“Jayakarta”, Kenangan 26 Tahun Lalu

 “Jayakarta”, Kenangan 26 Tahun Lalu

LOGO ‘’Jayakarta News’’ yang berwarna biru dengan font putih itu tiba-tiba membawa saya pada kenangan lama: 26 tahun lalu. Saat itu, namanya hanya ‘’Jayakarta’’ saja. Kenangan saya terhadap ‘’Jayakarta’’ sungguh mendalam. Sebab, inilah salah satu koran yang membuat saya bisa membiayai kuliah. Bisa membuat saya menjadi ‘’pengusaha’’ semasa berstatus mahasiswa.

Saat kuliah di Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, Semarang, tahun 1991, saya memang punya profesi ganda: mahasiswa sekaligus pengusaha. Saya itu saya menjadi pemilik agen koran dan majalah ‘’Satria Agency’’ yang bermarkas di Jalan Satria, Poncol, Semarang Barat.

Dari berbagai merek media, ‘’Jayakarta’’ menjadi koran andalan untuk pasar dosen dan mahasiswa di kampus Undip Imam Bardjo. Selain halaman utamanya berwarna, ‘’Jayakarta’’ mematok harga sangat bersahabat. Saat itu, harga jual satu eksemplar koran rata-rata Rp 500.  Hanya ‘’Jayakarta’’ yang dijual dengan harga Rp 200 per eksemplar. Harga khusus itu distempel merah dengan ukuran besar ‘’Harga Khusus Semarang Rp 200.’’

Perhitungannya begini. Harga agen Rp 75 per eksemplar. Harga pengecer Rp 100 per eksemplar. Keuntungan agen Rp 25 per eksemplar. Keuntungan pengecer Rp 100 per eksemplar. Meski berstatus agen, saya bukanlah agen resmi ‘’Jayakarta’’. Saya mengambil jatah koran dari ‘’Erlangga Agency’’, juragan aneka media di Jalan Erlangga, tak jauh dari kampus Undip Imam Bardjo.

Sehari, saya mengambil jatah ‘’Jayakarta’’ sebanyak 200 eksemplar atau dua koli. Koran itu saya jual sendiri dari fakultas ke fakultas. Kalau bisa menjual habis, dalam sehari saya mendapat penghasilan Rp 100 x 200 eksemplar = Rp 20.000.  Sebulan saya berjualan koran 26 hari. Keuntungan kotor per bulan Rp 400.000.

Selain menjual ‘’Jayakarta’’, saya juga memasarkan majalah ‘’Tempo’’ harga mahasiswa. Saya agak lupa-lupa ingat, berapa harga ‘’Tempo’’ saat itu. Kalau tidak salah, harga resminya Rp 4.900 per eksemplar. Harga mahasiswa Rp 2.900 per eksemplar.  Harga pengecer khusus mahasiswa Rp 1.900. Keuntungan Rp 1.000 per eksemplar. Untung dari ‘’Tempo’’ cukup lumayan. Dengan pelanggan 250 orang, satu bulan saya punya penghasilan kotor Rp 1.000 x 250 x 4 = Rp 1.000.000.

Dari dua media itu saja, penghasilan saya setiap bulan mencapai Rp 1.400.000. Sebagian keuntungan tersebut saya gunakan untuk menggaji empat ‘’loper’’.  Sebenarnya mereka bukan loper betulan. Mereka teman-teman kuliah saya yang sering kesulitan uang. Untung bersih setelah dipotong biaya loper rata-rata Rp 600.000 per bulan.

Untuk ukuran mahasiswa saat itu, punya uang Rp 600.000 per bulan sudah boleh dibilang ‘’tajir’’. Biaya kos-kosan sekaligus kantor ‘’Satria Agency’’ yang berada di lingkungan perumahan kelas menengah itu hanya Rp 50.000 per bulan.

Sementara teman-teman kuliah saya saat itu kebanyakan tinggal di kos-kosan seharga Rp 15.000 per bulan. Satu kamar dihuni berramai-ramai hingga 4 orang. Mereka umumnya mahasiswa dari luar kota yang hanya mengandalkan kiriman orang tua. Istimewanya, teman-teman saya ini tergolong tekun dan tidak mau terganggu kuliahnya. Indeks prestasinya selalu di atas 3. Beda dengan saya. Sudah kuliahnya lama, indeks prestasinya hanya 2,4 saja! Gara-gara ‘’Jayakarta’’, saya jadi ‘’pengusaha’’! ***

Digiqole ad

Related post

3 Comments

  • Hebat Mas joko Intarto, dengan jualan koran bisa kuliah, memang Jayakarta membawa berkah untuk semua, termasuk saya gabung dengan Jayakarta 1991 – 1997 bisa mensarjanakan dua orang Putri, selamat untuk Mas Joko Intarto dan jayakartanews.com serta para management saat ini

  • wahhh hebat inspiratif bgt

  • Pak joko, apakah bapa kenal R. Soeprapto?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *