“Ngombe Banyu Udan Ben Ra Edan”

 “Ngombe Banyu Udan Ben Ra Edan”

Setiap Sabtu, pendapa sekolah Air Hujan Banyu Bening dipenuhi “murid”, meluber sampai ke teras. (foto: ernaningtyas)

Jayakarta News – Di musim kemarau bencana kekeringan melanda. Di musim hujan musibah banjir menerpa. Dua petaka itu seperti tak pernah berhenti di banyak tempat di Indonesia. Sekolah air Hujan Banyu Bening mengajak para “murid” belajar mengelola sekaligus memanfaatkan air hujan. Cara itu mendukung ketersediaan air kapan pun, sekaligus mengurangi risiko banjir di musim penghujan. Tak hanya itu. Air hujan berfungsi pula untuk kesehatan.

“Gak usah kita ribut kekeringan saat kemarau atau kebanjiran di kala musim penghujan. Sekarang ini, ayo kita ciptakan masyarakat mandiri air dengan mengelola dan memanfaatkan air hujan. Air hujan inilah solusi air untuk masa depan kita,” kata Sri Wahyuningsih S.Ag, Ketua Komunitas Banyu Bening.

Komunitas ini adalah sekolah informal pertama di Indonesia yang mempelajari seluk beluk air hujan secara mendalam. Ning, demikian sapaan akrab Sri Wahyuningsih, mengundang siapa saja datang ke Banyu Bening yang terletak di Tempursari, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman DIY untuk menimba ilmu air hujan setiap Sabtu pagi, atau merasakan minum air hujan kapan saja, 24 jam sehari tujuh hari seminggu. 

“Saya mengajak semua yang ada di sini menjadi agen perubahan untuk memanfaatkan air hujan,” kata Ning berapi-api di depan lima puluhan “murid” Sekolah Banyu Bening, Sabtu (16/11) lalu.  Mereka tidak hanya datang dari Sleman, Yogyakarta atau seputaran DIY tetapi juga dari kota lain seperti Kebumen, Sragen, Wonogiri dan yang paling jauh Jakarta. Rupa-rupa motivasi kedatangan mereka, mulai dari niat menimba ilmu sampai mencari solusi untuk mengatasi penyakit. 

Sri Wahyuningsih S Ag. Memberikan materi di depan “murid” Sekolah Air Hujan Banyu Bening. (foto: ernaningtyas)
Aminudin, penderita gagal ginjal bersama alat elektrolisa pemisah air hujan basa dan asam. (foto: ernaningtyas)

Ning mengakui, ia paling gampang mengajak masyarakat memanfaatkan air hujan melalui pintu masuk memanfaatkan air hujan bagi kesehatan. Saat membawakan materinya, ia banyak mengutip ayat-ayat kitab suci yang berbicara tentang air pada umumnya dan air hujan pada khususnya.   Sarjana Agama yang pernah belajar perbandingan ilmu agama ini fasih membedah filosofi air hujan dari sudut pandang ayat-ayat terkait pada semua kitab suci. “Tubuh kita ini tujuhpuluh persen terdiri dari air, kalau ada masalah, air juga yang menjadi solusi. Air hujan ini air dewa, air surga. Ayo kita manfaatkan untuk hidup kita,” ajak Ning.

Salah seorang yang telah memanfaatkan air hujan untuk kesehatan adalah Aminudin. Telah sebulan guru sekolah SMP Negeri di Bantul Yogyakarta ini mengkonsumsi air hujan. Ia menderita gagal ginjal, dua kali seminggu menjalani cuci darah. “Sangat mudah badan saya lemas, dan saya tak mampu melihat sinar terang di siang bolong. Setelah mengkonsumsi air hujan, badan saya lebih fit dan yang penting saya mampu menatap siang hari yang benderang,” cerita Aminudin.

Cuci darah tetap ia lakukan, sementara obat-obatan setop ia konsumsi. Aminudin mendapatkan informasi tentang Banyu Bening dari kerabatnya. Sudah beberapa kali dirinya mengambil air hujan di Banyu Bening. Tak sekadar membawa botol. Aminuddin mengusung air hujan dengan galon air mineral, tak hanya sebuah, tapi beberapa wadah. 

Aminudin tidak sendirian. Seabrek pasien dengan aneka rupa penyakit masing-masing, merasakan perbaikan kondisi tubuh setelah mengkonsumsi air hujan. Menurut cerita Ning, seorang penderita HIV datang ke Banyu Bening dengan berat badan 35 kilogram. Setelah rutin mengkosumsi air hujan, tubuhnya kian bugar dan kini beratnya bertambah menjadi limapuluhan kilogram lebih.

Masyarakat mengambil air hujan Di Komunitas Banyu Bening. Tempat Ini tak berpintu, 24 jam siap berbagi air hujan. (foto: ernaningtyas)

Sederhana saja logika yang menjelaskan bahwa air hujan itu membantu menyehatkan tubuh.  Molekul air hujan lebih lembut dibanding air tanah. Ia mampu masuk ke dalam sel-sel tubuh untuk menyalurkan nutrisi. Keluar dari sel tubuh, air itu mengusung residu atau kotoran penyebab penyakit. Bila dikonsumsi rutin, proses pembersihan sel itu tak akan berhenti.

Pada akhirnya, kebugaran mampu diraih para peminum air hujan. Ning menginformasikan bahwa di awal-awal minum air hujan, ada proses pembersihan. Misalnya bila ada gangguan di saluran pernafasan, setelah mengkonsumsi air hujan, orang akan pilek. “Pada kasus ini, pilek muncul bukan karena sakit, tetapi proses pembersihan tubuh dari tumpukan lendir yang menempel di saluran pernapasan,” imbuhnya. Rupa-rupa proses pembersihan itu, misalnya mengantuk, mual, dll.

Di akhir penyampaian materinya, Ning mengajak peserta sekolah air hujan membaca keras-keras tulisan dengan ukuran huruf raksasa yang tertera di layar: “Ngombe banyu udan ben ra edan” (Minum air hujan agar tidak gila).   

Toren penampung air hujan Di rumah warga dusun Tempursari Sardonoharjo Ngaglik Sleman DIY. (foto: ernaningtyas)

Tampung, Saring, Manfaatkan!

Toren-toren air berwarna oranye berdiri mencolok di belakang atau samping rumah-rumah warga seputaran Sekolah Banyu Bening. Ada dua paralon berdiameter besar menancap di bagian atapnya.  Sebuah menghubungkan toren dengan talang atap rumah. Saluran ini bertugas mengalirkan air hujan ke dalam toren. Sebuah yang lain menghubungkan toren dengan tanah. 

Paralon ini berfungsi menyalurkan luapan air dari toren masuk ke dalam resapan, atau sumur air. Lewat cara ini, debit air sumur tak menurun di musim kemarau dan kelembaban tanah tetap terjaga. Sebuah keran dipasang disamping bawah. Fungsinya untuk memanen air hujan. Elektrolisa (penyetruman) air yang berlangsung di kotak-kotak plastik putih transparan adalah langkah berikutnya. 

Proses ini menghasilkan dua jenis air hujan, asam dan basa. Air basa inilah yang siap dikonsumsi. Air asam, diproses lebih lanjut untuk keperluan penting lainnya, salah satunya sebagai bahan pembuat pupuk tanaman.

Setidaknya, yang tersapu pandang, ada empat toren besar penampungan air hujan tampak dari depan Sekolah Banyu Bening. Sebuah di halaman pendapa Sekolah Banyu Bening, tiga lainnya di rumah warga termasuk kediaman Ning. Dari penampungan inilah Komunitas Banyu Bening memanen air hujan. Siapa pun boleh memanfaatkannya. 

Udin bersama sang istri Sri Wahyuningsih membesarkan Komunitas Banyu Bening. (foto: ernaningtyas)

“Kami mendapatkan air hujan ini gratis, karena itu siapapun boleh memanfaatkannya, gratis,” tutur Ning, penggagas Komunitas Banyu Bening yang diresmikan tanggal 9 September 2019 lalu.  Pengadaan toren-toren itu adalah hasil kerjasama dengan berbagai instansi antara lain BNPB dan UGM. Penampungan semacam ini sudah dilengkapi proses penyaringan berlapis. Tak perlu menunggu waktu, kapanpun hujan tiba, air bisa ditampung.  

“Ayo, mulai sekarang, tampung, saring dan mafaatkan air hujan,” ajak Ning. Ia mengutarakan bahwa menampung air hujan bisa dilakukan dengan banyak cara. Tips yang paling sederhana menggunakan panci, ember atau bejana apa saja. Air yang ditampung bukan hujan pertama. Yang paling bagus adalah hujan dengan intensitas tinggi dan berpetir.

Agar mendapatkan air yang lebih bersih, proses penampungan dilakukan 15 menit setelah turun hujan. Waktu 15 menit itu cukup untuk membersihkan debu dan kotoran lainnya yang ada di atap rumah. Sebelum dikonsumsi, air hujan hasil panen manual ini disaring menggunakan bahan apa saja yang ada, misalnya kaos bersih. Penyaringan ini penting untuk menghilangkan debu halus dan mengurangi kadar mineral.

“Air hujan siap dikosumsi, tak perlu direbus terlebih dahulu,” tambah Ning. Proses elektrolisa dilakukan untuk lebih memisahkan antara air yang benar-benar bagus untuk dikosumsi. Tetapi tanpa elektrolisa pun air hujan aman dikonsumsi. 

Selama ini, memanfaatkan air hujan untuk kehidupan langka dilakukan masyakarat. Ada mitos yang salah kaprah beredar di masyarakat bahwa air hujan itu buruk. Salah satunya adalah mandi air hujan menyebabkan sakit, masuk angin atau batuk pilek. “Bukan air hujan yang menyebabkan sakit, tetapi tubuh yang tidak fit itulah yang rentan terserang penyakit. Kok hujannya yang disalahkan,” tandas Ning. Alasan lain air hujan itu kotor, asam dan sebagainya.

Ning menegaskan, justru air hujan itu paling bersih dibanding air lainnya. Ia turun dari atas, tidak tercemar kotoran. Debu-debu halus dan kelebihan mineral, bisa dibersihkan lewat proses penyaringan paling sederhana, menggunakan kaos atau kain apapun asal bersih. 

“Bandingkan dengan air tanah. Bangkai, diterjen, kotoran manusia, semua dimasukkan ke dalam tanah. Sangat mudah aneka kotoran itu meresap ke dalam air tanah yang saling terhubung dari satu tempat ke tempat lainnya. Kok bangga ya minum air tanah,” tandas Ning yang membesarkan Banyu Bening bersama sang suami, Udin. 

Kini Banyu Bening telah memiliki jaringan luas dengan berbagai komunitas dan instansi di seluruh Indonesia. Bersama mereka bahu membahu mempopulerkan air hujan untuk kehidupan. Tak hanya sekedar memenuhi kebutuhan air konsumsi, tetapi untuk tujuan yang lebih besar: menyelamatkan negeri ini dari bencana banjir, kekeringan sekaligus merawat bumi demi masa depan anak cucu. (Ernaningtyas)

Selain menimba ilmu, mendapatkan air hujan, para “murid” Sekolah Air Hujan Banyu Bening menikmati suguhan makan siang dengan menu tradisiona, sayur lodehl. Semuanya gratis. (foto: ernaningtyas)
Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *