Menyimak Pameran “Colors of Life”, Warna-warna Misteri Tiga Pelukis

Oleh Rakhmat Supriyono

Warna bukan sekadar elemen estetik, melainkan punya vibrasi tertentu dari perjalanan hidup tiap-tiap seniman. Hal ini bisa disimak pada pameran bertajuk “Colors of Life” yang digelar di Omah Budoyo Yogyakarta, 12 – 30 April 2025.

Setiap manusia normal pasti menyenangi warna dan mempunyai reaksi terhadap warna-warna tertentu karena ada hubungan emosional. Oleh karenanya “Colors of Life” dipilih oleh tiga seniman, yaitu Arita Savitri, Djoko Sardjono, dan Rakhmat Supriyono sebagai tema pameran.

Colors of Life merupakan cerminan warna-warna kehidupan pribadi dari tiga seniman yang memiliki latar belakang berbeda. Arita punya kecenderungan bebas bermain dengan warna apa saja. Sebaliknya Djoko Sardjono, lebih membatasi warna. Sementara Rakhmat tidak terpaku pada warna-warna tertentu, beberapa lukisannya hanya menggunakan gradasi satu warna (monochrome).

Arita Savitri
Arita bersama bunda Yani Saptoyudoyo.

Eksperimen Warna Alam

Arita Savitri kali ini menyuguhkan karya lukisan dan kirigami (ukir kertas). Karya kirigami Arita terdiri dari dua dimensi dan tiga dimensi. Ornamen berupa kertas yang digunting sangat detail dibuat tanpa rancangan sebelumnya. Arita bisa berkarya kirigami sambil ngobrol, sementara gunting kecil itu bergerak cepat seakan punya mata.

Dalam karya lukisnya, Arita cenderung menangkap obyek alam. Ia juga terus bereksperimen dengan zat pewarna. Untaian bunga-bunga diekspresikan menggunakan food colors. Lukisan candi dicoba dengan campuran warna kopi dan bahan perekat. Stupa candi dilukis dengan pewarna alam dari bunga dan daun. Ada kalanya dia mencampurkan berbagai zat pewarna dalam satu lukisan, ini terlihat pada karya berjudul “The Savior”. Selebihnya dia gunakan cat akrilik untuk mengekspresikan emosinya, seperti karya-karya abstrak berjudul “Kekuatan Matra”, “Merajut Kehidupan”, dan “Flower #3”.

Djoko Sardjono

Mengabadikan Sejarah Arsitektur

Latar pendidikan Djoko Sardjono adalah Teknik Sipil. Tak mengherankan jika ia mengagumi bangunan-bangunan bersejarah. Sejak awal melukis, Djoko cenderung tertarik merekam bangunan-bangunan heritage yang banyak dijumpai di Yogyakarta.

Arsitektural Keraton Yogyakarta dan sekitarnya telah banyak menginspirasi dan memberi spirit khusus bagi Djoko. Ada beberapa tempat khusus yang sangat menarik bagi Djoko untuk mengabadikannya ke atas kanvas, antara lain bangunan Keraton, Puri Taman Sari, Jalan Malioboro, Plengkung, dan kawasan Nol Kilometer.

Djoko sangat efisien dalam penggunaan warna. Karya-karyanya didominasi tone kecoklatan dengan aksentuasi warna-warna standar seperti merah, hijau, biru, dan kuning. Dia lebih menyukai warna-warna tipis dengan brush stroke yang ekspresif penuh energi. Melalui karakter goresan tadi, karya lukisnya mengandung kekuatan emosi, narasi, dan sedikit magis.

Rakhmat Supriyono
Rakhmat S dan anak-anak sekolah.

Menangkap Dinamika Gerak

Karya-karya Rakhmat banyak menangkap subyek yang bergerak (movement). Pada pameran kali ini Rakhmat banyak menyajikan gerakan penari, khususnya penari Bali dan Jawa. Selebihnya adalah keceriaan anak-anak bermain bola, balap karung, dan dua anak sekolah berpayung daun pisang saat hujan.

Menurutnya, semua gerakan dapat menciptakan vibrasi dinamis, aktif, dan positif. Dengan melihat gerakan, orang dapat terimbas getaran energi untuk melakukan kegiatan-kegiatan produktif. Gaya lukisan Rakhmat cenderung mendekati realis, namun ia tak bisa menyembunyikan kegemasan emosi, sehingga seringkali muncul goresan-goresan liar yang ekspresif. Dapat dilihat pada karya berjudul “Playing Football” dan “Sack Race”.

Pameran yang diselenggarakan oleh IENA Art & Craft ini dibuka secara resmi oleh Robby Kusumaharta, pebisnis senior dari Kadin Daerah Istimewa Yogyakarta. Tampak hadir beberapa tokoh budayawan, bisnis, pariwisata, dan perhotelan, antara lain Yani Saptohoedoyo, Tazbir Abdullah, Sigit Sugito, Arif Effendi, Rommy Heryanto, Thimotius Apriyanto, dan pengamat seni Hajar Pamadhi. Pameran dibuka setiap hari pada jam 09.00 hingga 17.00, kecuali Senin. (*)

Karya Arita Savitri

“Kekuatan Matra” (80 x 60 cm), acrylic on canvas.
Kirigami, karya Arita Savitri
“Stupa Sunyi” (80 x 60 cm), mixed media.
“The Savior” (80 × 60 cm), mixed media.

Karya Djoko Sardjono

“Jl. Malioboro” (65 × 50 cm), oil on canvas.
“Taman Sari” (65 × 50 cm), oil on canvas.
“Keraton Yogyakarta” (60 × 75 cm), oil on canvas.
“Andong Yogyakarta” (70 × 90 cm), oil on canvas.
“Titik Nol Kilometer” (60 × 75 cm), oil on canvas.

Karya Rakhmat Supriyono

“Playing Football” (60 × 80 cm), acrylic on canvas.
“Sack Racing” (60 x 80 cm)
“Balinese Dancer #1” (40 × 30 cm), acrylic on canvas.
“Balinese Girl Offering” (40 × 30 cm)

Mencari Akar, Menafsir Ingatan Bangsa

SEBUAH perhelatan budaya berupa pameran seni lukis dan juga penampilan orasi budaya pun pembacaan puisi dari sastrawan Melayu kontemporer akan menerbangkan benak tentang sejarah dan warisan kultural bagaimana bangsa Melayu usai Traktat London 1824 antara Inggeris-Belanda.

Relasi puak-kerabat yang dipisahkan oleh kolonialisme dari suku bangsa serumpun antara Kepulauan Riau, Singapura, Johor, Trengganu dan Semenanjung Malaka kenyataanya tetap menggema hingga kini.

Apalagi, sastrawan dan ulama besar Raja Ali Haji dengan karya-karya yang menyejarah memberi bangsa Indonesia berkah luar biasa, terutama karya-karya: Bustanulkatibin (1857) dan Kitab Pengetahuan Bahasa (1859) yang kita ketahui dengan dua kitab itu, yang ikut menjadi cikal- bakal ‘fundamen’ lahirnya bahasa Indonesia ‘yang diadopsi’ dari bahasa Melayu. Seperti yang diungkapkan oleh Ki Hadjar Dewantara dalam Kongres Bahasa Indonesia I di Solo pada tahun 1938 tentang :

“Ijang dinamakan ‘Bahasa Indonesia’ jaitoe bahasa Melajoe jang soenggoehpoen pokoknja berasal dari ‘Melajoe Riau’ akan tetapi jang soedah ditambah, dioebah atau dikoerangi menoeroet keperloean zaman dan alam baharoe, hingga bahasa itoe laloe moedah dipakai oleh rakjat di seloeroeh Indonesia; pembaharoean bahasa Melajoe hingga mendjadi bahasa Indonesia itoe haroes dilakoekan oleh kaoem ahli jang beralam baharoe, ialah alam kebangsaan Indonesia”

Sebagai sebuah ekspresi politik, Bahasa Indonesia terlahir pada Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928. Hal itu, menyebabkan orang Indonesia menyaksikan dirinya dalam cermin sebagai “satu tumpah darah– tanah air, bangsa dan bahasa” yang mengikat-satu dan lainnya dan menjadi imajinasi komunitas terbayang—imagined communities ala sarjana Barat, Ben Anderson tentang paradigma nasionalisme.

Serta yuridis, pada 18 Agustus 1945, bahasa kita itu secara resmi diakui dengan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945 pasal 36 menyebutkan: Bahasa negara ialah Bahasa Indonesia.

Disanalah, konteks sejarah Bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia bersanding, dalam perspektif linguistis, sosiologis, dan yuridis saling terkait secara intim yang tentunya mengalami pembedaan, persamaan maupun perubahan dan kesinambungan dan ditafsirkan ulang saat ini oleh para seniman.

Perhelatan budaya ini, selain peringatan keniscayaan Sumpah Pemuda 2024 juga mengingatkan kita betapa cita-cita substansial di Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 di alinea ke-4, yakni negara, dalam hal ini pengelola negara/ pemimpin bangsa berkewajiban Mencerdaskan Kehidupan Bangsa serta Menjamin Keadilan Sosial.

Sementara, warga negara (masyarakat sipil) memiliki hak membangun secara swadaya makna “Kecerdasan dan Pengetahuan Yang Luas—adalah lelaku merevolusi pemikiran secara nalar dan sipiritual, melalui mental/psikologis pun dalam ranah Kebudayaan.

Maka, helatan Malam Seni dan Budaya “Ke hulu mencari akar, ke hilir ikuti aliran air. Ke Melayu kita belajar, temui Bahasa Indonesia yang terlahir” dengan seluruh partisipan seniman dan sastrawan semacam upaya bersama, layaknya ingatan komunal, bahwa tugas penting sebagai warga negara dan refleksi kritisnya di tahun politik pada pemimpin bangsa yakni: semata-mata menjaga agar marwah Alinea ke-empat Pembukaan UUD 1945 maupun warisan tentang Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan tak lekang dalam ingat.

Seni memang tak semata hanya pembahasan yang dianggap estetis— pencarian tentang makna-makna mendalam tentang yang indah dan memukau, namun ada jejak ingatan yang jelas bahwa elemen etika— yang baik dan benar secara moral, menjadi fundamen dalam penciptaan karya-karya dengan memahami situasi terkini kebangsaan kita.

Acara ini sekaligus sebagai sebuah pernyataan bersama bahwa Keadilan sosial wajib ditegakkan dan sejarah masa lalu, terutama tentang Ke-Melayuan selayaknya tetap dijaga sebagai monumen ingatan bagi bangsa pada perayaan Sumpah Pemuda 2023 ini.

***Bambang Asrini, Koordinator Acara dan Kurator Seni

Hitam Putih Sebagai Metafora

JAYAKARTA NEWS— Pertama kali mengenal gambar, terutama gambar televisi, warna hitam putih dominan menjadi gambar bergerak. Sehingga hitam terlihat tebal tipisnya. Mata kita dapat menguraikan secara detail, kepekatan hitam pada gambar, dengan penempatan gradasi hitam tersebut.

Saat itulah hitam putih pada gambar, merupakan pengejawantahan bentuk. Awal mula menggambar, bentuk dari gambar secara keseluruhan, dibimbing oleh garis hitam, yang membentuk gambar tertentu. Rangkaian garis hitam yang biasanya di atas kertas putih atau kanvas putih, merupakan pengetahuan awal bagaimana bentuk keseluruhan yang akan digambar, dipadukan.

Konsep gambar dengan awalan garis hitam, lalu dipadukan dengan keseluruhan bentuk hingga menyatu dan membuat pengertian gambar tertentu. Baik gambar hewan, gambar wajah orang atau gambar tanaman atau pepohonan. Hal ini merupakan dasar pengetahuan terbentuknya gambar.

Melalui hal di atas, maka memilah gambar, memilih gambar dan membuat gambar, membutuhkan pengetahuan tersendiri. Bagaimana agar gambar dimengerti oleh orang lain? Pelajaran berharga dalam menentukan konsep menggambar, tanpa penentuan gambar yang dimengerti orang. Maka akan muncul pertanyaan, gambar apakah ini?

Itulah kepentingan memasukan dasar pemikiran, orang lain juga harus mengerti apa yang digambar tersebut. Sehingga apa yang dibuat atau apa yang digambar dapat dimengerti. Inilah letak dasar gambar hitam di atas putih menjadi sumber pengetahuan utama terhadap apa yang hendak disampaikan pelukis pada publik yang mengapresiasi karyanya.

Demikianlah dasar pemikiran yang saya gunakan pada pameran kali ini. Bagaimana hitam putih menjadi metafor atas bentuk-bentuk yang telah kita kenal. Kekuatan hitam memberi pengaruh luar biasa dalam mengenal secara keseluruhan bentuk yang kita gambar, bukan hanya garis, tetapi keseluruhan bentuk yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Sebelum ada pengaruh warna lain.***Frigidanto Agung, kurator

Impresi Jagat Cilik dan Jagat Gede

Pameran Tunggal Godod Sutejo

Oleh Rakhmat Supriyono

Memasuki usia 70 tahun, pelukis dekoratif Godod Sutejo menggelar hajat pameran di Gallery & Gomestay Posnya Seni Godod Yogyakarta. Pameran tunggal bertajuk Nandur Ati ini menyajikan 70 lukisan, berlangsung selama 70 hari, dari 12 Januari hingga 23 Maret 2023.

Memasuki tahun baru 2023, karya-karya Godod belum terlihat berubah. Ia masih konsisten mengekspresikan keagungan Sang Pencipta. Korelasi jagat cilik dan jagat gede. Figur-figur manusia digambarkan sangat kecil berada dalam hamparan alam semesta yang kelewat luas. Pada akhir dekade 1970 dan 1980 ia banyak mengekspos pohon-pohon atau ranting-ranting lebur dalam suasana alam yang sepi dan damai, merupakan ungkapan kekaguman terhadap ciptaan Tuhan Yang Maha Indah. Dilukiskan secara dekoratif impresionis.

Godod Sutejo. (foto: rakhmat s)

Dalam dua dasawarsa terakhir, pelukis lulusan STSRI ASRI (ISI Yogyakarta) ini cenderung mengurangi bahkan menghilangkan sama sekali obyek pohon. Sejalan dengan penjelajahan spiritual Godod, karya-karya yang terpajang di galerinya saat ini lebih meminimalisir obyek, menyederhanakan bentuk, dan banyak mengekspos ruang kosong (emptiness) yang tenteram damai dan sepi.

Godod tertarik membidik ritual-ritual tradisional, upacara adat dan religius. Dapat disimak karya-karyanya yang diberi judul Nungging Suryo, Sesaji Pagi, Garis Imajiner, Labuhan Parangtritis, Gereja Kotabaru, Masjid Kotagede, Rindu Kabah, dan Upacara Adat. Kesemuanya disajikan penuh imajinasi dan perenungan spiritual sehingga tampak lengang, kosong, dan impresionistik. Selebihnya adalah konten-konten sosial, potret kehidupan masyarakat tradisional yang unik dan humanis. Lihatlah karya bertajuk Panen Padi, Pesta Pitulasan, Mancing di Laut, Ke Pasar, Penjual Kayu Bakar, dan Main Bola. Diungkapkan dengan warna-warna temaram, sejuk, dan misteri.

Gereja Kotabaru (20 x 20), akrilik di atas kanvas. (foto: rakhmat s)

Satu keunikan yang sekaligus menjadi ciri khas karya Godod adalah, sosok-sosok manusia digambarkan sangat kecil, beraktivitas dalam hamparan ruang mahaluas yang lengang, kosong, nglangut, jauh dari kebisingan. Menikmati karya-karya Godod dalam suasana tenang, pemirsa seakan terbawa pada atmosfer yang serupa: damai, ayem, tenteram, dan sunyi senyap.

Sebagai perupa senior, sosok Godod Sutejo terbilang unik dan memiliki kekuatan khusus. Keseharian Godod diwarnai ritual-ritual Kejawen guna mengasah sensitivitas imajinasi dan mengasah ketajaman rasa. Hampir setiap malam di rumahnya selalu dikunjungi kawan-kawan spiritual dari berbagai kelompok, seperti Hosoko, Kapribaden, dan Hardo Pusoro. Tidak sedikit spiritualis luar kota hadir ke tempat Godod sekadar tukar-kawruh seputar Manunggaling Kawulo-Gusti.

Kepelukisan Godod tak bisa lepas dari ikatan memori masa kecilnya yang tidak lembek. Sejak bayi Godod diasuh oleh kakek Ronggo Tarusarkoro, seorang penari Mangkunegaran Solo dengan pangkat Jajar Ongko Loro. Neneknya bernama Sumani, keturunan trah Banteng Lanang Kediri yang sangat kondang kesaktiannya. Selain dikenal sebagai spiritualis, Eyang Sumani punya kemampuan menyembuhkan luka bakar atau luka akibat terkena api. Dengan sekali usap, luka bakar separah apapun bisa kembali normal.

Kiri: Ke Pasar 1 (60 x 50), akrilik di atas kanvas. Kanan: Pohon Perdamaian (40 x 40 cm), akrilik di atas kanvas. (foto: rakhmat s)

Lingkungan keluarga Jawa yang memiliki kedekatan dengan istana Mangkunegaran Solo telah membentuk Godod Sutejo sebagai pribadi yang lentur, punya watak kesatria yang pantang menyerah, punya greget, berani mengambil risiko dan ora mingkuh. Keterlibatannya dengan ritual-ritual kejawen di masa kecil telah terekam dengan baik di ruang memorinya. Setiap hari Godod kecil menerima gemblengan rasa dari kakek neneknya. Jiwa dan perilaku Jawa sudah nyawiji dengan kesehariannya.

Godod Sutejo lahir di desa Tameng Girikikis Wonogiri, 12 Januari 1953. Anak kedua dari pasangan Siswomiharjo dan Sutihartini. Ayahnya adalah seorang Kepala Sekolah. Namun soal pendidikan karakter, neneknya jauh lebih dominan menanamkan prinsip-prinsip perilaku sosial dan spiritual orang Jawa. Sehari sebelum pameran dibuka, Godod menghelat doa bersama mengundang puluhan tokoh kejawen dari kelompok Hosoko dan Kapribaden. (*)

Sambut Natal dan Tahun Baru, Lima Pelukis Senior Gelar Pameran

Oleh: RAKHMAT SUPRIYONO *)

Rakhmat Supriyono

Menyongsong perayaan Natal dan Tahun Baru 2023, lima pelukis senior tampilkan karya-karya terbaru mereka di “Posnya Seni Godod”, kawasan Suryodiningratan Yogyakarta, 11 hingga 25 Desember 2022. Kelima pelukis tersebut adalah Subroto, Godod Sutejo, Tulus Warsito, Herjaka, dan Hendro Purwoko.

Subroto, dosen senior jurusan Seni Lukis ISI Yogyakarta masih konsisten mengeksploitasi garis-garis minimalis yang spontan dan ekspresif. Pelukis kelahiran Klaten 1946 ini telah menggeluti dunia lukis sejak 1967 dan aktif berpameran di dalam dan luar negeri. Karya-karyanya menunjukkan ketangkasan menangkap subject matter, dituangkan ke kanvas secepat tarikan nafas. Lukisan berjudul Gambar Model (30 x 30 cm) diseslesaikan tak lebih dari sepuluh menit. Tak ada garis yang sia-sia. Subroto sangat efisien dalam penggunaan garis. Selebihnya, dia gunakan warna-warna transparan untuk memberi penekanan pada obyek sembari menggenapi komposisi. Teknik melukis yang menuntut skill tinggi ini sudah dilakoni Subroto selama puluhan tahun. Hasilnya adalah karya-karya lukis yang punya greget, unik, dan berkarakter.

Gambar Model (30 x 30 cm), acrylic, 2022.

Di samping Subroto ada pelukis spiritual Godod Sutejo, seniman ternama yang pernah malang melintang di Pasar Seni Jaya Ancol Jakarta, 1975 – 1990. Godod lahir di Giriwoyo Wonogiri, 1953. Sejak bocah ia diasuh eyangnya yang sangat kental dengan ajaran-ajaran kejawen, termasuk lelaku prihatin sebagai upaya pendekatan diri pada Sang Pencipta. Karya-karya Godod senantiasa merefleksikan keheningan alam semesta. Sosok-sosok manusia digambarkan sangat kecil dalam hamparan ruang kosong yang agung dan tak berbatas. Begitulah cara Godod mengagungkan Tuhan. Manusia adalah makhluk kecil dibandingkan jagat raya. Godod masuk ASRI tahun 1972 – 1977, lulus program Sarjana Muda. Tahun 1979 – 1982 melanjutkan studi jenjang Sarjana di STSRI ASRI (sekarang ISI Yogyakarta). Karya-karyanya tak sekadar goresan kuas, melainkan semacam torehan batin yang dilandasi mantra spiritual. Ada aura magis yang bisa dirasakan getarannya sesuai kadar sensitivitas pemirsa.

Air Terjun Bendung Kayangan (90 x 70 cm), acrylik, 2022.

Berikutnya adalah Tulus Warsito, pelukis yang pernah beberapa tahun tinggal di Amerika untuk mengajar batik dan kegiatan seni rupa. Tulus pernah belajar di STSRI ASRI (ISI Yogyakarta) jurusan Seni Patung. Kepekaan terhadap ruang tiga dimensional terlihat pada karya-karya lukisnya. Tulus Warsito sangat piawai mengelola elemen-elemen visual, terutama permainan bidang, garis, warna, titik, dan tekstur. Salah satu ciri khas dan keunikan karya Tulus adalah cara dia bermain shadow atau efek bayangan. Sesekali ia membuat tipuan optik melalui gradasi warna untuk membentuk kesan lekukan kain atau drapery. Menikmati karya-karya Tulus selalu menyenangkan, karena menawarkan komposisi visual yang dinamis, ritmik yang variatif, dan imajinasi yang unexpected.

Herjaka adalah pelukis yang sudah tidak asing dan cukup dikenal publik. Bergelut dengan kanvas sejak 1975 saat ia mulai belajar melukis secara akademis di SMSR Yogyakarta. Selain sekolah, Herjaka bekerja sebagai ilustrator majalah berbahasa Jawa. Tak jarang ia harus menggambar wayang purwa sebagai ilustrasi majalah. Bentuk-bentuk visual wayang purwa ia pelajari langsung dari beberapa dalang dan pengrajin wayang kulit.

Tangga ke Antah Berantah (90 x 90 cm), acrylik, 2019.

Setelah berproses selama satu dasawarsa, Herjaka melanjutkan studi ke jurusan Seni Rupa IKIP Yogyakarta, 1985 hingga selesai. Ketertarikannya pada wayang tidak surut, bahkan diperkaya lagi dengan narasi tembang macapat yang sarat makna. Pelukis kelahiran 1957 ini mulai tak puas dengan desain wayang purwa yang pipih (unprofil). Muncullah gagasan “liar” untuk mendeformasi wujud visual wayang yang pipih ke gambaran manusia yang volumetris. Tanpa menghilangkan karakter visual wayang. Herjaka melukis obyek wayang tidak dalam setting kelir wayang, melainkan adegan keseharian di taman, hutan, perbukitan, dan di ruang-ruang interior rumah Jawa. Tak jarang Herjaka menyisipkan pesan-pesan tekstual dalam lukisan, berupa pitutur Jawa yang sangat “jero” maknanya.

Gusti, Kula Nyuwun Tamba (60 x 80 cm), cat minyak, 2022.

Last but not least, Hendro Purwoko adalah pelukis kelahiran Jawa Timur, 1954. Kepiawaian menggambar figur manusia membuat kagum teman-temannya di jurusan Desain Interior STSRI ASRI (ISI Yogyakarta). Obyek manusia dan arsitektur perkotaan (cityscape) banyak singgah di kanvasnya. Hendro sangat patuh menjaga proporsi, perspektif, dan anatomi manusia. Latar akademisi sangat melekat pada karya-karyanya. Tak sampai di situ, Hendro menguasai berbagai teknik melukis, dry and wet drawing. Pada pameran kali ini ia menampilkan keduanya, lukisan dengan teknik transparan menggunakan media cat air dan sebagian lagi dengan teknik kering, crayon di kertas.

Belajar dari Anak-anak (50 x 38 cm), crayon on paper.

Tampilnya lima pendekar lukis di arena yang sama ini tentu layak disimak. Tidak saja sebagai hiburan visual, melainkan bisa menjadi inspirasi sekaligus terapi mental setelah sekian lama tersekap Pandemi Covid-19. Pameran bertajuk TOSCA ini diresmikan oleh pelaku budaya Yani Saptohudoyo. Dalam sambutan singkatnya Yani berpesan pada para pelukis agar tetap semangat berkarya, mengembangkan ide-ide kreatif, dan mencari terobosan-terobosan baru yang inovatif. Yani berharap semoga pameran yang sangat istimewa ini dapat diapresiasi masyarakat luas.

*) Rakhmat Supriyono adalah Penulis dan Penyelenggara Pameran.

“Ritus Patembayan” Dulu, Kuliner Kemudian

50 Tahun Teater Alam

JAYAKARTA NEWS –  Mungkin bukan yang terbesar, tetapi Pameran Seni Rupa “Ritus Patembayan” jelas bukan sembarang event. Tak kurang dari 125 pelukis dari Yogyakarta dan kota-kota lain di Indonesia turut serta ambil bagian. Tak hanya itu, lima palukis maestro juga memajang karyanya.

“Fine Art Exhibition” ini berlangsung 14 – 18 November 2022 di Taman Budaya Yogyakarta. “Tema Ritus Patembayan juga memiliki filosofi luhur. Sesuai dengan pemangku hajat, yaitu komunitas Teater Alam yang tengah memperingati ulang tahun yang ke-50. Ulang tahun emas,” ujar Chamit Arang, koordinator event, kepada pers hari ini (13/11).

Ritus Patembayan adalah sebuah upacara yang menyelaraskan suatu kebersamaan dan kegembiraan dalam bentuk wujud syukur kepada Yang Maha Kuasa. “Tidak banyak komunitas teater yang mampu melewati usia setengah abad. Karena itu, kami mensyukurinya dengan multi karya. Pameran ini adalah salah satunya,” tambah Chamit.

Pameran menampilkan karya perupa dari wilayah Yogyakarta dan beberapa kota lain, antara lain dari Solo, Rembang, Pekalongan, Klaten, Magelang, Purworejo, Temanggung, Banten, Kediri, Madiun, Tulungagung, Surabaya, Banyuwangi, dan Bali.

Selain itu, panitia juga mengundang pelukis-pelukis senior untuk menyemarakkan 50 tahun Teater Alam, seperti : Kartika Affandi, Amri Yahya (alm.), Widayat (alm.), Soenarto PR (alm.), Soeharto PR (alm.) dan pelukis senior lainnya.

Fashion dan Kuliner

Di tempat terpisah, Penanggung-jawab Program Pameran-Fashion-Kuliner, Panitia HUT ke-50 Teater Alam, Elizabeth Naning Kartaatmaja mengatakan, selain pameran seni-rupa, juga akan dibarengi sejumlah kegiatan lain yang tak kalah menarik. Di antaranya fashion show dan festival kuliner “Sedut” (Sedulur Teater).

Untuk fashion, selain lomba peragaan busana motif shibori untuk anak, remaja, dan dewasa, juga ada peragaan busana tokoh-tokoh dalam sejumlah lakon teater yang pernah dimainkan Teater Alam. Di antaranya lakon Oedipus, Montserrat, Pusaran (A Streetcar Named Desire), dll.

“Dijamin meriah. Mulai 14 sampai 18 November kami juga mengadakan sejumlah workshop industri kreatif, seperti membatik kaos, melukis batu, shibori, dan lain-lain. Area TBY akan dipenuhi aneka stand kuliner yang sudah kami kurasi untuk kepentingan keberagaman menu dan cita-rasa,” ujar Naning yang dibantu anggota timnya: Rere dan Syam Chandra. (rr)

Pameran Seni Rupa Klangenan Sehati ‘73

JAYAKARTA NEWS – Kebersamaan saat kuliah, dimanifestasikan dalam bentuk Pameran Seni Rupa Bersama “Sehati ‘73”. Bisa dipahami, mengingat para peserta pameran adalah komunitas lulusan Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (STSRI) “ASRI” Yogyakarta, tahun 1973.

Tema pameran pun paralel dengan situasi psikologis yang mereka alami, yakni “Klangenan”. Pameran digelar di Balai Budaya Jl. Gereja Theresia no,17 Jakarta Pusat, dan dibuka pada tanggal 29 Juli 2022 – Pukul 19,00 WIB, dan berakhir 6 Agustus 2022. Hadir para undangan, pemerhati, pecinta (kolektor) karya seni, tokoh seni dan budaya, dan para seniman.

Poppy Dharsono

Acara pembukaan diisi performance kolaborasi dari Dahayu Nusantara dilanjutkan sambutan wakil sehati73 Bambang Gro dan sambutan dari perupa Dik Doank. Sedangkan, acara pembukaan oleh Poppy Dharsono dan penyerahan lukisan tanda terima kasih dari Bowo Subekti kepada Poppy Dharsono, Sugiarto kepada Dik Doank dan Bambang Gro kepada Dahayu Nusantara, dilanjutkan sesi foto bersama.

Sekilas Sehati’73

Kebersamaan saat duduk di bangku kuliah Jurusan Seni Lukis di Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia “ASRI” Yogyakarta tahun 1973, membuat mereka berkumpul kembali dalam jeda waktu 49 tahun. Menjelang akhir dekade 1970 mereka berpisah dan masing masing mempunyai kegiatan dan profesi yang berbeda namun masih dalam koridor “seni”.

Berkarya bersama adalah sebuah kerinduan. Akhirnya pada tahun 2015 mereka dipertemukan dan sepakat untuk mempererat persahabatan dengan kegiatan bersama khususnya seni lukis, dalam satu wadah yaitu pameran “ Klangenan”.

Panitia mengajak para alumni seangkatan 1973 dari jurusan seni Kriya dan Ilustrasi untuk turut berpartisipasi. Panitia pun berharap, pameran itu dapat berkesinambungan ke pameran-pameran berrikutnya dengan mengajak teman-teman alumni yang lain.

Aktivitas itu juga didedikasikan bagi upaya teman-teman seniman seangkatan yang memerlukan dukungan. (rr)

Sejuta Dapat Lukisan Bagus? Cuma di Sini

JAYAKARTA NEWS – Adalah Godod Sutejo, pelukis senior Yogya yang menggelar kegiatan “gila”. Sebanyak 30 pelukis berbagai aliran, diajaknya pameran lukisan sekaligus bursa lukisan dengan catatan harga lukisan maksimal dibandrol Rp 1 juta. Padahal, di antara mereka terdapat nama-nama pelukis ngetop.

“Saya bermaksud memaknai bulan spesial dan kondisi luar biasa dengan tetap berkarya. Dalam konteks semua keistimewaan tadi, faktor harga kami kebelakangkan,” ujar pelukis kelahiran Wonogiri, itu.

Sejumlah keistimewaan ia sebutkan. Pertama, pameran digelar untuk memeriahkan peringatan ulang tahun Kemerdekaan RI ke-77. Kedua, momentum HUT kemerdekaan RI bertepatan jatuh di bulan Suro/Muharram.

Ketiga, pandemi Covid-19. Manusia di seluruh dunia sedang dilanda wabah covid-19 yang belum berakhir. “Pageblug ini adalah peristiwa bersejarah. Siklusnya bisa berbilang abad. Jika kita selamat, itu artinya rahmat. Di tengah keprihatinan itu, manusia diwajibkan tetap ikhtiar,” ujarnya.

Gagasan itulah yang disampaikan kepada rekan-rekan pelukis. Tak kurang 30 pelukis “nyengkuyung” gawe Godod dan menyatakan keikutsertaannya pada Pameran dan Bursa Lukisan yang digelar di Posnya Seni Godod, Suryodiningratan, Mantrijeron, Yogyakarta. Event itu diberinya tajuk Laga Rupa Suro Nusantara.

Catat tanggalnya. Pameran dan bursa lukisan dibuka Selasa Kiwon tanggal 2 Agustus 2022 pukul 01.00 dinihari. Aneh, mungkin. Tapi menurut Godod, penetapan tanggal dan waktu didasarkan pada perhitungan kelender Jawa, paralel dengan pemaknaan bulan Suro. Pameran dan bursa lukisan itu akan ditutup Selasa Kliwon bulan berikutnya, yang jatuh pada 6 September 2022.

Di antara deretan pelukis yang mendukung event ini dapat kita temui Hajar Permadi, Tulus Warsito, Syaiful Adnan, Nanang Widjaya, Hatta Hambali, Ikhman, Nunuk Ribanu, Ledek Sukadi, dan Godod Sutejo. Pameran lukisan di-display di lantai bawah, sementara bursa lukisan ditempatkan di lantai atas.

Satu hal menarik, bursa lukisan dipatok harga maksimal Rp 1 juta. Bagi penikmat lukisan tenti ini kesempatan menarik. Sangat ramah dompet, dengan Rp 1 juta dapat memiliki lukisan-lukisan berkualitas. Sepertinya Godod dan kawan-kawan lebih berniat sedekat lewat lukisan.

Daftar Peserta Pameran

Agus Winarso, Arfial Arsad Hakim, Ari Sugiarto, Dewobroto, Edi Purwanto, Fatkur  Rochman, Godod Sutejo, Hajar Pamadhi, Harsono, Haryadi, Hatta Hambali, Hendro Purwoko, Heri Mujiono, Ikhman, Indarin, Joko Sarjono, Kondang Sugito, Ledek Sukadi, Mahroji, Nanang Wijaya, Naryo, Nunuk Ribanu.

Pebri Valentino, Purwadmadi, Rakhmat S, Ris Maryono, Rujiman, Sabar Jambul, Semi Kaswara, Sumadi, Skren Karya, Sukamto DS, Sukaptianto, Sumaji Madura, Supri Cemen, Suradi PW, Syaiful Adnan, Teguh Suwarto, Totok Buchori, Trimakno, Tulus Warsito, Ukaptianto, Yarno, Yulianto, Yusuf Santoso. (rr)

Sohieb Toyaroja Pameran “Kebo Iwa”

JAYAKARTA NEWS— Pelukis Sohieb Toyaroja kembali menggelar pameran tunggal. Kali ini, pameran bertajuk “Kebo Iwa: Sukma Suci Nusantara” digelar di Gallery Kunstkring, Menteng Jakarta Pusat, 14 – 28 Juli 2022. Sebuah pameran yang mengangkat dimensi spiritual tertinggi terwujudnya Sumpah Palapa Patih Gajah Mada.

“Tanpa pengorbanan Kebo Iwa bisa jadi tidak ada Nusantara. Dengan kata lain, berkat pengorbanan Kebo Iwa maka lahir Nusantara, yang kemudian menjadi inspirasi pejuang kita mendirikan NKRI,” ujar pelukis kelahiran Kediri, tahun 1968 itu.

Alkisah, Maha Patih Gajah Mada mengumandangkan Sumpah Palapa dengan misi suci penyatuan Nusantara. Saat itu Kerajaan Majapahit di bawah kendali Ratu Tribhuwana Tunggadewi. Kerajaan Bedahulu (Bali) dengan Maha Patih Kebo Iwa, adalah salah satu yang harus ditaklukkan.

Bukan sekali dua prajurit Majapahit mencoba menaklukkan Kebo Iwa, baik dengan cara ksatria ataupun nista. Perang tanding Kebo Iwa dan Gajah Mada melewati batas siang dan malam. Sama digdaya.

Di tengah napas yang terengah, bertanyalah Kebo Iwa kepada Gajah Mada, mengapa harus ada sengketa. Mengapa harus saling mencabut nyawa. Diwartakanlah ihwal Sumpah Palapa. Ihwal sumpahnya untuk menyatukan Nusantara. Hanya dengan merajut persatuan, antar-nusa akan tercipta Nusantara yang tenteram dan sentosa.

Kebo Iwa menerimanya sebagai sumpah mulia. Bahkan ia pun rela jika nyawa harus pisah dari raga. Kebo Iwa menunjukkan di mana letak pintu sukmanya. Patih Gajah Mada membunuh Kebo Iwa tidak dengan jumawa. Gajah Mada tahu, Kebo Iwa mati bukan karena kalah, tapi rela mati demi terwujudnya Sumpah Palapa.

Sukma suci Kebo Iwa pun moksa ke swarga loka. Sumpah Palapa Gajah Mada, menjadi paripurna dengan pengorbanan Kebo Iwa. Nilai-nilai pengorbanan dan kepahlawanan Kebo Iwa mengusik “kreativitas-batin” pelukis Sohieb Toyaroja, dan menjadikannya sebagai ide besar penciptaan karya. Persembahan Pameran Lukisan “Kebo Iwa, Sukma Suci Nusantara” adalah upaya menguak sisi terdalam lahirnya Nusantara sebagai inspirasi kepada anak bangsa.

Sohieb dikenal sebagai pelukis dengan ciri khas sapuan palet yang ekspresif. Ia banyak menggelar pameran tunggal dengan tema-tema sejarah dan spiritual. Tahun 2016 misalnya, ia menggelar pameran tunggal “Spitirual Journey” di Kunstkring. Setahun berikutnya, 2017, pameran fenomenal digelar memperingati 72 tahun kemerdekaan Indonesia. Pameran itu diberinya tajuk “72 Tokoh Indonesia & 7 Presiden RI” di Epiwalk Epicentrum, Kuningan – Jakarta.

Tahun 2021, ia bahkan dinobatkan banyak kalangan sebagai “pelukis Semar”, berkat pameran tunggalnya “Semar Ngruwat Jagad”, di Kunstkring Galleri, dan Jogja Gallery. Di luar itu semua, ia juga mengelola Bellevue Art Space, di Cinere, Kota Depok.

Kembali ke tema pameran “Kebo Iwa”, Sohieb menyebutnya sebagai sebuah “panggilan jiwa”. Pengalamannya mukim di Bali pada satu periode kehidupannya, membuat ia merasa dekat dengan sosok Maha Patih Kerajaan Bedahulu (Abad ke-8 sampai Abad ke-14). “Bangsa ini harus mengingat peran besar Kebo Iwa dalam sejarah terwujudnya Nusantara, sebagai cikal-bakal NKRI,” ujarnya.

Kisah Kebo Iwa dan Gajah Mada ini menjadi warisan budaya Indonesia agar dipahami kemudian dilestarikan oleh generasi penerus bangsa. Sohieb bahkan melemparkan gagasan pembangunan Museum Kebo Iwa di Bali. “Saya akan menyampaikan gagasan tersebut. Semoga melalui pameran ini, jalan menuju pembangunan Museum Kebo Iwa bisa terwujud,” tekad Sohieb Toyaroja.***din