Kisah-Kisah Pilu Para Korban Tsunami Selat Sunda

 Kisah-Kisah Pilu Para Korban Tsunami Selat Sunda

Tim gabungan dari TNI (Yon Mandala Yudha Kostrad), Polri, Basarnas, BPBD, Pemda, Tagana, dan relawan terus melakukan penanganan darurat di di Kec. Sumur Pandeglang. Belum semua desa dapat dijangkau dan tertangani baik karena akses jalan rusak. Bantuan terus didatangkan—foto sutopo twitter/bnpb

Tim gabungan dari TNI (Yon Mandala Yudha Kostrad), Polri, Basarnas, BPBD, Pemda, Tagana, dan relawan terus melakukan penanganan darurat di di Kec. Sumur Pandeglang. Belum semua desa dapat dijangkau dan tertangani baik karena akses jalan rusak. Bantuan terus didatangkan—foto sutopo twitter/bnpb

Aneka kisah pilu diceritakan para korban juga keluarga korban tsunami Selat Sunda. Salah satunya adalah Dewi Mariani (22) yang kehilangan  saudaranya juga sang nenek yang meninggal. Begitu juga kisah Abdul Rakim (45), pegawai Kemenpora yang berada di sana karena ada gathering kantornya. Dari kejauhan dia menyaksikan Gunung Anak Kerakatau sudah memerah, lalu tiba-tiba mati lampu dan datanglah bencana itu.

Kisah-kisah ini didapat Ma’ruf Amin saat berkunjung ke RSUD Berkah Pandeglang, Selasa (25/12). Ma’ruf mengunjungi para korban dan keluarganya yang sedang menjalani perawatan akibat tsunami Selat Sunda. Dalam kesempatan itu pada korban juga keluarganya berbagi cerita seputar kejadian tersebut.

Dewi Mariani (22), misalnya, menceritakan bagaimana saudara tirinya, Tirman (16) terseret air dari bibir pantai di Kampung Sumur, Pandeglang, sampai ke jalan raya.  “Ini terseret dari bibir pantai sampai jalan raya. Pas sadar dia sudah di jalan raya. Kalau adiknya nemu bambu, dipegangnya bambu itu,” cerita Dewi ke Ma’ruf .

Dewi pun masih kehilangan dua sanak saudaranya lagi. Sedangkan neneknya yang bersama Tirman, meninggal. “Neneknya meninggal,” ungkap Dewi.

Sementara itu, korban lainnya, Abdul Rakim (45) merupakan pegawai Kemenpora yang tinggal di Bekasi, juga menceritakan bagaimana kejadian yang dialaminya, saat berada di gathering kantornya. “Habis makan malam ada acara debus. Tapi emang kelihatan dari jauh Krakatau udah merah. Enggak ada peringatan, tiba-tiba mati lampu, (kemudian) ombak tinggi. Kaki kena kayu,” tutur Abdul.

Mendengar dan melihat kondisi korban, Ma’ruf Amin yang hadir bersama istrinya, langsung mendoakan mereka. Dirinya pun berharap diberikan kesembuhan.  “Alhamdulillah masih diselamatkan. Cepat sembuh,” kata Ma’ruf kemudian mendoakan.

Dia mengatakan, menengok para korban lantaran merasa menjadi bagian masyarakat Banten, yang juga turut prihatin dan sedih dengan bencana tsunami ini. “Saya merasa apa yang mereka rasakan, kami juga rasakan. Kebetulan saya dari Banten, jadi merasa mereka adalah saudara-saudara kami sekampung, se daerah. Keprihatinan kami sangat mendalam, makanya hari ini kami menengok dan melihat,” jelas Ma’ruf.

Dia pun tak lupa mengucapkan terima kasih kepada para petugas yang ikut membantu dan menyelamatkan para korban. “Terima kasih kepada para petugas yang menyelamatkan mereka dan merawat mereka,” tutupnya.***/ebn

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *