Connect with us

Feature

Saat Para Aktor “Old Crack” Teater Alam Tetap Tampil Memukau

Published

on

Oleh Odi Shalahuddin

Jika anda diminta menghafal misalnya sekitar 25 atau 50 halaman, dan anda diminta untuk mengucapkannya yang membuat orang lain tidak bosan mendengarnya, menurut anda, apakah itu hal yang sulit?  Jika sampai 100 halaman? Dan, bayangkan jika umur anda sudah melewati 60 atau 70 tahun?

Itulah yang harus dijalani oleh Gege Hang Andhika, aktor Teater Alam yang usianya telah 72 tahun. Ia  berperan sebagai Oedipus sang tokoh utama. “Oedipus Rex” salah satu dari trilogi karya Sophocles merupakan lakon tragedi  klasik Yunani yang sudah berabad-abad, tetap dianggap terbaik. Walaupun peran ini pernah dilakoninya berulang kali sejak tahun 1981, faktor umur tentu merupakan persoalan tersendiri yang harus diatasi. Dan Gege, berhasil memainkannya dengan lancar, mensiasati gerak fisik agar tidak terlalu memforsir tenaga dan tetap menjaga, walau ada beberapa dialog yang sempat terlupa dan dua kali terbatuk, menjadikan jeda yang menegangkan penonton.

Soal umur, tidak hanya Gege, seluruh pemain yang kebagian “dialog” – dan cenderung panjang, adalah orang-orang yang telah berumur di atas 50 tahun. Kaum “Lolita” (Lolos Lima Puluh Tahun), demikian biasa disebut orang. Sebut saja Meritz Hindra (73), aktor yang telah terlibat di Teater Alam sejak didirikannya tahun 1972 berperan sebagai Theresias dan juga berposisi sebagai Asisten Sutradara,  Daning Hudaya (65) sebagai Creon,    Anastasia (61), sebagai Yocasta, Eddy Subroto (60) sebagai pembawa warta, Gola Bustaman (61) sebagai pendeta, Hisyam A Fachri ( sebagai Orang Corinta, dan Ronny AN (barangkali yang termuda, menjelang 50 tahun) sebagai Gembala. mereka masih mampu menunjukkan permainan yang prima. Belum lagi pementasan ini juga didukung oleh Tertib Suratmo (80 tahun), Jemek Supardi (di atas 70 tahun). Memang ada pendukung yang masih berusia muda yang diharapkan akan terus berkiprah, Nah, soal umur inilah, yang dikatakan oleh Meritz Hindra saat konferensi pers (16/1) sebagai salah satu yang istimewa, dalam pementasan memperingati 48 tahun Teater Alam. Terlebih, pementasan ini langsung disutradarai oleh Azwar AN (82), pendiri Teater Alam.

Keistimewaan pementasan yang disampaikan oleh Meritz Hindra terbukti. Para “old crack” ini masih tampil memukau. Pertunjukan berdurasi sekitar 2.5 jam mengalir lancar, tidak membosankan, tidak membuat para penonton tertidur ataupun beranjak keluar.  Apalagi musik yang digarap Dr Memet Chairul S, dibantu Ahmed Sejuta Sinar dan Dwi Heryana sungguh ciamik mendukung bangunan suasana cerita.

“Oedipus Rex” yang diterjemahkan oleh WS Rendra ini, bertumpu pada dialog. Kerapkali seorang pemain menyampaikan sesuatu dengan panjang  sehingga menyerupai monolog. Lantaran itu, kemampuan pemain benar-benar diuji “keaktorannya”.

Azwar AN memberi sambutan sebelum pementasan, diapit dua MC, Gde Mahesa dan Ganjil. (foto: odi shalahuddin)

Kesetiaan dan Solidaritas

Mereka memang tidak muda lagi. Awal mula berkesenian sejak mereka masih berusia sangat muda. Sebagian besar masih tetap setia bergulat pada dunia kesenian hingga hari ini. Teater Alam didirikan pada 4 Januari 1972, oleh Azwar AN, yang belum genap sebulan telah memutuskan keluar dari Bengkel Teater pimpinan WS Rendra, yang mana ia juga tercatat sebagai pendirinya. Berikut sebagian sosok yang terlibat dalam pementasan “Oedipus Rex”:

Azwar AN, sejak memasuki Yogya di tahun 1962, guna melanjutkan studinya di SMA, ia mulai bergabung dengan Teater Muslim pimpinan Mohammad Diponegoro. Ia membentuk Sanggar Sriwjaya di tahun 1964. Ia tetap menekuni teater dengan masuk ke ASDRAFI, dan saat kepulangan WS Rendra dari studinya di Amerika, ia mendorong terus agar Rendra membentuk kelompok Teater, yang mana kemudian berdirilah Bengkel Teater. Azwar total berteater, latihan siang-malam, terlibat dalam pementasan-pementasan penting. Karena ada sesuatu “alasan yang tidak pernah diungkapkan secara jelas” ia keluar dari Bengkel dan membentuk Teater Alam, yang kemudian menjadi kelompok teater yang menonjol – selain Bengkel Teater – di Yogyakarta dan berhasil menembus Taman Ismail Marzuki dengan beberapa pementasannya. Sebagaimana orang teater pada masa itu, ia juga terjun ke dunia film, namun Teater Alam tetap bertahan. Banyak pegiat teater alam, yang dikenal aktif dalam dunia kesenian sampai saat ini. Sebutlah beberapa nama seperti Yudhistira Ardhi Nugraha, Mira Sato (Seno Gumira Ajidarmo), Yoyok Aryo, Puntung CM Pudjadi, Teted Sri WD, Ismadi K Isbandi, Dhenok Kristanti, dan sebagainya. “Yogya harus tetap hidup teaternya,” demikian berulangkali diucapkan Azwar AN dalam berbagai kesempatan.

Gege Hang Andhika, pemeran Oedipus. (foto: odi shalahuddin)

Gege Hang Andika, senantiasa berperan sebagai Oedipus dalam pementasan-pementasan Teater Alam. Ia juga pernah berperan sebagai Hamlet dan Macbeth. Aktor yang awalnya bergiat di Bengkel Teater seja tahun 1971, ketika WS Rendra memindahkan Bengkel Teater ke Jakarta pada tahun 1976, ia tidak ikut serta. Ia langsung terlibat ke Teater Alam.  Saat “Oedipus Rex” dipentaskan pertama kali oleh Teater Alam, Gege-lah yang berperan sebagi Oedipus. Demikian juga di tahun 1984, 1986, dan puncaknya di tahun 1999 saat Teater Alam mementaskan Trilogi Oedipus: Oedipus Rex, Oedipus di Kolonus dan Antigone dalam satu malam dengan durasi 10.5 jam, “menghafal naskahnya benar-benar pontang-panting,” ujar Gege. Apalagi, saat usianya sudah melewati 70 tahun, “Sulitnya luar biasa… Alhamdulillah saat pentas, dialog saya lancar,” ujar aktor yang pernah membintang beberapa film dan aktif di sinetron, yang kemudian dilepasnya di tahun 2004.

Meritz Hindra pemeran Teiresias. (foto: odi shalahuddin)

Meritz Hindra, merupakan aktor Teater Alam yang sudah berproses sejak awal. Sempat hijrah ke Jakarta, namun tetap total berteater. Ia memimpin Teater SS Bulungan yang beberapa kali pernah meraih penghargaan dalam Festival Teater Jakarta. Kemudian kembali ke Yogya, juga setia dengan teater. Di usianya yang sudah melewati angka 70, ia masih terlihat bugar. Permainannya masih memukau, misalnya dalam pementasan Teater Alam sebelumnya: “Montserrat” (Desember 2018) di mana ia memainkan peran sebagai  Kolonel Isquirdo secara prima. Juga saat berperan sebagai Stanley Kowalsky dalam “Pusaran”, ia masih menunjukkan kemampuannya berakting secara baik. Kembali kemampuannya ditunjukkan melalui Theresias yang diperankannya.

Daning Hudoyo, pemeran Creon. (foto: odi shalahuddin)

Daning Hudaya, sebagai Creon bermain sangat bagus. Ia terlihat total bermain dan membuat penonton terkesan dengan penampilannya. Dibandingkan saat ia berperan sebagai Montserrat pada pementasan sebelumnya, kali ini benar-benar tidak berlebihan bila mendapat pujian.  

Pun demikian dengan Anastasia S, yang kali ini bermain sebagai Yocasta. Perempuan yang mulai terlibat aktif di Teater Alam sejak tahun 1977 hingga 1984, dan kembali aktif di tahun 2018, berupaya memasukkan sosok Yocasta ke dalam dirinya. Sama hal-nya dengan Eddy Subroto, sang pembawa warta yang begitu menikmati peranannya.

Eddy “Gebleng” Subroto, pemeran Sang Pembawa Warta. (foto: odi shalahuddin)
Anastasia SH, pemeran Yocasta. (foto: odi shalahuddin)

Eko Pamiluhono (Strophe dan Antisrhophe), Azis Mandar (Orang Istana), Gola Bustaman (Pendeta), S Lukman (Pendeta) dan Hisyam A Fachri (Orang Corintha) permainannya juga tidak buruk.

Tanpa mengulas secara mendalam, hal yang menjadi perhatian adalah kesetiaan mereka untuk tetap aktif berteater dalam usia senja dengan semangat muda yang tetap membara. Empat bulan berlatih secara intensif, sore hingga malam, tentu banyaklah pengorbanan yang telah mereka sumbangkan. Apalagi diketahui bahwa berteater pada umumnya sama sekali tidak menguntungkan secara ekonomi, bahkan harus rela tombok. Eddy Subroto, misalnya yang tinggal di Madiun berarti harus pulang-pergi Madiun-Yogya.

“Kebetulan ada waktu, maka mau bergabung n bermain di Oedipus Rex ini. Aku mau terlibat karena setiap produksi Teater Alam, terhambat tidak bisa terlibat. Aku rindu dan terpanggil sebagai kontribusi anggota Teater Alam yang sudah lama tidak aktif. Pementasan Oedipus Rex kali ini, selain bisa mengobati rinduku bermain dan bekerjasama dengan teman-teman lama, juga karena sudah lama tidak bermain di Yogya sebagai tempat yang telah membesarkanku. Semoga kontrbusi ini tidak mengecewakan,” jelas Eddy Subroto.

Memang, berteater itu sangat mahal. Di kehidupan masa kini yang sedikit-sedikit dinilai secara ekonomis, maka kesetiaan keterlibatan orang-orang di teater, tentulah merupakan sikap “gila” dalam pandangan kehidupan orang-orang normal. Secara satire dikemukakan oleh Halim Hade, budayawan dan networker kebudayaan,  dalam status atas pementasan ini: “Edyaan yaaa… kerja berbulan-bulan, pentas cuma semalam,”

Lebih lanjut dikatakan oleh Halim bahwa ada yang tidak beres dengan birokrasi kita, yang harus dibongkar. Barangkali ini ada benarnya. Pemerintah selayaknyalah memberikan dukungan memadai bagi kehidupan dan perkembangan teater, tanpa mempertimbangan nilai ekonomisnya. Negara yang mengabaikan kesenian dan kebudayaan menunjukkan pemerintahannya yang tidak beradab dan tidak berbudaya.  

Media Terapi

Pada sisi lain, keterlibatan para “old Cracker” dalam pertunjukan teater, ini ditempatkan pula sebagai media terapi. “Biar tidak cepat pikun,” kata Meritz Hindra.

Hal tersebut dipertegas oleh  Hisyam A Fachri, seorang trainer profesional terutama yang berkaitan dengan character building, SDM, mind consultant psychology, Coenselor, dan instruktur Senior di berbagai perusahan, yang juga terlibat sebagai pemain; “Teater dapat menjadi sebuah media terapi proses aging (penuaan) yang baik. Proses menghafal, setidaknya menghambat kepikunan.”

Hisyam Fachri yang menyatakan faktor kebetulan terlibat dalam pementasan ini, karena saat berkunjung ke rumah Azwar AN, kebetulan tengah ada pemilihan pemain. Ia diminta turut membaca naskah, dan kemudian diyakinkan bahwa ia bisa bermain dan diminta ikut terlibat.

“Saya mengenal Teater Alam saat saya hendak studi di Yogya diajak Bapak ke rumah Pak Azwar AN. Waktu itu diminta juga untuk terlibat ikut latihan-latihan Teater Alam, tapi saya tidak memenuhinya,” ujar putra dari Fachri Amrullah, yang dikenal pula sebagai dramawan sejak tahun 1960-an, dan juga merupakan cucu pertama dari ulama besar Prof Dr. Hamka.

Tantangan ke Depan

Tidak dipungkiri kehidupan teater di Yogyakarta dan berbagai kota lainnya di Indonesia sudah menunjukkan geliatnya. Berbagai pementasan terus dihadirkan. Hanya masalahnya, tampaknya kita kekurangan informasi tentang sorotan atas pementasan-pementasan tersebut. Bisa dikataan hanya pencatatan peristiwa. Keterbatasan media cetak dalam memberi ruang seni-budaya, boleh jadi menjadi salah satu penyebabnya. Ini tentunya menyulitkan untuk memetik pembelajaran dari pertunjukan-pertunjukan yang ada, juga akan mempersulit kajian ataupun penelitian di masa-masa mendatang.

“Teater itu mahal,” kata Darmanto Jatman. Jadi, teramat sayang jika tida diberi pemaknaan.

Yogyakarta, 22 Januari 2020

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *