Film ‘Calon Pengantin’, Jangan Lupakan HIV

 Film ‘Calon Pengantin’,  Jangan Lupakan HIV

Adegan dalam film ‘Calon Pengantin’ (foto : Lola Amaria Production)

JAYAKARTA NEWS—– Hiruk pikuk penduduk Indonesia dan dunia melawan virus Corona, virus HIV diam-diam masih ‘menyerbu’ anak-anak muda. Selama awal Desember diperingati sebagai Hari AIDS se-dunia, ternyata persebaran angka HIV menunjukkan kenaikan. Tercatat 349.883 penderita HIV di seluruh Indonesia dengan ‘carrier’ nya adalah perempuan atau bisa juga laki-laki sebagai pembawa dan pengidap HIV.

Virus HIV adalah penyebab AIDS dan mengganggu kemampuan tubuh melawan infeksi. Untuk itulah, Sineas Lola Amaria dari Lola Amaria Production menggandeng testJKT dan Update Status membuat film pendek berdurasi 46.54 menit bertajuk ‘Calon Pengantin’ (CP). Berkisah seputar remaja dan masyarakat kota menengah ke bawah yang bebas melakukan hubungan intim tanpa pengaman (kondom).

Disutradarai Shalahudin Siregar, cerita film ini mengalir runtut dan menukik ke persoalan persiapan pernikahan di antara para pelakunya. Digarap selama 4 hari syuting dan masih di era pandemi, CP lebih menekankan pada kekuatan skenario yang ditulis oleh Sinar Ayu Massie. Kamera memang sangat terbatas geraknya yang dilakukan di ruang-ruang sempit dimana film ini tayang secara gratis di kanal YouTube.

Untunglah, dialog antarpemain sangat bernas dan membantu kedinamisan ceritanya tanpa menggurui penonton. Film ini bercerita ihwal edukasi berlatar belakang isu sosial pengidap HIV. Sangat realistis.

Alkisah, pasangan Siti (Tatyana Akman) dan Bondan (Agra Piliang) yang akan menikah tengah bermesraan dan melakukan hubungan seks bebas di kamar nan sempit dan sesak. Tanpa ikatan sah pernikahan, mereka hampir tiap hari bergumul di kasur yang kurang empuk. Siti meminta agar Bondan melakukan tes pra nikah sebagai hal yang wajib bagi status kesehatannya. Namun Bondan menolak tes. Malah Bondan menjadi liar dan selingkuh dengan Dewi.

Di sisi lain, datang Ari (Revaldo), laki-laki lain yang ternyata dicintai Siti. Perkenalan Siti dan Ari terjadi di salon langganan mereka. Dan terjadilah hubungan seks tak aman dan tak sehat tanpa kondom antara Siti dan Ari. Bondan tahu dan membiarkannya. Kelanjutannya, Bondan tidak jadi menikahi Siti. Bondan yang akhirnya mau tes kesehatan ternyata bersih dari HIV dan penyakit kelamin. Justru Siti yang terkena virus HIV tersebab gonta ganti pasangan.

Ending film ini, Siti yang diundang datang ke pesta pernikahan Bondan dan Dewi. Bagaimana nasib Siti? Dia hidup berdamai dengan HIV. Dan Siti terus melanjutkan kehidupannya dengan dukungan dari neneknya. Ada yang patut dipertanyakan dari ending film ini : ujaran si nenek kepada cucunya (Siti) bahwa semua laki-laki seperti anjing. Dia suka ‘pipis’ dimana-mana (suka jajan seks) ini, sangat pas. Tapi kenapa justru laki-laki yang selamat dari HIV dan kenapa Siti yang jadi korban, positif HIV ?

Okelah, Siti sebagai perempuan suka gonta ganti laki-laki dan dialah pembawa (carrier) HIV. Apakah film ini ‘memenangkan’ makhluk laki-laki dan ‘mengutuk’ kaum perempuan sebagai makhluk lemah dan penyebab meningkatnya prevalensi angka persebaran HIV? Padahal, penyakit AIDS bisa juga ditularkan lewat tranfusi darah dan hubungan seks menyimpang (homo seks) lainnya.

Okelah, dua jempol perlu diacungkan tinggi ke Lola Amaria, Ayu Massie dan Shalahudin Siregar. Jarang isu sosial seperti persebaran HIV di kalangan remaja mendapat tempat diangkat ke film. Kalau pun ada, hanya menyentuh permukaan saja.

Lola, Ayu dan Shalahudin berhasil menukik dan menerobos batas tabu dan hubungan seks tanpa nikah. Tengok saja adegan seks yang cukup ‘berani’ antara Siti dan Ari yang divisualkan tanpa sensor dan mungkin juga menggunakan trik kamera yang canggih. Misi dan visi edukasi ‘Calon Pengantin’ juga masuk, yaitu tentang bahayanya hubungan seks bebas tanpa alat pengaman.

Maklum, kaum perempuan terbiasa telat memeriksakan diri ke dokter di Puskesmas sehingga perempuan cepat divonis terpapar virus HIV. Selain itu, dalam hubungan seks pra nikah, laki-laki selalu menggunakan kondom sehingga ia terbebas aman dari penyakit kelamin dan virus HIV. Sementara kaum perempuan tak pernah memakai kondom untuk perempuan (harganya mahal, bro) sehingga ketika terjadi hubungan intim, air mani si lelaki memasuki organ intim perempuan dan menularkan virus HIV. Bravo !. (Ipik)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *