Dari Brisbane, Pontianak dan Malang Tampil di Poetry Reading From Home

 Dari Brisbane, Pontianak dan Malang Tampil di Poetry Reading From Home

Nurul Indarti

Jayakarta News – Retno Iswandari, yang sekarang tinggal di Brisbane, Australia, membacakan dua puisi karya Yuliani Kumudaswari, dari bukunya berjudul ‘Kepada Paitua’ dan diluncurkan di Sastra Bulan Purnama edisi 106, dalam Poetry Reading from Home seri 4, yang disiarkan secara ‘live’ di youtube Sastra Bulan Purnama, senin 6 juli 2020, pkl 19.30. Retno membacakan puisi dengan latar belakang lukisan laut, seihingga seolah ia berada di tepi pantai.

Pembaca yang lain, Yeni Mada, dari Pontianak, juga tampil di Poetry Reading from Home seri 4, membacakan 2 puisi Yuliani Kumudaswari. Yeni, demikian panggilannya, membaca dengan latar belakang buku-buku yang di ada di rak buku, sambil mengenakan masker, sehingga wajahnya tidak terlihat penuh.

“Maaf, saya sedang sakit gigi, dan pipi saya bengkak” begitu Yeni Mada memberi alasan mengapa membaca puisi mengenakan masker, sehingga suaranya agak bindeng.

Rosana Hariyanti, dari Malang, membacakan dua puisi, mengenakan baju lurik, membaca puisi dengan latar belakang lukisan yang menempel di dinding. Pembaca lainnya dari Yogya, dua di antaranya Endah Rajarjo dan Nurul Indarti, yang membaca puisi dengan mengambil latar belakang hampir sama, yakni tanaman. Endah memperlihatkan tanaman dan pintu warna kelabu, dan Nurul tampaknya membaca di teras rumahnya, dan tanaman hiasnya memberikan suasana tersendiri.

Asmarani Februandari

Pembaca lainnya dari Yogya, Ida Fitri, Asmarani Februandari, Savitri Damayanti, Endah Sr, Ninuk Retno Raras dan Landung Simatupang. Endah Sr dalam membaca hanya menyajikan suasana, mungkin disekitar rumahnya sehingga wajahnya tidak terlihat, Ida Fitri membaca puisi dengan latar belakang buku, dan satu lukisan kecil, memperlihatkan lukisan Borobudur.

Asmarani, atau yang akrab dipanggil Rani, membaca sambil mengenakan baret warna hitam, sehingga terlihat warna rambutnya hitam legam, dan rambut putihnya digantikan baret warna hitam. Ninuk Rertno Raras, mengenakan bando, seolah seperti anak muda, atau setidaknya terlihat muda. Diah Rofika, dari Jakarta, membaca di ruang tamu rumahnya, yang ada hiasan warna-warni, mengenakan jilbab, dan terlihat begitu cantik. Semua pembaca perempuan memang cantik-cantik, dan usianya berbeda-beda. Dua orang yang sudah punya cucu, Endah Raharjo dan Ninuk Retno Raras, meski sudah bercucu, gaya mudanya tidak hilang.

Di antara para perempuan yang membacakan puisi di Poetry Reading From Home seri 4, terselip seorang aktor dan penyair, yang membaca puisi dengan memukau, ialah Landung Simatupang. Setelah semua perempuan membaca puisi, ditutup Landung membacakan dua puisi karya Yuliani sekaligus memberi makna atas peristiwa sastra secara daring.

Di tengah masing-masing pembaca puisi tampil, diisi selingan lagu puisi, yang dibawakan oleh Daladi Ahmad, seorang penyair sekaligus guru SMP, yang tinggal di Ngluwar, Magelang. Daladi, diiringi petikan gitar mengalunkan satu lagu puisi karya Yuliani Kumudaswari.

Sebagai penutup, setelah Landung tampil membaca 2 puisi, kelompok Jam Malam Yogyakarta, mengolah puisi karya Yuliani menjadi pertunjukan: perpaduan antara musik, tarian dan teater.

Endah Raharjo

Publik yang melihat Poetry Reading From Home, dilihat dari komentarnya, datang dari berbagai kota, di antaranya Jakarta, Semarang, Bandung, dan tentu saja Yogyakarta. Retno, Yeni Mada dan Rosana Hariyanti juga mengikuti dari kota tempat tinggalnya sendiri.

Ada pembaca yang tidak bisa melihat secara utuh, karena waktunya terbagi dengan meeting zoom seperti Asmarani Februandari sehingga merasa perlu melihat dokumentasinya di youtube.

“Wah, saya tidak bisa melihat utuh, karena waktunya terbagi, dan akan saya lihat kembali di youtube” ujar Asmarani.

Para penampil, sudah saling kenal dan berinterakasi, mungkin hanya satu dua orang yang belum.. Tapi karena situasi pendemi, masing-masing belum saling bertemu. Mungkin hahnya satu dua orang yang tinggal di Yogya, sesekali bertemu. Angap saja, penampilan mereka bentuk lain dari reuini secara daring. (*/rr)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *