Adisurya Siap Bertarung Lagi Andalkan “Stadhuis Schandaal” 

 Adisurya Siap Bertarung Lagi Andalkan “Stadhuis Schandaal” 

 

SUTRADARA film Adisurya Abdy saat ini mengaku lebih memilih kembali bertarung memproduksi film layar lebar, ketimbang berkreasi sinema elektronik (sinetron) ataupun film televisi (FTV).

Sebagaimana sudah diketahui, Adisurya Abdy kini tengah sibuk bersama-sama tim produksi PT Xela Film menyelesaikan syuting film layar lebar terbaru bertajuk “Stadhuis Schandaal” di wilayah Kota Tua, kawasan Museum Fatahillah, Jakarta Barat selain nantinya juga melakukan pengambilan adegan dan gambar di kota Shanghai, Tiongkok.

“(Memproduksi) Sinetron kalau diterima (laris ditengah) publik, (dapat) duitnya gak banyak. Kalo gagal diterima, langsung gak bisa lanjut ditayangkan. Apalagi, kalo FTV, gak diterima oleh pihak TV lantas mau ditayangin dimana?!,” ungkap sineas kelahiran Medan, Sumatera Utara pada 61 tahun lalu ini.

Sebetulnya, kata dia, aturan undang-undang yang mengatur bisnis pertelevisian di Indonesia sudah lumayan bagus.

“(Kualitas) Program-program televisi kan kuncinya ada di pihak pebinis televisi itu sendiri. Bahwa kalau mereka memilih menjejali dengan tayangan begitu-begitu aja, ya akhirnya orang-orang (pemirsa) menyukai yang gitu-gitu aja. Padahal, sebetulnya itu (semua) bisa diubah tergantung kemauan pihak pertelevisiannya sendiri, mau berubah atau tidaknya, bukan dari kemauan dan selera penontonnya,” papar sang penghasil sinetron “Buku Harian I-III” (1994-1996).

“Nah, kapan kita bisa menawarkan cerita-cerita baru kalau pilihan pihak televisinya seperti sekarang ini. Beda dengan di stasiun (dan kanal) televisi luar negeri dengan film-film serialnya yang bagus-bagus dan masih kuat trennya, dan kenapa kita tidak bisa tumbuh karena (salahnya) dari pihak (stasiun) TV sendiri. Jadi bukan salah pemerintah, tapi hanya pihak pemerintahnya kurang tegas dalam menjalankan aturan-aturannya,” diterangkan Adisurya Abdy.

Saya berhenti (membuat sinetron), katanya, karena dirinya tidak bisa menuruti aturan main mereka. “Itu sebagai hambatan utamanya,” jelas dia.

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *