Ingat Gang Arus, Ingat Herman Galut

 Ingat Gang Arus, Ingat Herman Galut
Hari-hari terakhir Herman Hakim Galut, ditemani putri semata wayang, Heny. (foto: dok keluarga)
Oleh Joyce Djaelani

‘Melangkahkan kaki ke kantor Harian Jayakarta di Gang Arus di tahun 1989, saya sebenarnya hanya dengar bahwa ada yang membutuhkan bantuan menterjemahkan berita dari Bahasa Inggris ke Indonesia. Dan, di Jayakarta, saya sudah ditunggu untuk bertemu orang yang bernama Herman Hakim Galut. Jadi pulang kuliah, berangkatlah saya ke Gang Arus.

Sesampainya di sana, saya ditunjukkan meja dimana Herman Hakim Galut duduk. Saya pun langsung mengatakan tujuan kedatangan saya. Tanpa ba bi bu lagi, dia menyodorkan secarik berita dari Reuters dan saya diminta langsung mengetik terjemahannya. Itu saya langsung lakukan.

Dalam hitungan beberapa menit, ketikan terjemahan selesai. Kertas saya serahkan kepadanya dan ia pun menggaruk rambut keritingnya dan melihat saya. “OK, kamu mulai kerja di sini malam ini ya?” Sudah tentu saya bingung. “Maksudnya?,”  tanya saya polos. Barulah saya tahu kalau ternyata info teman saya salah. Jayakarta sedang mencari orang untuk membantu desk luar negeri. Begitulah awal mula saya terdampar di Desk Luar Negeri saat itu.

Joyce Djaelani (penulis) membelakangi lensa, bersama redaktur Luar Negeri, Harian Jayakarta, Herman Hakim Galut di kantor Gang Arus, Jakarta Timur.

Bang Herman, sebagaimana ia akrab dipanggil, mulai mengajarkan beragam hal terkait kewartawanan. “Instink, pakai itu,”  katanya seringkali. Dan memang ada kepuasan sendiri bilamana harus memilih berita yang dirasakan paling penting untuk masuk headline, dan headline itu juga ternyata masuk headline di berbagai koran lain saat itu. Bang Herman juga selalu ingin ada headline di halaman muka.  Ia juga mengajarkan untuk menunggu berita terakhir sebelum memberikan file ke ruang ke lay out.  Jadi waktu kosong pun saat malam kerap habis untuk membaca berita-berita terakhir.

Ada saatnya kita berseteru. Mungkin yang orang lain tidak ketahui adalah, ia akan cemberut dan jengkel bila saya membantu desk lain. Apakah itu Desk Olahraga atau Desk Budaya. Jadi tak kurang dari Redaksi Pelaksana yang harus bicara ke Bang Herman. Atau, saya mengerjakan tugas tambahan di rumah.

Namun ada saat-saat di mana kita berkawan. Saya ingat menemani Bang Herman di RSCM. Kala itu jam 03.00 pagi, dan koran sudah naik cetak. Kita menemui istrinya yang saat itu sedang hamil dan mendadak masuk Rumah Sakit. Ketakutan yang dirasakannya saat itu sangat terasa. Ia bukan lagi Bang Herman yang cuwek, sehingga saya memutuskan untuk menemaninya ke Rumah Sakit. Ketakutan yang beliau rasakan tidak bisa diungkapkannya karena bukankah ia harus menunjukkan kekuatan di tengah badai, katanya? Kami berdua berbicara di lorong RSCM hingga jam 04.00 dini hari.

Di hari-hari di tengah masa sakit istrinya itu, ia setuju untuk fokus pada keluarga. Saya diminta mengisi kekosongan di mejanya. Mengikuti rapat, menentukan headline dan melihat lay out terakhir di ruang persiapan cetak, selain mengerjakan tugas saya sendiri dan mengedit tulisan reporter lainnya.  Apa yang dilatihnya akhirnya sudah terpatri.

Sudah tentu Bang Herman kecewa ketika saya memilih kembali ke bidang keilmuan saya usai kelulusan saya. Namun mengingat Gang Arus, saya akan mengingat Bang Herman. Selamat jalan, Bang. ***

Digiqole ad

Related post

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *