Platform E-Commerce “Tukoni” Melawan Kebangkrutan di Tengah Pandemi

 Platform E-Commerce “Tukoni” Melawan Kebangkrutan di Tengah Pandemi

Revo Suladasha (kanan) dan Eri Kuncoro (kiri). (foto: dokumen pribadi)

JAYAKARTA NEWS – Bangkrut mengintai dunia usaha saat pandemi corona melanda. Pelaku usaha kecil bidang makanan dan minuman di Yogyakarta bukan pengecualian. Banyak yang terpaksa menutup bisnisnya. Yang masih beroperasi pun menukik omzetnya. Platform E-commerce @Yuktukoni dan Tukoni.id hadir menenun kain harapan melawan kebangkrutan.

“Tukoni” bermarkas di kompleks Ruko Raflesia di bilangan Babarsari, Sleman, Yogyakarta. Senin siang (21/12) warehouse yang ditempati sejak April 2020 itu tampak sepi. Jam menunjukkan pukul 10.30 WIB. Hanya ada satu wanita yang tampak sedang bekerja. Danik nama panggilannya. Ia adalah Direktur Operasional “Tukoni”.

Danik duduk di kursi admin yang menghadap ke luar. Ia sedang fokus dengan pekerjaannya. Dari balik kaca besar wanita berhijab itu terlihat beranjak lalu berjalan keluar menyambut Jayakarta News. Setelah bertegur sapa dan saling memperkenalkan diri, Danik pun meluangkan waktunya untuk berbincang-bincang.

Dani menerima telepon pelanggan di sela-sela wawancara. (Foto: Ernaningtyas)

“Dua karyawan, satu admin dan satu bagian keuangan izin tidak masuk. Yang satu sakit, lainnya cuti melahirkan. Deliveriman sedang bertugas mengantarkan barang ke pelanggan, seorang penunggu pasien di rumah sakit Sardjito,” jawab Danik saat Jayakarta News kepo mengapa ia sendirian.

Kendati seorang diri Danik tetap bisa menjalankan tugasnya. Sebab, “Tukoni” adalah platform e-commerce. Tidak ada kedatangan pembeli yang silih berganti bahkan berjubel seperti pemandangan di sebuah minimarket atau toko sembako. Semua transaksi dilakukan secara online baik lewat IG maupun website. Kedua platform e-commerce itu akan mengarahkan para pembeli ke admin “Tukoni”. Konsumen tinggal memilih produk yang diinginkan, melakukan pembayaran lantas mengirimkan bukti transfer. Komunikasi tuntas lewat kontak WhatsApp. Selanjutnya pihak “Tukoni” mengirim barang ke alamat pembeli.  

Namun ada juga pelanggan yang mengambil sendiri pesanannya. Sebelumnya, si konsumen telah mengorder melalui aplikasi atau telepon. Petugas “Tukoni” langsung menyiapkan barang yang dipesan. Dengan demikian bila sewaktu-waktu si pembeli datang mengambil barang tidak diperlukan waktu lama untuk bertransaksi. Seperti siang itu, di sela-sela perbincangan dengan Jayakarta News, Danik menerima telepon dari pelanggan yang memesan sejumlah produk.  

Begitulah keseharian di markas “Tukoni”. Berdagang produk makanan lokal Yogya lewat media sosial ini digagas Revo Suladasha bersama rekannya Eri Kuncoro. Awalnya e-commerce ini didesain sebagai gerakan sosial untuk membantu pebisnis UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) di seputar Yogyakarta yang terancam bangkrut karena tidak bisa berjualan akibat pandemi Covid-19. Banyak pebisnis UMKM khusus bidang makanan minuman yang kemudian tertolong. Kendati di masa pandemi, mereka tetap bisa berjualan lewat “Tukoni”. Sebaliknya, gerakan sosial ala “Tukoni” ini juga membantu masyarakat yang dibatasi pergerakannya akibat pandemi, untuk tetap bisa berbelanja dengan aman, mudah, dan murah.

Nama “Tukoni” pun berkibar. Atas usaha menghidupkan bisnis UMKM lewat media sosial saat pandemi ini Revo dan Eri, demikian keduanya akrab disapa, mendapat penghargaan Satu Indonesia Award (SIA) 2020 sebagai pejuang tanpa pamrih di masa pandemi Covid 19. Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards yang dihelat PT Astra International Tbk setiap tahun adalah penghargaan bagi generasi muda yang tak kenal lelah memberi manfaat bagi masyarakat di seluruh penjuru tanah air.

Revo (duduk kiri) dan Eri (duduk kanan) berdua meraih SATU Indonesia Award sebagai pejuang tanpa pamrih di masa pandemi Covid-19. (foto: dokumen pribadi)
Revo di ruang kerja warehouse “Tukoni” di kompleks Ruko Raflesia. (foto: dokumen pribadi)

Lahir dan Tumbuhnya “Tukoni”

Yogyakarta pertengahan April 2020. Satu bulan sudah usaha makanan dan minuman tak berdaya di tengah turbulensi pandemi Covid-19. Karantina wilayah membuat orang-orang memilih tinggal di rumah. Pembatasan sosial menyetop rupa-rupa acara kulineran. Nyaris semua kafe, restoran, kantin, warung makan, aneka kedai minuman dan segala bentuk usaha makanan dan minuman rumahan tiarap. Para pemasok mereka pun mendadak berhenti bergerak.

Kepada Revo, beberapa pelaku usaha makanan dan minuman menumpahkan keluh kesahnya. “Stag, kami tidak bisa buka usaha,” kata Revo yang dijumpai Jayakarta News beberapa waktu lalu di Kafe Layar Sentuh, Sleman, Yogyakarta.

Revo Suladasha. (Foto: Ernaningtyas)

Revo yang juga pemilik Kolektif Collaboration Space, sebuah usaha di bidang food and beverage (F&B) ini adalah figur yang tanggap situasi. Kondisi kepepet itu justru merangsang otaknya untuk berkreasi dan dalam tempo singkat stagnasi usaha bisa teratasi. Pada bulan April itu juga muncul ide untuk menjual produk lewat media sosial. Platform e-commerce itu dikemas Revo dalam bentuk instagram (IG) @Yuktukoni dan website Tukoni.id.

Kata “Yuktukoni” atau “Tukoni” berasal dari bahasa Jawa. “Kita pilih bahasa Jawa karena kita mulai gerakan ini di Yogyakarta,” ungkap Revo memberikan alasannya. “Yuktukoni” merupakan akronim dari: ayo dan tukoni. Ayo, sebuah ajakan seperti yuk atau mari. Sedangkan, tukoni artinya silakan beli. “Yuktukoni atau tukoni berarti mari beli,” tambahnya.

Untuk melancarkan gerakan jual dan beli produk hasil olahan makanan dan minuman warga seputar Yogya ini, Revo menggandeng rekannya, Eri Kuncoro. Duet Revo-Eri ini bergerak cepat melakukan eksekusi mulai dari mempersiapkan tempat lengkap dengan storage berstandar khusus, mempersiapkan sumber daya manusia, membangun brand lengkap dengan pengemasannya. Di kemasan itu tertera stori dan ada juga yang menampilkan foto peserta. 

 “Tukoni” mengemas ulang produk UMKM yang telah terdaftar. Ini penting sebab, seperti yang diungkapkan Revo, pihaknya harus memastikan bahwa barang dikemas sesuai standar dan setiap produk harus lolos quality control (QC). Ia menegaskan, packaging dan QC ini penting untuk membangun brand. Sementara sumber daya manusia (SDM) yang direkrut “Tukoni” adalah para kurban pemutusan hubungan kerja (PHK) dadakan ketika datang wabah corona.

Revo bercerita, semua persiapan pada awal berdiri “Tukoni” dilakukan secara gotong royong. Piranti yang dibutuhkan seperti alat vakum dan chiller atau kotak pendingin dipilih yang berharga murah. Warehouse yang digunakan “Tukoni” di awal berkegiatan adalah sebuah bangunan pinjaman. “Pokoknya bisa jalan dulu,” tutur Revo.

Harga yang dipatok “Tukoni” cukup bersahabat. Revo menaikkan harga sebesar 15 persen dari angka yang dipatok oleh mitra. “Kalau ngomongin cukup apa tidak, ya pasti kurang, tetapi karena diawali dengan sosial movement ya cukuplah,” tegas Revo.

Persiapan selesai. Tibalah waktunya bagi “Tukoni” untuk memulai aksi. Awalnya ada sepuluh UMKM yang menjadi peserta. Seiring dengan perjalanan waktu, angka itu terus bertambah. “Sekarang ini sejumlah 120 lebih brand telah bergabung dengan total produk 200-an buah. Satu brand bisa memiliki lebih dari satu produk,” papar Revo. Ia menegaskan bahwa jumlah peserta yang bergabung dengan “Tukoni” tidak bertambah dengan sendirinya. Ada strategi khusus untuk mendongkrak angka itu. “Saya selalu buat program. Jadi boleh dibilang tidak serta merta didiamkan terus otomatis orang-orang mencari kita,” imbuhnya.

“Tukoni” mengemas ulang mangut lele Mbah Marto. (foto: Ernaningtyas)

Program yang dijalankan “Tukoni” adalah mengajak bergabung pebisnis F&B yang memiliki brand kondang. Sebulan setelah “Tukoni” berkegiatan, Revo mengajak dua produk F&B yang tidak asing lagi di jagad kuliner Yogya, mie ayam Bu Tumini dan mangut lele Mbah Marto. Untunglah kedua ragam kuliner yang masuk dalam daftar buruan para pelanggan itu bersedia bergabung.

Revo berkisah, awal bergabungnya Bu Tumini meletupkan sedikit masalah. “Sempat heboh di Twitter, karena dirasa mie ayam Bu Tumini tidak resmi diajak oleh Tukoni. Padahal kita sudah menghubungi pihak keluarga yakni anak tertua,” papar Revo. Solusinya, Revo membenahi komunikasi dengan keluarga Bu Tumini. Langkah ini manjur sebagai pereda keributan. Masalah pun teratasi.

Peristiwa “Tukoni” dan keluarga Bu Tumini yang riuh di media sosial itu membawa keuntungan tersendiri. Ibarat iklan gratis, nama “Tukoni” melambung di jagad maya. “Ini membuat orang-orang menjadi penasaran dengan Tukoni,” kata Revo.

Seperti efek gelinding bola salju, strategi menggandeng Bu Tumini dan Mbah Marto sukses menarik minat pebisnis F&B untuk bergabung. Akhirnya, etalase @Yuktukoni dan Tukoni.id menjadi seperti supermarket yang menyediakan rupa-rupa produk olahan F&B, macam-macam bumbu dapur, buah-buahan dan sayur-sayuran, aneka daging dan ikan segar. Semua ini klop dengan cita-cita Revo dan Eri. “Kita punya konsep single storage all kitchen. Jadi satu tempat ada beberapa macam produk dari berbagai brand,” papar Revo.

Penyajian produk UMKM di outlet “Tukoni”. (Foto: Dokumen pribadi)

Menjadi Jembatan

Surga wisata kuliner, beginilah warga lokal, pelancong dan pelajar luar daerah memandang Yogya. Di provinsi istimewa ini, mengunjungi tempat-tempat kuliner yang menyajikan masakan khas menjadi tren yang digemari dan dikangeni. Namun, begitu pandemi datang menghampiri, geliat itu seperti mati.

Untunglah hadir @Yuktukoni dan Tukoni.id yang menawarkan aneka hidangan siap saji. Platform e-commerce ini berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan konsumen dengan tempat kuliner idaman di Yogya. Dengan berdiam di rumah, masyarakat tetap bisa menyantap ragam kuliner khas kota gudeg antara lain: mie ayam Bu Tumini, mangut lele Mbah Marto, sate klatak, sate Samirono, lumpia Samijaya, jadah tempe Mbah Carik, gudeg raos eco, lemper ayam Bu Sri, ingkung ayam Jawa, wedang uwuh, tongseng kambing, sempol ayam Syarifah, bakso bakar Bu Sainah, ayam Bantam, tahu walik, rupa-rupa minuman, aneka camilan kering, dll.

Tak hanya sebatas itu. Bagi yang ingin memasak sendiri makanannya, tidak perlu repot-repot pergi ke pasar dengan resiko tertular virus corona. Sebab, “Tukoni” pun menyediakan bumbu dapur lengkap dengan bahan mentah dalam kondisi bersih dan siap pakai.

Revo menjelaskan, awalnya “Tukoni” sebatas melayani konsumen pada radius 10 kilometer (km) dari pusat layanan yang berada di belahan utara kawasan Yogya. Jarak sejauh itu menjangkau sebagian kota Yogya dan sebagian pula kabupaten Sleman. Ongkos kirim (ongkir) yang dipatok untuk konsumen yang masuk ke dalam areal pelayanan adalah Rp 10.000 sekali antar. Di luar jarak itu, konsumen tetap bisa berbelanja dengan tambahan ongkir. Kebijakan tersebut diambil “Tukoni” karena keterbatasan sumber daya manusia (SDM). “Karena waktu itu kita baru punya satu deliveriman” tutur Revo.

Awalnya pula, sebagian besar konsumen atau 65 persen berasal dari Sleman. Sebesar 35 persen sisanya berasal dari kota Yogya. Jejak ini terlihat pada poster iklan di platform e-commerce-nya yang menampilkan kalimat berbahasa Jawa “Kulonuwun Yogya dan Sleman” (kulonuwun adalah ungkapan Jawa sebagai permohonan izin jika seseorang mendatangi tempat baru).

Saat bertugas menjembatani konsumen dengan produsen, “Tukoni” mencatat ada sesuatu yang spektakuler di seputar respon konsumen. Bergabungnya mie ayam Bu Tumini memicu aksi borong besar-besaran. “Satu hari pertama bu Tumini launching, order mie ayam sampai 2.000 porsi. Ini terjadi sekitar bulan Mei – Juni,” tutur Revo. Revo mengakui pihak Bu Tumini tidak mampu melayani order hingga ribuan porsi per hari. “Mereka hanya bisa memasok di angka 200 porsi,” tambahnya. Menurut cerita Revo, saat pandemi Covid-19 merebak Bu Tumini tetap membuka warungnya, sebab ia berada di wilayah yang tidak sepenuhnya ditutup. Tetapi umumnya semua restoran, mie ayam khas Bantul itu pun sepi pengunjung. Bisa jadi, keinginan kulineran ke Bu Tumini terobati dengan pesan antar lewat “Tukoni”.      

Jumlah order yang mencapai angka 2.000 porsi per hari itu bertahan selama sekitar satu minggu. “Sampai akhirnya order disetop dulu. Lalu kita harus pecah supaya semua kebagian. Kita batasi satu orang hanya boleh order tiga atau lima porsi saja,” paparnya. Selain membatasi permintaan, khusus mie ayam Bu Tumini, pada Mei-Juni silam “Tukoni” membuka pre-order. Revo mengakui pebisnis UMKM belum siap menghadapi banjir pesanan.

Selain mie ayam Bu Tumini, mangut lele Mbah Marto juga menjadi favorit. Namun, seperti Bu Tumini, Mbah Marto pun hanya sanggup memasok 100 sampai 200 porsi per hari. Bila Bu Tumini masih berjualan tetapi sepi pengunjung, tidak demikian dengan Mbah Marto. Mbah Marto sempat menutup usahanya beberapa waktu karena lokasi warungnya berada di wilayah yang mobilitas warganya dibatasi. Akhirnya, keduanya sangat tertolong oleh kehadiran “Tukoni”.

Dani mempersiapkan barang yang dipesan pelanggan. (foto: Ernaningtyas)

Kian Mekar dan Berkembang

Revo bercerita, awalnya “Tukoni” hanya sebatas gerakan sosial. “Kita cuma membantu membuat IG, membantu desain selesai,” katanya. Tetapi dalam tempo cepat, gerakan sosial yang dirintis Revo semakin mekar dan berkembang menjadi pintu pemasaran bagi UMKM khusus F&B yang menjanjikan. “Akhirnya kita hire admin, hire deliveriman juga sewa ruang buat warehouse,” imbuhnya.

Untuk mewujudkan semua itu Revo menggelontorkan dana sekitar Rp 70-an juta. Uang itu hasil patungan Revo, Eri dan beberapa kawannya yang bersedia membantu. Pada bulan April itu juga “Tukoni” menempati ruko di Babarsari sampai sekarang. Sebenarnya bangunan itu adalah tempat kerja Revo dan beberapa kawannya yang bergerak di bidang marketing agency. “Tukoni” menempati tiga ruang di lantai bawah dengan cara menyewa. Selain untuk biaya sewa dan hire karyawan dana patungan itu digunakan untuk menambah chiller, perlengkapan kantor, AC dll. 

Sebenarnya Revo bisa bekerjasama dengan ojek online untuk urusan pengantaran barang ke konsumen tanpa harus merekrut karyawan. Tetapi ini tidak ia lakukan. “Di awal pandemi, orang belum percaya dengan ojek online. Karena itu kita kampanyekan bahwa kita memiliki deliveriman sendiri yang kesehatannya terjaga. Satu kali pengantaran, hanya untuk satu orang pemesan,” tegas Revo. Pertimbangannya, jika menggunakan ojek online, ada kemungkinan muncul kekhawatiran di pihak konsumen. “Ojek itu sudah kemana saja ya, mungkin saja mereka sudah ke daerah zona merah,” tambahnya.

Dalam perjalanan berikutnya peta sebaran konsumen meluas. Pembeli tidak hanya berasal dari sekitaran Yogyakarta saja, tetapi sudah menjangkau kota-kota lain. Para pemburu kuliner di luar kota pun memanfaatkan “Tukoni” sebagai jembatan penghubung untuk menikmati kuliner khas Yogya. Menurut catatan terakhir Revo, konsumen asal Yogya menjadi hanya 35 persen saja, 65 persen selebihnya didominasi konsumen dari luar Provinsi DIY.

Revo menjelaskan latar belakang di balik angka perbandingan konsumen seperti itu. Ketika pembatasan sosial mulai mengendor, acara kulineran berangsur marak. Orang-orang di seputaran DIY bisa kembali leluasa untuk memuaskan keinginan berwisata kuliner. “Pertama-tama permintaan dari dalam kota kencang, tetapi sekarang sudah banyak orang yang nongkrong di tempatnya,” kata Revo.

Sementara itu, nama “Tukoni” kian dikenal. Di mana pun orang berada dan ingin menikmati atau kangen dengan kuliner khas Yogya bisa memesan lewat “Tukoni”. Angka permintaan dari konsumen luar kota pun melonjak. Untuk melayani permintaan luar kota, pada Mei 2020, “Tukoni” bekerjasama dengan ekspedisi Paxel.

Flyer Tukoni di Ambrukmo Plaza Yogyakarta. (foto: dokumen pribadi)

Bulan September 2020 ada yang baru di “Tukoni”. Tak sebatas berjualan lewat media sosial, “Tukoni” juga membuka restoran siap saji. Revo mengamati bahwa jagad kulineran di Yogyakarta berangsur pulih. Baginya ini sebuah peluang besar. “September kami membuka outlet di Ambarrukmo Plaza,” kata Revo. Bulan November, Revo bekerjasama dengan jaringan SPBU Pertamina. “Tukoni” segera mengisi outlet di SPBU Timoho Yogyakarta.

Kedua restoran itu mempermudah konsumen menikmati rupa-rupa kuliner khas Yogya cukup di satu tempat saja. Di outlet ini tidak semua produk yang ada di daftar “Tukoni” tersedia. Hanya produk yang masuk pada katagori penjualan 20 besar yang menjadi menu utama restoran “Tukoni”. “Beberapa produk yang baru masuk juga akan kami sajikan di outlet agar lebih dikenal dengan sistem roling,” tutur Revo.

Untuk pembukaan restoran “Tukoni” di Ambarrukmo Plaza, Revo merogoh kocek, juga hasil patungan, sekitar Rp 60 juta. Uang untuk sewa tempat, membeli perlengkapan dan menggaji karyawan itu tidak dipungut dari peserta. “Peserta hanya kami mintai persetujuan dan izin menaikkan harga untuk menutup semua biaya,” tutur Revo.

Tak sebatas membuka restoran. Revo melempar inovasi baru yang dinamai Mang Jastib. Mang Jastib adalah fasilitas yang diberikan untuk reseler luar kota. Para reseler bisa memesan produk F&B yang tidak terdaftar di list “Tukoni”, semisal bakpia Tugu dan bakpia Wonosari.

Revo memberikan contoh. Beberapa waktu lalu ada sebuah usaha dagang di Bandung yang melarisi Mang Jastib dengan memberikan order senilai Rp 18 juta sampai Rp 20 juta sekali pesan. “Mereka bayar cash kita mencari barangnya terus kita kirim,” kata Revo. Ke depan, “Tukoni” berencana membangun aplikasi khusus untuk Mang Jastib ini. “Aplikasi ini harus dibikin matang,” tambahnya.

Revo Suladasha dengan produk UMKM kemasan “Tukoni. (foto: dokumen Pribadi)

Rumah UMKM F&B Indonesia

Revo dan Eri memiliki mimpi untuk menjadikan “Tukoni” sebagai rumah UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) khusus food and beverage (F&B) Indonesia. “Saya pikir ini bentuk kontribusi saya buat bangsa dan negeri ini,” tutur Revo yang menyebut dirinya seorang sociopreneur.

Untuk tujuan itu, Revo merancang agenda pembukaan outlet baru di banyak kota. Dalam waktu dekat restoran “Tukoni” hadir di Jakarta (sudah disiapkan tempat di kawasan Cilandak), Bandung (tempat sudah tersedia), Solo, Surabaya, dll. Mitra UMKM yang bergabung pun tidak melulu berasal dari Yogyakarta, tetapi juga dari berbagai kota lainnya antara lain Madiun dan Semarang.

Mimpi “Tukoni” menjadi rumah UMKM F&B Indonesia tampaknya juga semakin berkibar di dunia maya. Revo berniat untuk bekerjasama dengan Facebook. Baru-baru ini ia melakukan riset menggunakan Facebook dan berupaya untuk bisa bekerjasama dengan Facebook Singapura. Aplikasi lain yang digarap adalah instagram shop. “Kita akan buat satu aplikasi yang integrated dimana orang bisa memilih di situ dan langsung membayar di situ lewat e-wallet,” kata Revo.

Platform Bukalapak dan Blibli pun melirik “Tukoni”. Keduanya mengundang “Tukoni” untuk menjadi VIP (Very Important People) merchant. “Mereka (Blibli dan Bukalapak) yang menyiapkan platform. Ini masih proses,” tegas Revo.

Dani di depan freezer penyimpan di warehouse “Tukoni”. (Foto: Ernaningtyas)

Inovasi di bidang standarisasi dan pengemasan produk juga menjadi agenda “Tukoni”. “Ke depan, kita ingin punya satu factory yang memiliki standar dan kemasan khusus. Jadi orang datang ke kita tidak berjumpa dengan makanan frozen tetapi sajian yang panas dan siap santap. Kita lagi mengembangkan teknologi itu,” papar Revo yang pernah mendapati makanan kemasan siap santap tanpa dimasukkan ke freezer bahkan tersaji panas-panas itu di dunia Haji dan militer.

Revo-Eri mengaku bahwa tidak gampang mengurus UMKM.  Banyak tantangan yang mesti diatasi dari sisi UMKM-nya. “Saya berharap membangun sisi yang bermanfaat untuk keberlanjutan usaha dan menjadikan UMKM khususnya F&B naik kelas,” tandas Revo.

Gerakan sosial melawan kebangkrutan di masa pandemi, begitulan awalnya “Tukoni” berdiri. Namun belum setahun usianya, ia telah menampakkan tanda-tanda bakal menjadi sebuah kekuatan ekonomi baru. Ibarat kereta api, “Tukoni” adalah lokomotif yang siap menarik maju gerbong-gerbong UMKM khususnya F&B. (Ernaningtyas)

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *