Herman Galut, Sebelum dan Setelah VOA

 Herman Galut, Sebelum dan Setelah VOA
Herman Hakim Galut (alm) bermain gitar bersama teman-temannya di Harian Merdeka. Tampak Wina Armada. (Foto: Ist)
Oleh Eddy Koko

Lama tidak ketemu. Tiba-tiba 2003 (kalau tidak salah) Herman Hakim Galut datang ke Radio Trijaya. Itu waktu masih di Kompleks RCTI Kebun Jeruk, Jakarta Barat. Dengan gayanya yang bludas-bludus dia masuk. Saya cari Eddy Koko, cerita resepsionis.

Kaget saya Herman datang. Tanpa prolog dia langsung bicara, tolong ajari saya soal radio. Lah, saya sendiri baru. Walau sudah dua tahun itu waktu. Nggak tau dari mana dia tau saya di Radio Trijaya.

Saya balik tanya. Ente minta ajari soal radio. Lha kan ente wartawan radio di Philipina sebelum ke Jayakarta. Dia jawab, saya cuma reporter jadi cuma pegang mic sama tape recorder. Urusan teknik studio dan peralatan saya nggak paham. Saya harus belajar dalam dua hari ini. Minggu depan saya berangkat ke Amerika bekerja di VOA.

Oh itu pasalnya.

Dia. Pun berkisah kerja di Harian Merdeka yang milik Laksamana Sukardi tidak jelas. Maka dia melamar ke VOA dan diterima. Kata dia, ngakunya dia paham radio karena pernah bekerja di Radio Philipina. Sambil terkekeh dia bilang VOA gue bohongi. Eh gue keterima. Gawat. Kudu belajar cepat nih.

Maka, saya bawa Herman Hakim Galut ke dalam ruang siaran. Ruang produksi dan peralatan liputan, mobil siaran luar (OB Van) sampai sedikit soal pemancar. Dia banyak tanya dan paham, katanya. Tapi saya tidak yakin ?.

Lama tidak ketemu. Tidak ada kabar. Saya juga sudah lupa sama Herman. Saya yakin dia sudah senang di AS sana.

Tahun 2009 (kalau tidak salah) VOA bidang radio menawarkan program kerjasama dengan Radio Trijaya. Saya menolak, sebab setahu saya ini bagian dari propaganda AS. VOA yang didanai pemerintah itu tidak bersiaran di AS tapi membuat program-program yang bekerja sama dengan media (radio & tv) di luar negerinya. Tentu untuk mengangkat citra AS. VOA merupakan lembaga penyiaran publik mirip RRI juga tapi RRI ada siaran di dalam negeri.

Kepala biro Jakarta, Frans Padakdemon, terus melobi Trijaya yang pada akhirnya kami menyetujui dengan permintaan acara sesuai dengan Trijaya. Maka setiap pagi jam enam VOA mengudara di Radio Trijaya dengan jaringan seluruh Indonesia.

Email Herman Hakim Galut ke Eddy Koko.

Herman terus juga memantau kerjasama VOA dengan Trijaya. Lihat copy email tertanggal tahun 2011.

Tiba-tiba kembali Herman nongol di Jakarta. Dia bilang sudah tidak di VOA lagi. Apa pasal? Hanya dia yang tau. Dia tanya saya, gimana kalau dia melamar jadi Pemred di Radio Trijaya? Saya, jawab, lha saya jadi apa?
Dia pun terkekeh.

Kemudian dia pamit lagi ke AS, katanya jadi koresponden harian Kompas disana. Menurutnya, dia harus kembali ke sana karena anaknya yg kuliah dokter belum selesai.

Selamat jalan sahabat Herman Hakim Galut. Damai di sisi Tuhan. ***

Digiqole ad

Related post

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *