Kucumbu Tubuh Indahku: Perjalanan Tubuh Juno

 Kucumbu Tubuh Indahku: Perjalanan Tubuh Juno

JAYAKARTA NEWS – Film garapan sutradara Garin Nugroho ini, bercerita tentang perjalanan tubuh Wahyu Juno yang dalam kehidupannya penuh trauma dan drama.

Di balik itu, tubuh juga menyimpan banyak memori (ingatan). Rangkaian ingatan tersebut menjadi sebuah sejarah manusia, sejarah tubuh dan trauma. Bukan hanya personal, juga merupakan representasi sosial dan politik yang dialami seorang individu, dalam hal ini seorang penari lengger.

Seorang penari lengger yang yang harus menamplkan sisi maskulin dan feminin dalam satu tubuh adalah sebuah pergolakan ingatan tubuh yang sangat menantang.

Cerita hidup Rianto (penari lengger, sebagai narator) adalah cerita tentang perjalanan tubuh Juno yang menjadi magnet sekaligus bencana bagi dirinya.

“Kie omahe inyong..ya awake inyong..bisa ndeleng urip sekang bolongan..” (Ini rumahnya saya..ya tubuh saya..dapat melihat kehidupan dari lubang…). Demikian ujar Rianto dalam bahasa Jawa dialek Banyumas yang membuka film bertajuk ‘Kucumbu Tubuh Indahku’ (Memories of My Body) yang tayang di bioskop di seluruh Indonesia paska Pemilu 2019.

Film produksi Fourcolours Films berdurasi 105 menit ini kemudian menyuguhkan kehidupan seorang anak kecil bernama Wahyu Juno (yang berarti ‘wahyunya Arjuna’), penari lengger di sebuah desa kecil di Jawa. Kisah Juno diceritakan dalam 3 masa yaitu Juno kecil (diperankan oleh Raditya Evandra), Juno remaja (Muhammad Khan) dan Juno dewasa (Rianto).

Juno kecil terpaksa harus hidup sendiri sejak ditinggal pergi ayahnya. Selain menjual sate jangkrik (didapatkannya lewat lubang di tanah yang dikencingi Juno), Juno kecil juga kemudian bergabung dengan tari Lengger. Di tengah kesendiriannya berlatih menari Lengger, Juno kecil acap mengintip pasangan cowok dan cewek yang tengah bercinta lewat lubang kecil di rumah tersebut.

Ihwal lubang (bolongan), lagi-lagi ditemui dalam hidup Juno kecil. Ketika mengintip, ia ketahuan guru tari Lengger (Sujiwo Tejo) dan dipukul pantatnya. Namun, guru tari ini berbaik hati dengan menceritakan falsafah tari Langger yang terdiri atas dua kata yaitu ‘leng’ yang berarti lubang (bolongan)yang bisa diterjemahkan sebagai lubang urip (lubang kehidupan) dan ‘ger; dari jengger ayam, yang bisa diterjemahkan sebagai simbol kejantanan, simbol lelaki-lakian.

Sejak itu, Juno kecil yang kini sudah menjadi Juno remaja harus hidup berpindah-pindah tempat. Karena tampan dan gemulai, Juno mendapat perhatian dari kasih sayang dari beberapa orang terdekat disekelilingnya, baik perempuan maupun laki-laki. Ada guru tari, bibi Juno yang menjual ayam (lagi-lagi, Juno acap disuruh orang-orang untuk menyelidiki lubang ayam apakah bertelur atau tidak, paman penjahit, petinju tampan, warok dan Bupati berpengaruh.

Semua pengalaman Juno yang dilaluinya membuat dia memiliki sebuah perjalanan hidup yang membawanya kepada pemahaman akan keindahan hidup.
Ada empat babak dalam kehidupan Juno yang diseling narasi oleh Juno dewasa, kita digiring Garin Nugroho bahwa tubuh yang indah dari Juno itu adalah ‘kutukan’ bagi siapa saja yang melihat dan menidurinya di ranjang. Ini adalah perjalanan Juno di atas panggung sekaligus di atas ranjang.

Garin secara detil menampilkan darah dan darah. Penghukuman guru sekolah dan bibinya yang menusukkan jarum ke jari tangan Juno, hingga beberapa kali Juno juga menghukum diri sendiri dengan menusukkan peniti ke jarinya, adalah sebuah ‘keindahan tubuh’ Juno bahwa didalam tubuh yang indah ada pertumpahan darah. Sebuah cerita yang cukup unik dan kontroversial dari seorang Garin yang kali ini lebih banyak bertutur daripada film-film Garin sebelumnya yang banyak bicara ‘bahasa gambar’ dan minim dialog.

Secara simbolis dengan tembakan foto-foto nan indah dan artistik dari Teoh Gay Hian (Director of Photography dari Singapura), menonton ‘Kucumbu Tubuh Indahku’ ibarat menonton kehidupan kita sendiri. Kalau di film tokoh utamanya adalah penari lengger, kita adalah insan kamil yang setiap hari ‘berperang’ dengan ‘darah’ dan ‘air mata’ memperjuangkan hakekat kita sebagai wartawan, budayawan, guru, pejabat, petinggi partai, pengusaha, bupati, Gubernur, menteri, bahkan calon Presiden dan calon Wakil Presiden.

Kerja keras dari Ong Hari Wahyu (production designer yang sering membantu Teater Gandrik di Jogjakarta) dan Edy Wibowo (art director) boleh diberi punten tinggi. Suasana pedesaan yang tampak damai – namun, ternyata didalamnya penuh pertikaian saat Pilkada tiba – ditambah perilaku tokoh-tokoh di film ini yang hipokrit dan munafik adalah persingguhan antara yang tabu dan yang terlarang. Tengok, sang Bupati (Teuku Rifnu Wikana) yang ambisius ternyata melakukan seks menyimpang dengan meniduri Juno, sedangkan isterinya adalah seorang lesbian.

Tidak adakah tokoh baik di film ini ? Ada dan banyak. Si petinju tampan (Randy Pangalila) yang dibuatkan baju pengantin oleh Juno memiliki sisi yang lembut, meski harus bertinju hingga mengeluarkan darah demi mencari uang buat kehidupan adik-adiknya. Sebuah adegan artistik ditampilkan Garin Nugroho, tatkala si petinju tampan berciuman dengan Juno didalam becak ditengah hujan deras.Atau mengelap badan atletisnya dengan kaos yang dikenakannya dan memijat organ-organ tubuhnya usai berlatih tinju.

Bagaimana kehidupan si Warok yang dimainkan secara cemerlang oleh dramawan Whanny Dharmawan yang berkarakter baik dengan memelihara dan menghidupi Juno sebagai Gemblak.

Semua pemain bermain selaras dan pas porsinya. Seni peran Muhammad Khan sebagai Juno remaja, mahasiswa jurusan Drama ISI Jogjakarta boleh dipuji. Juga, Whanny Dharmawan sebagai Warok dan Randy Pangalila sebagai petinju tampan. Randy Pangalila kali ini berhasil mengubah karakter stereotipenya sebagai bintang ftv menjadi seorang pemain yang andal. Kali ini, dia lihai meninggalkan di zona nyaman ke zona yang tidak biasa.

Penata musik dan komposer Mondo Gascaro juga boleh diketengahkan. Lagu-lagu Indonesia lama yang diremake – seperti ‘Rindu’ dan ‘Apatis’ – menjadi semacam penanda zaman yang berhasil memantik ingatan kita akan masa kecil dan masa lalu bangsa ini yang penuh trauma dan keindahan tersendiri.

Karena mencuatkan kesan dan trauma darah dan darah, Juno di ending diperlihatkan meninggalkan desa yang terakhir menuju desa yang baru kelak. Sebuah kehidupan baru telah menanti. ‘Ingatlah Juno, Pisah, Pindah dan Mati itu Biasa…,” pesan bibinya.

‘Kucumbu Tubuh Indahku’ adalah jawaban yang indah dari masalah tubuh kita. (Ipik Tanoyo).

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *