Film ‘The Lawyers – Pokrol Bambu’, Komedi Getir Dunia Pengacara

 Film ‘The Lawyers – Pokrol Bambu’, Komedi Getir Dunia Pengacara

JAYAKARTA NEWS – Makhluk apa the lawyer alias pengacara ? Dan seperti apa pengacara itu ?

Ada pepatah mengatakan ‘biarpun langit runtuh, hukum harus tegak’. Ya, itu pepatah sangat kuno dan didalam dunia milenial atau kekinian, pepatah tersebut (nyaris) sudah tidak berlaku lagi.

Karena apa ? Banyak pengacara dan penasehat hukum di era sekarang kaya raya, memiliki rumah mewah, mobil lebih dari tiga buah, villa dan apartemen bertebaran di luar kota, harta melimpah dan cincin emas melingkar di sepuluh jari tangannya dan….istri sah dan istri siri tersembunyi dimana-mana.

Apakah hal tersebut tidak boleh ?

Boleh saja, asalkan semuanya diperoleh secara halal. Namun, belakangan banyak penegak hukum dan bahkan pengacara ikut dicokok KPK karena menerima ‘sesuatu’ yang tidak halal alias tidak dibenarkan di dunia hukum/keadilan.

Dunia hukum dan peradilan kita belakangan serba terbalik : yang salah jadi benar dan yang benar bisa salah. Informasi simulakrum berseliweran di depan mata kita membuat pedih masyarakat kecil tak berdosa.

Ada istilah ‘tebang pilih’ dimana orang kecil kalau berbuat kesalahan sepele – mencuri ayam misalnya – dipastikan terkena hukuman puluhan tahun. Orang kaya dan koruptor ? Paling banter terkena hukuman beberapa bulan saja. Masuk hotel prodeo pun, hanya pura-pura : pagi tidur di tahanan tapi malam berkeliaran bebas di luar penjara.

Bisa jadi ini ada ‘permainan jahat’ para pengacara selama persidangan ?

Tontonlah film bertajuk ‘The Lawyers Pokrol Bambu’ yang disutradarai Azar Fanny. Dalam film produksi Erwin Kallo Film yang berdurasi 90 menit ini, seluk-beluk dan lika-liku dunia pengacara divisualisasikan secara gamblang di layar putih.

Memang suap menyuap seperti digambarkan pada film-film India (polisi menerima pungli), sineas kita masih belum berani. Ada sedikit yang nekad di era Soeharto/Orde Baru zaman dulu, gunting sensor bakal membabat habis adegan itu.

Makanya, kita harus lihai memelintir dan menyelipkan simbol-simbol satire dan bumbu humor kedalam substansi film tersebut.

Suparman Simanjuntak, SH alias akrab dipanggil ‘Supermen’ (Dicky Chandra) adalah pengacara pokrol bambu yang kantornya terletak di sebuah gang sempit, hanya mengandalkan bicara untuk memenangkan kasus. Rekan kerjanya yang berjumlah empat orang yang sibuk mencari klien yang berperkara selalu apes, ada yang dibayar hanya dengan hasil bumi atau duit recehan. Belakangan, pengacara pokrol bambu ini sepi order dan nyaris tutup. Hutang pada warung milik si Engkoh bertumpuk dan selalu tidak bisa dilunasi.

Menurut istilah hukum, para pengacara ‘garis lurus’ (atau ‘garis lucu’?) ini yang didambakan oleh masyarakat kecil dan kelas bawah disebut ‘pro bono’ alias suatu pelayanan hukum untuk kepentingan umum dan pihak yang tidak mampu, tanpa dipungut biaya.

Namun, di sisi lain, ada pengacara bernama RM Wicaksono (Roy Marten) yang elite dan hidup sok glamour. Bertemu klien, harus di hotel berbintang.

Uniknya, pengacara pokrol bambu dan pengacara elite ini bersua di pengadilan. Bukan kasus korupsi atau kasus kakap, tapi kasus perceraian pasutri Johan Nabawi (Jerio Jeffry) dan isterinya, Nina Tanjung (Kartika Berliana).

Gugatan cerai ini dilayangkan oleh Nina Tanjung terhadap Johan Nabawi yang mengidap sadomasochist sebelum berhubungan di tempat tidur. Namun, Johan Nabawi justru ogah bercerai dan menginginkan rumah tangganya utuh kembali. Terlebih lagi, mereka berdua telah dikaruniai seorang puteri bernama Nayla.

Di persidangan yang dipimpin Hakim Ketua (Rina Hassim), Johan Nabawi mengandalkan ‘jasa’ pengacara RM Wicaksono. Sebaliknya, Nina Tanjung mempercayakan perkaranya kepada Supermen.

Masing-masing kubu bersilat lidah, adu argumentasi dan mengeluarkan jurus yang dianggap mematikan : saksi dan bukti-bukti.

Di persidangan terakhir, ternyata Supermen dinyatakan menang dan RM Wicaksono kalah.

Johan Nabawi kecewa dan pedih. Di sebuah toilet hotel yang sepi, Johan Nabawi membunuh RM Wicaksono dengan jalan menjerat lehernya dengan scarf yang dipakainya.

Apakah pengacara Supermen yang menang menerima uang berlimpah dari klien Nina Tanjung ? Tidak juga. Supermen cuma dibayar murah, hampir sepersepuluhnya dari honor yang disepakati bersama. Kok Supermen mau ? Di ending, Supermen menikahi Nina Tanjung dengan seperangkat sisa honor yang belum dibayarkan. Alhasil, Supermen sebagai ‘pengacara’ memang benar-benar ‘pengangguran banyak acara (pengacara)’?

Lucu, getir sekaligus penuh satir. Kita bisa menyimpulkan bahwa dunia pengadilan kita sudah tidak bermoral lagi, penuh intrik dan tipu daya.

Sutradara Azar Fanny cukup berhasil menuangkan kegetiran dan kelucuan yang terjadi di dunia pengacara. Sayang, plot cerita terlalu linear. Nyaris tak ada konflik yang berliku dan menukik, sebagamana biasa terjadi di dunia pengadilan. Azar Fanny juga bertindak sebagai penulis skenario.

Tembakan-tembakan penata kamera Hendro Tolatole diakui juga kurang ‘berani’ mencuatkan celah dan ruang di pengadilan. Seharusnya silat lidah dan adu argumentasi di pengadilan bisa divisualisasikan bergantian antara dua pengacara dan pendukung penggugat dan tergugat.

Namun, sebagai suatu terobosan dan keberanian baru, film ‘The Lawyers Pokrol Bambu’ bolehlah diketengahkan dan masuk dalam daftar film Nasional yang patut ditonton. Untunglah, pemain senior yaitu Roy
Marten, Dicky Chandra bisa dijual di sini. (Ipik Tanoyo)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *