Ketika Merapi tak Berselimut Kabut

 Ketika Merapi tak Berselimut Kabut
Penulis (Diana R) berpose di altar Candi Prambanan yang megah, dengan panorama indah. (foto: dok pri)

JAYAKARTA NEWS – Entah penyesalan apa yang aku derita, kalau saja aku batal ikut “Jayakarta Tour de Jogja”  pada tanggal 1 – 4 Februari 2019. Untunglah, di luar banyak pertimbangan dan kegalauan hati karena berbagai urusan di Jakarta, aku memutuskan berangkat, disertai doa semoga kakak, adik ipar, dan keluarga di Jakarta baik-baik saja selama aku ke Yogya.

Serangkaian tour Jayakarta, mulai dari Kuningan (2017), Caringin (2017), hingga Carita (2018), selalu menyenangkan. Dan tour ke Yogyakarta (2019) dalam rangka Raker dan Ultah Jayakarta News ke-2, ini aku rasakan sebagai yang paling mengesankan. Berharap, kegiatan-kegiatan ke depan, akan jauh lebih mengesankan. Semoga!

Rombongan berjumlah sekitar 36 orang, menempati Wisma Ainard, Jl Miliran yang berkapasitas 50 tempat tidur. Alhasil, tersedia ruang istirahat yang “berlimpah”. Kamar tempat saya tidur, berkapasitas lima bed, dan hanya berisi dua orang, aku dan Iswati, ditambah Ernaningtyas (Nina) pada malam kedua. Menjadi sangat lega dan tidak panas, meski tidak ber-AC.

Mengingat padatnya kegiatan, Rapat Kerja dan Pertanggungjawaban Pengurus Perkumpulan Jayakarta 98, dilakukan Jumat malam (1/2/2019), setelah kami istirahat sejenak. Malam itu, panitia mengimbau peserta tidak keluyuran malam, karena esok hari, Sabtu (2/2/2019) one day tour dimulai pukul 06.00 WIB.

Hampir tengah malam, ketika seseorang mengetuk pintu kamar dan mengabarkan, “Pak Aqua sudah datang.” Ya, sebelum menutup acara, Roso Daras, Ketua Perkumpulan Jayakarta 98 memang sudah mengabarkan, motivator “The Power of Silaturahim” Aqua Dwipayana, sedianya hadir untuk sharing dengan teman-teman Jayakarta News, sekitar pukul 20.00, setibanya dari Jambi.

Dr Aqua Dwipayana, menebar semangat silatirahim, semangat berbagi, dan semangat berbuat kebaikan tanpa henti. (foto: diana r)

Apa boleh buat, pesawat delay, bahkan harus mengalami cancel dan pindah pesawat, akhirnya Aqua tiba di Wisma Ainard hampir tengah malam. Dengan menggenggam sebotor air minum merek aqua dan satu dus buku untuk dibagikan, Dr Aqua tetap antusias sharing dengan sebagian teman Jayakarta News. Sebagian? Ya, karena sebagian lain sudah berada di alam tidur yang pulas.

“Saya menjaga betul 3-K, Kredibilitas, Komitmen, dan Konsistensi. Saya sudah komit datang ke acara teman-teman Jayakarta News, maka jam berapa pun saya harus mampir. Mohon maaf, terlambat karena pesawat saya delay dan sempat harus pindah pesawat,” ujar Dr Aqua Dwipayana. Sungguh, sebuah kalimat yang sangat mengagumkan. Kurasa, sedikit sekali orang sukses, orang besar, yang memiliki prinsip dan menjalankan prinsip seperti beliau. Salut!

Hampir dua jam kami mendapat pencerahan dari Aqua Dwipayana, dengan gaya bertutur yang lugas, kalimat santun, dan sangat mudah dimengerti. Betapa orang sukses seperti beliau, begitu terbuka menceritakan Ara dan Ero, dua anaknya yang telah menampakkan jejak-jejak seperti bapaknya dalam mengarungi hidup anak-anak hingga remaja, dan jelang dewasa.

Ara kini di Seoul, Korea Selatan. Belajar di sana berkat beasiswa. Tidak begitu saja memanfaatkan fasilitas beasiswa, Ara juga melakoni pekerjaan menjadi tour guide profesional. Sementara Ero, yang tengah menempuh pendidikan tinggi di Bandung, tumbuh menjadi mahasiswa yang begitu besar empatinya terhadap sekeliling. Menampung teman-teman yang kurang mampu untuk tinggal bersamanya. Dan banyak lagi kisah human, humanity, yang sangat menyentuh dan menginspirasi.

Tak heran jika teman-teman Jayakarta News yang rata-rata seusia dengan Aqua Dwipayana, pun sontak tergerak untuk bertanya ihwal kiat-kiat membesarkan anak. Ada pula yang –kami sendiri baru tahu—menceritakan ihwal putra-putrinya yang tumbuh dan besar tidak seperti harapan orang tuanya. Aqua dengan tekun dan gamblang, memberikan tips sederhana. Sungguh, kurasa masih teramat banyak pertanyaan teman-teman malam itu. Sayang memang, waktu membatasi kami.

Esok pagi, pukul 06.00, molor menjadi pukul 07.00 rombongan baru berangkat memulai tour sehari, dengan mengunjungi Candi Prambanan yang megah. Langit cerah pagi itu, menyuguhkan panorama candi yang luar biasa indah. Kenangan foto-foto pun diposting di WA Group dengan ingar-bingar. Semua menampakkan pemandangan menakjubkan. Kukira, siapa pun iri melihat keindahan Prambanan pagi hari itu.

Destinasi kedua, sedianya mengunjungi Tebing Breksi. Apa boleh buat, terik matahari membuat agenda bergeser. Kami langsung meluncur ke kawasan sejuk Kaliurang. Tujuannya Museum Gunung Api Merapi (MGM). Dari sana, peserta dipersilakan memilih objek wisata: MGM, Kaliurang Park, atau Wisata Lava Tour menggunakan jip.

Dari sekitar 30 teman yang ikut rombongan, 12 di antaranya memilih wisata lava tour. Aku satu jip dengan Rina Ginting, Melva Tobing, dan Ernaningtyas (Nina). Jip membawa kami menyusuri jejak  dahsyatnya letusan Merapi pada 2010. Letusan yang menghancurkan Dusun Jambu, Cangkringan, dan Kali Kuning yang terkenal itu. Peristiwa itu pula yang merenggut nyawa Mbah Maridjan, juru kunci setia Gunung Merapi. Dalam paket perjalanan 45 menit, kami mengunjungi Museum Hartaku, Batu Alian, dan Kali Kuning.

Merapi Lava Tour. Duduk depan: Rina Ginting dan Melva Tobing. Berdiri di belakang: Nina dan Diana. (foto: dok pri)

Waktu kami tidak banyak, karena pukul 13.00 WIB, rombongan diundang makan siang oleh Aqua Dwipayana di Resto Jejamuran, kuliner serba jamur di Jalan Pendowoharjo Niron, Sleman. Kami pun tiba terlambat 30 menit. Di ruang Shitake Resto Jejamuran, Dr Aqua sudah menunggu kedatangan rombongan Jayakarta News. Di meja-meja, telah terhidang aneka makanan yang sudah dipesan Aqua untuk teman-teman Jayakarta News yang –kukira—sudah sangat lapar.

Menyambut ucapan terima kasih dari Melva Tobing mewakili teman-teman, Aqua membalasnya dengan ucapan terima kasih pula, telah diberi kesempatan menjamu teman-teman Jayakarta News. Aku pun bergumam, “Kok ada manusia sebaik ini…,” disertai doa semoga semua amal baiknya mendapat pahala setimpal dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

Kami mengakhiri sesi makan siang dengan foto bersama. Oh ya, sebelumnya, bahkan –sekali lagi—Aqua mengundang makan malam di Angkringan Gadjah, Jl Kaliurang KM 9. Betapa pun malam itu kami dipadati acara potong tumpeng tasyakuran Ultah Jayakarta News ke-2, serta bernyanyi-nyanyi diiringi organ tunggal, tepat pukul 22.00, kami menghentikan acara, dan bergegas memenuhi undangan Aqua makan angkringan.

Sekembali kami ke Jakarta dengan selamat, terngiang kembali kata-kata Nina, wartawan Jayakarta News di Yogyakarta, “Pandang Gunung Merapi mbak Diana…. Sungguh tidak biasanya, Merapi tampil tanpa selimut kabut. Ia menampakkan diri dengan begitu jelas dengan tekstur alur lava, sebagian tekstur yang gundul, dan sebagian lagi menghijau. Entah berkah, entah keberuntungan, tapi berpuluh tahun saya tinggal di Yogya, baru hari ini melihat Merapi dengan begitu telanjang!”

Dalam hati tak henti aku mengucap syukur. Berbagai kendala sejak perencanaan hingga keberangkatan, Puji Tuhan teratasi dengan baik. Serangkaian acara berlangsung dengan lancar. Langit Prambanan begitu biru. Merapi tak berkabut. Aqua Dwipayana mempercerah batin kami, memotivasi kami.

Tidak ada lagi nikmat Tuhan yang bisa kami dustakan. Ahasil, ketika seorang di antara kami menyambut kalimat Nina dengan, “Semoga ini pertanda berkah buat Jayakarta News ke depan”, sontak kami meng-amin-i. (diana r)

Merapi tak berselimut kabut. (foto: diana r)
Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *