JAYAKARTA NEWS – “Bung Karno dan Buku-bukunya”, sebuah pameran daring yang diselenggarakan Museum Kepresidenan RI Balai Kirti dan Historia, dibuka hari ini, Selasa (24/11/2020). Acara yang dimulai pukul 14.00 WIB, dapat diikuti melalui Facebook @balaikirti dan @historiadotid, atau melalui YouTube di akun Museum Kepresidenan RI Balai Kirti dan akun Historia.ID.
Dalam kesempatan ini akan hadir Presiden RI ke-5, Megawati Soekarnoputri, Mendikbud Nadiem Anwar Makarim, dan Hilmar Farid, Dirjen Kebudayaan Kemendikbud.
Selain pameran buku, juga diselenggarakan Dialog Sejarah dengan tema yang sama: Bung Karno dan Buku-bukunya. Acara yang dipandu moderator Audrey Chandra (Kompas TV), akan menghadirkan tiga narasumber. Mereka adalah Bonnie Triyana (Pemred Historia), Roso Daras (Wartawan Senior), dan Rhoma Dwi Aria Yuliantri (Sejarawan UNY). (rr)
Gelora Bung Karno menjadi pembuka pameran instalasi “Dua Presiden Tuan Rumah Asian Games 1962-2018” di Museum Kepresidenan Balai Kirti, Komplek Istana Bogor. Foto: Roso Daras
MUSEUM Kepresidenan Balai Kirti – Bogor menyambut Asian Games 2018 dengan cara berbeda. Minggu (20/5) sore, museum yang terletak di kawasan Istana Bogor itu menggelar pameran instalasi “Dua Presiden RI Tuan Rumah Asian Games 1962-2018”. Kegiatan yang merupakan pembuka rangkaian acara menyambut Ulang Tahun Balai Kirti itu, juga diisi acara bedah buku “Presiden Republik Indonesia 1945 – 2014”.
Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid.
Dirjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid, hadir dan membuka acara dengan menggunting pita, didampingi Kepala Museum Balai Kirti, Amurwani Dwi Lestariningsih, serta para pendukung acara. Tampak di antaranya Duta Besar Laos untuk Indonesia.
Sebelumnya, Kepala Museum Amurwani melaporkan, bahwa kegiatan ini terselenggara berkat kerjasama Balai Kirti dengan berbagai pihak, di antaranya Adhi Karya Kawasan sebagai mitra utama. Selain itu, pameran juga didukung mitra kerja ANRI (Arsip Nasional Republik Indonesia), PPKGBK (Pusat Pengelolaan Kawasan Gelora Bung Karno), Kementerian PUPR, PT Unitri Cipta serta biro konsultan arsitek PT Atelier Enam.
Kepala Museum Balai Kirti, Amurwani Dwi L.
Inilah jawaban Balai Kirti atas imbauan Presiden Joko Widodo untuk menyambut Asian Games 2018, Agustus mendatang. Terkait hal itu, Balai Kirti menunjuk arsitek Yuke Ardhiati sebagai kurator. Yuke menguraikan proses terselenggaranya pameran tersebut, mulai dari riset sampai pembangunan instalasi dan pengaturan soal panel, dan lain-lain.
Memasuki ruang pamer, instalasi pertama yang dipajang adalah bangunan komplek Gelora Bung Karno yang megah. Gelora yang dibangun menyongsong perhelatan Asian Games 1962. Untuk mewujudkannya, Bung Karno sempat pergi ke Moskow. Di sana, kata Yuke, Bung Karno berdecak kagum menyaksikan kemegahan stadion utama. Sejak itu, Bung Karno menginginkan Indonesia pun memiliki stadion yang sama.
Kurator pameran, Yuke Ardhiati
Untuk mewujudkannya, Sukarno sebagai “tukang insinyur” mengambil referensi dari dunia pewayangan, Ramayana dan Mahabharata. Gubahan bentuk metafora Gelang Candrakirana, berbentuk benda melingkar di tangan tokoh Bima, melembangkan kecerdasan ksatria, tergambar mencorong seperti cahaya rembulan. Gestur angun Sri Rama sedang memanah pun menjadi ungkapan artistic yang menjiwai kecermatan, ketangkasan, dan kejujuran. Itulah yang menjadi spirit ever oward, maju terus, tertanam pada jiwa para atlet.
Nah, demi menyambut Asian Games 2018, 56 tahun kemudian, Komplek GBK kembali akan menjadi panggung dunia, setidaknya Asia. Terkait hal itu, Presiden ketujuh, Joko Widodo menginstruksikan kepada para arsitek agar tidak semata-mata merenovasi komplek GBK, tetapi juga memberi unsur kebaruan. Perlu ada aktualisasi dan sentuhan kekinian. Dalam waktu satu tahun, komplek GBK yang sudah menjadi monumen kebanggaan bangsa itu pun tampil dengan wajah yang lebih sempurna.
Museum Kepresidenan Balai Kirti menampilkannya dalam tata-pamer yang runtut dan menarik. Secara keseluruhan pameran ini menampilkan arsip dan artefak pendukung, yang merepresntasikan gagasan arsitektural dua Presiden Tuan Rumah Asian Games 1962 – 2018. Sebuah “Panggung Indonesia untuk Dunia”, menjemput kejayaan yang pernah hadir tujuh windu yang lampau. ***
Megawati ketika masih Presiden, dan SBY ketika masih Menko di kabinet Megawati Soekarnoputri. Foto: Ist
SETIAP museum merupakan ruang yang dapat membuka gerbang masa lalu. Jika koleksinya besar dan cukup detail, boleh jadi menyeret pengunjungnya ke lorong-lorong waktu nuh jauh di belakang sana.
Museum tak sekadar tempat memajang barang-barang kuno atau yang bernilai sejarah. Museum juga menyimpan banyak catatan peristiwa, baik berupa benda, manuskrip, CD, maupun gambar/ foto.
Begitupun museum kepresidenan, Balai Kirti, di Komplek Istana Kepresidenan, Bogor, Jawa Barat. Di ruang pamer yang mengoleksi benda dan foto dari masing-masing presiden yang sudah purna bakti di Negara Kesatuan Republik Indonesia ini, mengantar kita menengok pelbagai peristiwa ke masa-masa pemerintahannya.
Museum yang diresmikan di akhir masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, 18 Oktober 2014 memiliki ruang koleksi sebanyak jumlah presiden yang telah selesai masa jabatannya. Mulai 4uang pamer Presiden Sukarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurahman Wahid (Gus Dur), Megawati Soekarnoputri, dan SBY.
Masing-masing “Ruang Presiden” menarik dan mempunyai pesona tersendiri. Kesamaannya, masing-masing ruang pamer terdapat foto-foto kegiatan kenegaraan, termasuk kunjungan kepala negara asing, serta koleksi foto keluarga.
Di “Ruang Presiden Megawati”, ada foto ketika Presiden Megawati berdiri di anjungan kapal sambil tangannya menunjuk ke arah laut lepas, didampingi Menko Polsoskam Susilo Bambang Yudhoyono yang dengan senyum khasnya duduk di belakang Mega bersama aparat lainnya.
Foto yang ketika itu mungkin hanya dinilai bagus dari sudut pengambilannya, namun jika dilihat saat ini sangat sublim, dan kaya makna. Foto yang apik memang bisa diartikan lebih dari seribu kata-kata. Dalam hal ini jika dikaitkan dengan renggangnya komunikasi antara keduanya menjelang dan setelah SBY menjadi Presiden menggantikan Mega.
Pers yang kadang nyinyir acap menyinggung masalah ini. Lebih-lebih di media sosial. Namun situasi sudah berubah. Keduanya kini sama-sama purna tugas sebagai presiden. Keduanya juga punya prinsip dan pandangan yang kuat.
Megawati: Bendera telah aku kibarkan, pantang surut langkahku walau tinggal sendirian.
SBY: Kekuasaan itu menggoda, gunakan penuh amanah demi kepentingan bangsa.
Seiring bertambahnya usia dan kearifan masing-masing, maka barangkali, bisa saja pada foto tersebut kita beri komentar berupa meme, untuk SBY, “Aku masih seperti yang dulu.” Dan Mega sebagai ketua umum partai yang cukup jel memilih kader/pemimpin, maka meme yang sesuai untuk foto tersebut, “Aku turut mengantarmu ke gerbang istana.”
Sayang gambar tersebut tak dapat ditampilkan di sini. Karena sesuai aturan di Museum Kepresidenan, pengunjung dilarang memotret.
Ya, begitulah, foto, karya, dan benda lainnya dalam museum dapat membuat kita bercanda dengan masa lalu, atau ikut trenyuh dan bahagia atas realita di masa lampau. Menatap foto Sukarno dan Fatmawati bersama putra-putrinya yang masih bocah, kita pun bisa jadi ikut haru. Mengingat anak adalah permata hati yang sangat dirindukan Bung Karno selama puluhan tahun. ***
Dina Raisya Puteri. Siswa kelas lima SD Bekasi memandang Jokowi laksana Raden Gatutkaca, sang Kesatria dari Pringgondani. Foto: Resti Handini
SEORANG anak tidak selalu memiliki persepsi sama dengan orang dewasa. Contoh, ketika orang dewasa melihat sosok Presiden Jokowi sebagai orang yang lembut dan murah senyum –misalnya–, tidak demikian halnya di mata Dina Raisya Puteri. Siswa kelas lima SD itu memandang Jokowi laksana Raden Gatutkaca, sang Kesatria dari Pringgondani.
Itulah kesan menarik ketika kita mengunjungi Museum Kepresidenan Balai Kirti (BK) di Istana Bogor. Museum itu sendiri berada di kompleks Istana Kepresidenan. Museum itu berisikan koleksi benda, kebijakan, kata Mutiara, dan hal-hal lain terkait enam presiden yang sudah purna tugas. Sedangkan presiden ke-7, Joko Widodo, belum ada dalam museum itu, karena masih menjabat.
Juara 1, Lukman Nur Hakim, siswa SDN Aren Jaya VII, Kota Bekasi. Foto: R. Handini
Meski begitu, sosok Jokowi, panggilan akrabnya, tetap hadir di museum tersebut. Bukan dalam bentuk memorabilia atau kumpulan benda-benda, kata Mutiara, film pendek, dan kumpulan kebijakan yang terkenal, melainkan dalam bentuk lukisan. Lukisan-lukisan karya siswa-siswi SD dan SMP pemenang lomba itu, dipajang di lantai dua museum Balai Kirti.
Semua lukisan yang dipajang, merupakan karya para pemenang Lomba Lukis Kepresidenan tingkat SD dan SMP wilayah Jawa Barat dan DKI Jakarta. Menurut Indri Alfianti, pengurus Museum Kepresidenan Balai Kirti, lomba lukis kepresidenan sudah dua kali diadakan. Tahun ini diadakan bulan Mei yang lalu bertepatan dengan bulan Pendidikan.
Hebatnya, juara 1, 2, dan 3 tingkat SD semua disabet siswa dari Kota Bekasi, Jawa Barat. Pemenang pertama lomba lukis tingkat SD, adalah Lukman Nur Hakim dengan tema Aku Cinta Indonesia dan Presidenku. Lukman adalah siswa kelas V SD Negeri Aren Jaya VIII, Aren Jaya, Bekasi Timur.
Dalam lukisan itu, Lukman melukiskan presiden dengan ciri baju putih dan sibakan rambut pinggir. Selebihnya, tidak ada kemiripan sama sekali. Jokowi dilukiskan bersimpuh lutut, memeluk dua siswa SD, yang satu duduk di kursi roda, yang satu lagi memasangkan lambang garuda Pancasila di dada sebelah kiri Jokowi. Di bagian latar belakang, Lukman melukiskan anak berprestasi memegang raket badminton berkalung medali. Ada juga lukisan seorang anak mengangkat piala di atas kepalanya, serta aktivitas-aktivitas lain, dengan padu-padan warna dan motif yang cerah, serta pengaturan komposisi yang baik.
Juara 2, Dina Raisya Puteri siswa SD Negeri Mustika Jaya VII, Kota Bekasi. Foto R. Handini
Pemenang kedua, Dina Raisya Puteri bertema Presiden dan Sekolahku. Dina adalah siswa kelas V, SD Negeri Mustika Jaya VII, Kota Bekasi. Entah ide dari siapa, tetapi siapa pun pemberi ide lukisan, kiranya dia orang Jawa, atau setidaknya paham dan mengerti tentang wayang. Sebab, Jokowi digambarkan oleh Dina sebagai kesatria Pringgondani bernama Raden Gatotkaca. Putra penegak Pandawa Bima itu, digambarkan sedang terbang memegang Kartu Indonesia Pintar.
Yang menarik lagi, busana kesaktian Gatotkaca yang disebut “Kutang Antakusuma” berbentuk rompi, diubah dari percikan sinar di dada menjadi sinar yang memancar dari simbil cinta merah-putih. Nuansa merah putih juga dilekatkan pada selendang di pinggang sang kesatria sakti mandraguna itu. Dalam kanvas itu pula, Dina mencoba mengangkat banyak pesan moral lain yang sangat bagus, seperti kebinekaan dalam persatuan, peta Indonesia, dan kecerah-ceriaan wajah anak Indonesia. Tidak cukup dengan itu, Dina bahkan menuliskan tagline di bagian bawah: “Semua Bisa Sekolah untuk Mencapai Cita-cita”.
Sedangkan pemenang ketiga Sherly Vermount, adalah siswa kelas V SD Marsudi Rini, Kemang Pratama, Kota Bekasi dengan tema sama seperti lukisan Dina, yakni “Presiden dan Sekolahku”. Berbeda dengan juara pertama dan kedua, maka Sherly lebih tepat menggariskan anatomi wajah Jokowi. Jika kriteria penjurian adalah “kemiripan”, tentu lukisan Jokowi-nya Sherly akan meraih juara I.
Juara 3, Sherly Vermount, siswa SD Marsudi Rini, Kemang Pratama, Kota Bekasi. Foto: R. Handini
Sherly menggambarkan sosok Jokowi sebagai sentral objek di tengah kanvas. Dengan senyum khas, tangan kanan Jokowi memegang secarik kertas bertuliskan “Semua Anak Indonesia Berhak Mendapatkan Pendidikan”, sedangkan tangan kiri memegang segepok Kartu Indonesia Pintar. Jokowi digambarkan mengenakan baju batik bernuansa merah-putih.
Sekelilingnya, adalah wajah-wajah anak Indonesia yang ceria. Sherly berusaha memotret anak-anak dari Aceh sampai Papua dengan ciri khas masing-masing daerah. Tak lupa, Sherly juga memotret pembangunan di Indonesia, lengkap dengan tugu monas dan alat-alat berat. Di sisi lain, Sherly juga memotret keindahan dan kesuburan alam Indonesia.
Menyimak lukisan-lukisan sang pemenang, terbayang betapa sulitnya tugas dewan juri. Mengingat, kekuatan pada masing-masing lukisan. Ditambah lagi, animo peserta juga lumayan membludak. Lomba terakhir yang diadakan di Gedung Kemuning Gading, Komplek DPRD Kota Bogor, diikuti oleh 150 peserta. “Tahun depan, bisa jadi peserta akan bertambah,” ujar Indri yang tamatan Universitas Indonesia, jurusan Sejarah.
Sama halnya dengan animo masyarakat untuk mengunjungi museum yang digagas oleh presiden keenam Susilo Bambang Yudhoyono. Baik hari kerja maupun liburan pengunjung ke museum yang letaknya tepat di belakang Istana Bogor selalu banyak. “Hari ini jumlah pengunjung yang hadir ke museum ini sudah mencapai 750 orang, termasuk ibu,” ujar Indri yang hafal dan menguasai apa dan bagaimana tentang Museum Kepresidenan BK ini. ***