SIPA 2021 Tawarkan Hybrid dan Drive-in

 SIPA 2021 Tawarkan Hybrid dan Drive-in

Para narasumber pada konferensi pers SIPA 2021. Dari kiri: Perwakilan Delegasi Solo (Peni Chandra Rini), Endah Laras (Maskot SIPA 2021), Plt Kepala Dinas Pariwisata Solo (Drs Aryo Widyandoko, MH), Direktur SIPA, Dra Irawati Kusumoasri, S.Sn, 2021, Dhea Fandari (Perwakilan Delegasi Peru), dan Perwakilan Delegasi Maluku Utara (Alifuru). (foto: SIPA 2021)

JAYAKARTA NEWS – Solo International Performing Arts (SIPA) 2021 akan kembali hadir di kota Solo. Panggung SIPA tahun ini akan digelar tanggal 7 – 9 Oktober 2021 di Bengawan Solo Park at Jurug Zoo dengan tema “The Great Lights of Arts”.

Konsep baru SIPA adalah ikhtiar untuk terus mencari konsep panggung seni pertunjukkan. Pada mulanya konsep baru dimulai dengan model hybrid, yakni pergelaran dengan sistem luring dan daring. Selanjutnya dengan konsep drive-in, yakni penonton dapat menyaksikan pertunjukkan secara langsung dari dalam mobil.

Penggunaan hybrid dan drive-in menjadi siasat SIPA menghadapi keterbatasan ruang dan waktu di masa pandemi. Kedua konsep tadi tetap memperhatikan protokol kesehatan. Penonton yang hadir langsung dengan kapasitas terbatas bisa menyaksikan secara langsung tanpa harus khawatir (di dalam mobil). Sementara yang tidak bisa hadir langsung, bisa menyaksikan langsung melalui streaming. Inilah konsep baru yang ditawarkan SIPA tahun ini.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, SIPA 2021 akan menampilkan pertunjukan dari lintas wilayah seni, seperti seni musik, seni tari, seni drama dan lain-lain. Delegasi yang akan tampil datang dari Solo, Aceh, Bangka Belitung, DKI Jakarta, Yogyakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Kepulauan Riau, Lampung, Maluku Utara, NTB, Sumatera Barat. Beberapa delegasi akan tampil live dan ditonton oleh penonton terbatas.

Selain itu, kemeriahan juga dihadirkan melalui penampilan video para delegasi dari beberapa negara, seperti Brasil, Finlandia, Perancis, India, Jepang, Namibia, Serbia, Singapura, Afrika Selatan, Korea Selatan, Spanyol, Tanzania dan Togo. Tidak hanya itu, perwakilan delegasi dari Belanda dan Malaysia akan menampilkan secara langsung melalui zoom. Selain itu, penampilan istimewa dari delegasi perwakilan Peru juga akan tampil secara langsung di panggung SIPA.                                    

Dengan adanya pergelaran Solo International Performing Arts (SIPA), maka muncul kehidupan baru dari seni pertunjukan sebagai daya hidup kota. Selanjutnya seni pertunjukan ini harus bisa menjadi wahana untuk edukasi tentang apresiasi seni bagi masyarakat. Sebab apresiasi itu menjadi sangat perlu mengingat pentingnya kehidupan seni sebagai bagian dari kehidupan budaya yang menjadi karakter bangsa.

Endah Laras, Maskot SIPA 2021. (foto: SIPA 2021)

Maskot SIPA 2021

Maskot SIPA 2021 yaitu Endah Laras. Dia adalah penyanyi keroncong asal Solo, kelahiran Sukoharjo, 3 Agustus 1976. Endah juga piawai berakting. Beberapa film yang dibintanginya antara lain Guru Ngaji dan Badut Makximal, Soegija, Kucumbu Tubuh Indahku, dan Finding Srimulat.

Endah Laras lahir dari keluarga seni. Namanya dikenal sebagai pelantun lagu-lagu keroncong, lagu Jawa, dan aktris film. Berbekal pengalaman berkelana dari panggung ke panggung, dari pentas campursari hingga panggung kontemporer, Endah Laras membentuk kelompok musik Brayat Endah Laras sebagai wadah untuk bereksplorasi.

Perpaduan musik tradisi dengan musik barat menjadi keindahan yang selalu ingin disampaikan dalam setiap pertunjukan.

Endah Laras menjadi maskot SIPA Festival 2021 atas pilihan penonton setia SIPA serta sejalan dengan pilihan panitia penyelenggara. Berbagai prestasi telah diraih Endah Laras, antara lain, menjadi perwakilan Indonesia di berbagai event nasional dan internasional. Ia tampil di Ngayogjazz, Forum Ekonomi Dunia di Davos Swiss tahun 2017, Forum Internasional Asia Cultural Cooperation Forum di Hongkong tahun 2019.

Nyanyian indah Endah Laras akan menjadi bagian dari gelora keagungan cahaya seni pertunjukan dalam panggung SIPA 2021.

Taman Satwa Taru

Solo International Performing Arts (SIPA) sekali ini memilih Bengawan Solo Park sebagai lokasi pergelaran. Lokasi ini merupakan salah satu fasilitas di Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ). Pemilihan TSTJ berdasarkan beberapa pertimbangan, antara lain menyesuaikan tema, edukasi lingkungan dan mengenalkan lokawisata di kota Solo.

Keberadaan TSTJ, sesuai namanya, bahwa satwa adalah hewan dan taru adalah tumbuhan, merupakan taman konservasi alam yang melestarikan satwa dan tanaman langka. Taman Satwa Taru Jurug yang berada di Jalan Ir. Sutami no. 109, Surakarta, dibangun pada 1983.

Taman dengan luas 13,9 hektare ini merupakan perpindahan dari Kebun Binatang Sriwedari. Gajah Kyai Rebo yang dikenal sebagai penghuni Kebun Binatang Sriwedari, diawetkan dan dipajang di pintu masuk Kawasan TSTJ Selain sebagai tempat rekreasi, TSTJ juga berfungsi sebagai hutan kota, sekaligus ruang publik.

Semangat konservarsi alam di TSTJ diwujudkan dengan koleksi hewan dan tanaman langka. Koleksi tanaman langka antara lain Pinus, Cemara, Flamboyan, Akasia, Kunto Bomo, Solo Keling, Budhis, Dewa Ndaru, dan Sawo Kecik. Koleksi hewan langka antara lain Gajah Asia, Harimau Sumatera, Beruang Madu, Elang, Unta, Kuda Poni, Landak Jawa, dan Burung Kasuari. Koleksi flaura dan fauna langka itulah yang menjadi daya tarik wisata TSTJ.

Taman Satwa Taru Jurug dengan kawasannya yang luas sering pula dimanfaatkan untuk pergelaran seni. Di antaranya panggung seni musik, baik pop, dangdut, keroncong, dan lain-lain. Taman ini juga memiliki acara tahunan yang dikenal luas, yakni Ritual Grebeg Syawal dengan fragmen Jaka Tingkir. TSTJ juga lekat dengan musik keroncong melalui Monumen Gesang, composer lagu Bengawan Solo yang legendaris. (PR/rr)

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *