Tiga Fragmen Drama di Satu Panggung Teater Alam

 Tiga Fragmen Drama di Satu Panggung Teater Alam

Lakon “Bondol” karya peserta workshop teater. (foto: rakhmat s)

JAYAKARTA NEWS – Tiga fragmen drama menutup rangkaian ulang tahun ke-50 Teater Alam, Yogyakarta. Panggung Taman Budaya Yogyakarta, Kamis (17/11) malam menampilkan fragmen “Pusaran” (Streetcar Named Desire) karya Tennessee Williams, Oedipus (Sophocles), dan Montserrat (Emmanuel Robles).

Di luar tiga fragmen tersebut, panggung TBY juga menjadi ajang praktik pentas peserta Workshop Teater. Mereka menampilkan karya “Bondol”.

Disaksikan Yani Saptohudoyo, pematung Yusman, seniman, budayawan Yogyakarta dan masyarakat umum lainnya, sajian tiga fragmen tadi mendapat applaus meriah hadirin.

Fragmen Pusaran menampilkan permainan apik dari Ninit, Alexa, dan Vikii dengan penata busana Erlina Panca. Sutradara Prof Dr Yudiaryani, MA menggarapnya dengan segar. Drama semi-musikal ini pernah dimainkan Teater Alam berkolaborasi dengagn ISI Yogyakarta di Concert Hall Gedung Taman Budaya, Senin – Selasa, 22 – 23 Juli 2019.

Lalu Oedipus. Malam itu, tokoh Oedipus diperankan Eko Pamulihono. Nomor ini terbilang “lekat” dengan Teater Alam. Lakon ini sudah beberapa kali dimainkan.

Di tahun 1981, dipentaskan di Gedung Grha Dirgantara Yogyakarta dalam acara Syawalan PWI-SPS Yogyakarta, 24 Agustus. Tahun yang sama diusung ke Pasar Seni Jaya Ancol, pada 27-28 Agustus, dan pada 15 September dimainkan di Gedung Purnabudaya. Sutradara dari pertunjukan tersebut adalah Tertib Suratmo.

Lantas pada tahun 1986, lakon ini dipentaskan di beberapa kota dalam muhibah ke Malaysia, dengan sutradara Azwar AN. Tahun 1991, Oedipus juga dimainkan di Lampung.

Pada tahun 1999, Teater Alam secara mengejutkan mementaskan trilogi Oedipus dalam satu malam, yang berdurasi 10,5 jam di Purnabudaya, dengan sutradara Azwar AN. Pementasan terakhir Sabtu, 18 Januari 2020 di Concert Hall, Taman Budaya Yogyakarta.

Ronny AN dan Meritz Hindra dalam fragmen “Montserrat”. (foto: rakhmat s)

Meritz Jadi Azwar

Fragmen ketiga, Montserrat, digarap apik oleh sutradara Meritz Hindra. Dibuka dengan penampilan Meritz yang uring-uringan karena para cantrik Teater Alam belum juga datang latihan. Datang Azis yang langsung disuruh menyapu tempat latihan. Muncul Dinar Saka, Jamilan, Ronny AN.

Menirukan gaya mendiang Azwar AN, aktor kawakan Meritz menyuruh para cantriknya untuk latihan Montserrat. Saat Ronny sudah duduk di kursi sebagai Montserrat, Dinar menyerukan “camera on” sambil berlari meninggalkan stage. Panggung black-out, lalu lighting menyala.

Meritz sebagai Kolonel Isquierdo. Berdialog dengan Kapten Zuazola (Jamilan) dan Kapten Antonanzas (Azis). Saat Isquerdo (Meritz) membujuk Montserrat (Ronny) untuk membuka rahasia persembunyian  Simon Bolivar, tiba-tiba saja Ronny lupa dialog dan minta bantuan Dinar Saka (astrada) untuk melihat contekan dialog dalam naskah. Fragmen Montserrat menjadi “gerr” dengan garapan ala latihan.

Fragmen “Pusaran”. (foto: rakhmat s)

Pak Bondol

Sajian terakhir adalah pentas teater hasil wokrshop tanggal 9 Oktober 2022. Tiga senior Teater Alam menjadi mentor pada workshop tersebut. Meritz Hindra memberi materi keaktoran, Puntung CM Pudjadi memberi materi penyutradaraan, dan Wahyana Giri MC memberi materi penulisan naskah teater.

Para peserta terdiri atas siswa-siswa dari sekolah-sekolah yang ada di kota Yogyakarta. Malam itu, mereka menampilkan drama pendek berjudul “Bondol”.

Dikisahkan, Pak Bondol, adalah seorang tukang tambal ban yang sedang bersantai di teras rumah. Mendadak ia disuruh istrinya ke pasar untuk membeli beras. Pak Bondol pun pergi ke pasar naik sepeda. Ia bersepeda dengan ugal-ugalan, sehingga mengganggu emak-emak di pinggir jalan, dan puncaknya menabrak seorang pedagang sayur dan membuat sayur sayur itu jatuh berceceran. Konflik pun terbangun antara penjual sayur dan Pak Bondol. Sebuah kisah komik yang menarik.

Sajian menarik ketiga fragmen dan satu lakon drama pendek tadi, menjadi lebih apik dengan penataan musik oleh Dr Memet Chairul Slamet. Pentolan kelompok musik etnik-kontemporer Gangsadewa ini pula yang selama ini menata musik pada tiga pementasan Teater Alam terakhir: Montserrat, Pusaran, dan Oedipus.

Selain itu, Bambang Nursinggih senior Teater Alam yang lain, setia menggawangi urusan kostum dan make up pemain. Pesannya selalu kepada para aktor-aktris adalah, “Setelah make up, dilarang merokok!”

Azwar AN Award

Pada malam puncak peringatan HUT ke-50 Teater Alam, juga dilangsungkan penganugerahan “Azwar AN Award” kepada empat tokoh Teater Alam yang memiliki loyalitas serta dedikasi dan jasa besar bagi kelangsungan hidup Teater Alam.

Award pertama, diberikan kepada Bambang Darto. Ia adalah Anggota teater Alam yang telah menunjukkan loyalitas dedikasi dan kerja keras mengembangkan Teater Alam hinggga akhir hayatnya.

Award kedua diberikan kepada Yono Gandem. Dia adalah anggota Teater Alam yang menunjukkan loyalitas tanpa batas. Di samping jasanya menjadi Ketua Teater Alam selama 25 tahun tanpa cela. Jejaknya bahkan diikuti oleh beberapa putranya yang menjadi anggota Teater Alam, mengikuti jejak sang ayah.

Award ketiga diberikan kepada Tertib Suratmo. Ia adalah salah satu pelatih, sutradara, sekaligus artistic Teater Alam yang memiliki loyalitas sangat besar. Bukan saya loyalitas persahabatan dengan Azwar AN, tetapi juga Teater Alam sebagai sebuah lembaga.

Dan award keempat, diberikan kepada Prof. Drs .H. Amri Yahya. Tokoh Lukis batik yang merupakan sahahabat Azwar AN sekaligus sahahabat Teater Alam. Amri Yahya merupakan salah satu Pembina dan Pengarah Teater Alam semasa hidupnya. Penghargaan diterimakan oleh Adwi Prasetyo putra Amri Yahya.

Azwar Tersenyum

Ketua Panitia Pelaksana HUT Teater Alam ke-50, Prof Dr Yudiaryani, MA dalam pidato di awal menyampaikan terima kasihnya kepada Dinas Kebudayaan Provinsi DIY, Paniradya Kaistimewan Yogyakarta, Museum Sonobudoyo, Taman Budaya Yogyakarta, dan para pihak yang telah memungkinkan acara berlangsung dengan baik.

“Arwah bang Azwar AN di atas sana, tersenyum melihat kiprah dan tekad kita melanjutkan semangatnya dalam melestarikan teater,” ujar Guru Besar Teater ISI Yogyakarta, itu.

Sementara itu, Ketua Komunitas Teater Alam, Erna Azmita, AN juga menyampaikan terima kasih yang sama. Sebelum menutup secara resmi rangkaian acara Ulang Tahun Emas Teater Alam, Nana –panggilan akrabnya—mengajak semua anggota Teater Alam tetap menunjung tinggi pesan mendiang papah Azwar, “Hidup-hidupilah teater, jangan mencari hidup dari teater.” (rr)

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.