Menjumput Puing-puing Perasaan di Kota Yogya

 Menjumput Puing-puing Perasaan di Kota Yogya
Penulis (Nanang S) di Pantai Drini, Gunung Kidul – Yogyakarta. (foto: dok pri)

JAYAKARTA NEWS – Kota Yogyakarta, adalah kota istimewa bagi banyak orang. Sekali saja menginjakkan kaki di Kota Gudeg, niscaya hati kita akan tertinggal di sana. Setidaknya itu yang saya rasakan. Tak heran, ketika saya pulang kampung di Sragen, Jawa Tengah, sambutan “sugeng rawuh” dan ajakan mampir, begitu besar menggoda.

Begitu banyak kisah perjalanan hidupku terjadi di sini, dan itu selalu terkenang. Goresan tinta putih hingga tinta merah berakhir di kota kesultanan ini. Janji suci pernah terucap di ujung Jalan Malioboro, namun semua terpatahkan karena nafsu angkara murka yang mencederai simpul kesetiaan yang berujung kandasnya bahtera cinta yang sekian tahun kami arungi bersama.

Syahdan, setelah Harian Umum Jayakarta tutup di tahun sembilan puluh delapan, aku jadi sering berkunjung ke Yogya untuk sekadar main dan bisnis. Hotel Trim 2 yang terletak di seberang stasiun Tugu selalu jadi tempat singgah setiap kali aku ke sana. Tempat itu sudah seperti rumah sendiri. Di sini, aku bisa masak dan menyeduh kopi sendiri, kapan saja aku mau. Mas Jendral, begitu tukang becak yang setia mangkal di depan Hotel Trim 2, selalu siap mengantarku ke mana pun aku ingin jalan-jalan mengelilingi kota Yogya.

Kesunyian dan keindahan malam Jalan Malioboro menjadi tempat favoritku untuk sekadar nongkrong berbagi cerita, lesehan sambil makan burung dara ala pak Sunardi yang terletak persis di seberang hotel Garuda menjadi langganan makan malam. Suasana hening Malioboro menjelang pagi ditemani lagu-lagu khas musisi jalanan Yogyakarta menambah suasana syahdu. Cukup uang tiga ribu waktu itu, kami bisa request beberapa lagu kesukaan.

Karena seringnya datang ke kota Yogya, muncul keputusan memasukkan putri kami sekolah di MTS Negeri Yogyakarta. Setelah itu kami jadi sering berkunjung ke sini untuk menengok putri kami yang tinggal di sebuah asrama milik kepala sekolah. Kami sempat mempunyai rencana untuk membuka usaha dan tinggal di Yogya hingga anak lulus sekolah.

Namun Tuhan berhekendak lain. Baru berjalan kurang dari satu tahun, di kota ini kami harus mengambil keputusan mengakhiri bahtera rumah tangga. Semua mimpi harus berakhir di kota ini. Kami harus memindahkan kembali sekolah putri kami ke Jakarta dan memupus mimpi untuk tinggal di kota istimewa. Semenjak itu aku tidak pernah lagi menyambangi kota wisata kebanggaanku.

Alkisah, ketika Jayakarta News berencana mengadakan “Tour de Jogja”, sontak memoriku jadi teringat kembali kisah perjalanan hidupku di kota ini, yang sekian tahun telah aku kubur dalam-dalam untuk tidak mau lagi mengingatnya.

Sempat timbul keraguan untuk mengikuti acara ini. Berbagai alasan aku cari hanya supaya aku tidak kembali datang ke Yogya. Saat pendaftaran namaku termasuk urutan paling akhir. Di hari-hari terakhir aku sempat menghubungi Agus Sundayana untuk pembatalan keikutsertaan saya dalam tour ke Yogya.

Akan tetapi, Elty sang sekretaris panitia terus menghubungiku dan meminta keikutsertaanku. Aku pun sempat minta waktu barang sehari untuk memutuskan. Apalagi, di kantor saya juga ada acara rapat kerja tahunan di Cisarua. Aku pun bercanda, “Mbak Elty sholat istikharoh aja mudah-mudahan doanya terkabul dan aku bisa ikut.”

Dengan berbagai pertimbangan, dengan menimbang rasa cinta saya kepada teman-teman Jayakarta dan menghargai kerja keras teman-teman panitia, di samping mendukung kemajuan Jayakarta News akhirnya saya memutuskan ikut “Jayakarta Tour de Jogja”, 1 – 4 Februari 2019.

Sungguh, bukan keputusan yang mudah. Rasa cinta Jayakarta di satu sisi, dan kenangan pahit akan kota itu, membuat keputusan tadi sangat dilematis. Keputusanku pun bersandar pada satu harapan suci, semoga ada hikmah yang bisa aku dapatkan di Yogyakarta. Semoga, aku mampu dan sanggup, menjumput serpihan-serpihan kenangan pahit di sana, dan menghimpunnya menjadi satu kekuatan untuk melangkah dengan hati yang lebih jernih, pikiran lebih tertata, dan tekad yang lebih bulat.

Di luar dugaan, sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan pun aku dapatkan di acara itu. Aku bisa bercanda lepas dengan teman-teman dalam perjalanan naik kereta Fajar Utama Yogyakarta. Delapan-setengah-jam perjalanan, kami lalui tanpa lelah.

Setelah melalui serangkaian acara raker yang disusun panitia, serta kegiatan one day tour, tibalah hari bebas, Minggu (3/2/2019). Aku dan sejumlah teman pun berkesempatan mengunjungi objek wisata eksotik yang belum pernah aku singgahi sebelumnya: Pantai Drini, Gunung Kidul, dan juga Pantai Teras.

Dr Aqua Dwipayana (tengah) dan Roso Daras (paling kanan) bersama teman-teman Jayakarta News di Resto Jejamuran. (foto: dok pri)

Dan yang lebih memperkaya khasanah batinku, dan menjadi penguat tegaknya langkah kaki di kota Yogya, adalah perjumpaan dengan orang-orang yang sangat luar biasa seperti Aqua Dwipayana dan Roso Daras. Mereka adalah orang-orang yang memiliki keikhlasan hati untuk selalu berbagi dengan orang lain dengan caranya masing-masing.

Atas undangan Roso Daras, hadir motivator Aqua Dwipayana yang terkenal dengan “The Power of Silaturahim”. Kami mendapatkan banyak sekali lecutan kebaikan. Kata-kata kunci seperti Kredibilitas, Konsistensi, dan Komitmen tiba-tiba saja memenuhi rongga hati dan pikiran. Bagaimana caranya, aku harus mampu melesakkan konsep hidup 3-K itu. Hadiah tiga buku: The Power of Silaturahim, Produktif Sampai Mati, dan Dahsyatnya Silaturahim, Bersih Hati Bersih Pikiran dari Aqua Dwipayana, sungguh menjadi buah tangan yang lebih berarti dari sekadar batik dan bakpia Yogya.

Ajakan berbagi, berbuat baik tanpa menunda-nunda, disampaikan Dr Aqua dengan bahasa lugas disertai contoh-contoh kehidupan beliau sehari-hari. Sungguh, perjalanan ke Yogya menjadi satu perjalanan yang tidak saja memanjakan mata, tetapi juga sarat dengan siraman rohani dan pola pikir yang sangat berguna.

Terima kasih Bapak Aqua Dwipayana… terima kasih mas Roso Daras…. terima kasih Jayakarta News…. Kalian telah membawaku kembali ke Kota Impian, kota yang telah menggoreskan banyak kisah dalam kehidupanku.

Di kota yang begitu istimewa, kota yang telah melahirkan nama-nama besar, semoga bisa menularkan spirit istimewa kepada Jayakarta agar bisa terbang tinggi, memancarkan sinar kebaikan dan kemanfaatan bagi anggota dan masyarakat luas. (nanang s)

Nanang S di Jalan Malioboro. Merajut kelamnya masa lalu, menuju cerahnya masa depan. (foto: dok pri)
Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *