Api Membakar Hujan di Bulan Purnama

JAYAKARTA NEWS – Pandemi covid 19 yang masih mengintai, dan kerumunan belum diperbolehkan, membuat aktivitas kesenian tak lagi diselenggarakan di ruang pertunjukan. Sastra Bulan Purnama, secara rutin setiap bulan masih terus diselenggarakan, dengan mengambil format Poetry Reading From Home disiarkan secara ‘live’ di youtube sastra bulan purnama.

Sastra Bulan Purnama edisi 120, dalam format Poetry Reading from Home seri 20, akan digelar Rabu, 22 September 2021, pkl. 19.30 melalui youtube sastra bulan purnama. Kali ini, para penyair dari Magelang saling melakukan interaksi melalui puisi karya Damtoz Andreas. Beberapa penyair membacakan puisi dan pemain musik mengalunkan lagu puisi. Semua puisi karya Darmtoz. Ada yang memberikan perspektif puisi Damtoz, seperti dilakuian oleh Agus Manaji dan Purnawan Andra. Tajuk dari Saatra Bulan Purnama kali ini: ‘Api Membakar Hujan Di Bulan Purnama’.

Di Magelang ada sejumlah penyair yang cukup produktif menulis puisi dan dipublikasikan di sejumlah media, termasuk diikutkan antologi puisi bersama. Damtoz adalah salah satu dari sejumlah penyair dari Magelang. Penampilan para penyair dan pemain musik di Sastra Bulan Purnama merupakan bentuk interaksi dan sinergi antara penyair dan pemain musik.

“Saya kira apa yang dilakukan penyair  Magelang ini merupakan model interaksi kreatif, perlu dikembangkan oleh penyair2 lain dari Magelang, bahkan dari kota-kota lain, agar sinergitas antar kreator menghadirkan monemtum budaya’ ujar Ons Untoro, koordinator Sastra Bulan Purnama.

Ahmad Jalidu

Pertunjukan musik yang mengolah puisi Damtoz menjadi lagu puisi sekaligus pengalihan ke ruang digital dilakukan oleh Gepeng Nugroho, sebagai koordinator berasama tim kreatornya, sehingga karya sastra dalam hal ini puisi menjadi terlihat hidup di ruang pertunjukkan digital.

Pera penyair dari Magelang, yang tampil membacakan puisi karya Damtoz, di antaranya Wicahyanti Rejeki, Nindito Nugroho, Tentrem Lestari, Bara Purnama, Cecilia Bintang, Eka Pradaning, Nanang Tri Utomo, Kukuh Jonet dan Wulan Sri.

“Saya malah tidak ikut membaca puisi, karena kebetulan saya sedang sakit yang membuat suara saya tidak keluar, sehingga saya tidak berani tampil membaca puisi,” ujar Damtoz  Andreas.

Ahmad Jalidu, yang mengalunkan lagu puisi karya Damtoz Andreas, garapan Gepeng Nugroho dan kawan-kawan. Ia, Ahmad Jalidu sering terlihat pentas musik dengan mengalunkan lagu-lagu puisi karya penyair.

Puisi-puisi Damtoz Andreas yang dibacakan di Sastra Bulan Purnama, ada beberapa sudah diterbitkan dalam bentuk buku, namun sebagian besar belum dipublikasikan dan merupakan embrio dari manuskrip, untuk dipersiapkan diterbitkan.

Publikasi puisi, demikian Ons Untoro menjelaskan, tidak selalu dalam bentuk diterbitkan baik berupa buku maupun dimuat di media cetak atau online, tetapi bisa dalam bentuk pertunjukkan, seperti dilakukan tim kreatif Padepokan Seni Gubug Kebon, yang mengolah puisi Damtoz Andreas menjadi satu pertunjukan.

“Mudah2an penyair dari Magelang yang lain, secara bergantian melakukan interaksi dan sinergi dengan pelaku kreatif untuk menghidupkan sastra,” ujar Ons Untoro. (*/pr) 

Kembang Belukar di Bulan Purnama

JAYAKARTA NEWS – Kembang Belukar adalah judul buku puisi karya Yuliani Kumudaswari, perempuan penyair yang tinggal di Semarang, dan akan diluncurkan di Sastra Bulan Purnama 118, dalam Poetry Reading From Home seri 18, live melalui youtube sastra bulan purnama, Sabtu, 24 Juli 2021 pkl. 19.30 WIB.

Sashmytha Wulandari

Selain dibacakan sendiri oleh Yuliani, beberapa pembaca akan ikut membacakan puisi Yuliani. Para pembaca datang dari kota yang berbeda, Rita Ratnawulan, Restia Herdiana (Jakarta), Ismael Daeng Sannang (tinggal di Bali), pembaca lainnya dari Yogyakarta, Eko Winardi, Yantoro, Ninuk Retno Raras, Nunung Rieta, Endah Sr, Tedy Kusairi, Sashmytha Wulandari, Octo Noor Arafat, Chacha Baninu, Tosa Santosa.

Yuliani, memang produktif menulis puisi, hampir setiap tahun, buku puisinya terbit, dan buku puisi ‘Kembang Belukar’ merupakan buku keenam karya tunggalnya. Puisi-puisinya yang lain dipublikasikan di beberapa media cetak dan on line, serta antologi puisi bersama dengan sejumlah penyair dari berbagai kota.

Para pembaca puisi, selain penyair, penulis cerpen dan pemain teater. Yantoro misalnya, tahun 1980-an cukup rajin menulis puisi, dan aktif di teater Stemka, belakangan dia sering pentas monolog. Eko Winardi, seorang aktor teater, sering menulis puisi, sejumlah peran pernah ia mainkan dalam pentas teater. Ninuk Retno Raras, penulis cerpen, seringkali tampil membaca puisi di Sastra Bulan Purnama.

Octo Noor Arafat

Ristia Herdiana yang tinggal di Jakarta, beberapa buku puisinya sudah terbit, dan beberapa kali tampil membaca puisi. Endah Sr, seorang penyiar radio sekaligus penari Jawa, buku novelnya pernah diterbitkan, beberapa kali juga sering baca puisi di Sastra Bulan Purnama. Octo Noo Arafat, sekarang menjadi Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Pemkot Yogya, seorang pembaca puisi yang menyenangkan. Tedy Kusairi seorang youtuber dan pegiat sastra di Bantul, Yogya.

Tosa Santosa, seorang pegiat fashion di Yogya, berulangkali tampil membaca puisi tidak hanya di Sastra Bulan Puirnama, tetapi juga di tempat-tempat lain. Nunung Rieta, buku puisinya sudah terbit, dan belakangan sering main teater dan film. Sashmytha Wulandari, sejumlah puisinya ikut dalam beberapa antologi puisi dan akan membaca puisi Yuliani sambil diiringi petikan gitar oleh Meuz Prazt, seorang perupa yang piawai memetik gitar.

Para pembaca lainnya, Rita Ratnawulan, seorang pecinta puisi tinggal di Jakarta dan beberapa kali tampil membaca puisi dalam beberapa seri poetry reading from home. Ismael Daeng Sannang, tinggal di Bali dan Chacha Baninu, seorang perupa, akan ikut tampil membaca puisi karya Yuliani Kumudaswari. Ismael Daeng akan memetik gitar mengiringi Diah istrinya membaca puisi berjudul ‘Kembang Seruni’. Tidak ketinggalan, Yanti S. Sastro, perempuan penyair dan seorang pengajar, tinggal di Semarang akan ikut tampil membacakan puisi karya Yuliani Kumudaswari.

Yantoro

Ons Untoro, koordinator Sastra Bulan Purnama yang mengikuti pertumbuhan kepenyairan Yuliani Kumudaswari sejak sebelum menerbitkan buku puisi, tetapi sudah mulai menulis puisi dan tinggal di Medan, melihat perkembangan puisi Yuliani sangat menyenangkan, dan memiliki seleksi kata yang teliti.

“Sejak buku puisinya yang pertama, sampai buku puisi yang sekarang diluncurkan ini, Yuliani sudah mulai terlihat tidak tergesa menulis puisi, selalu melalui proses perenungan sebelum dia menuliskan. Bagi Yuliani, menulis puisi tidak untuk mengejar predikat penyair, tetapi lebih sebagai ruang ekspresi, dan predikat penyair mengikuti setelah produktifitasnya terbukti,” ujar Ons Untoro. (*/PR)

Dari Brisbane, Pontianak dan Malang Tampil di Poetry Reading From Home

Jayakarta News – Retno Iswandari, yang sekarang tinggal di Brisbane, Australia, membacakan dua puisi karya Yuliani Kumudaswari, dari bukunya berjudul ‘Kepada Paitua’ dan diluncurkan di Sastra Bulan Purnama edisi 106, dalam Poetry Reading from Home seri 4, yang disiarkan secara ‘live’ di youtube Sastra Bulan Purnama, senin 6 juli 2020, pkl 19.30. Retno membacakan puisi dengan latar belakang lukisan laut, seihingga seolah ia berada di tepi pantai.

Pembaca yang lain, Yeni Mada, dari Pontianak, juga tampil di Poetry Reading from Home seri 4, membacakan 2 puisi Yuliani Kumudaswari. Yeni, demikian panggilannya, membaca dengan latar belakang buku-buku yang di ada di rak buku, sambil mengenakan masker, sehingga wajahnya tidak terlihat penuh.

“Maaf, saya sedang sakit gigi, dan pipi saya bengkak” begitu Yeni Mada memberi alasan mengapa membaca puisi mengenakan masker, sehingga suaranya agak bindeng.

Rosana Hariyanti, dari Malang, membacakan dua puisi, mengenakan baju lurik, membaca puisi dengan latar belakang lukisan yang menempel di dinding. Pembaca lainnya dari Yogya, dua di antaranya Endah Rajarjo dan Nurul Indarti, yang membaca puisi dengan mengambil latar belakang hampir sama, yakni tanaman. Endah memperlihatkan tanaman dan pintu warna kelabu, dan Nurul tampaknya membaca di teras rumahnya, dan tanaman hiasnya memberikan suasana tersendiri.

Asmarani Februandari

Pembaca lainnya dari Yogya, Ida Fitri, Asmarani Februandari, Savitri Damayanti, Endah Sr, Ninuk Retno Raras dan Landung Simatupang. Endah Sr dalam membaca hanya menyajikan suasana, mungkin disekitar rumahnya sehingga wajahnya tidak terlihat, Ida Fitri membaca puisi dengan latar belakang buku, dan satu lukisan kecil, memperlihatkan lukisan Borobudur.

Asmarani, atau yang akrab dipanggil Rani, membaca sambil mengenakan baret warna hitam, sehingga terlihat warna rambutnya hitam legam, dan rambut putihnya digantikan baret warna hitam. Ninuk Rertno Raras, mengenakan bando, seolah seperti anak muda, atau setidaknya terlihat muda. Diah Rofika, dari Jakarta, membaca di ruang tamu rumahnya, yang ada hiasan warna-warni, mengenakan jilbab, dan terlihat begitu cantik. Semua pembaca perempuan memang cantik-cantik, dan usianya berbeda-beda. Dua orang yang sudah punya cucu, Endah Raharjo dan Ninuk Retno Raras, meski sudah bercucu, gaya mudanya tidak hilang.

Di antara para perempuan yang membacakan puisi di Poetry Reading From Home seri 4, terselip seorang aktor dan penyair, yang membaca puisi dengan memukau, ialah Landung Simatupang. Setelah semua perempuan membaca puisi, ditutup Landung membacakan dua puisi karya Yuliani sekaligus memberi makna atas peristiwa sastra secara daring.

Di tengah masing-masing pembaca puisi tampil, diisi selingan lagu puisi, yang dibawakan oleh Daladi Ahmad, seorang penyair sekaligus guru SMP, yang tinggal di Ngluwar, Magelang. Daladi, diiringi petikan gitar mengalunkan satu lagu puisi karya Yuliani Kumudaswari.

Sebagai penutup, setelah Landung tampil membaca 2 puisi, kelompok Jam Malam Yogyakarta, mengolah puisi karya Yuliani menjadi pertunjukan: perpaduan antara musik, tarian dan teater.

Endah Raharjo

Publik yang melihat Poetry Reading From Home, dilihat dari komentarnya, datang dari berbagai kota, di antaranya Jakarta, Semarang, Bandung, dan tentu saja Yogyakarta. Retno, Yeni Mada dan Rosana Hariyanti juga mengikuti dari kota tempat tinggalnya sendiri.

Ada pembaca yang tidak bisa melihat secara utuh, karena waktunya terbagi dengan meeting zoom seperti Asmarani Februandari sehingga merasa perlu melihat dokumentasinya di youtube.

“Wah, saya tidak bisa melihat utuh, karena waktunya terbagi, dan akan saya lihat kembali di youtube” ujar Asmarani.

Para penampil, sudah saling kenal dan berinterakasi, mungkin hanya satu dua orang yang belum.. Tapi karena situasi pendemi, masing-masing belum saling bertemu. Mungkin hahnya satu dua orang yang tinggal di Yogya, sesekali bertemu. Angap saja, penampilan mereka bentuk lain dari reuini secara daring. (*/rr)

Butet Baca Pantun Simon Hate

Jayakarta News – Sastra Bulan Purnama edisi 105, dalam Poetry Reading From Home seri 3 diisi pembacaan pantun karya Simon Hate berjudul ‘Hamba Tak Layak Menjadi Budak’. Pantun-pantun Simon akan dibacakan oleh para aktor teater yang pernah aktif di teater Dinasti Yogyakarta, Joko Kamto, KRT Agus Istijantonegoro, Butet Kartaredjasa , Eko Winardi, yang sekaligus sebagai sutradara dalam pertunjukan ini, serta Isti Nugroho. Sejak tahun 1980-an mereka bersahabat sampai sekarang. Dua orang di antaranya tinggal di Jakarta, yang lain tinggal di Yogyakarta.

Acara  diselenggarakan secara live  di youtube Sastra Bulan Purnama, Jumat, 12 Juni 2020, pkl. 19.30. Masing-masing membacakan pantun dalam judul yang berbeda, dan keseluruhan pantun karya Simon Hate, seorang penyair, yang  pernah aktif di teater Dinasti, dan dikenal sebagai seorang aktivis LSM sampai sekarang.

Simon Hate,  menyebutkan, pantun ini ditulis sebagai bagian dari gerakan mengembalikan puisi ke dalam kehidupan. Sudah terlalu lama puisi jauh dari kehidupan sehari-hari. Karenanya perlu ada karya tulis yang bicara mengenai kehidupan sehari-hari, dan dalam bentuk yang juga dikenal masyarakat secara luas, dalam hal ini pantun.

“Dengan demikian, puisi bisa akrab kembali dengan masyarakat, dan dengan demikian, masyarakat juga berkesempatan untuk merenungkan makna kehidupannya,” kata Simon

Para pembaca pantun Jawa berjudul ‘Hamba Tak Layak Menjadi Budak’ adalah orang-orang teater. Joko Kamto misanya, aktor teater Dinasti, sekarang aktif di Komunitas Kyai Kanjeng pimpinan Emha Ainun Najib. KRT Agus Istijantonegoro, sekarang menekuni profesi penulis. Eko Winardi, alumni jurusan teater ISI Yogya, sekarang aktif di teater Perdikan pimpinan Cak Nun, juga memiliki kegiatan pengembangan pertanian.

Isti Nugroho, baca pantun Simon Hate dari Jakarta.

Pembaca yang lain, Isti Nugroho, selain pernah aktif sebagai penyair, sekarang lebih dikenal sebagai aktvitis dan mengelola Rumah Dokumentasi Politik Guntur 49 di Jakarta. Butet Kartaredjasa, selain pernah aktif di teater Dinasti, dikenal sebagai aktor, sekarang kembali aktif menjadi seorang pelukis, satu aktivitas yang pernah dipelajari sejak masih muda, dan agak lama ditinggalkan.

Karena format pertunjukannya tidak di panggung seperti biasanya Sastra Bulan Purnama diselenggarakan di Tembi Rumah Budaya. Di masa pendemi ini, dialihkan di area digital. Mereka mengambil gambar di bebarapa lokasi, untuk memberi suasana berbeda pada setiap momentum, dan masing-masing mengambil gambar di lokasi berbeda, Isti Nugroho membaca di Jakarta, dan yang lain di Yogyakarta.

Ons Untoro, koordinator Sastra Bulan Purnama menyampaikan, pantun karya Simon ini merupakan puisi yang agak panjang, dan terdiri dari beberapa bab, sehingga masing-masing pembaca memilih judul dari bab berbeda, sehingga kisahnya nyambung, bukan terlepas-lepas seperti umumnya puisi.

“Jadi, pertunjukan ini seperti kisah drama, hanya ditulis dalam bentuk pantun, tetapi ceritanya runtut,” ujar Ons Untoro.

Eko Winardi, yang bertindak selaku sutradara menyebutkan, pertunjukan pantun karya Simon ini, akan bisa dilihat secara enak, dan bukan sekedar membaca puisi sebagaimana laiknya orang membaca puisi.

“Kami berusaha memperhitungkan dalam penggarapan, sehingga meski dilihat melalui layar, tetapi terasa nyaman dan tidak menjemukan,” ujar Eko Winardi.

Joko Kamto, Eko Winardi, Simon Hate, dan KRT Agus Istijantonegoro. (ist)

Sejak pertemuan dalam bentuk kerumuman tidak diperbolehkan, karena untuk memutus mata rantai covid 19, Sastra Bulan Purnama, mulai April 2020 dipindahkan secara digital di youtube dan diberi tajuk Poetry Reading From Home.

“Tetapi membaca puisi tidak dilarang, asal tidak dalam bentuk kerumunan berupa pertunjukan di panggung yang menghadirkan orang untuk datang melihat,” kata Ons Untoro.

Poetry Reading From Home bisa dilihat dari rumah dari kota mana saja, dan bisa menggunakan HP maupun laptop. Setiap orang bisa sambil santai, tanpa perlu meninggalkan ruang tempat tinggalnya untuk menikmati acara ini. Yuladi, yang mengelola IT Tembi Rumah Budaya, yang akan mengerjakan secara teknis pertunjukan ini secara live sehingga publik bisa melakukan interekasi melalui chatt. (*/rr)

Poetry Reading From Home di Bulan Purnama

Jayakarta News – Di tengah pendemi covid-19, yang belum reda, Sastra Bulan Purnama edisi 104 kembali hadir, dalam seri Poetry Reading from Home #2. Kali ini diisi peluncuran antologi puisi berjudul ‘Mat Air Hujan di Bulan Purnama’, karya 50 penyair berbagai kota di Indonesia. Peluncuran secara ‘live’ melalui youtube sastra bulan purnama, Jumat, 8 Mei 2020, pkl. 19.30.

Jadwal pertemuan dan pembacaan puisi secara konvesional dibatalkan, karena kita tidak mungkin untuk bertemu dan berkumpul sambil membaca puisi, seperti tiap bulan purnama diselenggarakan. Namun membaca puisi tidak dilarang, tapi tidak boleh berkumpul lebih dari 5 orang, atau bahkan puluhan.

“Demi kesehatan bersama, masing-masing harus saling menjaga jarak, dan kita perlu mematuhi kebijakan pemerintah untuk tidak berkumpul supaya bisa memutus matarantai virus corona” ujar Ons Untoro, koordinator Sastra Bulan Purnama.

Puisi yang terkumpul dalam buku ‘Mata Air Hujan di Bulan Purnama’ sudah dikumpulkan sejak Mei 2019. Puisi-puisi ini, setiap Jumat dipublikasikan di rubrik sastra tembi.net, dan setiap tahun diterbitkan, dan diluncurkan setiap bulan Mei tahun berikutnya. Jadi, puisi yang sudah ditayang sejak Mei 2019 sampai April 2020 diterbitkan dalam satu buku, dan diluncurkan di Sastra Bulan Purnama setiap bulan Mei.

Buku yang mestinya terbit bulan Mei 2020 ini merupakan edisi ketiga dari seri sastra tembi.net. Seri pertama berjudul ‘Kepada Hujan di Bulan Purnama’ (Mei 2018), seri kedua ‘Membaca Hujan di Bulan Purnama’ (Mei 2019), dan seri ketiga ‘Mata Air Hujan di Bulan Purnama’ (Mei 2020).

“Jadi, agenda Sastra Bulan Purnama, bulan Mei 2020 memang untuk peluncuran buku Mata Air Hujan di Bulan Purnama, meskipun penerbitannya ditunda dulu. Para penyair, untuk sementara mendapat versi pdf-nya,” kata Ons Untoro.

Dalam Poetry Reading From Home seri 2 ini, dari 50 penyair tidak semua tampil mengisi dengan membacakan puisi karyanya, yang sudah siap untuk tampil lebih dari 20 penyair dari kota berbeda, seperti Fitri Manalu (Medan), Hafney Maulana (Riau), Susi Lestari (Palembang) Nok Ir, Rahem, Rofqil Junior, Ruhan Wahydi, Zen KR Hail (Madura), Kidung Purnama, Sahaja Santajana (Ciamis), Sulis Bambang, Yuliani Kumudaswari, Heru Mugiarso, Yanti S.Sastro (Semarang), Sus.S. Hardjono (Sragen), Kurnia Effendi, Romy Sastra, Marlin Dinamikanto (Jakarta), Bagus Putu Parto (Blitar), Indri Yuswandari, Kelana Siwi (Kendal), Adila Widya Kirana (Kebumen), Kurnia Wulansari (Temanggung) Suyitno Ethex (Sidoarjo), Wieranta (Solo), Harmono K (Surabaya), Aming Aminoedhin (Mojokerto), Chairul Anwar, Sutirman Eka Ardhana (Yogyakarta) dan beberapa penyair lainnya.

Karena bentuknya poetry reading from home, para penyair memilih tampil di tempat yang berbeda-beda, yang sifatnya di area rumahnya, atau lokasi yang tidak jauh dari rumahnya, dengan latar belakang macam-macam, sehingga kita bisa melihat dekorasi dari pembacaan puisi ini tidak tunggal dan sifatnya alami.

Kidung Purnama (Ciamis) dan Rofqil Junior (Madura). (ist)

Dari 50 penyair yang puisinya masuk dalam buku ‘Mata Air Hujan di Bulan Purnama’ bisa dilihat usia mereka berbeda-beda, dan mempunyai pengalaman menulis puisi yang tidak sama. Ada yang sudah menulis puisi sejak tahun 1070-an, dan sekarang usianya sudah mendekati 70 tahun. Tapi ada penyair muda, yang usianya 20-an tahun, dan rajin menulis puisi serta dikirimkan di media berbeda-beda setidaknya seperti Rahem, Rofqi, adilla dan beberapa penyair muda seangkatan lainnya.

Yuladi, yang menangani IT Tembi, dan yang mengolah pertunjukkan secara ‘live’ melalui youtube  sastra bulan purnama, sehingga pertunjukan poetry reading from home terlihat hidup.

“Karena dihadirkan secara live dan masing-masing bisa saling berinteraksi, sehingga seolah masing-masing bisa saling bertemu, laiknya seperti di Sastra Bulan Purnama Tembi Rumah Budaya,” ujar Yuladi.

Nuranto, Ketua Yayasan Rumah Budaya Tembi melihat, bahwa para penyair dari generasi yang berbeda masih terus mempunyai semangat menulis puisi dan membacakannya di depan publik, dan ini yang membuat puisi tidak pernah mati. Bahkan puisi terus ditulis.

“Melalui Sastra Bulan Purnama dalam versi konvensional dan digital, Tembi sebenarnya hanya menyediakan ruang  agar karya sastra, tidak hanya puisi, terus hadir,” ujar Nuranto.

Selama pendemi covid-19 belum punah, Sastra Bulan Purnama masih terus hadir di ruang digital. Namun, setelah kondisi kembali pulih, dan kita merasa nyaman berkumpul dan berinteraksi, kita bisa bertemu lagi membacakan puisi sambil menikmati bakmi jawa, wedang sere dan kopi di Tembi Rumah Budaya. (*/rr)

Sastra Bulan Purnama Digital

Jayakarta News – Poetry reading from home menandai Sastra Bulan Purnama edisi 103, yang tidak memungkinkan digelar langsung seperti biasanya di Tembi Rumah Budaya, Yogyakarta. Maka, diambil model digital, disiarkan melalui youtube.

Masing-masing penyair yang sedianya tampil, membuat rekaman membaca puisi sendiri, termasuk pentas musik dan dikirim ke penanggung jawab Sastra Bulan Purnama, Ons Untoro melalui email atau wathshap. Materi-materi yang masuk kemudian diolah oleh Yuladi, teknisi IT Tembi menjadi pertunjukan di youtube, dan akan diupload Rabu, 8 April 2020.

Virus corona membuat sebagian  besar warga masyarakat tinggal di rumah, work from home. Semuanya itu untuk memutus mata rantai virus corona agar tidak merebak. Karena kita saling mengambil jarak dari kerumunan, maka berbagai macam aktivitas yang memerlukan kehadiran banyak orang dengan sendirinya menjadi dihentikan.

Sastra Bulan Purnama, yang diselenggarakan rutin setiap bulan, dan edisi 103, yang akan digelar, Rabu 8 April 2020, pkl. 19.30 memang sengaja dihentikan. Beberapa penyair yang sudah siap untuk meluncurkan antologi puisi, jauh-jauh hari sudah diberi tahu, bahwa Sastra Bulan Purnama edisi 103 dihentikan untuk sementara.

Maka, para penyair seperti Bambang Supranoto dari Cepu, yang sudah menyiapkan buku puisi berjudul ‘Menjala Waktu di Lawang Sewu’ diminta tidak hadir di Tembi dulu. Demikian juga Menik Sithik, sudah menyiapkan buku puisi ‘Episode Sunyi’ batal tampil di Tembi. Tetapi bersama teman-temannya dia akan menampilkan pertunjukannya dalam bentuk rekaman audio visual, dan ditampilkan di youtube Sastra Bulan Purnama.

Menik dan Denny Arvian akan membacakan puisi, Rifha Raster,Hisha Mukti, Sandy Krisna Hadinata, Eka Zulfikar dan Adi Mahapena akan melantunkan lagu puisi. Selain itu ditampilkan pembacaan puisi kolaborasi dengan tarian, yang dibawakan Tara Nusantara dan Yanz Haryo Damista, dengan iringan musik Ki Usman dan Ki Wardoyo, dan videonya sudah dikirimkan untuk ditayang di youtube sastra bulan purnama.

Sejumlah alumni mahasiswa Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Sebelas Maret angkatan tahun 1980-an, yang menerbitkan antologi puisi bersama dan diberi judul ‘Lepas Kampus Tanpa Jumawa’. Mereka datang dari berbagai kota (Agus Purwanto (Tulungagung), Aming Aminoedhin (Mojokerto), Djuhardi Basri (Lampung), Minto Rahayu (Depok, Bogor), Puji Isdriyani, Sri Ardani Titisari (Jakarta), Agnes Adhani (Madiun), Watiek Sulistyo (Solo), Wieranto(Sukoharjo), Dedet Setiadi (Magelang), Kun Cahyono (Wonosobo), Junaidi Haes (Ngawi), mereka semua batal untuk tampil membaca puisi di Sastra Bulan Purnama 103.

Aming Aminoedhin (Mojokerto), akan membacakan puisi dari rumah, dan disiarkan youtube. (foto: ist)

Namun bukan berarti Sastra Bulan Purnama 103 batal digelar. Memang secara konvensional pertunjukan secara langsung tidak diselenggarakan, melainkan masing-masing diminta membuat rekaman pembacaan puisi dan akan diuplod di youtube sastra bulan purnama, Rabu, 8 April 2020. Dengan demikian SBP 103,  tetap digelar, tetapi tidak di panggung konvesional, dalam hal ini di Tembi Rumah Budaya.

“Jadi, dalam situasi corona ini, Sastra Bulan Purnama beralih ke digital, sehingga orang tetap bisa melihat pertunjukan pembacaan puisi Sastra Bulan Purnama sambil menjalani apa yang disebut sebagai stay at home,” ujar Ons Untoro, koordinator Sastra Bulan Purnama.

Ons Untoro, selaku penanggung jawab Sastra Bulan Purnama sudah menghubungi beberapa penyair yang rencana untuk tampil melalui wathshap agar penyair yang sedianya akan tampil membuat rekaman pembacaan puisi di rumahnya dan kemudian dikirimkan melalui email.

“Kurnia Effendi, penyair yang tinggal di Jakarta, merespon perihal Sastra Bulan Purnama digital ini menyebutnya sebagai poetry reading from home” ujar Ons Untoro

Bambang Supranoto (Cepu) buku puisinya berjudul ‘Menjala Waktu di Lawang Sewu’ sudah mengirim viedo. Penyair lainnya, Junaedi Haes (Ngawi), Aming Amonoedhin (Mojokerto), Agnes Andhini (Madiun), Agus Wahyudi, Watiek Sulistiyo (Solo), Puji Isdriyani (Jakarta), yang buku  pusinya berjudul ‘Lepas Kampus Tanpa Jumawa’ sudah mengirim rekaman videonya, dan penyair lainnya masih dalam proses pembuatan rekaman, sampai akhir Maret 2020. (*/rr)