Marlon Brando dan Meritz Hindra dalam “Pusaran”

 Marlon Brando dan Meritz Hindra dalam “Pusaran”
Marlon Brando dan Meritz Hindra. (ist/bb wartoyo)

Jayakarta News – Aktor Marlon Brando adalah salah satu pesohor fenomenal Hollywood. Di antara puluhan film yang dibintanginya, dua di antaranya berbuah piala Oscar. Yang pertama diraih tahun 1954 untuk film On The Waterfront, dan Oscar kedua diraih tahun 1972 untuk film legendaris The Godfather.

Marlon Brando lahir 3 April 1924 di Nebraska, Amerika Serikat. Ia wafat 1 Juli 2004 dalam usia 80 tahun. Film box office terakhir yang ia bintangi adalah Superman Returns tahun 2006. Di akhir usia, ia tidak lagi membintangi film komersial. Karya terakhirnya tercatat Blood, Sweat & Brando tahun 2008, dengan kategori archive footage (rekaman arsip).

Marlon Brando di Amerika, Meritz Hindra di Yogyakarta. Meritz juga seorang aktor. Faktor apa gerangan yang membuat dua nama beda negara itu menjadi layak dipersandingkan? Sesungguhnya, ini bukan soal layak dan tidak layak. Ini murni tentang sosok dua aktor berkualitas yang pada banyak titik mengalami persinggungan, meski dalam ruang dan waktu yang berbeda.

Coba perhatikan tanggal lahirnya. Marlon Brando 3 April 1924, sedangkan Meritz Hindra 24 April 1949. Mereka lahir di bulang yang sama. Karier keaktoran mereka, sama-sama berangkat dari panggung teater. Marlon Brando adalah aktor Broadway. Sementara, Meritz Hindra adalah murid pertama Teater Alam, salah satu kelompok teater tertua di Yogyakarta, yang didirikan oleh Azwar AN (setelah keluar dari Bengkel Teater). Banyak lakon pernah ia mainkan. Banyak panggung tempat ia berakting.

Brando dua kali menyabet Oscar, Meritz juga sama. Ia adalah Aktor sekaligus Sutradara Terbaik pada Festival Teater Remaja se-DKI Jakarta (1979) pada lakon Belenggu Promotheus. Prestasi lain, pria bernama asli Hindrarto itu pernah menyabet juara melukis antar Gelanggang se-DKI Jakarta tahun 1978. Meritz juga gemar menulis.

Nah, jika Marlon Brando berangkat dari panggung teater merambah dunia film, Meritz tidak bisa dibilang sepenuhnya begitu. Meritz memang masuk dunia film, termasuk sinetron, tetapi tidak pernah setotal Brando. Dunia Meritz adalah dunia panggung teater. Ia merasa nyaman di sana. Sesekali, menjadi sutradara teater. Sinetron dan film baginya hanya persinggahan tempo-tempo.

Marlon Brando dan Meritz Hindra, sama-sama memerankan tokoh Stanley Kowalski dalam lakon A Streetcar Named Desire (Pusaran). (ist/bb wartoyo)

Hal lain yang menjadi alasan utama tulisan ini menyandingkan nama Marlon Brando dan Meritz Hindra adalah sebuah naskah drama berjudul A Streetcar Named Desire, yang oleh Totok Sudarto Bachtiar diterjemahkan dengan judul Pusaran. Tahukah Anda? Bahwa Marlon Brando adalah pemeran tokoh Stanley Kowalski dalam naskah karya Tennessee Williams (1947) itu. Peran sama juga akan dimainkan Meritz Hindra.

Benar. Sejak tiga bulan lalu, aktor-aktris Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) ISI Yogyakarta dan Teater Alam Yogyakarta tekun berlatih. Mereka tengah mempersiapkan pementasan A Streetcar Named Desire (Pusaran). Bertindak selaku sutradara, Prof. Dr. Yudiaryani, MA, satu-satunya profesor teater di Indonesia yang saat ini mengajar di ISI Yogyakarta.

Pementasan itu dijadwalkan berlangsung dua hari, Senin – Selasa, 22 – 23 Juli 2019 di Concert Hall, Taman Budaya Yogyakarta. “Dalam hal kualitas akting, saya tidak meragukan akting mas Meritz Hindra. Bahkan, saya bisa menduga, akting mas Meritz tidak kalah dengan akting Marlon Brando ketika memerankan tokoh yang sama,” ujar Prof Yudi sambil tersenyum.

Di Pusaran nanti, kita akan melihat adu akting antara Meritz Hindra pemeran tokoh Stanley Kowalsky dengan Fiola Alex yang memerankan tokoh sentral, Blanche DuBois. Juga akting para aktor Teater Alam lain seperti Gege Hang Andika (dokter dan pembaca puisi), Daning Hudoyo (Steve), Gola Bustaman (Mitch), dan Dinar Saka (Pablo).

Para mahasiswa FSP ISI Yogyakarta juga memegang peran penting. Dalam latihan terbukti mampu mengimbangi akting para aktor Teater Alam. Mereka antara lain Nur Alfiyah (Stella Kowalsky), Dama Wahyu (Eunice), Ilham (penjual kue tamal), Cyndika (perawat dan pembaca puisi), serta Merynda (penjual bunga).

Naskah ini menampilkan konflik antara nilai-nilai lama dan baru di Amerika bagian selatan. Dunia lama dengan keanggunan dan keindahan berhadapan dengan nilai-nilai agresivitas dan materialisme. Pertumbuhan industri menciptakan konflik sosial. Naskah “Pusaran” atau A Street Car Named Desire ini digolongkan dalam aliran realisme psikologis. Tokoh Blanche memiliki gangguan kepribadian yang berpengaruh buruk pada lingkungan sosial dan dirinya sendiri.

Pusaran menjadi representasi kehidupan masyarakat Indonesia masa kini. Ada relasi yang cukup kuat dari keduanya, baik dari perkembangan ekonomi maupun dari sudut perkembangan sosial yang terbukti melalui perkembangan dan perubahan cara pikir, sikap, serta nilai-nilai kehidupan.

Kita tunggu akting Meritz “Marlon Brando” Hindra di TBY Yogyakarta, 22 – 23 Juli 2019. (rr)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *