JAYAKARTA NEWS – Perawakannya sedang. Dengan rambut disisir rapih membentuk jambul tipis kebelakang, ia terlihat gagah. Rambut itu selalu diolesi pomade, sehingga mengkilap dan licin. Terkena angin ajeg tak morat-marit, sehingga saya yakini sehari penuh cukup sekali menyisirnya, yakni saat pagi hendak ke kantor.
Eko Guruh
Itulah yang terlintas pertama saat mengenang Poniman. Cukup lama saya bersahabat, ketika bekerja satu kantor di Harian Jayakarta, Gang Arus, Jl Dewi Sartika, Jakarta Timur. Kala itu saya sebagai jurnalis, dan dia sekretaris redaksi.
Jabatannya itu membuat pria murah senyum ini akrab dengan semua jajaran redaksi termasuk saya. Ia ‘jantungnya’ bagian redaksi mengatur segala hal yang berkaitan dengan tugas wartawan.
Tanpa dia, sulit rasanya kinerja keredaksian lancar. Memang ada pemimpin redaksi dan wakilnya. Namun, jika tak ada sekretaris, dua orang itu tak bisa maksimal bekerja. Mereka repot, karena banyak hal teknis yang harus dihandel, sementara sering ke luar kantor untuk membina relasi dan jaringan.
Poniman cocok untuk jabatan itu. Ia piawai membina hubungan dengan wartawan yang terkadang ‘lagu lagaknya’ aneh-aneh. Wartawan manusia bebas yang sulit diatur. Pribadi yang tak mudah dipahami dalam hitungan hari. Untuk mengenalnya butuh waktu lama dan ada seni tersendiri.
Dialah yang mengatur alur surat menyurat, mengeluarkan petty cash, membagi undangan peliputan, membuatkan surat tugas serta mengatur jadwal cuti. Pendek kata, jika ia ‘gula’ maka wartawan pasti jadi ‘semutnya’.
Saya salah satu orang yang menikmati jasa baiknya. Pria berpenampilan parlente yang acap kali saya pelesetkan namanya jadi Ponce itu bolak-balik membantu ketika saya mengajukan cuti. Ia mengakali jadwalnya agar lolos saat sampai di meja pemimpin redaksi.
Pada bagian lain, ia juga acap kali menjadi penyambung hidup. Saya yang tidak bagus dalam menejemen keuangan, ditolong saat paceklik. Ia selalu saja mau manampung barang kesayangan saya untuk diganti dengan uang, meski sebetulnya barang-barang itu ia sudah punya.
Itulah kawan saya ini. Beberapa hari lalu, ia mendahului kawan-kawannya dipanggil Yang Maha Kuasa. Terlalu banyak kenangan yang terlalu panjang jika saya tulis semua. Kehilangan pasti, sedih apalagi, mengingat dalam hitunggan minggu sebetulnya ia akan ketemu sahabat-sahabatnya untuk kumpul merayakan ulang tahun Jayakarta News.
Itulah umur. Tak ada satu pun yang tahu. Terpenting berbuat saja kebaikan, agar ada cerita baik setelahnya. Sahabat saya ini telah menjalankannya dengan baik. Semoga ia tenang di alam barunya.
TIBA-TIBA ada pegawai baru di meja Sekretariat Redaksi Harian Jayakarta sore itu, ketika saya datang hari Sabtu. Ruang redaksi sepi karena Sabtu memang libur sebab esok koran tidak terbit.
Atok (T. Pramugiarto, staf sekretariat redaksi) lalu memperkenalkan, tapi Poniman sendiri yang menyebut namanya seraya bersalaman. Atok Sabtu itu menemani Poniman mengarahkan tugas yang harus ditangani.
“Nah, kalau orang ini tiap hari minta film. Kasih aja,“ kata Atok pada kesempatan berkenalan. “Iya, sehari lima roll. Asa 1600,” kata saya. Film ASA 1600 mahal dan langka. Atok langsung teriak, “Nggak. Jangan. Satu aja. Kasih ASA 400!” Poniman bingung.
Itu waktu pertama kali saya bertemu Poniman. Lupa tahun berapa. Beberapa waktu lalu, tepatnya tanggal 21 Desember 2020 Poniman kontak saya, mengabarkan ada buku baru tentang HAM. Kemudian saya ambil menggunakan jasa GoSend ke Kantor Komnas HAM. Karena Poniman tidak di kantor jadi saya tidak datang sendiri. Selain juga kondisi pandemic corona seperti ini. Jumat (15/1/2021) lalu Poniman dipanggil Tuhan. Berpulang. Kaget dan sedih mendengarnya.
Oleh sebab saya tiap hari butuh film untuk tugas sebagai wartawan foto, maka setiap hari saya berinteraksi dengan Poniman sebagai juri kunci loker penyimpan film. Sampai sekarang rasanya saya masih ingat bagaimana gaya Poniman menarik laci loker, ambil film dan kasih saya, mencatat di buku kecil panjang dan dorong laci lagi. Jebret! Cepat. Berbeda dengan Ato yang nariknya pelan nutupnya juga pelan. Bisa jadi saya bersama Mahmud dan Hedi merupakan wartawan Jayakarta yang berinteraksi dengan Poniman setiap hari.
Foto kenangan “Jendral” Poniman.
Keakraban saya dengan Poniman membuat saya panggil dia Jendral. Namanya mengingatkan saya kepada jendral militer terkenal era Orde Baru, Jendral Poniman. Lama kelamaan teman-teman juga memanggilnya jendral. Poniman hanya ketawa. Tapi wajahnya memang selalu ketawa. Dia tidak punya musuh.
Keakraban dengan Poniman juga memperlancar urusan uang pengganti jika tugas luar kota atau pembelian sesuatu terkait liputan. Karena Poniman selalu pulang larut membuat dia juga akrab dengan awak pengelola Jayakarta Minggu. Hal ini juga mempermudah urusan honor penulisan mereka yang membantu mengisi Mingguan Jayakarta, seperti Ivan Nestor, sekarang musisi terkenal. Penulis lepas yang menulisnya di ruang redaksi Jayakarta malam hari tidak harus ke bagian keuangan ambil honor tulisan siang hari. Merepotkan harus mondar-mandir. Poniman sudah mengurus bersama Atok dan malamnya dibayarkan.
Koran Jayakarta bubar 1999. Sejak itu saya tidak pernah bertemu Poniman lagi. Sekitar 15 tahun kemudian melalui grup WA Koran Jayakarta saya bertemu lagi dengan Poniman. Tentu juga dengan teman-teman Jayakarta lainnya. Seakan tidak pernah berpisah lama, kami masih saling teriak memanggil. Poniman berceritera kerja di Komnas HAM dan kebetulan beberapa komisionernya saya kenal baik. Poniman pun menyampaikan salam saya.
Poniman janji akan mampir ke rumah saya di Pamulang karena dia sering ke Pamulang katanya. Rupanya sering ke rumah Nana. Saya sering jumpa Nana karena anaknya dan anak saya satu les Bahasa Inggris di Pamulang. Tapi rencana Poniman mampir ke rumah saya belum sempat terlaksana.
Banyak kenangan saya dengan Poniman. Kecil-kecil tetapi banyak. Rasa haru muncul ketika mengingat peritistiwa kebersamaan kami, terutama saat deadline Mingguan Jayakarta. Ruang redaksi sering tinggal Poniman membereskan laporan hari itu dan kami teman-teman Mingguan Jayakarta pimpinan mBak Iswati.
Sesekali Mawi (lay out) lewat, mampir ke meja Poniman, sambal kasih kode rokok. Teman-teman bisa membayangkan sendiri bagaimana wajah Poniman, khas tertawanya, mengusir Mawi, juga dengan khas nyengirnya, pergi karena gagal “malak” Poniman. “Namanya juga usaha,” kata Mawi.
Ketika selesai kerja Poniman selalu pamit pulang duluan kepada kami yang lembur deadline Mingguan Jayakarta. Saya ingat, selalu Poniman pastikan loker terkunci, pakai jaket dulu, sudah rapi diretsleting barulah keluar kantor menuju parkir vespanya. Haru saya ingat hal itu. Membekas sekali dalam ingatan saya.
Sahabat baikku, orang baik, Poniman, kemarin pulang duluan. Doaku untuk Poniman. Semoga Poniman tidur dalam mimpi indah di rumah Tuhan. Suatu hari kita bertemu di sana. “Tolong siapin film ASA 1600, ya, Jend. Pasti ada banyak di Rumah Tuhan. Selamat tidur, Jend! (eddy koko)
JAYAKARTA NEWS – Jumat, 1 Februari pukul 18.15 WIB aku berangkat dari rumah menuju Wisma Ainard di Jalan Miliran Yogyakarta. Ojek online menjadi pilihanku untuk menjangkau tempat pertemuan dengan kawan-kawan lama mantan wartawan Koran Jayakarta itu.
Sopirnya muda. Tenang pembawaannya. Terang kulitnya. Tinggi perawakannya. Wajahnya persis pemenang kasting aktor pangeran dalam film Cinderalla. Andai ia masih kuliah, aku membayangkan, para mahasiswi pasti merasa rugi bandar jika melewatkan si sopir itu dari daftar nama calon menantu para orang tua mereka. Tapi aku tak peduli. Pikiranku tertancap pada sahabat-sahabat lama yang akan segera aku sua.
Sepanjang perjalanan, anganku mengulang kenangan masa lalu. Sepenggal waktu, selama sekitar empat tahun di pertengahan hampir akhir dasawarsa 90-an. Aku bekerja sebagai wartawan di Koran Jayakarta. Tidak cukup lama, tetapi juga tidak bisa dibilang singkat. Yang pasti, ada kesan yang tertinggal kuat dalam diriku. Di tempat itu aku berjumpa kawan-kawan yang bertipe pekerja keras, hobi begadang, sebagian besar perokok berat, semuanya suka keluyuran.
Sebagai wartawan, kami semua bekerja dalam tekanan deadline waktu yang tidak pernah bisa ditawar dan tempat peliputan yang terus berubah setiap waktu tak peduli pagi, siang atau malam, pun tak pandang bulu warna angka kalender sedang merah. Dengan kondisi seperti itu, ibarat gelombang, sudah pasti riak yang tercipta tak pernah linier, teratur dan terpola. Begitulah kira-kira irama hidup kami.
Makan pukul 03.00 dini hari sudah biasa. Bisa jadi itu sarapan kepagian. Atau mungkin pula itu makan malam yang tertunda. Menu makan pun seringkali seadanya. Mie instan pinggir jalan atau warteg yang menyajikan gorengan berulang-ulang sehingga membuat teksturnya menjadi keras dan warnanya berubah gelap. Bukan karena kami tak sadar kesehatan. Dua menu itu menjadi pilihan karena, pertama gampang didapat di banyak tempat dan, kedua, warung buka non stop sepanjang hari seminggu penuh.
Alasan itu sangat mendukung situasi kerja dengan tekanan waktu dan mobilitas tinggi. Lagipula harganya murah. Alasan terakhir ini klop betul dengan isi dompet yang sukses menipis sebelum tanggal gajian tiba. Semua situasi itu masih diperparah oleh lingkungan Jakarta yang polutif dan lalu-lintas yang macet di banyak titik.
Orang-orang dengan pola kerja dan hidup seperti itu di lingkungan yang mudah memancing stres, menurut dugaanku, termasuk sosok-sosok yang nantinya dengan segera masuk ke dalam kelompok golongan manusia-manusia dengan sederet penyakit degeneratif mulai umur paruh baya, serta berwajah tua sebelum usia yang sebenarnya tiba. Dua kawan kami, Novi Nuryanti dan Shanti Sibarani, sudah mendahului meninggalkan dunia ini. Keduanya karena sakit. Novi terserang kanker. Shanti menderita gagal ginjal.
Di antara kawan-kawan wartawan itu, aku paling akhir bergabung dengan Jayakarta. Sesaat setelah aku lulus kuliah. Aku angkatan paling muda di antara para seniorku. Kutinggalkan Jayakarta pada usia awal 30-an tahun. Jika usiaku kini awal 50-an, pastilah rentang umur mereka ada di kisaran angka sama denganku, pertengahan atau akhir 50-an, serta awal atau pertengahan 60-an.
Menurut kalkulasi ibu-ibu kader PKK di kampungku, pemilik usia 50 tahun ke atas tercatat dalam daftar pra lasia dan lansia. Usia yang mulai dipantau intensif seperti pada kegiatan Posyandu yang mengurusi perkembangan balita.
Di lingkungan tempat tinggalku, banyak pemilik usia 80-an tahun ke atas yang tetap sehat. Para pemilik awet usia itu hidup di zaman yang serba alami, tak kenal makanan instan, udara kampung yang jauh dari polusi dan tidak ada tekanan kerja yang berarti. Tegur sapa dan saling bertukar makanan menjadi ritual sehari-hari yang menambah ayem suasana batin.
Golongan generasi di bawah para tetua itu mulai berbeda. Mereka sudah merasakan degradasi kondisi fisik. Saat ini di kampungku, pemilik usia mulai 50-an tahun banyak yang menderita sakit degeneratif. Tekanan darah, kolesterol, asamurat dan kandungan gula darah yang meningkat di atas ukuran normal sudah biasa merasuki tubuh-tubuh mereka. Rasa pegal-pegal dan berkurangnya kekuatan fisik juga menyerang para pemilik usia paruh baya itu.
Agus Purwantoro, alias Hafez, suami Nina. (foto: dok jayakarta news)
Suamiku misalnya, di pertengahan usia kepala lima, ia menderita kaku otot layaknya penderita stroke. Berdasarkan penelusuran cek laboratorium dan foto-foto medis, kondisi internisnya bagus. Tekanan darah, kandungan gula, kolesterol, asamurat berada dalam rujukan angka-angka normal. Rekam jantung dan foto torax pun terukur sehat, kendati dia perokok berat. Hanya, pada hasil foto rontgen menunjukkan ada tiga titik di tulang lehernya yang sedikit bergeser. Namun tingkat keparahannya sama sekali tidak signifikan.
Itu terjadi karena gerakan raja yoga, yakni gerakan yoga kepala-di-bawah-kaki-di-atas, dalam waktu berlebihan. Satu menit cukup sebetulnya untuk ukuran usianya. Tetapi, karena terbakar semangat membara akan manfaat gerakan raja yoga—mendongkrak vitalitas di segala lini dan menaikkan daya pikir– ia melakukannya dalam tempo yang kelewatan, selama 30-40 menit. Pernah sejam juga.
Gerakan raja yoga over dosis itu membuat syaraf-syarafnya ikut bosah-baseh, tenaga dalamnya muncul dalam kondisi salah arah. Begitu yang bisa aku pahami selama ini. Yang jelas, suamiku itu menambah satu jumlah manusia dalam statistik di kampungku pada kelompok pra lansia dengan sejumlah catatan “merah” pada kolom rekam jejak kesehatannya.
Bertolak dari semua visualisasi manusia-manusia di kampungku, aku jadi berpikir, bagaimana dengan kawan-kawan lamaku mantan wartawan Koran Jayakarta?
Sejauh info yang sampai ke telingaku, sebagian besar dari mereka masih setia dengan profesi jurnalistik. Mayoritas dari mereka hidup di Jakarta yang polutif dan macet. Aku membayangkan akan berjumpa manusia-manusia yang membawa segepok obat-obatan dalam saku baju atau tasnya. Kawan-kawan lamaku itu mungkin juga sudah susah bergerak cepat akibat degradasi fisik. Sudah selama hitungan dua puluh tahun aku tak bertemu. Rentang waktu yang sangat leluasa untuk mengubah keadaan fisik seseorang.
Setiba di Wisma Ainard tempat rombongan Jayakarta menginap, aku turun dari boncengan. Kendati sekota, baru pertama kali aku melihat rumah penginapan itu. Tua penampakannya. Remang lampunya. Jadul meja kursi dan foto-foto yang terpajang di dindingnya. Sebuah televisi tabung di sudut ruangan ibarat seorang kakek yang luput dari perhatian anggota keluarganya.
Lorong panjang di ruang tengah yang sarat mebel kuno, semakin menambah kesan usang. Sepertinya sinkron betul penampakan-penampakan itu dengan manusia-manusia yang kala itu sedang menghuninya. Jangan-jangan betul juga pikiranku yang membayangkan wajah-wajah kawan lamaku yang tua dan penyakitan.
Diana Runtu
Akhirnya, satu per satu aku jumpai mereka. Aku berjumpa Mbak Diana Runtu. Alamaaakk….!!! Perempuan tomboi berambut cepak ini masih terlihat muda. Gesit dan segar. Kulit wajahnya halus, putih tak beda seperti saat kujumpa dulu, 20-an tahun lalu. Gincu warna merah cerah teroles tipis di bibirnya. Ia ibarat wanita akhir 30-an yang sedang mengikuti kontes merebut perhatian jejaka awal 30-an. Dan, piala kemenangan ada di genggamannya.
Melva Tobing
Mbak Melva Tobing. Perempuan Batak ini hanya menunjukkan satu saja perilaku gejala penuaannya. Ia lupa siapa aku. Setelah, entah siapa yang memberitahu bahwa aku Nina, hanya dalam hitungan detik dia langsung ingat. Setengah berlari dan melompat dia menghampiriku. Kami bersalaman dan berpelukan. Berlari dan sedikit melompat. Itulah dua gerakan yang selalu aku lihat ia lakukan selama tiga hari persinggunganku dengannya. Sewaktu akan naik mobil off roadlava tour di Kaliurang ia begitu. Sewaktu akan berganti pakaian untuk ikut jalan-jalan ke pameran lukisan Babad Rupa Diponegoro, ia juga seperti itu. Saat minta foto-foto di Jogja Galeri, ia pun sedikit berlari dan melompat kecil di awal pergerakannya. Semuanya disertai senyum merekah dari bibirnya yang berhiaskan tahi lalat. Persis gadis SMA yang baru pertama mendapatkan surat cinta.
“Abah” Fachrudin
Mas Fachrudin. Saat menjadi reporter, beberapa kali aku berjalan bersamanya. Kecepatan langkahnya tak berubah antara saat kami bersama meliput kenaikan harga cabe di Pasar Induk Kramajati, dengan saat aku berjalan bersamanya di pelataran Candi Prambanan. Padahal, kini bobot tubuhnya meningkat signifikan, yang sepantasnya membuat pergerakannya melamban. Tetapi tidak. Langkahnya enteng-enteng saja. Juga tak terdengar di telingaku suara napas ngos-ngosan dari arah hidungnya.
Laksmi W
Mbak Laksmi. Sosok ini di mataku seperti ada dan tiada. Memang begitu ia sejak dulu. Tipe perenung. Tulisan-tulisannya mengalir lancar dan berbobot. Tampilannya tenang, bicarannya konsisten pada tone dan volume rendah. Hanya kenaikan bobot tubuhnya yang, seperti Mas Fachruddin, menambah luas penampakan posturnya. Kendati begitu, ia tak kalah lincah dibanding EO yang lagi naik daun sekalipun. Diam tapi kerjanya gesit. Sewaktu kawan-kawan Jayakarta piknik ke Gunungkidul, Mbak Laksmilah tokoh di balik kesuksesan tamasya pantai di siang yang panas itu.
Eddy Koko
Mas Eddy Koko. Aku jarang bersinggungan dengannya saat di Jayakarta dulu. Ia wartawan Jayakarta Minggu, sementara aku bertugas di harian. Yang kuingat dari dia, adalah cerita-ceritanya bersama pemusik jazz legendaris alm. Bill Saragih. Dari grup WA, aku tahu dia pengoleksi piano tua. Lewat sentuhan tangannya, setua dan sebobrok apa pun sebuah piano, bisa menjelma menjadi alat musik yang nyaring bunyinya, tak lagi sumbang, kinclong penampilannya. Persis alat musik yang baru keluar pabrik. Mungkin, kepiawaiannya merawat piano tua itu menular ke dirinya. Di mataku, tanpa mengenakan topi untuk menutupi kebotakannya, ia masih tampak muda dan seksi.
S. Resti Handini
Mbak Dini. Perawakannya kecil cenderung kurus. Tapi powernya luar biasa. Seperti itulah ia yang pernah kukenal dulu. Tak kalah dengan gadis muda bermodal pas-pasan yang baru senang-senangnya berpetualang. Jalan kaki bukan halangan, tidur di sembarang tempat tak jadi rintangan. Itulah kakakku yang satu ini. Antara dulu dan sekarang tetap gesit gerak langkahnya. Apalagi jika urusannya adalah harus berpidah-pindah tempat dengan cepat demi mendapatkan momen selfi dengan latar belakang yang menurutnya ideal.
Leo Patty
Mas Leo. Pria yang satu ini kudapati tetap necis dan bersih. Sesekali kutangkap rautnya yang murung di antara senyum lepasnya. Belakangan aku tahu. Dia memiliki buah hati yang membutuhkan perhatian lebih. Aku pun senasib dengannya. Buah hatiku tipe anak penyendiri. Keunikan dua buah hati itulah, yang membuat kami terasa dekat dalam pertemuan yang singkat di awal Februari itu. Dia menunjukkan optimisme luar biasa dalam memandang dunia, seberapa pun besar tantangan dan rintangan. Rasa optimis itulah, mungkin, yang membuat penampilannya tampak lebih muda dibanding usia yang sebenarnya.
Jumadi
Mas Jumadi. Aku sangat mengenalnya. Ia banyak membantu wartawan menghubungi narasumber lewat sambungan telepon. Pasca ambruk Jayakarta, ia tetap bekerja di dunia media yang menuntut stamina prima. Tiga hari bersamanya, dalam usia yang tak lagi muda, dengan ukuran perut buncit selayaknya wanita berbadan dua, ia tetap oke-oke saja. Tak tampak rasa lelah di wajahnya. Senyum dan tawa lepas selalu mengekor di akhir kata-katanya.
Katmin
Mas Katmin. Seperti yang lain-lain, ukuran tubuhnya ketularan melar. Namun, ia tetap gesit melayani kawan-kawan. Office boy yang satu ini tak pernah kulihat murung. Seperti Mas Jumadi, ia lebih banyak bergembira. Tawanya lepas dan renyah. Serenyah kerupuk bawang kualitas nomor satu yang mekar sempurna di penggorengan.
Mahmud
Mas Mahmud. Awal perjumpaanku dengannya di Wisma Ainard, aku lupa siapa dia. Setelah kupandangi dengan seksama, otakku dengan cepat mengungkap identitasnya. Mahmud si fotografer. Selisih tipis penampakan cowok satu ini dibanding terakhir kali aku bertemu duapuluh tahun yang lalu. Hanya kemunculan rambut putih di antara sedikit rambut hitamnya yang membuatku pangling kepadanya. Tetapi, putihnya rambut tak membuat surut semangatnya. Ia datang ke acara kumpulan kawan lawas Jayakarta itu dengan mengendarai sepeda motor dari Kebumen tempat tinggalnya. Jarak seratus km lebih tak membuat tubuhnya tampak loyo untuk mengikuti semua prosesi acara pertemuan di awal Februari itu. Usia tua tak identik dengan melempemnya stamina. Begitulah Mas Mahmud. Cowok yang satu ini dulu kukenal pendiam. Aku tak punya memori ia bisa bercanda. Tetapi kemarin di atas bus yang membawa kami semua ke Kaliurang, untuk pertama kalinya ia berbicara menghibur. “Lihat Nina, foto kita ini seperti buah terong berjajar-jajar,” katanya sambil menunjukkan foto kawan-kawan Jayakarta yang baru saja diambil di Candi Prambanan. Kebetulan, kami semua berseragam ungu.
Iswati dan Nina
Mbak Iswati. Hanya mbak Iswati yang kulihat tua dan kurus. Tetapi dua puluh tahun silam pun, ia juga seperti itu. Ini berarti, pertambahan tingkat penuaannya tak bergerak mengikuti deret ukur maupun deret hitung. Ia stagnan. Berhenti di tempat. Kalaupun saat itu dia sedang terserang sakit, hanyalah batuk biasa. Penyakit musiman yang banyak menyerang siapa saja di kala musim penghujan. Apalagi jika stamina sedang menurun akibat lelah atau kurang tidur. Oh ya, seniorku ini pasti terserang batuk akibat kurang tidur. Ia baru saja menyelesaikan tulisan yang akhirnya memenangkan Piala Adinegoro. Anugerah tertinggi di bidang jurnalistik. Tentu dia bekerja keras dan dalam jangka waktu lama untuk itu. Usia boleh tua, semangat kerja tetap muda. Itulah kesanku terhadapnya.
Ratu Elty
Mbak Elti. Kawan lamaku ini sepertinya mampu melawan gerak pertambahan usia. Tak sedikit pun tanda-tanda tua di wajahnya. Tetap imut dan masih suka bercanda. Gayanya di depan kamera, sebelas-duabelas, jika disandingkan dengan model profesional. Hanya nasib yang membuat keduanya jauh berbeda. Mbak Elti berpose untuk suka-suka, si model beraksi demi menggemukkan pundi-pundi.
Ign Gunarto
Mas Gunarto. Hanya sedikit waktu aku berjumpa kembali dengannya. Ia datang sebentar pada saat acara Ulang Tahun Jayakartanews.com berlangsung. Singkat. Tetapi, kendati tak lama berjumpa ia bercerita terkena stroke ringan. Namun aku melihat penampilannya masih tampak gagah. Mungkin, aroma kecantikan sang istri yang saat itu mendampingi, menyetrum wajahnya sehingga tampak berseri-seri.
Rina Ginting
Mbak Rina Ginting. Wanita bercucu satu ini jauh dari kesan oma-oma. Dulu, aku ingat betul dia sering membawa buah hatinya yang masih kecil ke kantor. Sekarang pun, seandainya dia datang dengan menggandeng sang cucu, aku akan menyangka si cucu itu sebagai anaknya.
Roso Daras
Mas Roso Daras. Seperti Mbak Rina Ginting. Di mataku, pria ini sukses membuat penampakannya jauh lebih muda dibanding usianya. Saat berpidato, tutur katanya mantap walaupun menurutku warna suaranya agak memberat. Pengaruh lelah mungkin. Ia menyetir mobil dari Jakarta ke Yogyakarta menempuh jarak 550 km lebih. Dari sorot matanya, aku melihat semangat dan optimisme yang luar biasa. Mas Roso Daras seperti siap memimpin barisan Jayakartanews.com serapi ia mencukur kumisnya, seteratur ia merawat janggutnya. Skenario ke depan yang gemilang pada media online yang baru berusia dua tahun ini seperti sudah bisa saya duga. Bersama komandan Roso Daras, ia akan melesat cepat bak roket terlepas ke angkasa.
Rombongan Jayakarta News di depan pintu masuk Candi Prambanan. (foto: dok jayakarta news)
Untuk kawan-kawan di luar redaksi, mohon maaf, saya tidak memiliki referensi. Saat menjadi reporter di Koran Jayakarta, saya tidak punya kewenangan apa pun untuk menghadiri acara-acara lintas divisi. Karena itu saya baru mengenal kawan-kawan dari bagian keuangan, sirkulasi, iklan dan lain-lain di luar yang berhubungan dengan redaksi, pada saat ketemuan di Yogya tempo hari. Jadi saya tidak memiliki perbandingan untuk berkomentar. Saya hanya bisa merasakan bahwa semua kawan-kawan lama Jayakarta yang hadir di Yogyakarta, nyaris tak menampakkan usia tua. Prosesi tiga hari non stop mereka ikuti dengan semangat empat-lima dan full tawa canda. Penuh kegembiraan.
Aku jadi berpikir-pikir, apa yang membuat mereka semua mematahkan dugaan-dugaan kelamku yang membayangkan mereka berwajah tua dan penyakitan? Guyub, rukun, dan gembira. Tiga faktor itu yang aku rasakan selama tiga hari bersama kawan-kawan Jayakarta. Di ulang tahun kedua Jayakartanews.com itu aku mendapatkan pelajaran berharga bahwa persahabatan yang gembira adalah kunci penting untuk merawat usia.
Resep merawat usia itu semakin sempurna dengan kehadiran Bapak Aqua Dwipayana. Ia motivator yang tak hanya memotivasi lewat kata-kata, tetapi juga melalui teladan perilakunya. Berbagi tanpa pandang bulu, egaliter tanpa syarat, dan berkarya sampai wafat.
Aku pernah mengenal sesosok motivator kondang yang dahsyat kata-katanya, tetapi ia pelit berbagi, pun anak sendiri dikhianati.
Kawan-kawan Jayakarta dan Aqua Dwipayana, dua kekuatan yang bersatu menjadi sebuah kado istimewa. (Ernaningtyas)
Bersama motivator Aqua Dwipayana. (Foto: dok jayakarta news)
Logo Harian Umum Jayakarta periode Jl Arus, Cawang, Jakarta Timur.
JAYAKARTA NEWS – Malam sudah larut, saat Commuterline yang saya tumpangi tiba di Stasiun Bekasi. Mendadak ponsel di saku celana bergetar. Bikin selangkangan geli-geli kaget. Satu nomor di layar muncul. Tak saya kenal.
Heran juga. Siapa tengah malam begini telepon. Pasti penting, pikir saya. Jadilah saya pun menjawab panggilan di ponsel. Padahal setengah mengantuk. Tadi malah sempat tertidur di Commuterline. Untung dibangunin petugas pengawal kereta yang sebenarnya juga ngantuk.
Di ujung sana, terdengar suara Laksmi. Senior di Koran Jayakarta dulu. Dia minta izin memasukkan nomor ponsel saya di grup WA Jayakarta. Saya iyakan saja. Saya pikir, pasti bakal seperti grup WA kebanyakan. Seru-seruan sesaat doang.
Tak sampai lima menit, ada juga yang say hello. Wah, ternyata ada juga ya yang ingat saya. Surprise….. Padahal saya hanya sekelebatan hadir di Jayakarta. Waktu itu sudah di Gang Arus, Cawang, Jakarta Timur.
Di parkiran motor di bekas jalur kereta batubara di Stasiun Bekasi. Ingatan saya seakan berputar, pada saat menjadi bagian dari Koran Jayakarta. Saya adalah rekrutan dari PPWP Yogyakarta. Angkatan VII. Bersama Ari Hidayat dan Nina (Ernaningtyas). (Sekalian kenalan dengan senior yang belum sempat kenal waktu itu).
Kumandan saya di Gang Arus waktu itu ada dua. “Ibu Walikota” Diana Runtu dan “Kapolres” Timbo Siahaan. Saya sebut begitu karena tugas saya di Pemkot Jaktim dan Polres Jaktim.
Juragan lapak gedenya, Sam Roso Daras. Seingat saya, meja beliau waktu itu memang selalu penuh kertas editan. Mirip lapak kertas bekas.
Saya tak sempat berhadapan dengan suhu-suhu lain, seperti Albert Kuhon. Entah saya harus bersyukur atau berduka, karena cerita dari para senior, seru dan saru banget saat ada suhu Albert Kuhon di Jayakarta.
Menjelang akhir tahun kedua di Jayakarta, saya dipinang ke tempat lain. Jadilah saya tinggalkan Gang Arus, bersama seluruh kenangan. Kesibukan nunggu order kerjaan, menjadikan saya tak sempat merajut silaturahim.
Sampai kemudian memori itu terpanggil kembali. Namun saya tak mau berharap banyak. Saya masih berpikir, WAG Jayakarta bakal seperti yang lain.
Tapi saya salah. Dari WAG, saya jadi tahu Jayakarta lahir kembali. Meski bentuk lain. Dari komunikasi yang terjalin di WAG pula, saya tahu ada banyak kegiatan. Seakan menegaskan umur emang masalah buat lo…, bukan kami.
Terakhir waktu rame-rame ke Yogyess, eh Yogya. Ternyata para senior tak hanya sekadar hepi-hepi melepas kangen. Dan yang saya bikin geleng kepala adalah, pulang dari Yogya tiba-tiba semua menuangkan pengalaman mereka dalam tulisan.
Bagi saya, ini luar biasa. Amazing kalau kata Tukul. Meski sekelebatan saja di Gang Arus, saya tahulah, tidak semua yang ikut ke Yogya adalah awak redaksi. Ada senior-senior di bidang usaha, yang dulu tak pernah kebayang bisa nulis. Nyatanya, empat jempol tak cukup buat menyatakan kagum.
Asiknya lagi, mereka terus bikin kelas menulis. Features lagi. Wow, saya makin angkat topi. Walau pinjam topi teman di seberang meja kantor. Semoga nanti akan ada banyak tulisan-tulisan indah. Tulisan yang bisa dibaca dan di-share (pinjam istilah milenial) ke banyak orang.
Mungkin belum akan menjadi inspiransi. Tapi setidaknya, bisa meneduhkan batin yang sekarang lebih banyak dicekokin tulisan tanpa makna. Hanya penuh prasangka dan amarah membuncah.
Semoga…
Tepukan tangan penjaga parkir menghentikan putaran memori saya.
“Ini kembalinya, bang,” katanya sembari memberikan uang 8.000 perak ke saya.
“Kok kembali 8.000, uangnya kan tadi 20.000. Ongkos parkir kan 6.000”.
“Sampe jam 12 malam, bang. Sekarang dah lewat 5 menit, jadi itungannya nginep, kena 12.000”.
Buset dah…, keasikan ngelamun. Rugi bandar, jadinya. Buru-buru dah motos saya starter. Meluncur pulang, sembari teriring salam hormat saya untuk para senior. ***
Kiri: Herman Hakim Galut diapit putri kesayangan, Heny (kiri) dan istri tercinta, Yenny (kanna). Itulah foto terakhir mereka bertiga. Kanan: Jazat Herman Hakim Galut sesaat setelah mengembuskan napas terakhirnya di Christ Houses, Washington DC. (Foto: Dok. Keluarga)
Oleh Roso Daras
SEWINDU satu kantor dengan almarhum Herman Hakim Galut, saya hanya terkesan satu hal: Dia orang yang serius. Serius saat bekerja. Serius saat rapat redaksi. Bahkan serius saat bercanda….
Sungguh, saya baru mendapat perspektif yang berbeda tentang Herman Galut, justru ketika berbincang lewat whatsapp dengan Heny, putri semata wayang yang meninggalkan tempat tinggalnya di San Diego, untuk menemani hari-hari terakhir sang papa di Washington DC. “Hi Om, this is his daughter,” sapa Heny lewat WA.
Penuturan Heny menggambarkan, betapa Herman menghadapi hari-hari terakhirnya dengan sangat santai. Sangat jauh dari kesan serius yang melekat di benak saya. “Hari-hari terakhir, papa ingin makan semua makanan lezat, dan saya berusaha membuat semua keinginannya menjadi kenyataan,” tulis Heny dalam bahasa Inggris.
Heny menyuapi papanya makan makanan kesukaannya, Babi Hong. Makanan ala Cina yang dimasak khusus oleh Yenny, istri Herman. (Foto: Dok Keluarga)
Heny membawakan dan menyuapkan makanan udang dan pok choy kesukaan papanya. Hari berikutnya, Heny membawakan paket bento. (foto: dok keluarga)
Menu pertama yang dibawakan Heny adalah Babi Hong (kheu nyuk). Menu yang sekilas mirip daging gepuk ala Sunda, atau daging semur. Bedanya, daging yang digunakan adalah daging babi, dan dimasak ala China. Itu salah satu makanan lezat kesukaan Herman Galut. “Mama yang memasakkan khusus buat papa,” kata Heny seraya menambahkan, “saya ingat, itu hari Rabu, empat hari sebelum beliau wafat, hari Minggu kemarin.”
Hari berikutnya, Kamis, Heny khusus membelikan udang dan pok choy dari restoran Cina favorit papanya. Hari Jumat, Heny membawakan menu bebek dari restoran Thailand, yang juga merupakan salah satu restoran kesukaan Herman Galut. Hari Sabtu-nya, Heny membawakan menu bento ala Jepang.
“Semua makanan yang saya bawakan, dimakan dengan sangat lahap. Saya lihat papa bugar, dan sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda sekarat. Entahlah. Yang pasti, papa memang suka mengecilkan penyakitnya, terutama kalau ada saya dan mama. Ia tidak mau orang-orang mengkhawatirkannya,” kenang Heny, masih lewat WA dan diketiknya dalam bahasa Inggris.
Selama sakit ia dirawat di Christ House, dan semua orang di “Rumah Kristus” itu mencintai dan menyambut hangat kehadirannya di sana. Kegemaran bermain musik, masih tetap dimainkan bersama teman-temannya.
Sabtu 20 Oktober 2018, sehari sebelum wafat, Herman Hakim Galut memberi kejutan kecil kepada putri kesayangan, Heny. Ia mencukur plontos rambut keritingnya. Bahkan ketika Heny datang, ia mencoba melucu dengan menggerak-gerakkan kepala ke kiri dan ke kanan sambil tertawa-tawa. Sama sekali tidak ada tanda-tanda maut telah dekat.
Foto kiri, Herman sebelum potong rambutnya. Kanan, Herman setelah mencukur habis rambutnya. (Foto: Dok. Keluarga)
Meski begitu, Heny tahu persis bagaimana kondisi fisik yang sebenarnya. Perasaan Heny seperti terserang shock kecil, ketika papanya meminta ia dan mamanya datang besok, hari Minggu, tanpa membawa makanan. Ya, tanpa membawa makanan apa pun. Herman menyatakan ingin lebih banyak waktu di hari Minggu bersama istri dan anak. Atas permintaan itu, Heny hanya mengangguk dalam, dan tanpa ragu sedikit pun untuk menjawab, “kami akan datang, pa….”
Sebelum berpamitan hari Sabtu yang terasa kelabu itu, saya menguatkan diri untuk mengatakan, “Pa… saya harus kembali ke San Diego, dan kembali bekerja pada hari Kamis. Saya tidak ingin papa khawatir dan stres tentang segalanya. Jika papap ingin ‘pergi’ maka ‘pergilah’ dengan tenang. Aku bisa mengurus semuanya di dini dengan mama, dan kami akan baik-baik saja.”
Mendengar kalimat melo putri kesayangan, Herman masih tersenyum dan menjawab, “Oh… tenang saja. Saya akan hidup lima tahun lagi.” Heny pun tertawa dan segera memeluk papanya seraya berkata, “Oke pa…. saya harap papa hidup lebih lama lagi.” Heny dan papa saling melempar kata cinta, dan berjanji ketemu lagi besok.
Hari Minggu pun datang, Heny dan Yenny, mamanya, pergi ke Basilica di DC untuk menghadiri misa pertama. Setelah misa, Heny mendapat telepon dari Christ House dan seorang perawat mengabarkan kondisi papa yang memburuk. Sejak Sabtu malam, kadar oksigennya turun menjadi 50% dan sejak itu mereka memakaikan masker oksigen untuk bisa meningkatkan hingga 80%. Tingkat oksigen normal sekitar 90-an, dan Herman tidak pernah bisa mencapai level itu.
“Saya memberi tahu perawat sedang dalam perjalanan ke sana. Sekitar 15 menit mengemudi menuju Christ House, kembali telepon bordering. Suster Mari di ujung telepon mengabarkan papa sudah tiada…. Papa dinyatakan meninggal dunia pukul 09.00 waktu setempat, hari Minggu tanggal 21 Oktober 2018,” tulis Heny.
Seketika Heny teringat percakapan hari Rabu, empat hari sebelumnya. Percakapan empat mata. “Kalau saya meninggal, tolong jangan menangisi saya. Saya ingin kamu dan keluarga bahagia dan merayakan hidup saya….” Heny menuliskan apa yang diucapkan papanya hari itu, “When I pass away, please don’t cry over me. I want you and the family to be happy and celebrate my life.”
Demi mengingat itu, Heny mengaku benar-benar berusaha menahan air mata agar tidak jatuh, saat melihat jenazah papanya kemarin. Ia bangga akan sosok Herman Hakim Galut, papanya. “I believe that my dad was a great journalist, broadcaster and a little bit of a politician too. Even when he was sick, he was still reading a lot of books about politics and religions. He enjoyed reading and writing so much.”
Menurut Heny, jenazah papanya akan dikremasi di Genesis Cremation and Funeral Services, 5732 Georgia Avenue, N.W., Washington DC dalam waktu dekat. Setelah itu, abunya akan dibawa pulang ke Ruteng, Manggarai, NTT, tempat kelahiran Herman Hakim Galut. “Saya dan mama akan mendampingi (abu jenazah) papa,” ujar Heny.
Genesis Cremation and Funeral Services yang akan mengkremasi jazad Herman Hakim Galut. Abunya, akan dibawa pulang ke Ruteng, NTT oleh Yenny dan Heny, istri dan anak almarhum.
Kanker Usus Besar
Di kesempatan terpisah, Yenny K. Soehanda mengatakan, bahwa suaminya mengidap sakit jantung untuk waktu yang cukup lama. Selain jantung, almarhum juga didiagnosa mengicap colon cancer (kanker usus besar) tahun 2016. Awal tahun 2017, seharusnya ia sudah bebas dari kanker tersebut, dengan menjalani serentetan terapi radiasi dan kemoterapi. Sayang, penyakit jantung yang diidap menyebabkan proses perawatan kemoterapi tidak dapat dilanjutkan. Pihak rumah sakit menghentikannya akhir tahun 2017.
Masuk tahun 2018, Herman Hakim Galut kembali mengalami serangan jantung, dan sempat dirawat di ICU MedStar Washington Hospital selama tiga hari. Setelah kondisinya stabil, Herman mendaftarkan diri ikut program rumah perawatan di Christ House, sebab tidak ada yang bisa dilakukan lebih di rumah sakit.
Fungsi jantungnya dideteksi hanya 20% dan tiada guna baginya untuk menjalani kemoterapi dan radiasi lain. Mereka hanya memberinya obat untuk membuat nyaman. Kiranya, saat ini Herman Hakim Galut sudah nyaman di sisi Tuhan. Selamat jalan kawan, kami akan merayakan hidupmu, seperti keinginanmu. ***
Hari-hari terakhir Herman Hakim Galut, ditemani putri semata wayang, Heny. (foto: dok keluarga)
Oleh Joyce Djaelani
‘Melangkahkan kaki ke kantor Harian Jayakarta di Gang Arus di tahun 1989, saya sebenarnya hanya dengar bahwa ada yang membutuhkan bantuan menterjemahkan berita dari Bahasa Inggris ke Indonesia. Dan, di Jayakarta, saya sudah ditunggu untuk bertemu orang yang bernama Herman Hakim Galut. Jadi pulang kuliah, berangkatlah saya ke Gang Arus.
Sesampainya di sana, saya ditunjukkan meja dimana Herman Hakim Galut duduk. Saya pun langsung mengatakan tujuan kedatangan saya. Tanpa ba bi bu lagi, dia menyodorkan secarik berita dari Reuters dan saya diminta langsung mengetik terjemahannya. Itu saya langsung lakukan.
Dalam hitungan beberapa menit, ketikan terjemahan selesai. Kertas saya serahkan kepadanya dan ia pun menggaruk rambut keritingnya dan melihat saya. “OK, kamu mulai kerja di sini malam ini ya?” Sudah tentu saya bingung. “Maksudnya?,” tanya saya polos. Barulah saya tahu kalau ternyata info teman saya salah. Jayakarta sedang mencari orang untuk membantu desk luar negeri. Begitulah awal mula saya terdampar di Desk Luar Negeri saat itu.
Joyce Djaelani (penulis) membelakangi lensa, bersama redaktur Luar Negeri, Harian Jayakarta, Herman Hakim Galut di kantor Gang Arus, Jakarta Timur.
Bang Herman, sebagaimana ia akrab dipanggil, mulai mengajarkan beragam hal terkait kewartawanan. “Instink, pakai itu,” katanya seringkali. Dan memang ada kepuasan sendiri bilamana harus memilih berita yang dirasakan paling penting untuk masuk headline, dan headline itu juga ternyata masuk headline di berbagai koran lain saat itu. Bang Herman juga selalu ingin ada headline di halaman muka. Ia juga mengajarkan untuk menunggu berita terakhir sebelum memberikan file ke ruang ke lay out. Jadi waktu kosong pun saat malam kerap habis untuk membaca berita-berita terakhir.
Ada saatnya kita berseteru. Mungkin yang orang lain tidak ketahui adalah, ia akan cemberut dan jengkel bila saya membantu desk lain. Apakah itu Desk Olahraga atau Desk Budaya. Jadi tak kurang dari Redaksi Pelaksana yang harus bicara ke Bang Herman. Atau, saya mengerjakan tugas tambahan di rumah.
Namun ada saat-saat di mana kita berkawan. Saya ingat menemani Bang Herman di RSCM. Kala itu jam 03.00 pagi, dan koran sudah naik cetak. Kita menemui istrinya yang saat itu sedang hamil dan mendadak masuk Rumah Sakit. Ketakutan yang dirasakannya saat itu sangat terasa. Ia bukan lagi Bang Herman yang cuwek, sehingga saya memutuskan untuk menemaninya ke Rumah Sakit. Ketakutan yang beliau rasakan tidak bisa diungkapkannya karena bukankah ia harus menunjukkan kekuatan di tengah badai, katanya? Kami berdua berbicara di lorong RSCM hingga jam 04.00 dini hari.
Di hari-hari di tengah masa sakit istrinya itu, ia setuju untuk fokus pada keluarga. Saya diminta mengisi kekosongan di mejanya. Mengikuti rapat, menentukan headline dan melihat lay out terakhir di ruang persiapan cetak, selain mengerjakan tugas saya sendiri dan mengedit tulisan reporter lainnya. Apa yang dilatihnya akhirnya sudah terpatri.
Sudah tentu Bang Herman kecewa ketika saya memilih kembali ke bidang keilmuan saya usai kelulusan saya. Namun mengingat Gang Arus, saya akan mengingat Bang Herman. Selamat jalan, Bang. ***
Herman Hakim Galut ditemani putri semata wayang, Heny. (foto: Ist)
Oleh Diana Runtu
Membaca tulisan obituari teman-teman tentang Herman Hakim Galut, mendadak membuka memori saaya ketika bekerja di media yang sama: Harian Jayakarta. Sebagai senior, Herman Hakim Galut sudah menduduki pos Redaktur Internasional ketika saya bergabung, awal tahun 90-an.
Di Jayakarta, sebelum menduduki posisi redaktur, saya sudah bertugas di berbagai bidang liputan, antara lain liputan metropolitan (kota), olahraga, dan liputan khusus. Artinya, saya tidak pernah bertugas di desk Internasional. Karenanya, secara pembidangan tugas, saya nyaris tidak pernah bersinggungan dengan Herman Hakim Galut.
Tiba suatu ketika, saya mendapat penugasan meliput tenis Piala Davis (Davis Cup) Asia/Oceania di India April 1991. Melawan India di babak perempat final, Indonesia dibantai India 4-1, dan gagal melaju ke semifinal. Suasana tim murung.
Nasib murung juga menimpa saya, karena kesalahan teknis mengakibatkan saya tertahan di India, sementara tim dan ofisial sudah kembali ke Tanah Air. Mau-tidak-mau, saya harus ke KBRI New Delhi. Jarak Jaipur, Proviinsi Rajasthan ke New Delhi, ibukota India, kurang lebih 260 km, atau sekitar lima jam perjalanan darat.
Ketika menanti kepulangan ke Tanah Air di New Delhi, mendadak terjadi peristiwa dunia, yakni pembunuhan Perdana Menteri India, Rajiv Gandhi dengan bom bunuh diri. Peristiwa tragis itu terjadi 21 Mei 1991 di Sri Perumbudur, dekat Chennai, Tamil Nadu, India.
Adalah Herman Hakim Galut, redaktur Internasional Harian Jayakarta yang langsung menghubungi saya untuk meliput peristiwa itu. Sungguh galau ketika itu. Saya sendiri punya problem tertahan pulang ke tanah air. Soal lain adalah, saya wartawan olahraga, di bawah redaktur Yan Nabut. Di sisi lain, sebagai wartawan yang mewakili koran Jayakarta, peristiwa dunia pembunuhan Rajiv Gandhi adalah berita hot.
Masih ada kegalauan lain…. Herman Hakim Galut lupa, jarak TKP (tempat kejadian perkara) Tamil Madu dengan posisi saya di New Delhi adalah 2.466 kilometer!!! Mirip-mirip jarak Jakarta ke Banda Aceh!!! Dua hari perjalanan darat, dan sekitar 3 jam penerbangan. Soal lain adalah, jalan darat atau naik pesawat agaknya mustahil saya lakukan, karena memang penugasan itu tidak disertai dana operasional.
Tapi baiklah…. Saya segera merespons penugasan Herman Galut dengan mengikuti berita terkini di New Delhi. Semua televisi India menempatkan berita pembunuhan Rajiv Gandhi sebagai stop-press, headlines, special report. Tidak banyak yang bisa diliput di New Delhi, kecuali seingat saya, serentetan aksi demonstrasi, yang saya lupa konteksnya.
Alhasil, ketika kembali ke Tanah Air dan kembali bekerja, Herman Hakim Galut spontan menagih liputan India dari saya. Benar-benar bikin pusing. Tapi toh, saya tulis juga, di luar menulis liputan rutin bidang olahraga.
Kali lain, Herman Hakim Galut memanggil saya, sesaat setelah saya kembali dari liputan SEA Games Manila, Filipina, awal Desember 1991. Wah, bakal minta tulisan luar negeri nih, pikir saya. Eh ternyata bukan. Ia hanya komen, “Kamu meliput SEA Games apa ngikutin Bambang Dwi, kok liputannya berdua terus?”
Rupanya, ia membaca laporan tim peliput SEA Games Jayakarta. Dugaan saya, fokus dia hanya di inisial penulis: bd/dr, inisial untuk Bambang Dwi dan Diana Runtu. Dia lupa, bahwa tulisan-tulisan itu hasil kompilasii atau gabungan liputan dari saya dan Bambang Dwi. Ya, tentu saja inisialnya berdua.
Memang hanya sekelumit pengalaman saya dengan Herman Hakim Galut. Tapi di mata saya, almarhum orang yang baik, profesional, dan kalau bercanda … garing. Selamat jalan Bung Herman Hakim Galut. Semoga tenang di sisi Tuhan. ***
Herman Hakim Galut (alm) bermain gitar bersama teman-temannya di Harian Merdeka. Tampak Wina Armada. (Foto: Ist)
Oleh Eddy Koko
Lama tidak ketemu. Tiba-tiba 2003 (kalau tidak salah) Herman Hakim Galut datang ke Radio Trijaya. Itu waktu masih di Kompleks RCTI Kebun Jeruk, Jakarta Barat. Dengan gayanya yang bludas-bludus dia masuk. Saya cari Eddy Koko, cerita resepsionis.
Kaget saya Herman datang. Tanpa prolog dia langsung bicara, tolong ajari saya soal radio. Lah, saya sendiri baru. Walau sudah dua tahun itu waktu. Nggak tau dari mana dia tau saya di Radio Trijaya.
Saya balik tanya. Ente minta ajari soal radio. Lha kan ente wartawan radio di Philipina sebelum ke Jayakarta. Dia jawab, saya cuma reporter jadi cuma pegang mic sama tape recorder. Urusan teknik studio dan peralatan saya nggak paham. Saya harus belajar dalam dua hari ini. Minggu depan saya berangkat ke Amerika bekerja di VOA.
Oh itu pasalnya.
Dia. Pun berkisah kerja di Harian Merdeka yang milik Laksamana Sukardi tidak jelas. Maka dia melamar ke VOA dan diterima. Kata dia, ngakunya dia paham radio karena pernah bekerja di Radio Philipina. Sambil terkekeh dia bilang VOA gue bohongi. Eh gue keterima. Gawat. Kudu belajar cepat nih.
Maka, saya bawa Herman Hakim Galut ke dalam ruang siaran. Ruang produksi dan peralatan liputan, mobil siaran luar (OB Van) sampai sedikit soal pemancar. Dia banyak tanya dan paham, katanya. Tapi saya tidak yakin ?.
Lama tidak ketemu. Tidak ada kabar. Saya juga sudah lupa sama Herman. Saya yakin dia sudah senang di AS sana.
Tahun 2009 (kalau tidak salah) VOA bidang radio menawarkan program kerjasama dengan Radio Trijaya. Saya menolak, sebab setahu saya ini bagian dari propaganda AS. VOA yang didanai pemerintah itu tidak bersiaran di AS tapi membuat program-program yang bekerja sama dengan media (radio & tv) di luar negerinya. Tentu untuk mengangkat citra AS. VOA merupakan lembaga penyiaran publik mirip RRI juga tapi RRI ada siaran di dalam negeri.
Kepala biro Jakarta, Frans Padakdemon, terus melobi Trijaya yang pada akhirnya kami menyetujui dengan permintaan acara sesuai dengan Trijaya. Maka setiap pagi jam enam VOA mengudara di Radio Trijaya dengan jaringan seluruh Indonesia.
Email Herman Hakim Galut ke Eddy Koko.
Herman terus juga memantau kerjasama VOA dengan Trijaya. Lihat copy email tertanggal tahun 2011.
Tiba-tiba kembali Herman nongol di Jakarta. Dia bilang sudah tidak di VOA lagi. Apa pasal? Hanya dia yang tau. Dia tanya saya, gimana kalau dia melamar jadi Pemred di Radio Trijaya? Saya, jawab, lha saya jadi apa?
Dia pun terkekeh.
Kemudian dia pamit lagi ke AS, katanya jadi koresponden harian Kompas disana. Menurutnya, dia harus kembali ke sana karena anaknya yg kuliah dokter belum selesai.
Selamat jalan sahabat Herman Hakim Galut. Damai di sisi Tuhan. ***
Foto kenangan Herman Hakim Galut sebagai redaktur Internasional tengah berbincang dengan Joyce Djaelani. Tampak di latar belakang, Iswati dan Hartono. (jumadi)
Oleh Sri Iswati
Sekecil apa pun, atau sesederhana apapun karya orang, jika dihargai tentu akan senang. Jika momen penghargaan itu tepat disampaikannya, akan selalu dikenangnya. Setidaknya tak akan lupa. Inilah catatan kecil saya terhadap kawan kita, Herman Hakim Galut, yang dulu awal tahun 1990-an bersama kita bekerja di Harian Jayakarta, Jalan Arus, Jakarta Timur.
Lewat Instagram yang diterima Norman Meoko dikabarkan bahwa Bang Herman Galut meninggal dunia di Washington DC Minggu sekitar pukul 9 pagi waktu setempat. Jenazahnya konon masih berada di Christ House, 1717 Columbia Road, NW, Washington DC.
Berita duka dini hari ini tentu cukup menyentak. Kawan kita yang lama tak bersua lagi, kini telah mendahului kita. Menyusul kawan-kawan lain yang lebih awal dipanggil Yang Maha Kuasa.
Kesadaran batiniah kita digetarkan kembali oleh kematian. Begitulah kehidupan, pasti kembali ke asal mula. Ke ketiadaan dari pandang kita, namun akan kekal di jagat lain. Sangkaning dumadi, sangkan paraning dumadi. Inilah nukilan tembang yang acap dilantunkan, baik disuarakan ataupun meresap dalam kesadaran kolektif kita. Dari mana kita dan hendak kemana kita.
Herman Galut yang tampak pendiam, tak banyak bicara adalah sosok yang tekun bekerja. Jarang ngobrol ngalor-ngidul. Sekilas ia tampak sebagai pribadi yang serius. Setidaknya itulah barangkali kesan kita terhadap bung Herman Galut.
Meki saya jarang bicara dengannya, tapi kalau saya bertanya tentang suatu istilah, umumnya bahasa Inggris -karena beliau sebagai Redaktur Internasional- dia akan cepat meresponnya. Dan yang tak pernah saya lupakan adalah responnya tentang tulisan kecil saya. Benar-benar tulisan kecil. Dia bilang “bagus,-bagus “ sampai tiga kali, sambil mengangkat jempolnya.
Tulisan kecil itu adalah tentang Bang Jaya (kolom komentar singkat dari redaksi tentang isu-isu yang berkembang. Intinya, cuma satu atau dua kalimat, lalu dikomentari. Kadang lucu, kadang nyinyir saja. Kenyinyiran dalam Bang Jaya mewakili pikiran-pikiran masyarakat).
Kolom Bang Jaya di halaman 1 kiri bawah itu mungkin sering dilewatkan oleh pembaca. Untungnya saya suka baca. Semacam Mang Usil, kalau di Kompas. Malam itu saya diminta pemred Pak Suryohadi untuk menulis Bang Jaya. Pak Aco Manave tidak hadir. Kebetulan juga pemred Pak Yan Nabut dan Pak Roso Daras juga tidak hadir. Halaman 1 diserahkan ke Herman Galut
Sekadar mengingat kolom Bang Jaya. Misal – kita pakai isu sekarang ya : Bang Jaya akan menulis begini”
Kemarin terjadi penembakan di gedung DPR. Tak ada korban, beberapa kaca pecah. Kata Kepolisian, itu peluru nyasar dari anggota Perbakin yang sedang latihan.
Nyasar atau menyasar? (komen Bang Jaya) – seperti inilah barangkali
Nah, ketika itu saya hanya menulis/menukil dua isu (lupa tentang apa yang saya tulis) kemudian saya komentari singkat. Usai saya tulis saya serahkan ke bung Herman Galut. Dia baca, lalu komentar, “bagus” bahkan sambil mengangkat jempol.
Seketika itu saya pun berpikir, tulisan sekecil itu dia respon dengan baik. Saya senang. Bukan karena pujian itu, tapi karena respon terhadap tulisan kecil tersebut. Menyemangati! Momen itu seperti berturut-turut. Hari-hari sebelumnya saya diminta Wapemred Pak Laurent Samsoeri menulis tajuk terkait Kongres Bahasa di Jakarta.
Semua ini menambah semangat saya dalam menulis, khususnya sebagai jurnalis. Respon dan penghargaan sesederhana apapun dari teman seiring, teman sekerja, akan berdampak dan akan dikenang. Karena respon baik, kasih sayang, dan penghargaan muncul dari sisi jiwa insani.
Selamat jalan Bung Herman Hakim Galut. Semoga hamparan keindahan surga menantimu di alam keabadian! ***
LOGO ‘’Jayakarta News’’ yang berwarna biru dengan font putih itu tiba-tiba membawa saya pada kenangan lama: 26 tahun lalu. Saat itu, namanya hanya ‘’Jayakarta’’ saja. Kenangan saya terhadap ‘’Jayakarta’’ sungguh mendalam. Sebab, inilah salah satu koran yang membuat saya bisa membiayai kuliah. Bisa membuat saya menjadi ‘’pengusaha’’ semasa berstatus mahasiswa.
Saat kuliah di Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, Semarang, tahun 1991, saya memang punya profesi ganda: mahasiswa sekaligus pengusaha. Saya itu saya menjadi pemilik agen koran dan majalah ‘’Satria Agency’’ yang bermarkas di Jalan Satria, Poncol, Semarang Barat.
Dari berbagai merek media, ‘’Jayakarta’’ menjadi koran andalan untuk pasar dosen dan mahasiswa di kampus Undip Imam Bardjo. Selain halaman utamanya berwarna, ‘’Jayakarta’’ mematok harga sangat bersahabat. Saat itu, harga jual satu eksemplar koran rata-rata Rp 500. Hanya ‘’Jayakarta’’ yang dijual dengan harga Rp 200 per eksemplar. Harga khusus itu distempel merah dengan ukuran besar ‘’Harga Khusus Semarang Rp 200.’’
Perhitungannya begini. Harga agen Rp 75 per eksemplar. Harga pengecer Rp 100 per eksemplar. Keuntungan agen Rp 25 per eksemplar. Keuntungan pengecer Rp 100 per eksemplar. Meski berstatus agen, saya bukanlah agen resmi ‘’Jayakarta’’. Saya mengambil jatah koran dari ‘’Erlangga Agency’’, juragan aneka media di Jalan Erlangga, tak jauh dari kampus Undip Imam Bardjo.
Sehari, saya mengambil jatah ‘’Jayakarta’’ sebanyak 200 eksemplar atau dua koli. Koran itu saya jual sendiri dari fakultas ke fakultas. Kalau bisa menjual habis, dalam sehari saya mendapat penghasilan Rp 100 x 200 eksemplar = Rp 20.000. Sebulan saya berjualan koran 26 hari. Keuntungan kotor per bulan Rp 400.000.
Selain menjual ‘’Jayakarta’’, saya juga memasarkan majalah ‘’Tempo’’ harga mahasiswa. Saya agak lupa-lupa ingat, berapa harga ‘’Tempo’’ saat itu. Kalau tidak salah, harga resminya Rp 4.900 per eksemplar. Harga mahasiswa Rp 2.900 per eksemplar. Harga pengecer khusus mahasiswa Rp 1.900. Keuntungan Rp 1.000 per eksemplar. Untung dari ‘’Tempo’’ cukup lumayan. Dengan pelanggan 250 orang, satu bulan saya punya penghasilan kotor Rp 1.000 x 250 x 4 = Rp 1.000.000.
Dari dua media itu saja, penghasilan saya setiap bulan mencapai Rp 1.400.000. Sebagian keuntungan tersebut saya gunakan untuk menggaji empat ‘’loper’’. Sebenarnya mereka bukan loper betulan. Mereka teman-teman kuliah saya yang sering kesulitan uang. Untung bersih setelah dipotong biaya loper rata-rata Rp 600.000 per bulan.
Untuk ukuran mahasiswa saat itu, punya uang Rp 600.000 per bulan sudah boleh dibilang ‘’tajir’’. Biaya kos-kosan sekaligus kantor ‘’Satria Agency’’ yang berada di lingkungan perumahan kelas menengah itu hanya Rp 50.000 per bulan.
Sementara teman-teman kuliah saya saat itu kebanyakan tinggal di kos-kosan seharga Rp 15.000 per bulan. Satu kamar dihuni berramai-ramai hingga 4 orang. Mereka umumnya mahasiswa dari luar kota yang hanya mengandalkan kiriman orang tua. Istimewanya, teman-teman saya ini tergolong tekun dan tidak mau terganggu kuliahnya. Indeks prestasinya selalu di atas 3. Beda dengan saya. Sudah kuliahnya lama, indeks prestasinya hanya 2,4 saja! Gara-gara ‘’Jayakarta’’, saya jadi ‘’pengusaha’’! ***