Anak Menikah, Ayah Gundah

 Anak Menikah, Ayah Gundah
Mutia Gustiara Maulani, siap menikah. Sang ayah, Eko Guruh pun gundah. (foto: dok pri)
Oleh Eko Guruh

JAYAKARTA NEWS – Meskipun sebenarnya sudah tahu, rasanya mendekati hari H,  saya merasakan seperti mimpi saja. Si sulung, Mutia Gustiara Maulani–acap saya panggil MGM–dalam hitungan bulan akan melepas masa lajangnya. Sebenarnya lumrah, banyak keluarga juga mengalaminya, apalagi ia kini berusia 24 tahun. Umur yang pantas untuk menikah, karena akan memasuki fase hidup baru sebagai isteri, bukan lagi gadis, apalagi anak imut seperti dulu.

Sejak kecil –kakak, begitu mamah dan adiknya memanggil– tergolong anak rumahan. Jarang keluar rumah tanpa alasan yang jelas. Kesehariannya dihabiskan untuk sekolah, belajar, dan bekerja. Selebihnya, banyak dihabiskan di dalam kamar, sehingga beberapa tahun terakhir saya sulit untuk mendapat waktu yang cukup guna sekadar ngobrol tentang tetek bengek seperti saat dia masih di bangku SMP dan SMA.

Saya ngantor subuh, dia masih tidur nyenyak di kamar. Saat saya  pulang larut malam, dia keburu mengunci kamar dan pulas dalam tidurnya. Begitu seterusnya setiap hari. Giliran saya libur, dia asyik dengan kawan sejawatnya jalan-jalan sehingga praktis tidak ada waktu lagi.

Rutinitas semacam ini kelak saya yakini malah nyaris tak akan pernah terjadi, karena begitu menikah dia pasti akan dibawa suaminya. Sebagai bapaknya, saya ikhlas karena ini kodrat yang tak bisa saya tolak. Sama halnya dengan ketika saya membawa mamahnya dari lingkungan keluarganya, beberapa hari setelah resmi saya nikahi.

Tak apalah nak, semua itu memang hak kamu. Dalam waktu dekat, bapak tak akan lagi bawel sekadar mengecek keberadaanmu saat kamu pulang agak telat. Bapak juga tak akan ada tugas rutin lagi mematikan AC kamarmu setiap subuh. Jika musim hujan, dan kamu belum pulang, bapak juga tidak lagi panik, morang-maring kayak ayam mau bertelur, karena mikirin bagaimana kamu di jalan.

Cuma sederhana pesan bapak, persiapkan dari kamu sebaik mungkin untuk menapaki dunia barumu. Belajarlah mandiri dari sekarang. Meski sebentar lagi kamu bukan tanggungan bapak lagi, kamu tetap anak bapak. Sayang bapak tak akan luntur sampai kapan pun. Berikan saja kabar baik setiap harinya. Asal kamu bahagia, bapak juga pasti ikut happy. ***

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *