Meritz Hindra Pentas Monolog “Mulih”

 Meritz Hindra Pentas Monolog “Mulih”

Meritz Hindra. (foto: dok. Teater Alam)

JAYAKARTA NEWS – Aktor teater kawakan Yogyakarta, Meritz Hindra termasuk satu di antara sedikit aktor teater yang menolak diam. Sabtu (6/3/2021) besok, pukul 19.00 WIB, Meritz akan mementaskan monolog berjudul “Mulih”. Mulih, adalah kata Jawa yang artinya “Pulang”.

Pentas monolog “Mulih” digelar di Taman Sowan Desa, Kretek, Karangrejo, Borobudur, Magelang. Mendukung pementasannya, Meritz dibantu Emha Irawan sebagai penata artistic dan dua penata music: Ki Mujar Sangkerta dan Jojo Sumardjo.

Kepada Jayakarta News, Meritz menjelaskan, “Mulih” adalah karya monolog yang ia lahirkan secara spontan di atas pentas. “Jadi, tidak ada naskah. Idenya datang dari Jokosaw Koentono, tuan rumah acara ini, Taman Sowan Desa,” ujar aktor jebolan Asdrafi Yogyakarta, itu.

Hakikat “Mulih”, tambah aktor pendiri sekaligus angkatan pertama Teater Alam Yogyakarta itu, adalah “pulang kampung”. Lebih jauh, pulang ke diri sendiri, ke sejatinya diri. “Kembali ke jati diri. Maknanya sangat universal, sebab di sana ada nilai tradisi dan nasionalisme. Inilah esensi karya monolog yang akan saya bawakan besok,” urai seniman berambut gondrong-putih ini.

Ya… inilah hidup di pinggiran kota. Tidak ada hiruk-pikuk kendaraan bermotor, mobil, bus kota…. Tidak ada polusi yang menyebar, polusi yang menyebar bagaikan jutaan virus menggerogoti nafas, mengotori rongga paru, menyerang jantung. Polusi yang membuat kita sesak dan terdiam bagaikan patung….,” Meritz melantunkan sepenggal monolog “Mulih”.

Disinggung tentang konsep pementasan, Meritz mengatakan, pertunjukan yang ia gelar esok malam lebih bicara pada “seni kejadian”. Apa yang terjadi di panggung bersifat spontan dan mengalir. Tidak ada pretensi menggurui. Moralnya, tetap saling menghormati, saling menghargai antara aktor dan audiens.

Usai pementasan, akan digelar sarasehan bertajuk “Merawat Jejak Keaktoran”. Pembicara yang tampil, Meritz Hindra (Royal House Cultural Activities), Jokosaw Koentono (Taman Sowan Desa), Nindito (MENDUT Institute), dan Mahmoed Elqadrie (GRK Asdrafi). Adapun Andreas Damtoz akan memandu jalannya sarasehan. (rr)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *