Konsep Diplomasi, Promosi, dan Edukasi ala KBRI Cairo

 Konsep Diplomasi, Promosi, dan Edukasi ala KBRI Cairo

Rektor Universitas Mansoura Ashraf Abdel-Baset memainkan angklung bersama para pimpinan universitas dan pejabat KBRI Cairo, menandai pembukaan festival. (foto: KBRI Cairo)

JAYAKARTA NEWS – KBRI Cairo semakin gencar dan intens memperkuat hubungan bilateral di Mesir, di antaranya melalui Festival Budaya Indonesia di kampus Universitas Mansoura Mesir pada hari Selasa, 15 Desember 2020.

Dikemas dengan konsep ‘paket komplet’ festival budaya kali ini bertujuan untuk mempromosikan kebudayaan, pendidikan, perdagangan, politik, dan ekonomi Indonesia kepada masyarakat Mesir.

Disebut paket komplet karena festival budaya kali ini dirangkai dengan konsep three in one: diplomasi, promosi, dan edukasi. Diplomasi budaya diwujudkan melalui penampilan seni budaya yang meliputi tari saman, tari piring, tari Bali, tari Asmaradana, puisi bahasa Indonesia, dan pencak silat. Para pemain yang tampil adalah warga Mesir yang belajar seni dan bahasa Indonesia di Pusat Kebudayaan Indonesia (PUSKIN) Cairo.

Sementara itu promosi dikemas dalam acara pameran produk kerajinan tangan dan perdagangan Indonesia. Konsep edukasi diwujudkan melalui talk show yang mengangkat tema-tema kebudayaan, pariwisata, pendidikan, politik dan ekonomi di Indonesa. Materi talk show disampaikan oleh para Koordinator Fungsi Pensosbud, Politik, Ekonomi, serta Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Cairo.

Acara dibuka Rektor Universitas Mansoura Ashraf Abdel-Baset dengan memainkan angklung bersama para pimpinan universitas dan pejabat KBRI Cairo. Pimpinan, dosen dan mahasiswa Universitas Mansoura sangat antusias mengikuti rentetan acara festival tersebut. Hal ini terbukti dengan membludaknya peserta di Auditorium Abdul Fattah Hasan dan taman Fakultas Hukum Universitas Mansoura. Dengan tetap menerapkan protokol kesehatan Covid-19, auditorium dengan kapasitas 600 orang tersebut terisi penuh oleh para mahasiswa dan dosen.

Suasana Festival Budaya Indonesia di kampus Universitas Mansoura Mesir. (foto: KBRI Cairo)

Kepala Perwakilan atau KUAI KBRI Cairo M Aji Surya dalam sambutannya mengatakan acara ini adalah cermin kekayaan budaya Indonesia. Indonesia terletak di Asia Tenggara, terdiri dari 17.000 pulau, memiliki lebih dari 300 suku bangsa, lebih dari 600 bahasa daerah, dan setiap suku memiliki seni budaya masing-masing.

Keragaman tersebut, tambahnya, menunjukkan bangsa Indonesia sebagai masyarakat multikultural hidup damai, harmonis, dan toleran yang dirangkai dalam prinsip Bhineka Tungga Eka. Keragaman itu indah dan keragaman itu berkah. Oleh karena itu kami merasa perlu terus menerus mengenalkan Indonesia baik dari sisi budaya, pariwisata, politik dan pendidikan kepda masyarakat Mesir, khususnya kalangan mahasiswa.

“Festival budaya Indonesia ini bukan merupakan tujuan dari misi diplomasi kami, tetapi merupakan instrumen untuk mewujudkan mimpi kita bersama, yaitu misi kemanusian yang penuh dengan  kedamaian, keharmonisan, toleransi, dan saling menghormati. Unity in diversity,” ucap M. Aji Surya seraya menyampaikan terimakasih kepada Rektor Universitas Mansoura yang telah bekerja sama dengan KBRI Cairo.

Rektor Ashraf-Baset berfoto bersama pimpinan universitas, staf KBRI Cairo dan pengisi acara budaya. (foto: KBRI Cairo)

Sementara itu Ashraf Abdel-Baset Rektor Universitas Mansoura menyambut baik acara festival ini sebagai bentuk kerja sama antara universitas dan Pemerintah Indonesia. Melalui kegiatan ini, selain untuk mengenalkan budaya Indonesia, diharapkan dapat menarik minat masyarakat Indonesia untuk belajar di Universitas Mansoura.

“Jika selama ini mayoritas mahasiswa Indonesia yang kuliah di Mesir memilih Universitas Al-Azhar, saya berharap pada masa mendatang ada yang kuliah di Universitas Mansoura”, ucap Rektor seraya menambahkan posisi universitas yang terletak di tepi timur Sungai Nil, sekitar 120 km barat laut Kairo ini termasuk 500 universitas terbaik dunia.

Secara terpisah Bambang Suryadi Atdikbud KBRI Cairo menjelaskan saat ini terdapat 1.802 warga Mesir yang belajar Bahasa Indonesia di tiga tempat, yaitu Pusat Kebudayaan Indonesia (PUSKIN) di Cairo, Universitas Al-Azhar, dan Pusat Studi Indonesia di Universitas Canal Suez, Ismailia. Selain itu, terdapat 1.600 warga Mesir yang belajar seni bela diri pencak silat.

“Angka ini menunjukkan bahwa Indonesia dan Mesir memiliki hubungan biletaral yang sangat erat dalam bidang pendidikan, kebudayaan, ekonomi, politik dan perdagangan. Hubungan ini perlu dijaga dan ditingkatkan, salah satunya melalui Festival Budaya Indonesia yang kita laksanakan hari ini”, ucap Bambang seraya mengucapkan terimakasih kepada pihak Indomie Cabang Mesir yang telah bersedia menjadi sponsor dalam acara tersebut.

Aya Yahya, salah seorang mahasiswi yang turut serta dalam festival tersebut mengungkapkan rasa takjubnya terhadap kekayaan kebudayaan Indonesia. “Saya bangga bisa menghadiri acara ini. Saya mendapatkan banyak informasi secara langsung tentang Indonesia dan bisa menyaksikan budaya Indonesia. Saya berharap suatu saat bisa berkunjung ke Indonesa”, imbuhnya.

Sementara itu, Fatimah Jamal Abdel Dayem warga Mesir yang menjadi Master of Ceremony (MC) juga merasa bersyukur bisa terlibat dalam festival budaya ini. “Sebagai warga Mesir, saya bangga bisa memandu acara festival budaya dengan bahasa Indonesia. Terimakasih kepada PUSKIN yang telah mengajarkan bahasa Indonesia”, ucap lulusan Universitas Al-Azhar tersebut. (*/rr)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *