahan tempo-tempo.

Marlon Brando dan Meritz Hindra, sama-sama memerankan tokoh Stanley Kowalski dalam lakon A Streetcar Named Desire (Pusaran). (ist/bb wartoyo)

Hal lain yang menjadi alasan utama tulisan ini menyandingkan nama Marlon Brando dan Meritz Hindra adalah sebuah naskah drama berjudul A Streetcar Named Desire, yang oleh Totok Sudarto Bachtiar diterjemahkan dengan judul Pusaran. Tahukah Anda? Bahwa Marlon Brando adalah pemeran tokoh Stanley Kowalski dalam naskah karya Tennessee Williams (1947) itu. Peran sama juga akan dimainkan Meritz Hindra.

Benar. Sejak tiga bulan lalu, aktor-aktris Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) ISI Yogyakarta dan Teater Alam Yogyakarta tekun berlatih. Mereka tengah mempersiapkan pementasan A Streetcar Named Desire (Pusaran). Bertindak selaku sutradara, Prof. Dr. Yudiaryani, MA, satu-satunya profesor teater di Indonesia yang saat ini mengajar di ISI Yogyakarta.

Pementasan itu dijadwalkan berlangsung dua hari, Senin – Selasa, 22 – 23 Juli 2019 di Concert Hall, Taman Budaya Yogyakarta. “Dalam hal kualitas akting, saya tidak meragukan akting mas Meritz Hindra. Bahkan, saya bisa menduga, akting mas Meritz tidak kalah dengan akting Marlon Brando ketika memerankan tokoh yang sama,” ujar Prof Yudi sambil tersenyum.

Di Pusaran nanti, kita akan melihat adu akting antara Meritz Hindra pemeran tokoh Stanley Kowalsky dengan Fiola Alex yang memerankan tokoh sentral, Blanche DuBois. Juga akting para aktor Teater Alam lain seperti Gege Hang Andika (dokter dan pembaca puisi), Daning Hudoyo (Steve), Gola Bustaman (Mitch), dan Dinar Saka (Pablo).

Para mahasiswa FSP ISI Yogyakarta juga memegang peran penting. Dalam latihan terbukti mampu mengimbangi akting para aktor Teater Alam. Mereka antara lain Nur Alfiyah (Stella Kowalsky), Dama Wahyu (Eunice), Ilham (penjual kue tamal), Cyndika (perawat dan pembaca puisi), serta Merynda (penjual bunga).

Naskah ini menampilkan konflik antara nilai-nilai lama dan baru di Amerika bagian selatan. Dunia lama dengan keanggunan dan keindahan berhadapan dengan nilai-nilai agresivitas dan materialisme. Pertumbuhan industri menciptakan konflik sosial. Naskah “Pusaran” atau A Street Car Named Desire ini digolongkan dalam aliran realisme psikologis. Tokoh Blanche memiliki gangguan kepribadian yang berpengaruh buruk pada lingkungan sosial dan dirinya sendiri.

Pusaran menjadi representasi kehidupan masyarakat Indonesia masa kini. Ada relasi yang cukup kuat dari keduanya, baik dari perkembangan ekonomi maupun dari sudut perkembangan sosial yang terbukti melalui perkembangan dan perubahan cara pikir, sikap, serta nilai-nilai kehidupan.

Kita tunggu akting Meritz “Marlon Brando” Hindra di TBY Yogyakarta, 22 – 23 Juli 2019. (rr)

Cerita Meritz Hindra di Tubir Neraka

Meritz Hindra dan Tetet Srie Wd di kedai kopi, pinggir kota Yogyakarta. Foto: Gde Mahesa

TIGA orang seniman ngopi di sebuah kedai pinggir jalan, nun di pinggiran kota Yogyakarta. Terik matahari yang menyengat, membuat ketiganya merasa lebih nyaman berteduh sambil ngopi dan pas-pus merokok. Dua di antara tiga seniman itu adalah Meritz Hindra dan Tetet Srie Wd. Yang ketiga adalah saya. Tiga orang dengan latar belakang padepokan yang sama: Teater Alam Yogyakarta.

Siang itu, topik hangat yang digulirkan adalah tentang kehidupan setelah kematian. Tentang surga dan neraka. Jangan dikira ini obrolan serius… sebab, sepanjang obrolan yang gayeng itu, tidak ada dalil absolut yang dijadikan titik pijak berdebat kusir. Meski begitu toh, ramainya luar biasa. Sampai-sampai mengalahkan bisingnya deru knalpot kendaraan yang lewat. Sampai-sampai, menyedot perhatian pengunjung warung yang lain.

Adalah Meritz Hindra. Jika ada yang belum kenal dia, buka saja di Google. Entah apa saja yang ditulis wartawan tentang seniman yang keras kepala dalam idealisme ini. Yang jelas, di balik wajahnya yang kelihatannya serius, sejatinya ia gemar melucu. Tidak jarang dengan bahasa yang ‘waton mangap’.

Tidak lama setelah hijrah dari Yogyakarta ke Jakarta, nama Meritz Hindra lekas populer di Bulungan dan TIM. Sekitar tahun 80-an ia aktif mengelola kelompok teater SS yang anggotanya kebanyakan siswa SLTA. Murid teaternya yang lain adalah para pengamen dan anak jalanan Blok M. Masih panjang deretan kata untuk mendeskripsikan seorang Mertiz Hindra.

Meritz Hindra dan Tetet Srie Wd bicara tentang surga dan neraka. Foto: Gde Mahesa

Demikian pula Tetet Srie WD. Dia adik angkatan Meritz di Teater Alam Yogyakarta. Bahkan Meritz pula yang awalnya melatihnya berteater. Tapi, hubungan “kakak pertama” dan “kakak kedua” di dunia teater memang sangat cair. Sama seperti persahabatan Meritz dan Tetet.

Akan halnya Tetet Srie Wd yang sama seperti Meritz, hijrah ke Jakarta. Mengembangkan karier di dunia koreografi. Dengan bekal teater, sentuhan tari serta sastra Jawa yang digelutinya kelak, menjadi “berbeda” dari sekadar karya sarjana koreografi. Tak heran jika karya-karya Tetet mendapat apresiasi tidak saja di Indonesia, tetapi juga dunia. Beberapa kali karyanya menyabet predikat terbaik festival tari tingkat internasional. Singkat kata, Tetet sudah melanglang buana dengan seni tari berbasis teater yang ia kembangkan.

Nah, ‘kembali ke laptop’. Kembali ke warung kopi. Mereka berdebat soal surga dan neraka, berdebat soal kehidupan setelah kematian, sedangkan saya mencatat sambil ngakak.

“Kematian itu adalah pintu kehidupan dalam dimensi lain, namun berbeda dengan kehidupan dunia. Jadi, nggak seperti ini, makan-minum mesti keluar duit. Di sana tidak ada lapar dan haus,” kata Meritz serius sembari menatap tajam pada Tetet.

Meski junior, Tetet tidak menerima begitu saja argument senior. Dengan nada lebih rendah, ia menukas, “Tidak seperti itu. Tetaplah nanti ada surga dan neraka. Namun untukmu (menatap tajam ke arah Meritz)… kamu tidak akan langsung masuk neraka.”

Meritz terkesiap demi namanya disebut tidak akan masuk neraka. Entah senang, entah goyah dengan pendapatnya terdahulu tentang konsepsi kehidupan setelah kematian. Yang jelas, tatapan matanya tampak nanar dan wajahnya menunjukkan ekspresi menunggu penjelasan Tetet lebih lanjut.

Santai Tetet melanjutkan kalimatnya, “Kau berada di tubir neraka. Ya, di pinggiran neraka seperti nyaris jatuh. Lamanya satu hari kehidupan akhirat. Itu sama dengan seribu hari di kehidupan ini. Jangan kau pikir sehari itu 24 jam… tidaaaak… seharinya di sana, sama seperti seribu harinya di dunia fana ini. Sehari sama dengan tiga tahun!”

Sampai di situ, Meritz masih diam. Kalau toh mulutnya tidak melongo, lebih karena kepulan asap rokok. Tapi ia masih tampak serius mendengarkan kelanjutan cerita Tetet. Laksana sebuah drama, ia menghendaki ending. Apa yang terjadi setelah sehari atau tiga tahun dalam posisi hendak jatuh ke neraka?

Cuek dengan sikap penasaran Meritz, tampak Tetet malah enak-anak nyeruput kopi dan merokok. Karuan saja Meritz tidak sabar bertanya, “Kenapa? Ngapain? Kenapa dan ngapain aku di tubir neraka sekian lama? Kenapa tidak langsung dimasukkan saja ke neraka?”

Sambil menghela napas dan mengepulkan asap rokok, Tetet menjawab santai, “Nah… ini yang aku nggak bisa jawab, kenapa kamu disuruh nunggu di pinggir…. Soalnya aku nggak dikasih tahu.”

Mendengar jawaban itu, seisi warung kopi tertawa ngakak…. Meritz Hindra memaki sahabatnya, “Penthiiiilllll kereeee….. ” ***

Penulis bersama Meritz dan Tetet. Foto: Gde Mahesa

Kangen Bentakan dan Lemparan Sandal

Azwar AN, “pepunden para kadang” Teater Alam. Foto: Nana Amita Azwar

AZWAR AN adalah TEATER itu sendiri. Di Teater Alam, namanya melekat abadi. Sebab, setelah hengkang dari Bengkel Teater yang ia dirikan bersama Rendra, hampir seluruh hidup dan kehidupannya, ia curahkan untuk Teater Alam. Di usianya yang 81 tahun, Azwar ditemani tiga anaknya, Ronny, Nana, dan Renny hadir di Gedung Societet Yogyakarta, Minggu (24/6) menghadiri halal bihalal keluarga besar Teater Alam.

Lelaki kelahiran Palembang, 6 Agustus 1937 itu memiliki torehan sejarah berteater yang sangat panjang. Bahkan bisa jadi yang terpanjang. Berteater sejak usia 17 tahun, dan tidak lama kemudian sudah menghasilkan sejumlah pertunjukan yang sebagian besar dipentaskan di Tanjung Karang, Lampung. Di antara karyanya, Pemetik Lada, Ayahku Pulang, dan Terima Kasih, Pujaanku. Dari Tanjung Karang, ia hijrah ke Yogyakarta awal tahun 60-an.

Itu hanya sekelumit kisah Azwar dari catatan perjalanan berteater yang panjang. Penantar itu sekaligus menempatkan sosok Azwar sebagai pemeran utama tulisan ini. Bagian kedua dari tiga tulisan tentang halal bihalal Teater Alam yang bersejarah.

Kehadiran Azwar siang itu membuat tak kurang dari 60 eksponen Teater Alam berkesempatan melepas rindu. Beberapa di antaranya malah kangen dipisuhi (dimaki, seperti saat-saat latihan teater dulu). Bisa jadi, ada juga yang kangen dilempar sandal….

Selain Bang Azwar, sejumlah senior juga hadir. Di antaranya Meritz Hindra, murid pertama Teater Alam. Lalu hadir juga Tertib Suratmo, teman Azwar di Bengkel Teater yang kemudian juga bergabung ke Teater Alam. Ada juga yang datang khusus dari Jakarta, Tetet Srie Wd.

Di deretan senior Teater Alam lain, tampak Gege Hang Andhika, Liek Suyanto, Yono Gandhem, Puntung CM Pudjadi. Tak kurang dari Dekan Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta, Prof Dr Yudiaryani, MA hadir, sebagai salah satu eksponen Teater Alam.

Duduk lesehan dari kiri: Agung, Budi AA, Gege Hang Andika, Liek Suyanto, dan Gde Mahesa. Duduk di kursi: Meritz Hindra dan Azwar AN. Foto: Nana Azmita Azwar

Dari kiri: R. Bambang Nursinggih, Tetet Srie Dw, Agus Leylor, dan Meritz Hindra. Foto: Nana Azmita Azwar

Azwar AN, Gde Mahesa, dan Tertib Suratmo. Foto: Nana Azmita Azwar

Pembawa acara, Udik Supryanta dan Sugeng Iwak Bandeng menggilir para senior untuk membabar kata, mengumbar rasa. Azwar AN tak bisa menyembunyikan rasa haru dan bahagia bisa bertemu puluhan orang yang pernah di-pisuhi-nya dulu. Azwar AN tak bisa menutupi rasa rindu bertemu dengan orang-orang yang pernah ia lempar sandal saat latihan teater dulu. “Ayo… jangan hanya berkumpul dan berkumpul, tapi mari berteater untuk Yogyakarta,” katanya.

Tampak benar, kerinduan Bang Azwar untuk kembali berteater bersama teman-temannya, bersama anak buahnya yang dulu dididiknya di sanggar Teater Alam. “Saya tahu, Tetet keliling dunia membawa nama Teater Alam. Tapi yang ia bawa tari. Saya juga tahu Daras menjadi wartawan dan tetap membawa nama Teater Alam. Sekarang, mari kita kembali berteater. Bikin karya, bikin pementasan dengan kualitas terbaik. Tunjukkan kita cinta teater dan cinta Yogyakarta,” ujarnya antusias.

Setali tiga uang, mas Ratmo, begitu Tertib Suratmo akrab disapa, pun tergugah dengan ajakan bang Azwar. “Jika perlu, saya dan bang Azwar siap tampil,” ujarnya, disusul tepuk tangan meriah hadirin.

Prof Dr Yudiaryani, MA. Foto: Nana

Mas Ratmo juga mengomentari apa yang disampaikan Prof Yudiaryani sebelumnya. Menurut Prof Yudi, kita harus optimis dunia teater akan terus berkembang, selagi ada anak muda. Sebab, anak-anak muda banyak yang suka teater. Sayang, tambahnya, “Kalau dulu latihan bisa enam jam bahkan delapan jam sehari, anak-anak sekarang latihannya hanya tahan satu jam.”

Soal cara bang Azwar mendidik cantrik-cantriknya yang, juga sempat disinggung Prof Yudi. Ia bahkan sempat mempraktekkannya. “Saya bentak, dan bila perlu saya lempar sandal… sampai-sampai ada rekan dosen yang keberatan. Saya katakan, ya harus begitu kalau ingin mencetak lulusan fakultas seni pertunjukan yang mandiri dan tahan banting,” kata Yudiaryani.

Tak lupa, Prof Yudi juga mengapresasi rekan-rekan Teater Alam yang masih produktif berkarya, seperti Puntung CM Pudjadi, Meritz Hindra, Liek Suyanto, dan lain-lain. Ia pun termasuk yang mendukung dan menyambut baik ajakan Bang Azwar untuk kembali membuat pementasan lintas generasi.

Meritz Hindra sebagai senior terakhir yang diberi mic oleh Udik untuk bicara tiga menit, tercatat hanya menggunakan dua menit saja. Intinya, dia menyambut tantangan Bang Azwar untuk membuat pementasan. “Tahun 2019 kita buat pementasan kolosal,” tekadnya.

Oh ya… sebelumnya, Tetet Srie Wd yang juga diberi kesempatan bicara sempat diwanti-wanti oleh Udik, “Ojo nangiiiissss…..” Mas Tetet, begitu para juiornya memanggil, memang berhati lembut. Mudah tersentuh, dan tak kuasa menahan air mata jika menyangkut sesuatu yang mengoyak emosi jiwa.

Tak urung, ketika ia menceritakan bagaimana mendapat gemblengan Teater Alam, kemudian mengembangkan seni tari sampai akhirnya bisa menyabet sejumlah prestasi tingkat dunia di berbagai negara, sesekali ia harus jeda bicara untuk mengatur napas. Rasa haru yang membuncah demi mengingat masa lalunya di Teater Alam, membuat tenggorokan tersekat… dan air mata meleleh.

Refleksi Teater Alam

Purwadmadi Atmadipurwa. Foto: Nana

Dalam kesempatan itu, panitia “dadakan” juga mengundang “orang luar”, penyair, novelis dan jurnalis senior Yogyakarta, Purwadmadi Atmadipurwa untuk menyampaikan refleksi terhadap kiprah Teater Alam. Dalam paparan tiga lembar, Purwadmadi memposisikan diri laksana manusia dengan mata rabun yang mengintip dari lubang kecil, terhadap dunia teater, khususnya Teater Alam.

Mungkin maksudnya, mencoba tidak ingin melukai siapa pun ketika paparannya dianggap, atau setidaknya ada yang menganggap tidak pas, bahkan keliru. Sebagai penyair, bahasanya mengalir, berombak, kadang tenang dan kadang beriak. Isinya pun bukan tong kosong yang nyaring bunyinya.

Ia bahkan membawa Teater Alam tidak semata dalam konteks dunia teater di Yogyakarta dan Indonesia, bahkan hingga ke tradisi Mataram. Sebuah intipan mata rabun, yang sejatinya sebuah penerawangan tajam, jernih, dan dalam. Di antara tiga hal hasil intipan Purwadmadi, justru di point ketiga yang boleh dikata kontekstual sekaligus visioner.

Ia berbicara mengenai keniscayaan dunia digital. Ia berbicara tentang effort orang datang ke gedung kesenian, membeli tiket, lalu menikmati pertunjukan teater sebagai sebuah kemewahan. Sementara di sisi lain, kehidupan kekinian telah ada di genggaman (gadget). Karena itu, “memindahkan” panggung teater ke dalam “genggaman” (gadget) seyogianya menjadi sebuah keniscayaan.

Purwadmadi benar. Apa yang dia sampaikan, bukan saja tantangan dan keniscayaan yang harus dihadapi Teater Alam, tetapi juga dunia teater pada umumnya. Itu jika menghendaki teater tidak hidup dalam kuburan zaman now. ***

Gallery Halal Bihalal Teater Alam

Gde Mahesa, Azwar AN, Puntung CM Pudjadi. Foto: Nana Azmiwa Azwar

Ada yang menjuluki foto ini “para pendekar Teater Alam”. Di antara mereka tampak Yono Gandhem (tengah bertopi), Tetet Srie Dw, Puntung CM Pudjadi, Meritz Hindra, dan lain-lain. Foto: Nana Azmita Azwar

Azwar AN sedang membubukan tanda tangan di atas kanvas, sementara Agus Leylor menunggu giliran di belakangnya. Foto: Nana Azmita Azwar

Agung (sepatu besi), Tertib Suratmo, Yono Gandhem. Foto: Nana Azmita Azwar

Nano, Puntung, Bambang JP, Ndaru Maheldaswara. Foto: Nanan Azmita Azwar

Tampak wajah: Hendy, Mimin, Yuni. Foto: Nana Azmita Azwar

Roso Daras dan Bambang Nursinggih. Foto: Nana Azmita Azwar

“Kangen-kangenan Karo Bang Azwar AN”

Azwar AN (duduk tengah mengenakan topi), Tertib Suratmo dan eksponen Teater Alam yang hadir dalam acara “Kangen-kangenan Karo Bang Azwar AN”, Minggu, 13 Mei 2018 di kediaman sekaligus sanggar Teater Alam, Wirokerten, Yogyakarta. Foto: Ronny AN

TENDA biru terpasang di dapan rumah seniman teater dan sineas serba bisa, Azwar AN di Jl. Sawo 1 nomor 6, Wirokerten Indah, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta. Hajat apa gerangan yang tengah digelar lelaki kelahiran Palembang, 6 Agustus 1937 itu?

Rupanya bukan Azwar yang punya nazar, tetapi para cantrik Teater Alam yang spontanitas menggalang hajat. Berawal dari pembuatan WAG (whatsapp group) oleh Jeng Anas, terlemparlah gagasan kumpul-kumpul. Gayung bersambut. Tanggal pertama, hanya terdaftar tak kurang dari 10 orang. Batal. Tanggal kedua pun ditetapkan. Lebih 10 orang menyatakan siap hadir.

Sadar tidak mungkin ada kesepakatan bulat tentang “Hari H”, maka diputuskanlah tanggal 13 Mei, harinya Minggu. Yang bisa hadir diminta hadir, yang berhalangan hadir dimaklumi semaklum-maklumnya. Cekak kalimat, srag-sreg, srag-sreg… urusan konsumsi selesai, cetak banner beres, cetak kaos rampung.

Begitulah. Minggu pagi, tak kurang dari 20 eksponen Teater Alam pun berkumpul. Bang Azwar, begitu ia biasa disapa, bahagia bukan kepalang. Dalam usia yang ke-81, secara fisik Azwar tampak  sehat. Hanya saja, daya ingatnya memang mulai menurun.

Ketika didaulat berbicara, terasa benar luapan emosinya. Rasa bahagia yang membuncah, ucapan banyak terima kasih dalam nada bergetar, dan nyaris menjatuhkan air mata. Beruntung, celetukan dari orang per orang, segera mencairkan suasana. “Saya harap, kalian melanjutkan Teater Alam. Sekali-kali, berkumpullah, bikin pementasan. Kumpulkan dan libatkan teman-teman yang kini tersebar di mana-mana,” harap ayah tiga orang anak itu.

Dua sekawan: Tertib Suratmo dan Azwar AN. Foto: Ronny AN

Tokoh senior lain yang hadir adalah Tertib Suratmo (78). Sahabat Azwar AN sejak di Bengkel Teater itu, begitu antusias menghadiri acara yang diberi tagline “Kangen-kangenan Karo Bang Azwar AN”. Udik Supriyanta, generasi bontot Teater Alam, yang ‘kedapuk’ menjemput Suratmo, mengisahkan dengan gaya jenakanya. “Waktu saya datang, beliau sedang nyungging wayang. Lalu saya ceritakan tentang pertemuan ini… wah… beliau langsung mengemasi wayang dan alat tatahnya, ganti baju, dan segera mengajak berangkat ke Wirokerten ini,” kata Udik, yang siang itu memandu jalannya acara.

Benar. Teater Alam sudah melahirkan banyak seniman teater, tidak sedikit juga yang kemudian merambah bidang lain. Hari itu, selain hadir anggota Teater Alam yang masih bergiat di dunia teater di Kota Gudeg, hadir juga murid-murid Azwar yang secara khusus datang dari luar kota Yogya.

Meritz Hindra dan Azwar AN. Foto: Ronny AN

Usai Bang Azwar dan Mas Ratmo meluapkan rasa bahagianya, Udik segera menggilir peserta temu kangen untuk berbicara. Meritz Hindra, pendiri sekaligus angkatan pertama Teater Alam, langsung antusias menyambut harapan Azwar untuk “pentas reuni Teater Alam”. Seniman berambut gondrong yang sudah malang-melintang di dunia teater, film, dan seni rupa itu, juga menyegarkan suasana dengan ungkapan kenangan masa lalu.

“Saya gak habis pikir sama anak-anak teater Alam. Datang didiamkan berhari-hari, berminggu-minggu, tapi balik lagi. Latihan salah dilempar sandal, balik lagi. Disuruh lari-lari di tengah hujan, balik lagi. Di-munyuk-munyuk-kan (munyuk = monyet), tetap saja balik lagi….,” ujar lelaki kelahiran Solo, 22 April 1949 itu, disambut gerrr yang hadirin.

Gege Hang Andhika, giliran bicara. Senior teater Alam yang juga adik ipar Azwar AN ini dikenal easy going dan jenaka. Lelaki berperawakan tinggi berkulit putih belum lagi habis bicara, ketika ada yang nyeletuk “klinthing….”. Klinthing adalah suara logam yang jatuh ke lantai. Apa pasal celetukan itu membuat semua hadirin tertawa?

Syahdan, ketika Gege memerankan Oidipus dalam lakon Oidupus Rex (Oidipus Sang Raja) karya Sophocles, ia lupa dialog dan terucap kata “klinthing”. Kata “klinthing” jelas tidak ada dalam naskah. Apa boleh buat, Gege memang lupa, dan “lupa dialog” sudah menjadi “nama tengah” Gege, alias biasa. Hebatnya, sebagai aktor kawakan, Gege bisa dengan mudah berimprovisasi, dan tidak merusak keseluruhan repertoar. “Itulah hebatnya anak-anak Teater Alam. Semua jago improvisasi,” kata Gege.

Gege Hang Andhika, sebagai Oidipus dalam Oidipus Rex karya Sophocles. Foto: Ist/Ronny AN

Jam menunjuk pukul 12.00 ketika acara kangen-kangenan baru setengah jalan. Anas dan Naning yang melihat wajah-wajah lapar, mencoba nge-break dan menawarkan makan siang, sebelum dilanjutkan. Seperti belum puas tergelak-gelak mendengar teman menceritakan pengalaman masa lalu yang kocak di Teater Alam, maka semua sepakat, acara dilanjut saja.

“Kangen-kangenan Karo Bang Azwar AN” pun berlanjut. Mereka yang datang dari luar Yogya, seperti dari Jakarta, Solo, dan lain-lain, juga berkesempatan menyampaikan rasa senangnya bisa bertemu kembali setelah lebih dari 30 tahun tidak bersua. Seperti dulu, setiap ada yang berbicara kurang jelas, atau kurang terdengar, spontan keluar teriakan, “Vokaaaal… vokaaaaalllll….” Menirukan teriakan Bang Azwar dulu kalau melihat pemainnya bicara kurang keras.

Ikut larut dalam keharuan membahagiakan yang disampaikan Azwar AN dan Tertib Soeratmo. Foto: Ronny AN

Makan siang tak tertolak, ketika perut makin lapar, dan sepertinya semua sudah bicara. Meski kebanyakan yang hadir awalnya bertekad, “Pokoknya gak mau ngomong program atau gagasan… maunya ger-geran saja….”, tak urung ngomong ide dan rencana juga. Meritz Hindra, Daru Maheldaswara dan yang aktif di Yogyakarta, seperti Puntung CM Pudjadi (yang kebetulan tidak hadir) diminta menyiapkan naskah dan memproduksi pentas reuni Teater Alam.

Sampai bubar acara ketika matahari sudah tergelincir ke barat, sekelompok kecil hadirin yang tersisa masih asyik membicarakan rencana itu. Meritz Hindra memandu jalannya diskusi ringan, membahas rencana produksi secara umum. “Segera setelah dapat naskah dari Daras, kita ketemuan untuk bedah naskah, adaptasi naskah dan rencana produksi lebih lanjut,” ujar Meritz menunjuk Roso Daras yang tinggal di Jakarta untuk men-copy dan mengirim naskah drama “Ketika Bumi tak Beredar” karya Frans Rahardjo ke markas Teater Alam. ***

Setelah Bang Azwar tanda tangan di banner acara, disusul Tertib Soeratmo, Metiz Hindra, Gege Hang Andhika, dan lain-lain. Foto: Ronny AN

Bang Azwar, Bambang Nursinggih, Udik Supriyanta, Anas, Gege di Kangen-Kangenan Karo Bang Azwar. Foto: Ronny AN