Soal Gempa Megathrust Mentawai, Doni: Tak Perlu Khawatir Berlebihan

 Soal Gempa Megathrust Mentawai, Doni: Tak Perlu Khawatir Berlebihan

Ilustrasi—Peta potensi bencana di Indonesia–sumber BNPB

Presiden @jokowi: Ke depan juga sudah saya sampaikan ke Pak Doni, Kepala@BNPB_Indonesia untuk melakukan penanganan alamnya juga. Misalnya penanganan mangrove, bakau untuk mengurangi (dampak) tsunami sebelum masuk ke sebuah wilayah—foto KSPgoid

Peneliti Utama LIPI sekaligus Ahli Geologi dan Gempa Bumi, Danny Hilman Natawidjaja mengatakan, energi megathrust Mentawai sudah mulai terlepas, seperti yang terjadi pada tahun 2007 dengan gempa 6,4 magnitudo dan 7,7 magnitudo pada 2010. “Kalau belum dilepaskan maksimal 9 magnitudo. Maka sisa tenaga yang masih tersimpan berkurang menjadi 8,8 magnitudo” katanya.

Selain megathrust Mentawai, juga ada ancaman lainnya, seperti gempa darat di sesar Sumatera yang melewati Bukittinggi, Solok dan daerah lainnya. Begitu juga dengan ancaman backthrust. Namun saat ini ia mengharap pemerintah terus fokus menghadapi megathrust Mentawai, karena memiliki ancaman yang lebih besar.

“Kita tidak bisa menutup mata bawah salah satu kelemahan adalah peringatan dini dan kesiapsiagaan mitigasi,” ujarnya sebagaimana dikutip dari laman BNPB.

‘Alam Takambang Jadi Guru’ merupakan salah satu pepatah Minangkabau yang diungkapkan Kepala BNPB, Doni Monardo, saat berbicara pada Rapat Koordinasi (rakor) Mitigasi dan Penanganan Bencana Gempa dan Tsunami di Aula Gubernuran Sumatera Barat, pada hari Rabu (6/2)–foto bnpb instagram

Menurut hasil penelitian yang dilakukannya rentang waktu gelombang tsunami mencapai daratan Mentawai berkisar 10-15 menit pasca gempa besar yang bersumber dari titik megathrust Mentawai, sementara gelombang akan mencapai Padang sekira 30 menit. Maka dengan rentang waktu yang minim dan kondisi lingkungan Sumatera Barat saat ini,  pemahaman masyarakat untuk menyelamatkan diri menjadi faktor utama dalam kesiapsiagaan menghadapi ancaman ini.

Dalam kesempatan terpisah Kepala BNPB, Letjen TNI Doni Monardo mengimbau kepada seluruh masyarakat yang tinggal di zona rawan gempa dan tsunami untuk segera mencari tempat yang aman, tiga menit pertama setelah terjadinya gempa dengan intensitas tinggi. Hal ini, agar dapat meminimalisir dampak korban jiwa yang timbul.

Jika 30 detik gempa dengan intensitas tinggi, maka tiga menit pertama, segeralah mencari tempat aman. Jangan tunggu alarm atau sirine berbunyi. Lari ke tempat tinggi. Dari sekaranglah, kita siapkan segala sesuatunya. Kalau ada pohon besar juga jangan ditebang, karena sewaktu-waktu bisa digunakan,” ujar Doni.

Menurut Doni, apa yang dihadapi saat ini (gempa dan tsunami), bukan lah perkara tiba-tiba terjadi. “Semua merupakan tanda-tanda alam. Megathrust Mentawai, diketahui sudah mulai melepaskan energinya. Maka dari itu, seluruh komponen haruslah saling melengkapi, saling bantu membantu. Dan, tentunya, tidak perlu khawatir secara berlebihan. Waspada iya,” ujarnya.

“Belajarlah dari alam. Bencana alam itu dari alam, jika kita siap, peristiwa alam tidak akan menjadi bencana alam. Kita juga harus memperhatikan beberapa hal yang bisa membantu atau mengurangi risiko bencana, seperti infrastruktur, bandara, dan bangunan tepi pantai yang bisa digunakan untuk shelter,” ujar Doni.

Selain itu, Doni juga menegaskan, seluruh kabupaten dan kota yang ada di Indonesia, harus memperhitungkan benar IMB, sesuai daerah masing-masing. Kota Padang contohnya, berdasarkan data yang ada, Padang merupakan daerah dataran rendah. Ketinggian rata-rata permukaan daratan Kota Padang ini, kurang dari 10 meter. Sehingga. Kalau ada gelombang lebih dari 10 meter, maka bisa menghantam area dengan radius 2,5 kilometer dari bibir pantai,

“Nah, ini harus diperhatikan. Harus ada pemasangan tanda-tanda zona bahaya. Sehingga, masyarakat pun lebih siap. Rute evakuasi, harus diketahui. Mau siang mau malam juga harus kelihatan, apalagi kalau sampai lampu mati pas kejadian. Lakukan simulasi malam hari,” kata Doni.

Khusus untuk kabupaten Kepulauan Mentawai, Doni menegaskan, BNPB akan memberikan bantuan radio komunikasi berupa telepon satelit kepada camat-camat yang ada. Sehingga, komunikasi dapat dioptimalkan.

“Pemberian telepon satelit, di setiap kecamatan yang rawan untuk mem-backup sistem komunikasi. Telkom akan dibantu oleh TNI untuk memperkuat jaringan komunikasi, penggunaan komob (mobil komunikasi) dengan pengawasan yang ketat dan ada komitmen untuk pemeliharaan, genset, backup untuk listrik, PLN dan PDAM, atau solar cell untuk komunikasi yang selalu siap, dan fasilitator untuk pelatihan,” ujarnya.

Seratusan gunung aktif dan saling silang patahan bumi, membuat Indonesia berdiri di atas cincin api. Alam terus berkomunikasi dan tidak pernah diam. Fenomenanya di masa lalu merupakan bahan pembelajaran. Sudah sangat banyak pelajaran yang kita terima. Memikirkan mitigasi merupakan cara kita menghindari bencana. Doni mengatakan, mitigasi bencana paling baik adalah berdamai dengan alam. Pepatah bilang alam terkembang menjadi guru, kita wajib jadi murid agar tak jadi debu. Proses belajar dengan alam ini untuk memperhitungkan generasi masa depan umumnya di Indonesia.***/ebn

 

 

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *