Heureum Bengawan Memenangi Festival Gugak Indonesia 2021

 Heureum Bengawan Memenangi Festival Gugak Indonesia 2021

“Heureum Bengawan” (Solo), Juara I Festival Gugak Indonesia 2021. (ist)

JAYAKARTA NEWS – Kelompok musik “Heureum Bengawan” (Solo) memenangi Festival Gugak Indonesia 2021, sebagai Juara 1. Sedangkan pemenang ke-2 dan ke-3, masing-masing diraih oleh kelompok musik “Dua” (Madiun), dan “Tanah Malai” (Kalimantan Tengah).

Festival Gugak Indonesia merupakan lomba kolaborasi musik tradisional Korea-Indonesia yang diselenggarakan oleh Gamelan Arirang. Acara ini disponsori oleh Korea Foundation di bawah Kementerian Diplomat Korea Selatan.

Final Festival Gugak Indonesia diadakan secara online pada hari Sabtu, 25 September 2021 pukul 20.00WIB melalui platform YouTube Festival Gugak Indonesia dan mengundang 1.470 penonton.

Adapun finalis yang tampil di antaranya adalah “Pepalit” (Bali), “Nada Tuju” (Bali), “Dua” (Madiun), “Jeremia” (Yogyakarta), “Swara Gangsa Junior” (Karanganyar), “Heureum Bengawan” (Solo), dan “Tanah Malai” (Kalimantan Tengah).

Para finalis ini langsung datang ke Yogyakarta dan melakukan rekaman penampilan karya mereka. Tim juri terdiri atas Lee Yoon Sun, Ph.D dari Korea (Cultural Heritage Administration),  Prof. Victor Ganap dari Indonesia (Professor ISI Yogyakarta), Nyak Ina Raesuki, Ph.D (Director Graduate School Jakarta Institute Of The Arts), Zachary Hejny, Ph.D (Universitas Of California, Santa Cruz), serta Chung  Ji Tae Ph.D (Director Of Gamelang Arirang).

Festival Gugak Indonesia 2021 bukanlah yang terakhir. Pada event sejenis tahun depan, akan menampilkan karya-karya hebat dan spektakuler.

Sekilas Pemenang

“Heureum Bengawan” berhasil memikat hati para juri, dan beroleh skor kumulatif tertinggi, sehingga dinobatkan sebagai Juara I. Hal itu berkat proses penciptaan karya yang diawali dengan pencarian kesamaan antara tradisi musik Korea dan musik tradisi Indonesia, baik yang bersumber dari lingkungan keraton maupun di luar keraton.

Kesamaan yang dicari antara lain pada unsur melodis, ritmis, dan sistem pelarasan atau koleksi bunyi yang cenderung slendro (pada gamelan Jawa). Sebagai eksplorasi, kelompok ini mencari karakter bunyi instrumen haegeum yang diaplikasikan pada instrumen rebab, ajaeng pada viola, gayageum pada kecapi, geomungeo pada gitar, dan daegeum pada suling gambuh.

Pada instrumen perkusi seperti buk dan janggu diekplorasikan pada instrumen kendhang. Sedangkan untuk vokal, kelompok ini berusaha menekankan pada artikulasi dan intonasi yang mendekati pansori. Dari hasil eksplorasi bunyi yang telah dilakukan, akhirnya mereka berhasil merangkai sebuah karya yang berjudul Uli Ma-eum.

Kelompok juara ini terdiri atas Iswanto, Sri Eko Widodo, Leon Gilberto Medellin Lopez, dan Yeni Arama.

Kelompok “Dua” (Madiun) yang berhasil menyabet Juara II, Festival Gugak Indonesia 2021. (ist)

Sementara itu, kelompok “Dua” dengan karya “Gyehwa” menampilkan komposer Andika Agustino Wella Mahendra mahasiswa Prodi Seni Karawitan 2018. Penulis Lirik oleh Gutami Hayu Pangastuti mahasiswa Prodi Seni Karawitan 2017, dan didukung Udin Fazri Wido Atmanto mahasiswa Prodi Seni Pedalangan 2016, serta Mohammad Dimas Aditya Laksana, Windarti Wahyu Setyo Asih.

Karya Gaehwa terinspirasi dari sebuah lagu tradisional Jeju, Korea Selatan. Seorang penyanyi tradisional wanita menuturkan bahwa Gaehwa Taeryong adalah lagu yang menceritakan si Gaehwa, sebagai wanita penghibur. Singkat cerita, Gaehwa merasakan hal tak biasa, yaitu mencintai tuannya. Perasaan menggebu-gebu timbul dan terus-menerus selalu Gaehwa dapati. Melalui ide pokok kisah cinta unik Gaehwa, Gutami dan Andika membawa sebagai tema komposisi kolaborasi Korea dan Indonesia.

Mengikutsertakan lirik lagu Gaehwa, riset terhadap cakepan-cakepan Langendriyan, dan tembang-tembang Peribadatan Buddha, menginspirasi Gutami untuk menulis lirik lagu dengan tata urutan terdiri dari Lagu Pambuka Jawa – Putri, Lagu Gaehwa – Putri 1, Lagu Jineman Jawa – Putra, Lagu Gaehwa – Putri 2.

Kelompok “Dua” mengambil beberapa nada Korea dengan pola pokok lagu Gaehwa, dalam proses penciptaan. Andika menyimpan memori melodi sebagai sumber inspirasi dan gambaran nada. Tidak hanya lagu Gaehwa, beberapa nada lagu tradisional Jawa turut Andika tuangkan. Ada pula unsur Tayub khas Madiun, yang membawa unsur kesenian rakyat. Tayub sebagai salah satu kesenian yang menyertakan ledek atau vokalis wanita sekaligus penghibur di atas panggung, mengingatkan Andika tentang lagu Gaehwa.

“Tanah Malai” (Kalimantan Tengah), Juara III Festival Gugak Indonesia 2021. Mereka adalah para musisi asal Kalimantan Tengah yang kuliah di ISI Yogyakarta. (ist)

Terakhir, sebagai Juara III adalah kelompok musik Kalimantan Tengah (Tanah Malai). Kelompok ini merupakan kumpulan mahasiswa dari Kalimantan yang kuliah di ISI Yogyakarta Fakultas Seni Pertunjukan prodi Pendidikan Seni Pertunjukan. Keikutsertaan mereka merupakan inisiatif mereka sendiri yang disetujui dan didukung para dosen, teman, dan keluarga.

Musisi Tanah Malay, Hosea Agave Putra mengungkapkan, bahwa mereka berasal dari satu jurusan, tetapi beda angkatan. Hosea kebetulan dari angkatan 18, dan yang tertua, sementara personel lain berasal dari angkatan 20. Mereka bersepakat meluangkan waktu untuk berlatih menciptakan musik tradisional masyarakat adat Dayak Kalimantan Tengah yang dikolaborasikan dengan musik tradisional dari Korea dan membentuk tim “Tanah Malai Kalimantan” yang beranggotakan 10 orang, 5 (lima) orang di antaranya sebagai pemain musik.

Kelima pemusik itu adalah Hosea Agave Putra, Andra Oktavirera, Muhammad Rizaldy Anugrah, Rian Indrawan, dan Tarisya Maretaura Lesmana. Sedangkan, lima anggota tim pendukung dalam mempersiapkan pementasan terdiri atas, Firman Hadi Gunawan, Paskalian Herlinda Jeminu,  Nasyatulailly, Triana Elsa, dan Doni. (rr)

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *