“Menerjang Batas” Apresiasi untuk Pelukis Tunanetra

 “Menerjang Batas” Apresiasi untuk Pelukis Tunanetra

Pameran lukisan dihelat di Greenhost Boutique Hotel Yogyakarta. (foto: nina)

JAYAKARTA NEWS – Pekan lalu (8/11-14/11), sebuah pameran lukisan dihelat di Greenhost Boutique Hotel Yogyakarta.  Eksibisi ini tak biasa, sebab para pengkaryanya adalah penyandang tunanetra.  Bagi pelukis pada umumnya, syarat utama dan pertama untuk menghasilkan karya adalah indera penglihatan. Kendati tak memilikinya, para tunanetra dari MTsLB/A Yaketunis Yogyakarta itu berhasil memamerkan sejumlah karya yang dijuduli “Menerjang Batas”.

“Menerjang Batas” tak sekadar pameran yang mempertontonkan keindahan di atas kanvas.  Ia juga memberikan cerita mendalam perihal perjuangan anak manusia yang mampu meruntuhkan keterbatasan. “Ternyata teman-teman tunanetra itu bisa bikin karya, mereka mendobrak batasan-batasan atas ketidakmampuan baik raga maupun pikiran,” kata Tomi Firdaus sang kurator. 

Tomi menegaskan, pemberian judul “Menerjang Batas” itu tidak melulu tertuju untuk para artis penyandang tunanetra. Ia juga menyadarkan masyarakat luas yang acapkali memandang keterbatasan sebagai ketidakmampuan. “Siapa pun, termasuk para individu penyandang tunanetra bisa menerjang keterbatasan mereka,” tegas Tomi. Namun, menurutnya, semua kemampuan itu tergantung pada individu masing-masing.      

Tomi bercerita, biasanya para penyandang tunanetra diarahkan untuk menguasai seni musik atau  komputer. Ketika disodori kegiatan melukis, ada rasa gembira yang muncul dari wajah-wajah mereka. Namun, sekejapan mata kemudian mereka memperlihatkan kebingungan.  Rasa bingung itu bersumber dari keterbatasan penglihatan. Para difabel itu sadar bahwa mereka tidak memiliki kemampuan visual untuk memindahkan obyek tiga dimensi ke atas kertas.            

Workshop

Bulan Februari silam, Tomi menggelar Workshop melukis untuk 22 siswa MTsLB/A Yaketunis Yogya dari kelas 1 sampai 3. Tidak mudah membimbing para penyandang tunanetra belajar menggambar dalam tempo satu hari saja. Kerja itu membutuhkan ketelatenan sekaligus menuntut kesabaran. Para difabel itu tinggal di rumah tetapi mereka tidak tahu bentuk rumah, mobil atau benda-benda yang mereka gunakan sehari-hari. Padahal, pemahaman akan bangun ruang ini menjadi dasar untuk menciptakan bentuk-bentuk dalam sebuah karya lukis. 

Tahap 1, mengenal dan menggambar bentuk.
Tahap 2, meraba wajah teman.
Tahap 3, sesi menggambar bebas.

Tomi membagi Workshopnya ke dalam tiga tahap rekognisi sensorik yakni pengenalan konsep bangun ruang, menggambar wajah dan melukis bebas. Rekognisi sensorik merupakan pengenalan proses penciptaan karya seni rupa dua dimensional bagi penyandang tunanetra dengan memaksimalkan indera sensorik (peraba). “Metode ini sebatas untuk remaja, bukan untuk mereka yang telah dewasa,” kata Tomi.

Tahap pertama, mengenali bangun ruang dalam wujud tiga dimensi seperti segitiga, bola, tabung dll. “Ini penting untuk membangun secara bertahap konsep berpikir mereka tentang bentuk-bentuk,” tambahnya. Dengan cara meraba, para peserta berimajinasi mengenal bentuk-bentuk. Ternyata para tunanetra itu memiliki solusi sendiri ketika akan memindahkan bentuk itu dalam tampilan dua dimensi. “Mereka meletakkan benda itu di atas kertas, kemudian digambar mengikuti alur bentuk bangun itu,” papar Tomi.

Tahap kedua, meraba wajah teman. Fase ini seru. Kendati lama berteman, ternyata para siswa peserta Workshop itu belum pernah meraba wajah kawan mereka. “Ada yang emosi sampai menangis,” tutur Tomi. Namun, tidak semua peserta meraba dan menggambar wajah teman. Ada yang lebih tertarik menggambar wajahnya sendiri.

Tahap satu dan dua merupakan fase seleksi. Ketertarikan menjalani proses tahap satu dan dua serta kreatifitas menjadi tolok ukur penilaian. Siswa yang lolos akan berlanjut ke tahap tiga, menggambar bebas. “Ada lima orang yang berhasil masuk ke tahap tiga,” tutur Tomi.  Pada tahap ini peserta didampingi mentor yang telah memiliki pengalaman sebagai pendamping di tahap sebelumnya sebagai teman diskusi. Dari obrolan itu, mucul ide untuk menggambar gitar, bunga bahkan pemandangan. Setiap peserta mendapatkan kanvas dan cat warna dasar, merah, biru dan kuning. Mereka pun mulai menggambar.

Aktivitas melukis oleh para siswa penyandang tuna netra.

Terkesan

Ada seorang peserta yang membuat Tomi amat terkesan, Ristanto namanya. Siswa kelas 2 ini menggambar dengan media crayon di atas  kertas. Sambil memainkan crayon, ia bercerita bahwa dulu sewaktu masih bisa melihat, ia suka menggambar. Ristanto mengalami kebutaan sejak masa kanak-kanak, bukan dari lahir. Karena itu ia masih bisa mengingat warna-warna. “Mas, aku minta warna ini, aku minta warna itu,” kata Tomi menirukan permohonan Ristanto kepada mentornya untuk diambilkan warna tertentu.

Tak cuma warna, bentuk-bentuk pun masih bisa dikenali Ristanto, seperti aneka pemandangan alam dan juga wajahnya sendiri. Karena itu, ia berniat menggambar potret diri. “Ristanto menyederhanakan wajahnya sendiri,” tutur Tomi. Dan ia mengisahkan proses anak didiknya itu menyelesaikan gambar wajahnya. 

Awalnya, Ristanto menggoreskan bentuk bulat menyerupai wajah. Lalu ia meraba rambutnya dan saat itu ia menyadari bahwa rambut kapalanya berjenis lurus. “Akhirnya ia membuat garis-garis lurus warna hitam sebagai rambutnya,” tutur Tomi. Selanjutnya Ristanto menggambar alis yang ia bentuk mirip rambut. Yang paling unik menurut Tomi, ketika tiba saatnya Ristanto menggambar mata. Organ penglihatan itu ia gambar lengkap dengan pupilnya. Mata ia gambar berwarna putih dengan bulatan hitam di tengah-tengahnya. Jadilah lukisan Ristanto yang diberi judul “Wajah Saya”.

Akhirnya “Wajah Saya” dan sejumlah lukisan lainnya dipamerkan. Tomi bertindak sebagai kurator sekaligus penyelenggara. Lukisan para difabel yang dihargai dengan kisaran Rp 5 hingga Rp 10 juta itu belum berhasil menaklukkan dompet para kolektor. Namun demikian momen itu membuktikan bahwa seni lukis menjadi kegiatan yang menyenangkan bagi penyandang tunanetra. Sayang, pandemi Covid 19 menghalangi para tokoh utama penerjang batas itu hadir pada acara pembukaan. Sejak pandemi lalu, para siswa MTsLB/A Yaketunis Yogyakarta dirumahkan.    

“Menerjang Batas”, pameran yang difasilitasi Art Week Yogya, Dinas Kebudayaan dan Artjog sepanjang pekan lalu itu menjadi saksi keberhasilan anak manusia dengan segala kekurangannya meruntuhkan batas-batas baik raga maupun pikiran. Dr Mike Susanto S Sn., MA, Ketua Jurusan Tata Kelola Seni ISI Yogyakarta menyatakan bahwa Pameran Lukisan “Menerjang Batas” menjadi bagian dari perkembangan seni lukis anak difabel yang menarik dan dapat dikembangkan di mana pun. (Ernaningtyas)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *