Ingat Bung Hakim Galut, Ingat “Bang Jaya”

 Ingat Bung Hakim Galut, Ingat “Bang Jaya”
Foto kenangan Herman Hakim Galut sebagai redaktur Internasional tengah berbincang dengan Joyce Djaelani. Tampak di latar belakang, Iswati dan Hartono. (jumadi)
Oleh Sri Iswati

Sekecil apa pun, atau sesederhana apapun karya orang, jika dihargai tentu akan senang. Jika momen penghargaan itu tepat disampaikannya,  akan selalu dikenangnya. Setidaknya tak akan lupa. Inilah catatan kecil saya terhadap kawan  kita, Herman Hakim Galut, yang dulu awal tahun 1990-an bersama kita bekerja di Harian Jayakarta, Jalan Arus, Jakarta Timur.

Lewat Instagram yang diterima Norman Meoko dikabarkan bahwa Bang Herman Galut meninggal dunia di Washington DC Minggu sekitar pukul 9 pagi waktu setempat. Jenazahnya konon masih berada di Christ House, 1717 Columbia Road, NW, Washington DC.

Berita duka dini hari ini tentu  cukup menyentak. Kawan kita yang lama tak bersua lagi, kini telah mendahului kita. Menyusul kawan-kawan lain yang lebih awal dipanggil Yang Maha Kuasa.

Kesadaran batiniah kita digetarkan kembali oleh kematian. Begitulah kehidupan, pasti kembali ke asal mula. Ke ketiadaan dari pandang kita,  namun akan kekal di jagat lain. Sangkaning dumadi, sangkan paraning dumadi. Inilah nukilan tembang yang acap dilantunkan, baik disuarakan ataupun meresap dalam kesadaran kolektif kita. Dari mana kita dan hendak kemana kita.

Herman Galut yang tampak pendiam, tak banyak bicara adalah sosok yang tekun bekerja. Jarang ngobrol ngalor-ngidul. Sekilas ia tampak sebagai pribadi yang serius.  Setidaknya itulah barangkali kesan kita terhadap bung Herman Galut.

Meki saya jarang bicara dengannya, tapi kalau saya bertanya tentang suatu istilah, umumnya bahasa Inggris  -karena beliau sebagai Redaktur Internasional-  dia akan cepat meresponnya. Dan yang tak pernah saya lupakan adalah responnya tentang tulisan kecil saya. Benar-benar tulisan kecil. Dia bilang  “bagus,-bagus “ sampai tiga kali,  sambil mengangkat jempolnya.

Tulisan kecil itu adalah tentang Bang Jaya (kolom komentar singkat dari redaksi tentang isu-isu yang berkembang. Intinya, cuma satu atau dua kalimat, lalu dikomentari. Kadang lucu, kadang nyinyir saja. Kenyinyiran dalam Bang Jaya mewakili pikiran-pikiran masyarakat).

Kolom Bang Jaya di halaman 1 kiri bawah itu mungkin sering dilewatkan oleh pembaca. Untungnya saya suka baca. Semacam Mang Usil, kalau di Kompas. Malam itu saya diminta pemred Pak Suryohadi untuk menulis Bang Jaya. Pak Aco Manave tidak hadir. Kebetulan juga pemred Pak Yan Nabut dan Pak Roso Daras juga tidak hadir. Halaman 1 diserahkan ke Herman Galut

Sekadar mengingat kolom Bang Jaya. Misal – kita pakai isu sekarang ya : Bang Jaya akan menulis begini”

Kemarin terjadi penembakan di gedung DPR. Tak ada korban, beberapa kaca pecah. Kata Kepolisian, itu peluru nyasar dari anggota Perbakin yang sedang latihan.

Nyasar atau menyasar? (komen Bang Jaya) – seperti inilah barangkali

Nah, ketika itu saya hanya menulis/menukil dua isu (lupa tentang apa yang saya tulis) kemudian saya komentari singkat. Usai saya tulis saya serahkan ke bung Herman Galut. Dia baca, lalu komentar, “bagus” bahkan sambil mengangkat jempol.

Seketika itu saya pun berpikir, tulisan sekecil itu dia respon dengan baik. Saya senang. Bukan karena pujian itu, tapi karena respon terhadap tulisan kecil tersebut. Menyemangati! Momen itu seperti berturut-turut. Hari-hari sebelumnya saya diminta Wapemred Pak Laurent Samsoeri menulis tajuk terkait Kongres Bahasa di Jakarta.

Semua ini menambah semangat saya dalam menulis, khususnya sebagai jurnalis. Respon dan penghargaan sesederhana apapun dari teman seiring, teman sekerja,  akan berdampak dan akan dikenang. Karena  respon baik, kasih sayang, dan penghargaan  muncul dari sisi jiwa insani.

Selamat jalan Bung Herman Hakim Galut. Semoga hamparan keindahan surga menantimu di alam keabadian!  ***

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *