Film ‘Ambu’: Tentang Cinta Kasih dan Kegetiran

 Film ‘Ambu’: Tentang Cinta Kasih dan Kegetiran

JAYAKARTA NEWS – Ibu adalah semesta pertama manusia. Ibu adalah sosok yang pertama kali bersentuhan dengan kita, bahkan sejak kita masih dikandungnya.

Ketika sahabat-sahabat Nabi Muhammad SAW bertanya kepada Sang Nabi, siapa orang pertama yang harus dihormati, maka Nabi menjawab : Ibumu. Yang kedua, wahai sang Nabi. “Ibumu’, jawab Nabi. Dan yang ketiga ? “Ibumu,” jawab Nabi sekali lagi.

Nyata sudah, ibu adalah segalanya. Ibu adalah inti dari kelahiran umat manusia. Ada pepatah mengatakan, bahwa Surga terletak di telapak kaki Ibu.

Lalu, bagi orang Baduy, Ibu – atau dipanggil dalam bahasa Sunda : Ambu – adalah dunia kecil sekaligus dunia besar di bawah naungan semesta.

Film perdana produksi SkyTree Pictures yang disutradarai Farid Dermawan (pertama kali juga jadi sutradara film bioskop) ini mengisahkan tentang Ambu Misnah (Widyawati) yang ditinggalkan anak perempuan satu-satunya, Fatma (Laudya Cynthia Bella), pergi dari rumah mereka di Baduy, demi cintanya kepada pemuda Jakarta, Nico (Baim Wong).

Fatma kemudian memiliki anak bernama Nona (Lutesha). Hingga di suatu hari yang biasa, Fatma membawa Nona pulang kembali ke Baduy ke haribaan Ambu Misnah.

Ini dilakukan setelah usaha kateringnya bangkrut dan rumahnya dijual.Selain itu, pernikahannya dengan Nico juga di ujung tanduk, Nico marah-marah dan memukul Fatma jika Fatma kehabisan uang. Upaya kembali ke Ambu adalah semesta pertamanya.

Apakah Fatma diterima kembali di masyarakat Baduy yang kukuh memegang adat dan tradisi budayanya ?

Ada penolakan. Ada amarah. Ada luka.

Namun, di sisi lain, ada juga harapan. Ada juga kebahagiaan yang berusaha keras untuk jadi pemenang.

Cerita yang skenarionya ditulis oleh Titien Wattimena ini tak sekedar menawarkan cerita yang penuh dengan kedalaman rasa. Gambaran ketegaran seorang ibu terhadap anaknya dan konflik batin dalam menghadapi yang terjadi antargenerasi diangkat dalam cerita berlatar belakang kebudayaan Baduy.

Ambu adalah keindahan cinta kasih yang sekaligus sebuah kegetiran cinta platonis. Kita bisa ‘membaca’ falsafah di film ini bahwa ibu tak hanya berhenti jadi semesta pertama. Ia terus ada dan siap menjadi semesta terakhir kita.

Di film drama yang penuh kepahitan dan kebahagiaan di ending ini hampir seluruhnya mengambil lokasi di kegelapan. Tak ada listrik. Tak ada telepon genggam. Dan tak ada kompor atau gas. Semua serba alam dan semua dikembalikan ke alam.

Memasak air dan menggoreng ikan di dapur yang sangat tradisional alami yaitu dengann kayu bakar. Mandi di sungai atau airnya ditampung di bak mandi yang masih sederhana.

Mengapa memilih Baduy ?

“Kami sengaja memilih Baduy sebagai lokasi syuting selama 32 hari karena kecantikan dan kesederhanaan alamnya. Keelokan dan kelapangan hati perempuan Baduy tercitrakan lewat tiga karakter di film ini, yaitu Misnah, Fatma dan Nona,” jawab Titien Wattimena.

Dari awal hingga akhir, penuh tangis penyesalan, pemaafan dan sekaligus kebahagiaan yang divisualisasikan lewat persatuan tiga perempuan dalam satu keluarga Baduy. Widayawati sebagai Misnah bermain sangat natural, wajar dan tak ada tandingnya.

Mimik dan gesture ketika melihat kembali putrinya yang telah kabur dari adat Baduy, pertama dia marah dan galak. Untuk kemudian, setelah berminggu-minggu Fatma dan Nona tinggal di rumah Misnah, hati Misnah semakin cair dan lumer.

Diam-diam ia menangis dalam gelap ketika melihat Fatma terkena kanker payudara stadium terakhir. Melihat cucu pertamanya, Nona, Misnah pun semakin menyayanginya.

Titien Wattimena yang juga bertindak selaku produser mengaku Ambu adalah film Indonesia pertama yang mengambil latar belakang budaya Baduy, bahkan syutingnya pun dilakukan di Baduy.

Di sisi lain, Yudhi Datau sebagai penata kamera boleh dipujikan, Keelokan alam Baduy yang masih murni berhasil diangkat ke layar lebar. Yudhi Datau boleh dikata lihai mengambil gambar dengan ciamik dan menawarkan sudut pengambil gambar yang istimewa serta memanjakan mata. Sebuah wilayah yang jarang terjamah, penuh kesederhanaan dan kepolosan dalam kehidupan sehari-harinya serta ditambah lagi dengan kemegahan alam Baduy yang memukau.

Penata musik Andi Rianto juga tepat mengisi setiap adegan gambar yang berkejaran santun di depan mata kita. Ia pandai memasukkan unsur musik Baduy dengan instrumen musiknya yang khas yang jarang kita temui di pergelaran musik panggung.

Yang mengejutkan adalah penampilan Widyawati yang menyanyikan lagu tema di film ini. Hampir puluhan tahun Widyawati tidak tampil di dunia musik – terakhir bersama saudara-saudaranya di Trio Visca – mendadak sontak unjuk diri di film ini. Sebuah gimmick atau promosi ?

Penata artistik oleh Alan Sebastian patut juga diketengahkan. Dia berhasil membuat hampir semua pemain yang non-Baduy yang notabene dari Jakarta bermain cemerlang dan bernas. Pakaian adat yang dikenakan enak dilihat.

Bahkan, Widyawati dan Fatma terlihat berjalan kaki tanpa sepatu atau sendal di bebatuan jalan Baduy. Beberapa masyarakat Baduy yang masih polos dan innocent juga disyut kesehariannya, dari menenun, beternak ayam dan sapi atau berjualan ikan dan sayuran di pasar.

Ambu adalah film yang ceritanya bisa mengaduk emosi dan perasaan. Plot lurus dan mudah diikuti. Namun, di saat kemarahan meluap, diselipkan bumbu humor. Enditha Wibisono sebagai perempuan Baduy asli bernama Hapsa dengan vokal nan melengking dan rias wajah yang lucu sangat mewarnai fi;lm ini.

Happy ending. Tiga perempuan Baduy tidur bersama di atas kasur yang sederhana : Misnah, Fatma dan Nona. Misnah ikhlas melepas kepergian puterinya yang telah kembali keharibaannya akibat penyakit kanker payudara ganas (juga, Fatma setelah 40 hari di Baduy, diupacarai kembali secara adat Baduy dan diterima kembali sebagai warga Baduy) yang menyerang tubuhnya yang ringkih dan kurus.

Namun, takdir Sang Penguasa tak bisa ditolak. Fatma tutup usia dipeluk Misnah dan anak tunggalnya, Nona yang menangisi kepergian ibu kandungnya. Wasiat Fatma agar Ambu Misnah menerima kembali kehadiran cucunya, Nona yang telah berusia 16 tahun telah digenapi.

Sebuah penyelesaian yang memikat. Namun, mencuat pertanyaan, jadikah Nona menikah dengan pria Baduy bernama Jaya (Andri Mashadi) dan meneruskan sebagai Ambu berikutnya ?

Film yang penuh kearifan lokal ini sekali lagi menyuguhkan cerita yang jujur dan sinergi akting para pemainnya terjalin natural. Dan khusus untuk sutradara Farid Dermawan. (Ipik Tanoyo)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *