Dugaan Kelam yang Terpatahkan

 Dugaan Kelam yang Terpatahkan
Nina Ernaningtyas. (foto: diana r)

JAYAKARTA NEWS – Jumat, 1 Februari pukul 18.15 WIB aku berangkat dari rumah menuju Wisma Ainard di Jalan Miliran Yogyakarta. Ojek online menjadi pilihanku untuk menjangkau tempat pertemuan dengan kawan-kawan lama mantan wartawan Koran Jayakarta itu.

Sopirnya muda. Tenang pembawaannya. Terang kulitnya. Tinggi perawakannya. Wajahnya persis pemenang kasting aktor pangeran dalam film Cinderalla.  Andai ia masih kuliah, aku membayangkan, para mahasiswi pasti merasa rugi bandar jika melewatkan si sopir itu dari daftar nama calon menantu para orang tua mereka. Tapi aku tak peduli. Pikiranku tertancap pada sahabat-sahabat lama yang akan segera aku sua.

Sepanjang perjalanan, anganku mengulang kenangan masa lalu. Sepenggal waktu, selama sekitar empat tahun di pertengahan hampir akhir dasawarsa 90-an. Aku bekerja sebagai wartawan di Koran Jayakarta. Tidak cukup lama, tetapi juga tidak bisa dibilang singkat. Yang pasti, ada kesan yang tertinggal kuat dalam diriku. Di tempat itu aku berjumpa kawan-kawan yang bertipe pekerja keras, hobi begadang, sebagian besar perokok berat, semuanya suka keluyuran.

Sebagai wartawan, kami semua bekerja dalam tekanan deadline waktu yang tidak pernah bisa ditawar dan tempat peliputan yang terus berubah setiap waktu tak peduli pagi, siang atau malam, pun tak pandang bulu warna angka kalender sedang merah. Dengan kondisi seperti itu, ibarat gelombang, sudah pasti riak yang tercipta tak pernah linier, teratur dan terpola. Begitulah kira-kira irama hidup kami.

Makan pukul 03.00 dini hari sudah biasa. Bisa jadi itu sarapan kepagian. Atau mungkin pula itu makan malam yang tertunda. Menu makan pun seringkali seadanya. Mie instan pinggir jalan atau warteg yang menyajikan gorengan berulang-ulang sehingga membuat teksturnya menjadi keras dan warnanya berubah gelap. Bukan karena kami tak sadar kesehatan. Dua menu itu menjadi pilihan karena, pertama gampang didapat di banyak tempat dan, kedua, warung buka non stop sepanjang hari seminggu penuh.

Alasan itu sangat mendukung situasi kerja dengan tekanan waktu dan mobilitas tinggi. Lagipula harganya murah. Alasan terakhir ini klop betul dengan isi dompet yang sukses menipis sebelum tanggal gajian tiba. Semua situasi itu masih diperparah oleh lingkungan Jakarta yang polutif dan lalu-lintas yang macet di banyak titik.

Orang-orang dengan pola kerja dan hidup seperti itu di lingkungan yang mudah memancing stres, menurut dugaanku, termasuk sosok-sosok yang nantinya dengan segera masuk ke dalam kelompok golongan manusia-manusia dengan sederet penyakit degeneratif mulai umur paruh baya, serta berwajah tua sebelum usia yang sebenarnya tiba. Dua kawan kami, Novi Nuryanti dan Shanti Sibarani, sudah mendahului meninggalkan dunia ini. Keduanya karena sakit. Novi terserang kanker. Shanti menderita gagal ginjal.

Di antara kawan-kawan wartawan itu, aku paling akhir bergabung dengan Jayakarta. Sesaat setelah aku lulus kuliah. Aku angkatan paling muda di antara para seniorku. Kutinggalkan Jayakarta pada usia awal 30-an tahun. Jika usiaku kini awal 50-an, pastilah rentang umur mereka ada di kisaran angka sama denganku, pertengahan atau akhir 50-an,  serta awal atau pertengahan 60-an.

Menurut kalkulasi ibu-ibu kader PKK di kampungku, pemilik usia 50 tahun ke atas tercatat dalam daftar pra lasia dan lansia. Usia yang mulai dipantau intensif seperti pada kegiatan Posyandu yang mengurusi perkembangan balita.

Di lingkungan tempat tinggalku, banyak pemilik usia 80-an tahun ke atas yang tetap sehat. Para pemilik awet usia itu hidup di zaman yang serba alami, tak kenal makanan instan, udara  kampung  yang  jauh dari polusi dan tidak ada tekanan kerja yang berarti. Tegur sapa dan saling bertukar makanan menjadi ritual sehari-hari yang menambah ayem suasana batin.

Golongan generasi di bawah para tetua itu mulai berbeda. Mereka sudah merasakan degradasi kondisi fisik. Saat ini di kampungku, pemilik usia mulai 50-an tahun banyak yang menderita sakit degeneratif. Tekanan darah, kolesterol, asamurat dan kandungan gula darah yang meningkat di atas ukuran normal sudah biasa merasuki tubuh-tubuh mereka. Rasa pegal-pegal dan berkurangnya kekuatan fisik juga menyerang para pemilik usia paruh baya itu.

Agus Purwantoro, alias Hafez, suami Nina. (foto: dok jayakarta news)

Suamiku misalnya, di pertengahan usia kepala lima, ia menderita kaku otot layaknya penderita stroke. Berdasarkan  penelusuran cek laboratorium dan foto-foto medis, kondisi internisnya bagus. Tekanan darah, kandungan gula, kolesterol, asamurat berada dalam rujukan angka-angka normal. Rekam jantung dan foto torax pun terukur sehat, kendati dia perokok berat. Hanya, pada hasil foto rontgen menunjukkan ada tiga titik di tulang lehernya yang sedikit bergeser. Namun tingkat keparahannya sama sekali tidak signifikan.

Itu terjadi karena gerakan raja yoga, yakni gerakan yoga kepala-di-bawah-kaki-di-atas, dalam waktu berlebihan. Satu menit cukup sebetulnya untuk ukuran usianya. Tetapi, karena terbakar semangat membara akan manfaat gerakan raja yoga—mendongkrak vitalitas di segala lini dan menaikkan daya pikir–  ia melakukannya dalam tempo yang kelewatan, selama 30-40 menit. Pernah sejam juga.

Gerakan raja yoga over dosis itu membuat syaraf-syarafnya ikut bosah-baseh, tenaga dalamnya muncul dalam kondisi salah arah. Begitu yang bisa aku pahami selama ini. Yang jelas, suamiku itu menambah satu jumlah manusia dalam statistik di kampungku pada kelompok pra lansia dengan sejumlah catatan “merah” pada kolom rekam jejak  kesehatannya.

Bertolak dari semua visualisasi manusia-manusia di kampungku, aku jadi berpikir, bagaimana dengan kawan-kawan lamaku mantan wartawan Koran Jayakarta?

Sejauh info yang sampai ke telingaku, sebagian besar dari mereka masih setia dengan profesi jurnalistik. Mayoritas dari mereka hidup di Jakarta yang polutif dan macet. Aku membayangkan akan berjumpa manusia-manusia yang membawa segepok obat-obatan dalam saku baju atau tasnya. Kawan-kawan lamaku itu mungkin juga sudah susah bergerak cepat akibat degradasi fisik. Sudah selama hitungan dua puluh tahun aku tak bertemu. Rentang waktu yang sangat leluasa untuk mengubah keadaan fisik seseorang.

Setiba di Wisma Ainard tempat rombongan Jayakarta menginap, aku turun dari boncengan. Kendati sekota, baru pertama kali aku melihat rumah penginapan itu. Tua penampakannya. Remang lampunya. Jadul meja kursi dan foto-foto yang terpajang di dindingnya. Sebuah televisi tabung di sudut ruangan ibarat seorang kakek yang luput dari perhatian anggota keluarganya.

Lorong panjang di ruang tengah yang sarat mebel kuno, semakin menambah kesan usang. Sepertinya sinkron betul penampakan-penampakan itu dengan manusia-manusia yang kala itu sedang menghuninya. Jangan-jangan betul juga pikiranku yang membayangkan wajah-wajah kawan lamaku yang tua dan penyakitan.

Diana Runtu

Akhirnya, satu per satu aku jumpai mereka. Aku berjumpa Mbak Diana Runtu. Alamaaakk….!!! Perempuan tomboi berambut cepak ini masih terlihat muda. Gesit dan segar. Kulit wajahnya halus, putih tak beda seperti saat kujumpa dulu, 20-an tahun lalu. Gincu warna merah cerah teroles tipis di bibirnya. Ia ibarat wanita akhir 30-an yang sedang mengikuti kontes merebut perhatian jejaka awal 30-an. Dan, piala kemenangan ada di genggamannya.

Melva Tobing

Mbak Melva Tobing. Perempuan Batak ini hanya menunjukkan satu saja perilaku gejala penuaannya. Ia lupa siapa aku. Setelah, entah siapa yang memberitahu bahwa aku Nina, hanya dalam hitungan detik dia langsung ingat. Setengah berlari dan melompat dia menghampiriku. Kami bersalaman dan berpelukan. Berlari dan sedikit melompat. Itulah dua gerakan yang selalu aku lihat ia lakukan selama tiga hari persinggunganku dengannya. Sewaktu akan naik mobil off road lava tour di Kaliurang ia begitu. Sewaktu akan berganti pakaian untuk ikut jalan-jalan ke pameran lukisan Babad Rupa Diponegoro, ia juga seperti itu. Saat minta foto-foto di Jogja Galeri, ia pun sedikit berlari dan melompat kecil di awal pergerakannya. Semuanya disertai senyum merekah dari bibirnya yang berhiaskan tahi lalat. Persis gadis SMA yang baru pertama mendapatkan surat cinta.

“Abah” Fachrudin

Mas Fachrudin. Saat menjadi reporter, beberapa kali aku berjalan bersamanya. Kecepatan langkahnya tak berubah antara saat kami bersama meliput kenaikan harga cabe di Pasar Induk Kramajati, dengan saat aku berjalan bersamanya di pelataran Candi Prambanan. Padahal, kini bobot tubuhnya meningkat signifikan, yang sepantasnya membuat pergerakannya melamban. Tetapi tidak. Langkahnya enteng-enteng saja. Juga tak terdengar di telingaku suara napas  ngos-ngosan dari arah hidungnya.

Laksmi W

Mbak Laksmi. Sosok ini di mataku seperti ada dan tiada. Memang begitu ia sejak dulu. Tipe perenung. Tulisan-tulisannya mengalir lancar dan berbobot. Tampilannya tenang, bicarannya konsisten pada tone dan volume rendah. Hanya kenaikan bobot tubuhnya yang, seperti Mas Fachruddin, menambah luas penampakan posturnya. Kendati begitu, ia tak kalah lincah dibanding EO yang lagi naik daun sekalipun. Diam tapi kerjanya gesit. Sewaktu kawan-kawan Jayakarta piknik ke Gunungkidul, Mbak Laksmilah tokoh di balik kesuksesan tamasya pantai di siang yang panas itu.

Eddy Koko

Mas Eddy Koko. Aku jarang bersinggungan dengannya saat di Jayakarta dulu. Ia wartawan Jayakarta Minggu, sementara aku bertugas di harian. Yang kuingat dari dia, adalah cerita-ceritanya bersama pemusik jazz legendaris alm. Bill Saragih. Dari grup WA, aku tahu dia pengoleksi piano tua. Lewat sentuhan tangannya, setua dan sebobrok apa pun sebuah piano, bisa menjelma menjadi alat musik yang nyaring bunyinya, tak lagi sumbang, kinclong penampilannya. Persis alat musik yang baru keluar pabrik. Mungkin, kepiawaiannya merawat piano tua itu menular ke dirinya. Di mataku, tanpa mengenakan topi untuk menutupi kebotakannya, ia masih tampak muda dan seksi.

S. Resti Handini

Mbak Dini. Perawakannya kecil cenderung kurus. Tapi powernya luar biasa. Seperti itulah ia yang pernah kukenal dulu. Tak kalah dengan gadis muda bermodal pas-pasan yang baru senang-senangnya berpetualang. Jalan kaki bukan halangan, tidur di sembarang tempat tak jadi rintangan.  Itulah kakakku yang satu ini. Antara dulu dan sekarang tetap gesit gerak langkahnya. Apalagi jika urusannya adalah harus berpidah-pindah tempat dengan cepat demi mendapatkan momen selfi dengan latar belakang yang menurutnya ideal.

Leo Patty

Mas Leo. Pria yang satu ini kudapati tetap necis dan bersih.  Sesekali kutangkap rautnya yang murung di antara senyum lepasnya. Belakangan aku tahu. Dia memiliki buah hati yang membutuhkan perhatian lebih. Aku pun senasib dengannya.  Buah hatiku tipe anak penyendiri. Keunikan dua buah hati  itulah, yang membuat kami terasa dekat dalam pertemuan yang singkat di awal Februari itu. Dia menunjukkan optimisme luar biasa dalam memandang dunia, seberapa pun besar tantangan dan rintangan. Rasa optimis itulah, mungkin, yang membuat penampilannya tampak lebih muda dibanding usia yang sebenarnya.

Jumadi

Mas Jumadi. Aku sangat mengenalnya. Ia banyak membantu wartawan menghubungi narasumber lewat sambungan telepon. Pasca ambruk Jayakarta, ia tetap bekerja di dunia media yang menuntut stamina prima. Tiga hari bersamanya, dalam usia yang tak lagi muda, dengan ukuran perut buncit selayaknya wanita berbadan dua, ia tetap oke-oke saja. Tak tampak rasa lelah di wajahnya. Senyum dan tawa lepas selalu mengekor di akhir kata-katanya.

Katmin

Mas Katmin. Seperti yang lain-lain, ukuran tubuhnya ketularan melar. Namun, ia tetap gesit melayani kawan-kawan. Office boy yang satu ini tak pernah kulihat murung.  Seperti Mas Jumadi, ia lebih banyak bergembira. Tawanya lepas dan renyah. Serenyah kerupuk bawang kualitas nomor satu yang mekar sempurna di penggorengan.

Mahmud

Mas Mahmud. Awal perjumpaanku dengannya di Wisma Ainard, aku lupa siapa dia. Setelah kupandangi dengan seksama, otakku dengan cepat mengungkap identitasnya.  Mahmud si fotografer. Selisih tipis penampakan cowok satu ini dibanding terakhir kali aku bertemu duapuluh tahun yang lalu. Hanya kemunculan rambut putih di antara sedikit rambut hitamnya yang membuatku pangling kepadanya.  Tetapi, putihnya rambut tak membuat surut semangatnya. Ia datang ke acara kumpulan kawan lawas Jayakarta itu dengan mengendarai sepeda motor dari Kebumen tempat tinggalnya. Jarak seratus km lebih tak membuat tubuhnya tampak loyo untuk mengikuti semua prosesi acara pertemuan di awal Februari itu. Usia tua tak identik dengan melempemnya stamina. Begitulah Mas Mahmud. Cowok yang satu ini dulu kukenal pendiam. Aku tak punya memori ia bisa bercanda. Tetapi kemarin di atas bus yang membawa kami semua ke Kaliurang, untuk pertama kalinya ia berbicara menghibur. “Lihat Nina, foto kita ini seperti buah terong berjajar-jajar,” katanya sambil menunjukkan foto kawan-kawan Jayakarta yang baru saja diambil di Candi Prambanan.  Kebetulan, kami semua berseragam ungu.

Iswati dan Nina

Mbak Iswati. Hanya mbak Iswati yang kulihat tua dan kurus.  Tetapi dua puluh tahun silam pun, ia juga seperti itu. Ini berarti, pertambahan tingkat penuaannya tak bergerak mengikuti deret ukur maupun deret hitung. Ia stagnan. Berhenti di tempat. Kalaupun saat itu dia sedang terserang sakit, hanyalah batuk biasa. Penyakit musiman yang banyak menyerang siapa saja di kala musim penghujan. Apalagi jika stamina sedang menurun akibat lelah atau kurang tidur. Oh ya, seniorku ini pasti terserang batuk akibat kurang tidur. Ia baru saja menyelesaikan tulisan yang akhirnya memenangkan Piala Adinegoro. Anugerah tertinggi di bidang jurnalistik.  Tentu dia bekerja keras dan dalam jangka waktu lama untuk itu. Usia boleh tua, semangat kerja tetap muda. Itulah kesanku terhadapnya.

Ratu Elty

Mbak Elti. Kawan lamaku ini sepertinya mampu melawan gerak pertambahan usia. Tak sedikit pun tanda-tanda tua di wajahnya. Tetap imut dan masih suka bercanda. Gayanya di depan kamera, sebelas-duabelas, jika disandingkan dengan model profesional. Hanya nasib yang membuat keduanya jauh berbeda. Mbak Elti berpose untuk suka-suka, si model beraksi demi menggemukkan pundi-pundi.

Ign Gunarto

Mas Gunarto. Hanya sedikit waktu aku berjumpa kembali dengannya. Ia datang sebentar pada saat acara Ulang Tahun Jayakartanews.com berlangsung. Singkat. Tetapi, kendati tak lama berjumpa ia bercerita terkena stroke ringan. Namun aku melihat penampilannya masih tampak gagah. Mungkin, aroma kecantikan sang istri yang saat itu mendampingi,  menyetrum wajahnya sehingga tampak berseri-seri.

Rina Ginting

Mbak Rina Ginting. Wanita bercucu satu ini jauh dari kesan oma-oma. Dulu, aku ingat betul dia sering membawa buah hatinya yang masih kecil ke kantor. Sekarang pun, seandainya dia datang dengan menggandeng sang cucu, aku akan menyangka si cucu itu sebagai anaknya.

Roso Daras

Mas Roso Daras. Seperti Mbak Rina Ginting. Di mataku, pria ini sukses membuat penampakannya jauh lebih muda dibanding usianya. Saat berpidato, tutur katanya mantap walaupun menurutku warna suaranya agak memberat.  Pengaruh lelah mungkin. Ia menyetir mobil dari Jakarta ke Yogyakarta menempuh jarak 550 km lebih. Dari sorot matanya, aku melihat semangat dan optimisme yang luar biasa. Mas Roso Daras seperti siap memimpin barisan Jayakartanews.com serapi ia mencukur kumisnya, seteratur ia merawat janggutnya. Skenario ke depan yang gemilang pada media online yang baru berusia dua tahun ini seperti sudah bisa saya duga. Bersama komandan Roso Daras, ia akan melesat cepat bak roket terlepas ke angkasa.

Rombongan Jayakarta News di depan pintu masuk Candi Prambanan. (foto: dok jayakarta news)

Untuk kawan-kawan di luar redaksi, mohon maaf, saya tidak memiliki referensi. Saat menjadi reporter di Koran Jayakarta, saya tidak punya kewenangan apa pun untuk menghadiri acara-acara lintas divisi. Karena itu saya baru mengenal kawan-kawan dari bagian keuangan, sirkulasi, iklan dan lain-lain di luar yang berhubungan dengan redaksi, pada saat ketemuan di Yogya tempo hari. Jadi saya tidak memiliki perbandingan untuk berkomentar. Saya hanya bisa merasakan bahwa semua kawan-kawan lama Jayakarta yang hadir di Yogyakarta, nyaris tak menampakkan usia tua.  Prosesi tiga hari non stop mereka ikuti dengan semangat empat-lima dan full tawa canda. Penuh kegembiraan.

Aku jadi berpikir-pikir, apa yang membuat mereka semua mematahkan dugaan-dugaan kelamku yang membayangkan mereka berwajah tua dan penyakitan? Guyub, rukun, dan gembira. Tiga faktor itu yang aku rasakan selama tiga hari bersama kawan-kawan Jayakarta. Di ulang tahun kedua Jayakartanews.com itu aku mendapatkan pelajaran berharga bahwa persahabatan yang gembira adalah kunci penting untuk merawat usia.

Resep merawat usia itu semakin sempurna dengan kehadiran Bapak Aqua Dwipayana. Ia motivator yang tak hanya memotivasi lewat kata-kata, tetapi juga melalui teladan perilakunya. Berbagi tanpa pandang bulu, egaliter tanpa syarat, dan berkarya sampai wafat.

Aku pernah mengenal sesosok motivator kondang yang dahsyat kata-katanya, tetapi ia pelit berbagi, pun anak sendiri dikhianati.

Kawan-kawan Jayakarta dan Aqua Dwipayana, dua kekuatan yang bersatu menjadi sebuah kado istimewa. (Ernaningtyas)

Bersama motivator Aqua Dwipayana. (Foto: dok jayakarta news)
Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *