PSROO “Bebas Gaya Santun Dalam Rupa” dan Dalem Jayaningratan

 PSROO “Bebas Gaya Santun Dalam Rupa” dan Dalem Jayaningratan
Suasana di seputar panggung pembukaan PSROO.

Jayakarta News – Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Begitu kata pepatah yang tampaknya klop untuk menggambarkan Pameran Seni Rupa Offline-Online (PSROO) yang bertema “Bebas Gaya Santun Dalam Rupa” di Dalem Jayaningratan Yogyakarta. Eksibisi ini menyasar dua manfaat sekaligus. Pertama, kegiatan pameran sebagai bentuk tanggung jawab seniman untuk mengkomunikasikan karyanya kepada masyarakat luas dan, kedua, menghidupkan Dalem Jayaningratan sebagai pusat seni budaya baru yang layak diperhitungkan. Pameran dibuka  Sabtu malam (5/10), diramaikan 150 perupa berasal dari rupa-rupa daerah di Indonesia.  

Presiden Original Rekor Indonesia (ORI) Guruh Susanto didaulat membuka PSROO yang dibanjiri ratusan pengunjung. Pejabat teras di lingkungan Kecamatan Gedong Tengen dari camat hingga ketua RT/RW, anggota Paguyuban Jayaningratan, masyarakat sekitar, wisatawan di seputaran Jalan Dagen/Malioboro, pengisi acara dan tentu saja para perupa yang terlibat beserta kerabat dan para sahabat mereka, tampak memenuhi halaman Dalem Jayaningratan yang menyatu dengan pelataran SD Netral itu.

Pimpinan Sanggar Sedulur Nyeni penyelenggara pameran ini, Sukoco Hayat DP, menuturkan bahwa Dalem Jayaningratan dipilih karena dua sebab. Pertama, tempat ini menarik secara visual, ada satu pendapa besar yang kuno namun artistik dan beberapa bangunan terpisah di belakang pendapa yang pernah digunakan sebagai ruang kuliah Universitas Proklamasi. Kedua, areal seluas lima ribuan meter persegi itu terkoneksi dengan aktivitas masyarakat di sekelilingnya. Ada sekolah, banyak hotel, toko-toko suvenir, rupa-rupa tempat kulineran, perkampungan dan hanya berjarak seratusan meter dari Malioboro. “Tempat ini sangat strategis dan potensial karena itu kami bersinergi dengan Paguyuban Dalem Jayaningratan untuk menyelenggarakan pameran seni rupa di sini,” papar Sukoco.

Suasana pembukaan pameran PSROO.

Untuk menyambut perhelatan PSROO, beberapa bagian gedung yang rusak diperbaiki. Tembok dicat ulang, dinding teras bangunan di sebelah barat pendapa dimuralkan, plafon diperbarui, debu dibersihkan, lampu-lampu ber-watt tinggi digantung-gantungkan. Tampaknya, semua upaya itu belum sampai pada tahapan final. Masih tampak beberapa bagian yang belum sempurna pengerjaannya, utamanya plafon. Sebuah lukisan bergambar kuda berada persis di bawah plafon pendapa yang bolong dan semplak. Plafon di tempat lain mengalami nasib serupa. Yang paling parah lubangnya adalah langit-langit  bangunan pendapa sebelah belakang. Sebagian atap ruang yang berisi patung-patung semut raksasa itu bolong besar. Bagian itu tak lagi bergenteng. Ia seperti memberi jalan pada sorot mata para penghuni di bawahnya untuk menyapu pandang taburan bintang di langit malam atau sehamparan luas angkasa terang di kala siang. Beruntung, saat pembukaan PSROO berlangsung, belum tiba musim penghujan. Pada hari kedua pameran, Minggu (6/10) hanya ada gumpalan mendung tipis di atas langit di sisi barat Malioboro. Untunglah, kumpulan awan itu tak sampai meraksasa dan menjadi hujan berkaliber lebat. Jika itu terjadi, dampaknya akan serius pada beberapa titik di dalam bangunan Dalem Jayaningratan yang sampai tanggal 14 Oktober nanti menjadi tempat berlindung karya-karya seni rupa.                

Rully Permana, Ketua Paguyuban Jayaningratan, menceritakan bahwa Dalem Jayaningratan dibangun pada jaman Hamengku Buwono VII. Pangeran Jayaningrat, putra HB VII, membangun areal ini pada tahun 1880. “Kami ingin Dalem Jayaningratan menjadi pusat seni budaya,” mimpi Rully yang ia ungkapkan pada acara pembukaan PSROO. Ia memberi info,  paguyuban yang dipimpinnya ini berdiri pada tahun 2018, beranggotakan masyarakat sekitar yang peduli pada Warisan Budaya ini. 

Sisi samping pendapa Dalem Jayaningratan.
Ada lubang besar Di langit-langit ruang bagian belakang pendapa Dalem Jayaningratan. Patung-pating semut raksasa turut memeriahkan PSROO.

Rully menceritakan, sudah ada empat event yang telah dan sedang berlangsung di Dalem Jayaningratan sejak Desember 2018: Gelar Budaya, Kembang Adas, Jogja Art dan PSROO (tiga terakhir adalah pameran seni rupa). “Setelah penyelenggaraan Gelar Budaya pada 22 Desember tahun lalu, kami membentuk Paguyuban Dalem Jayaningratan,” jelas Rully. Diakuinya, semua yang duduk di kepengurusan paguyuban adalah orang awam yang berasal dari komunitas di sekitar Dalem Jayaningratan. Langkah pertama yang dilakukan Rully dan pasukannya adalah melacak status Kekancingan Dalem Jayaningratan.

Kekancingan adalah surat yang dikeluarkan Kraton Yogyakarta untuk mengatur penggunaan Sultan Ground (SG). SG populer digunakan untuk menyebut tanah milik Kraton Yogyakarta yang digunakan untuk kesejahteraan masyarakat. Kraton memberikan ijin pemanfaatan  SG  dengan  Surat Kekancingan. Rully mengakui pihaknya tak paham liku-liku birokrasi yang berkaitan dengan langkah-langkah legal formal untuk menghidupkan Dalem Jayaningratan sebagai pusat seni budaya.  Namun ia percaya bahwa langkah awal yang mesti ditempuhnya adalah mencari si pemegang Surat Kekancingan itu.

“Kami melacak keberadaan Surat Kekancingan Dalem Jayaningratan, dan sampai detik ini usaha pencarian baru sampai ke Universitas Proklamasi. Info yang kami dapatkan, perguruan tinggi ini disinyalir sebagai pemegang Surat Kekancingan itu,” jelas Rully.  Dengan memegang Surat itu, nantinya Rully bersama Paguyuban Dalem Jayaningratan akan memberdayakan Warisan Budaya ini menjadi pusat seni budaya. Upaya ini diharapkan bisa menghidupkan kembali bangunan yang ngangkrak sejak tahun 1998 setelah ditinggalkan Universitas Proklamasi yang menempati gedung baru di lain tempat. “Semoga dari Warisan Budaya, Dalem Jayaningratan bisa naik peringkat menjadi Cagar Budaya,” tambahnya. 

Suasana di ruang pameran.
Suasana pameran offline.

Keseriusan Rully tampak pada acara pembukaan PSROO akhir pekan silam. Bersama Sanggar Sedulur Nyeni, Paguyuban Dalem Jayaningratan yang didukung masyarakat Sosromenduran bahu membahu meramaikan panggung hiburan.  Aneka tari dipersembahkan. Ada tari Ingkling Jangget dan tari Kepyar. Pelukis asal Bandung,Teddy Suchyar, beraksi menggoreskan  kuwas di atas kanvas raksasa diiringi penari tengkorak yang diperankan pelukis Agus S disambung penari tunggal,  lelaki separuh baya, memerankan seorang raja yang gandrung pada seorang dewi. Gumpalan asap dupa membubung tinggi ke angkasa, menambah kesan magis suasana panggung. Jumlah kursi yang tak sebanding dengan cacah penonton, membuat seputaran panggung tampak dikerumuni orang-orang. 

Tak hanya di tempat itu, pengunjung di bagian belakang pun tak beranjak dari tempatnya kendati mereka  berdiri selama sekitar dua jam penuh.  Pada saat ibu-ibu muda Sosromenduran tampil membawakan tarian Maumere, pengunjung menyambutnya dengan tepuk tangan dan teriakan meriah. “Tarian Maumere ibu-ibu Sosromendran ini baru saja memenangkan juara dua dalam  sebuah lomba tari,” teriak pembawa acara.  Suara itu seperti menyemprotkan bahan bakar untuk memperbesar sorak sorai pengunjung yang melihat aksi penari berkostum warna hitam ketat dan bermahkota bulu-bulu.

Pada pembukaan acara PSROO itu, ORI memberikan beberapa penghargaan. Antara lain menobatkan dua perupa sebagai Duta Seni Lukis ORI: Sukoco Hayat (Duta Seni Lukis Regional DIY) dan Teddy Suchyar (Duta Seni Lukis Nasional). Sementara Ketua Paguyuban Dalem Jayaningratan dan pelukis senior Totok Buchori mendapatkan Piagam ORI sebagai pendukung penyelenggara acara. Guruh tak mengatakan apa tugas selanjutnya dari pada duta dan pemegang piagam ORI itu. Ia hanya menekankan bahwa ORI mendukung sepenuhnya Sukoco Hayat yang telah mewujudkan pameran Offline dan Online dalam satu waktu yang sama. “Semua orang bisa mengapresiasi karya para pelukis dan semua pelukis tak terkendala ruang dan waktu untuk berperan dalam pameran ini, dimana pun mereka berada,“ tutur Guruh. 

Pelukis wajah kawakan, Totok Buchori, menyatakan bahwa pameran seni rupa adalah sebuah tanggung jawab yang mesti diemban para seniman untuk menunjukkan karyanya.  Sementara di tempat pemeran itu pula masyarakat pecinta seni bisa mengapresiasinya. “Syukur-syukur, masyarakat mengkoleksi karya-karya itu,” tutur Totok yang pada event PSROO kemarin memamerkan sebuah lukisan manusia utuh berwajah badut dengan tangan kanan memegang buntut tikus. Wajah si badut berada pada ekspresi antara jijik campur mengejek ke arah si tikus yang lazim menjadi binatang lambang koruptor itu.   

Sadikin Part, pelukis difabel asal Malang melukis on the spot Di atas panggung. Ia beraksi dengan jari kaki dan tubuh tanpa tangannya.

Pada pembukaan PSROO itu, seorang pelukis difabel asal Malang, Sadikin Part, melukis on the spot di atas panggung bersamaan dengan penampilan empat putri penari Kepyar.  Dalam tempo menitan, pelukis tanpa tangan ini merampungkan gambar seorang penari wanita bergaya ekspresionis,  dengan tubuh dan jari jemari kakinya. Seorang fotografer, Ahid, memenangkan acara lelang lukisan tersebut dengan harga  satu setengah juta rupiah. “Lukisan ini langka,” tutur Ahid memberikan alasannya. Uang hasil pameran itu disumbangkan untuk kegiatan sosial. “Kita rembug nanti saja, kepada siapa uang itu akan disumbangkan,” tutur Sukoco.        

Ahid, paling kanan mencanglong kamera, memenangkan lelang lukisan Sadikin seharga 1,5 juta.

Sukoco menyatakan bahwa versi online akan diluncurkan para Rabu sore (9/10) di media sosial baik IG, FB maupun Youtube dengan alamat Sukoco Hayat. Sekitar sepuluh dari artis PSROO adalah pelukis anak-anak. Selain kegiatan utama pameran karya seni rupa, event PSROO juga diisi dengan acara berkesenian secara on the spot. Sebelum pameran berlangsung, anak-anak sekitar kompleks Dalem Jayaningratan mengikuti kegiatan menggores clay di bawah asuhan pelukis En Iskandar. Selanjutnya pelukis N. Rinaldy akan menularkan ketrampilan membuat origami pada Kamis (10/10) mendatang pukul 15.00. Siapa pun boleh mengikuti acara ini tanpa dipungut biaya. (Ernaningtyas)

Agam, pelukus yg datang langsung dari Aceh, berfoto bersama perupa di depan karyanya “Selendang Kopi Gayo”
Lukisan bunga karya maestro Kartika Affandi, turut meramaikan PSROO
Cinta, siswa TK/Pelukis PSROO terkecil, menampilkan lukisan Yang langsung dibuat di tembok Dalem Jayaningratan.
Tampilan pameran lukisan secara online.
Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *