Dari Tradisi Magi sampai Kiamat Hati

 Dari Tradisi Magi sampai Kiamat Hati
Pembicara bedah buku “Trilogi Teater Alam”, dari kiri: Bambang J. Prasetya, Roso Daras, Prof Dr Yudiaryani MA, dan Latief Nugraha (moderator). (foto: bambang wartoyo)

Menyongsong ulang tahun ke-47, pada 4 Januari 2019, Teater Alam Yogyakarta melakukan serangkaian kegiatan. Selain mementaskan lakon Montserrat (Emmanuel Robles), di Concert Hall, Taman Budaya Yogyakarta 8 Desember lalu, juga menerbitkan buku “Trilogi Teater Alam”.

Minggu, 23 Desember kemarin, sebelum launching buku yang sedia dilaksanakan 3 Januari 2019, “Trilogi Teater Alam” dibedah di Amphi Teater, Taman Budaya Yogyakarta. Ajang bedah buku kemudian menjadi ajang presentasi terkait konten ketiga buku itu oleh tiga anggota Teater Alam.

Prof Dr Yudiaryani, MA membedah buku kedua, “Teater Alam di Panggung Zaman”. Anggota Teater Alam yang saat ini menjabat Dekan Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta itu mengurai isi buku yang bertutur mengenai sejarah teater dunia, sejarah teater modern Indonesia, riwayat teater modern di Yogyakarta, hingga posisi Teater Alam di panggung zaman.

Prof Yudi menguak riwayat teater dari zaman sebelum Masehi, hingga berbagai unsur yang menjadi cikal-bakal teater. Misal, tarian topeng, magi, dan upacara pemujaan. “Teater adalah seni paling luas dan paling kuno. Sebab, menurut ukuran kebudayaan, seluruh ras di setiap benua saat ini tidak ada yang tidak mementaskan drama yang terkait dengan magi dan tiruan. Manusia sekarang menirukan apa yang dilakukan manusia sejak masa yang tidak dapat diingat lagi, kapan,” paparnya.

Pendiri dan pimpinan Teater Alam, Azwar AN (kiri) menyimak acara bedah buku Trilogi Teater Alam. (foto: Erna Azmita AN)

Sedangkan, anggota Teater Alam lain, Roso Daras, kebagian mempresentasikan buku ke-1, berjudul “Azwar AN, Manusia Teater”. Azwar AN senyam-senyum saja sambil memperhatikan dirinya “ditelanjangi” oleh Roso Daras. Buku berisi riwayat Azwar dengan segala kebengalan masa kecilnya di Kampung Sawah, Lampung, hingga akhirnya hijrah ke Yogyakarta. Ia tukang berkelahi, kepala geng, sekaligus pernah melakoni tugas mencari nafkah untuk keluarga, saat ayahnya sakit cukup lama. Jadilah Azwar AN berjualan kopi, berjualan telor, berjualan minyak angin, balsem dan lain-lain, agar asap di dapur ibunya tetap mengepul.

Masa-masa pacaran (kemudian menikah) dengan Tietiek Suharti yang asal Telukbetung, dilukiskan dalam roman autobiografi berjudul “Cinta di Santo Xaverius”. Unik memang, karena awalnya, Azwar jumpa Titiek justru ketika sedang ‘apel’ pacarnya yang satu asrama dengan Tietiek di Sekolah Kepandaian Putri (SKP) Santo Xaverius, Magelang. Di Santo Xaverius itulah cinta Azwar berpindah, dari pacar pertamanya ke Titiek.

Lalu, dua judul selanjutnya yang bisa dibilang mewakili keseluruhan hidup Azwar AN dan Teater Alamnya adalah “Legenda Sawojajar” dan “Kiamat Hati di Wirokerten”. Jalan Sawojajar 25 adalah kediaman sekaligus markas Teater Alam, yang mencatat begitu banyak romantika kehidupan Azwar dan keluarga, termasuk romantika hidup cantrik-cantriknya.

Kepindahannya ke Wirokerten, Kotagede, kemudian mencatatkan sebuah “kiamat hati”, manakala Titiek istrinya meninggal dunia, setelah cukup lama mengidap darah tinggi dan terserang stroke. Untuk sekian lama, Azwar tidak tega hati untuk menziarahi nisan Titiek, yang hanya berjarak beberapa ratus meter di pemakaman belakang rumah. Yang ia lakukan sekian lama adalah duduk berlama-lama di serambi belakang, dan menatap kosong ke arah pemakaman, di mana jazad istri tercinta terbaring tenang.

Adalah waktu, yang kemudian meredam kiamat hati Azwar AN dan meneguhkan cinta platonis keduanya. Kini, hampir tiada hari ia lalui tanpa menziarahi nisan sang istri. Di deret hadirin pada acara bedah buku itu, tampak putra kedua Azwar AN, Nana (Erna Azmita AN), tak kuasa membendung air mata demi mengingat peristiwa yang begitu menyayat, ditinggal mama yang penuh cinta untuk suami, anak-anak, dan cucu-cucu.

Anggota Teater Alam, komunitas teater di Yogyakarta, mahasiswa dan masyarakat yang hadir pada acara bedah buku Trilogi Teater Alam, di Amphi Teater, TBY. (foto: bambang wartoyo)

Giliran ketiga, Bambang J. Prasetya, anggota Teater Alam lain yang membedah buku ketiga, “Potret Teater Alam, Warna-warni Testimoni”. Buku ini berisi kesan-kesan dan pengalaman-pengalaman para anggota Teater Alam selama menjadi anak didik Azwar AN. Ada getir, ada canda, ada gurau, ada cinta, ada gemblengan, dan banyak hal absurd yang dituang, menjadi serangkaian testimoni aneka warna.

Jamilan, misalnya… terkesan pada satu periode, di saat Teater Alam memberlakukan “larangan memaki” (misuh). Bahkan, siapa kedapatan “misuh” didenda Rp 100 (seratus rupiah). Sehari-dua hari tidak ada makian, sumpah-serapah, caci-maki, pisuhan di sanggar. Ya, hanya sehari-dua, karena selanjutnya mulai banyak yang keceplosan misuh, dan akhirnya kena denda.

Seorang anggota Teater Alam yang kedapatan “misuh”, dua kali pula, kontan didenda Rp 200. Yang ia lakukan adalah merogoh saku, dan mengeluarkan mata uang lima-ratus-rupiah. Ketika hendak diberi uang kembalian Rp 300, ia menolak. “Ra sah… digenepi wae…. tak misuh ping telu meneh….” (Tidak usah, dibulatkan saja…. saya memaki tiga kali lagi….). Dua kali memaki, jelang makian ketiga, ia bertanya, “Ayo… siapa yang mau saya pisuhi?” Jamilan dengan entengnya tunjuk jari…., maka ia pun segera didekati dan mendapat pelunasan makian sore hari itu… “Mu….nyuuuk!” (Monyet)……

Anggota Teater Alam yang kini jadi lawyer, Papang Sapari punya kesan tersendiri ketika berbulan-bulan datang ke sanggar dan tidak diajak bicara. Ia hanya disuruh menyapu halaman, mengisi bak mandi, dan menyiram tanaman. Satu-satunya kalimat Azwar AN yang keluar setelah tiga bulan melakukan kegiatan itu adalah, “Tanaman jangan cuma disiram…. ajak bicara!” Berkata begitu pun dari balik jendela, lalu menghilang. Jadilah Papang mulai mengajak bicara daun-daun, merayu bunga-bunga…..

Bambang J. Prasetya menambahkan, buku ketiga “Potret Teater Alam, Warna-warni Testimoni” disusun secara alphabetic. Dari yang pertama Agus Leyloor (saat ini dosen di ISI Yogyakarta), hingga yang terakhir Yudhistira ANM Massardi. Nama-nama lain seperti Seno Gumira Ajidarma (saat ini Rektor IKJ), Jemek Supardi (salah satu aktor pantomim terbaik Indonesia), dan masih banyak lagi, menceritakan kesan-kesan dan pengalaman yang sangat menginspirasi.

Ketiga buku dengan total ketebalan mencapai 900 halaman itu, diterbitkan atas kerjasama Teater Alam dan Dinas Kebudayaan DI Yogyakarta. Dalam kesempatan itu, hadir Kepala Seksi Seni Tradisi Kerakyatan Dinas Kebudayaan DIY Drs Danang Sujarwa, yangselama ini banyak mendukung kegiatan kebudayaan di Yogya.

Sedangkan, Puncak perayaan ulang tahun Teater Alam ke-47, sedia dilangsungkan Kamis, 3 Januari 2019 di Societet, Taman Budaya Yogyakarta, mulai pukul 19.00. Dalam acara itu nanti, Azwar AN akan secara resmi memotong tumpeng ulang tahun dan menandai peluncuran buku “Trilogi Teater Alam”. Puncaknya, hadirin akan disuguhi Orasi Budaya Prof Dr Yudiaryani MA dalam kemasan khusus. (rr)

Berfoto bersama Azwar AN dan para penulis buku Trilogi Teater Alam. (foto: Erna Azmita AN)
Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *