Ingin Santap Semua Makanan Lezat

 Ingin Santap Semua Makanan Lezat
Kiri: Herman Hakim Galut diapit putri kesayangan, Heny (kiri) dan istri tercinta, Yenny (kanna). Itulah foto terakhir mereka bertiga. Kanan: Jazat Herman Hakim Galut sesaat setelah mengembuskan napas terakhirnya di Christ Houses, Washington DC. (Foto: Dok. Keluarga)
Oleh Roso Daras

SEWINDU satu kantor dengan almarhum Herman Hakim Galut, saya hanya terkesan satu hal: Dia orang yang serius. Serius saat bekerja. Serius saat rapat redaksi. Bahkan serius saat bercanda….

Sungguh, saya baru mendapat perspektif yang berbeda tentang Herman Galut, justru ketika berbincang lewat whatsapp dengan Heny, putri semata wayang yang meninggalkan tempat tinggalnya di San Diego, untuk menemani hari-hari terakhir sang papa di Washington DC. “Hi Om, this is his daughter,” sapa Heny lewat WA.

Penuturan Heny menggambarkan, betapa Herman menghadapi hari-hari terakhirnya dengan sangat santai. Sangat jauh dari kesan serius yang melekat di benak saya. “Hari-hari terakhir, papa ingin makan semua makanan lezat, dan saya berusaha membuat semua keinginannya menjadi kenyataan,” tulis Heny dalam bahasa Inggris.

Heny menyuapi papanya makan makanan kesukaannya, Babi Hong. Makanan ala Cina yang dimasak khusus oleh Yenny, istri Herman. (Foto: Dok Keluarga)
Heny membawakan dan menyuapkan makanan udang dan pok choy kesukaan papanya. Hari berikutnya, Heny membawakan paket bento. (foto: dok keluarga)

Menu pertama yang dibawakan Heny adalah Babi Hong (kheu nyuk). Menu yang sekilas mirip daging gepuk ala Sunda, atau daging semur. Bedanya, daging yang digunakan adalah daging babi, dan dimasak ala China. Itu salah satu makanan lezat kesukaan Herman Galut. “Mama yang memasakkan khusus buat papa,” kata Heny seraya menambahkan, “saya ingat, itu hari Rabu, empat hari sebelum beliau wafat, hari Minggu kemarin.”

Hari berikutnya, Kamis, Heny khusus membelikan udang dan pok choy dari restoran Cina favorit papanya. Hari Jumat, Heny membawakan menu bebek dari restoran Thailand, yang juga merupakan salah satu restoran kesukaan Herman Galut. Hari Sabtu-nya, Heny membawakan menu bento ala Jepang.

“Semua makanan yang saya bawakan, dimakan dengan sangat lahap. Saya lihat papa bugar, dan sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda sekarat. Entahlah. Yang pasti, papa memang suka mengecilkan penyakitnya, terutama kalau ada saya dan mama. Ia tidak mau orang-orang mengkhawatirkannya,” kenang Heny, masih lewat WA dan diketiknya dalam bahasa Inggris.

Selama sakit ia dirawat di Christ House, dan semua orang di “Rumah Kristus” itu mencintai dan menyambut hangat kehadirannya di sana. Kegemaran bermain musik, masih tetap dimainkan bersama teman-temannya.

Sabtu 20 Oktober 2018, sehari sebelum wafat, Herman Hakim Galut memberi kejutan kecil kepada putri kesayangan, Heny. Ia mencukur plontos rambut keritingnya. Bahkan ketika Heny datang, ia mencoba melucu dengan menggerak-gerakkan kepala ke kiri dan ke kanan sambil tertawa-tawa. Sama sekali tidak ada tanda-tanda maut telah dekat.

Foto kiri, Herman sebelum potong rambutnya. Kanan, Herman setelah mencukur habis rambutnya. (Foto: Dok. Keluarga)

Meski begitu, Heny tahu persis bagaimana kondisi fisik yang sebenarnya. Perasaan Heny seperti terserang shock kecil, ketika papanya meminta ia dan mamanya datang besok, hari Minggu, tanpa membawa makanan. Ya, tanpa membawa makanan apa pun. Herman menyatakan ingin lebih banyak waktu di hari Minggu bersama istri dan anak. Atas permintaan itu, Heny hanya mengangguk dalam, dan tanpa ragu sedikit pun untuk menjawab, “kami akan datang, pa….”

Sebelum berpamitan hari Sabtu yang terasa kelabu itu, saya menguatkan diri untuk mengatakan, “Pa… saya harus kembali ke San Diego, dan kembali bekerja pada hari Kamis. Saya tidak ingin papa khawatir dan stres tentang segalanya. Jika papap ingin ‘pergi’ maka ‘pergilah’ dengan tenang. Aku bisa mengurus semuanya di dini dengan mama, dan kami akan baik-baik saja.”

Mendengar kalimat melo putri kesayangan, Herman masih tersenyum dan menjawab, “Oh… tenang saja. Saya akan hidup lima tahun lagi.” Heny pun tertawa dan segera memeluk papanya seraya berkata, “Oke pa…. saya harap papa hidup lebih lama lagi.” Heny dan papa saling melempar kata cinta, dan berjanji ketemu lagi besok.

Hari Minggu pun datang, Heny dan Yenny, mamanya, pergi ke Basilica di DC untuk menghadiri misa pertama. Setelah misa, Heny mendapat telepon dari Christ House dan seorang perawat mengabarkan kondisi papa yang memburuk. Sejak Sabtu malam, kadar oksigennya turun menjadi 50% dan sejak itu mereka memakaikan masker oksigen untuk bisa meningkatkan hingga 80%. Tingkat oksigen normal sekitar 90-an, dan Herman tidak pernah bisa mencapai level itu.

“Saya memberi tahu perawat sedang dalam perjalanan ke sana. Sekitar 15 menit mengemudi menuju Christ House, kembali telepon bordering. Suster Mari di ujung telepon mengabarkan papa sudah tiada…. Papa dinyatakan meninggal dunia pukul 09.00 waktu setempat, hari Minggu tanggal 21 Oktober 2018,” tulis Heny.

Seketika Heny teringat percakapan hari Rabu, empat hari sebelumnya. Percakapan empat mata. “Kalau saya meninggal, tolong jangan menangisi saya. Saya ingin kamu dan keluarga bahagia dan merayakan hidup saya….” Heny menuliskan apa yang diucapkan papanya hari itu, “When I pass away, please don’t cry over me. I want you and the family to be happy and celebrate my life.”

Demi mengingat itu, Heny mengaku benar-benar berusaha menahan air mata agar tidak jatuh, saat melihat jenazah papanya kemarin. Ia bangga akan sosok Herman Hakim Galut, papanya. “I believe that my dad was a great journalist, broadcaster and a little bit of a politician too. Even when he was sick, he was still reading a lot of books about politics and religions. He enjoyed reading and writing so much.”

Menurut Heny, jenazah papanya akan dikremasi di Genesis Cremation and Funeral Services, 5732 Georgia Avenue, N.W., Washington DC dalam waktu dekat. Setelah itu, abunya akan dibawa pulang ke Ruteng, Manggarai, NTT, tempat kelahiran Herman Hakim Galut. “Saya dan mama akan mendampingi (abu jenazah) papa,” ujar Heny.

Genesis Cremation and Funeral Services yang akan mengkremasi jazad Herman Hakim Galut. Abunya, akan dibawa pulang ke Ruteng, NTT oleh Yenny dan Heny, istri dan anak almarhum.

Kanker Usus Besar

Di kesempatan terpisah, Yenny K. Soehanda mengatakan, bahwa suaminya mengidap sakit jantung untuk waktu yang cukup lama. Selain jantung, almarhum juga didiagnosa mengicap colon cancer (kanker usus besar) tahun 2016. Awal tahun 2017, seharusnya ia sudah bebas dari kanker tersebut, dengan menjalani serentetan terapi radiasi dan kemoterapi. Sayang, penyakit jantung yang diidap menyebabkan proses perawatan kemoterapi tidak dapat dilanjutkan. Pihak rumah sakit menghentikannya akhir tahun 2017.

Masuk tahun 2018, Herman Hakim Galut kembali mengalami serangan jantung, dan sempat dirawat di ICU MedStar Washington Hospital selama tiga hari. Setelah kondisinya stabil, Herman mendaftarkan diri ikut program rumah perawatan di Christ House, sebab tidak ada yang bisa dilakukan lebih di rumah sakit.

Fungsi jantungnya dideteksi hanya 20% dan tiada guna baginya untuk menjalani kemoterapi dan radiasi lain. Mereka hanya memberinya obat untuk membuat nyaman. Kiranya, saat ini Herman Hakim Galut sudah nyaman di sisi Tuhan. Selamat jalan kawan, kami akan merayakan hidupmu, seperti keinginanmu. ***

Digiqole ad

Related post

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *