Dua Presiden Tuan Rumah Asian Games

 Dua Presiden Tuan Rumah Asian Games
Gelora Bung Karno menjadi pembuka pameran instalasi “Dua Presiden Tuan Rumah Asian Games 1962-2018” di Museum Kepresidenan Balai Kirti, Komplek Istana Bogor. Foto: Roso Daras

MUSEUM Kepresidenan Balai Kirti – Bogor menyambut Asian Games 2018 dengan cara berbeda. Minggu (20/5) sore, museum yang terletak di kawasan Istana Bogor itu menggelar pameran instalasi “Dua Presiden RI Tuan Rumah Asian Games 1962-2018”. Kegiatan yang merupakan pembuka rangkaian acara menyambut Ulang Tahun Balai Kirti itu, juga diisi acara bedah buku “Presiden Republik Indonesia 1945 – 2014”.

Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid.

Dirjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid, hadir dan membuka acara dengan menggunting pita, didampingi Kepala Museum Balai Kirti, Amurwani Dwi Lestariningsih, serta para pendukung acara. Tampak di antaranya Duta Besar Laos untuk Indonesia.

Sebelumnya, Kepala Museum Amurwani melaporkan, bahwa kegiatan ini terselenggara berkat kerjasama Balai Kirti dengan berbagai pihak, di antaranya Adhi Karya Kawasan sebagai mitra utama. Selain itu, pameran juga didukung mitra kerja ANRI (Arsip Nasional Republik Indonesia), PPKGBK (Pusat Pengelolaan Kawasan Gelora Bung Karno), Kementerian PUPR, PT Unitri Cipta serta biro konsultan arsitek PT Atelier Enam.

Kepala Museum Balai Kirti, Amurwani Dwi L.

Inilah jawaban Balai Kirti atas imbauan Presiden Joko Widodo untuk menyambut Asian Games 2018, Agustus mendatang. Terkait hal itu, Balai Kirti menunjuk arsitek Yuke Ardhiati sebagai kurator. Yuke menguraikan proses terselenggaranya pameran tersebut, mulai dari riset sampai pembangunan instalasi dan pengaturan soal panel, dan lain-lain.

Memasuki ruang pamer, instalasi pertama yang dipajang adalah bangunan komplek Gelora Bung Karno yang megah. Gelora yang dibangun menyongsong perhelatan Asian Games 1962. Untuk mewujudkannya, Bung Karno sempat pergi ke Moskow. Di sana, kata Yuke, Bung Karno berdecak kagum menyaksikan kemegahan stadion utama. Sejak itu, Bung Karno menginginkan Indonesia pun memiliki stadion yang sama.

Kurator pameran, Yuke Ardhiati

Untuk mewujudkannya, Sukarno sebagai “tukang insinyur” mengambil referensi dari dunia pewayangan, Ramayana dan Mahabharata. Gubahan bentuk metafora Gelang Candrakirana, berbentuk benda melingkar di tangan tokoh Bima, melembangkan kecerdasan ksatria, tergambar mencorong seperti cahaya rembulan. Gestur angun Sri Rama sedang memanah pun menjadi ungkapan artistic yang menjiwai kecermatan, ketangkasan, dan kejujuran. Itulah yang menjadi spirit ever oward, maju terus, tertanam pada jiwa para atlet.

Nah, demi menyambut Asian Games 2018, 56 tahun kemudian, Komplek GBK kembali akan menjadi panggung dunia, setidaknya Asia. Terkait hal itu, Presiden ketujuh, Joko Widodo menginstruksikan kepada para arsitek agar tidak semata-mata merenovasi komplek GBK, tetapi juga memberi unsur kebaruan. Perlu ada aktualisasi dan sentuhan kekinian. Dalam waktu satu tahun, komplek GBK yang sudah menjadi monumen kebanggaan bangsa itu pun tampil dengan wajah yang lebih sempurna.

Museum Kepresidenan Balai Kirti menampilkannya dalam tata-pamer yang runtut dan menarik. Secara keseluruhan pameran ini menampilkan arsip dan artefak pendukung, yang merepresntasikan gagasan arsitektural dua Presiden Tuan Rumah Asian Games 1962 – 2018. Sebuah “Panggung Indonesia untuk Dunia”, menjemput kejayaan yang pernah hadir tujuh windu yang lampau. ***

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *