Jatiluhur Jazz Festival Sukses Meski Diguyur Hujan Lebat

 Jatiluhur Jazz Festival Sukses Meski Diguyur Hujan Lebat

Syaharani—foto humas JJF

JAYAKARTA NEWS— Bulan November sampai Desember 2019 hujan selalu turun setiap hari. Tidak hanya di Jakarta, juga di daerah lain. Di Bendungan Jatiluhur, Purwakarta (Jawa Barat),    Restoran Hotel Istora sudah diseting untuk pembukaan 1st International Jatiluhur Jazz Festival.

Satu jam sebelum dibuka,  turun hujan lebat. Meja kursi basah semua dan lantai hotel yang tempias terkena air hujan disapu oleh karyawan hotel. Panitia dari Jasa Tirta II, BUMN n Propinsi Jawa Barat sudah deg-degan. Mereka khawatir, gara-gara hujan deras, banyak pejabat BUMN dan dari Propinsi Jabar tak bisa datang.

Jatiluhur Jazz Festival 2019–foto humas JJF

Ternyata, kekhawatiran itu tak terbukti. Pejabat, undangan dan wartawan tetap bejibun. Hadir Bupati Purwakarta, Anne Ratna Mustika disertai jajarannya. Sementara  Menteri BUMN Erick Tohir dan Gubernur Jabar Ridwan Kamil tak bisa datang dan memberikan sambutan dalam bentuk video.

“Ternyata, hujan membawa berkah. Jatiluhur Jazz Festival yang digelar untuk pertama kali di Jatiluhur ini adalah kegiatan yang lebih indah. Hujan ini karunia Tuhan YME,” sambut Bupati Purwakarta, Anne Ratna Mustika.

Danny Siregar mewakili Menteri BUMN mengatakan, usia Bendungan Jatiluhur yang menginjak 62 tahun  (dibangun oleh Soekarno dan diresmikan oleh Soeharto) ini lebih banyak benefit daripada profit yang diperoleh.

Mus Mudjiono–foto humas JJF

“Air bendungan yang dialirkan ke sawah-sawah penduduk sekitar adalah proses ketahanan pangan bagi masyarakat Jawa Barat,” ujar Danny Siregar. Sedangkan Dirut Perum Jasa Tirta II (BUMN), U. Saefudin Noor memaparkan, tujuan dihelatnya Jatiluhur Jazz Festival adalah untuk meningkatkan destinasi pariwisata Jatiluhur bagi turis asing dan lokal, selain membangkitkan kembali musik etnis Jawa Barat dan musik jazz yang digemari kaum remaja milenial.

Penggagas Jatiluhur Jazz Festival, Dwiki Dharmawan menjelaskan sesuai tema Festival yaitu ‘green, water, life’, maka Jatiluhur Jazz Festival digelar. “Disini ada air, kehidupan dan ruang hijau,” urai  Dwiki yang menciptakan lagu bertitel ‘Sunset in Jatiluhur’ karena pertemuannya yang berulang kali dengan Bupati Purwakarta.

Di Restoran Hotel Istora, beberapa jazzer senior dan junior menyemarakkan suasana Jatiluhur nan diguyur hujan deras. Mengisi acara band Moccondos 40 yang diartikan ‘modal commitment doang’.

Tuan rumah memperkenalkan band Upstream yang personelnya adalah karyawan-karyawati BUMN. Dua jazzer senior yaitu Ermy Kullit dan Mus Mudjiono sukses mendapat applause meriah dari penonton. Bahkan, penonton ikut tarik suara. Dirut Jasa Tirta II, U. Saefudin Noor dipanggil Ermy Kullit ke atas panggung berduet menyanyikan tembang berirama jazzy milik Ermy yang populer di tahun 80an berjudul ‘Kasih’ (ciptaan Ryan Kyoto).

“Pak U, ayo nyanyi sama saya,” pinta Ermy. “Ibu Ermy Kullit ini penyanyi favorit saya sejak SMA. Sekarang, rambut kita sudah putih,” canda U Saefudin Noor disambut gelak tawa penonton. “Mohon ijin sama ibu U yang lagi makan,” mohon Ermy santun. Geeerrr. Mus Mudjiono tak ketinggalan menggebrak 5 lagu berirama jazzy nan sentimental yang cukup populer di tahun 80-90an.

Mus yang adik penyanyi Mus Mulyadi (almarhum) ini menyanyi sembari memetik gitar. Gayanya masih seperti anak muda. Acara dipindah ke dua panggung di Pelabuhan Biru yang dibangun di pinggir bendungan. Meski tanah bekas hujan membekas di sepatu, tak mengurangi minat penonton menyesaki bibir panggung.

Mereka ikut menyanyi dan berjoget. Java Jive dengan vokalisnya, Fatur tampil pertama. Disusul Syaharani & Queenfireworks yang menyuguhkan genre reggae, swing dan blues. Syaharani tak lupa melantunkan album anyarnya bertajuk ‘Aloha’. 

“Saya anak gunung. Terbiasa mencangkul enggak pakai sepatu sembari bernyanyi,” teriak  Rani, sapaan akrabnya. “Jangan lupa, nanti selesai festival jazz, cuci sepatu ya penonton semua..,” teriak Rani lagi.  Idea Percussion unjuk diri dengan menyuguhkan musik pukul.

Nomor yang digebrak khas tembang Sunda. Giliran Dwiki Dharmawan Peace World Band tampil. Puluhan musisi lokal dan asing pamerkan kebolehannya membunyikan instrumen musik. Ada Budhy Haryono pada drum, Saat meniup flute, Ade memukul kendang, Indro Hardjodikoro memetik gitar, Steve Thornton dari Malaysia dan Kamal Musallam asal Yordania. Plus seorang musisi muda bernama Rega Dauna yang membunyikan harmonika.

Tiga lagu digebrak non stop oleh Wizzi, dan dua instrumentalia ciptaan Dwiki Dharmawan yaitu ‘Arafura’ dan sebuah komposisi baru ‘Sunset in Jatuluhur’. Di panggung lain, Marcell Siahaan mengambil durasi paling lama, 1 jam lebih.

Tujuh nomor lama plus 1 lagu baru yang dibawakan secara acapela (tanpa iringan musik) berhasil menggiring penonton ikut menyanyi. Nomor ‘Firasat’ menciptakan sebuah koor kolosal antara seorang Marcell dan puluhan penonton.

Fantastis. Jatiluhur Jazz Festival hari pertama ditutup dengan penampilan pedangdut Zaskia Gotik yang memboyong band pop buat mengiringi dirinya tarik suara, minus tabla, suling, akordeon dan timpani.

Zaskia menjazzkan lagu dangdut ‘Bang Jono’. Sayang, aroma jazz yang dihadirkan kurang kental. Namun, untuk sebuah terobosan dan keberanian baru, langkah dan gebrakan Zaskia patut dicatat. (pik).

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *