Banjir dan Tanah Longsor Hantam Padang Pariaman Sumbar, 11 Nagari Terdampak

JAYAKARTA NEWS— Banjir Dan Tanah Longsor Menghantam Padang Pariaman, Sumatera Barat pada Jumat (4/10), pukul 17.00 WIB. Kejadian ini dipicu intensitas hujan tinggi yang menyebabkan debit air di sungai Batang Ulakan, Batang Sei Gimba, dan Batang Tapakih meningkat. Selain banjir intensitas hujan yang tinggi juga menyebabkan struktur tanah menjadi labil sehingga terjadi longsor.

Peristiwa ini menyebabkan 11 Nagari (Desa) di tujuh Kecamatan terdampak, adapun sebaran wilayah terdampak meliputi, Nagari Sungai Sariak di Kecamatan VII Koto, Nagari Gasan Gadang di Kecamatan Batang Gasan, Nagari Campago di Kecamatan V Koto, Nagari Kampuang Galapuang Ulakan, Nagari Seulayat Ulakan, Nagari Sungai Gimba Ulakan dan Nagari Sandi Ulakan di Kecamatan Ulakan Tapakih, Nagari Parik Malintang di Kecamatan Anam Lingkuang serta Nagari Pauah dan Nagari Kapalo Koto di Kecamatan Nan Sabaris.

Berdasarkan data yang diterima Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sebanyak 1.102 KK atau 4.411 warga terdampak, sebanyak 160 KK atau 480 warga dilaporkan mengungsi sementara, di masjid-masjid, balai masyarakat dan rumah tetangga serta kerabat yang tidak terdampak banjir dan tanah longsor. Tercatat material terdampak baik sarana dan prasarana akibat peristiwa ini sebanyak 1.615 unit rumah terendam, dua unit rumah tertimbun tanah longsor, badan jalan penghubung antar Nagari Sungai Sariak – Nagari Toboh Ketek tertimbun material longsor serta badan jalan di Kecamatan IV Koto Aua Malintang terendam setinggi 50 – 100 cm.

Kondisi terkini, beberapa daerah masih diguyur hujan dengan intensitas sedang hingga lebat serta pembersihan badan jalan di Kecamatan VII Koto masih terus dilakukan. Adapun kebutuhan mendesak untuk mempercepat penanganan meliputi penambahan alat berat, perahu karet, makanan siap saji, selimut serta dapur umum harus segera dipenuhi.

BPBD Kabupaten Padang Pariaman bersama dinas PUPR, TNI, Polri, serta pemerintah setempat sudah berkoordinasi guna melakukan pendataan serta penanganan.***/din

Longsor Tambang Ilegal Solok, 15 Meninggal Dunia

JAYAKARTA NEWS— Tanah longsor menerjang kawasan tambang ilegal di Kabupaten Solok, Provinsi Sumatra Barat, pada Kamis (26/9/2024), pukul 17.00 WIB. Sebanyak 15 penambang meninggal dunia akibat tertimbun material longsor.

Insiden tersebut terjadi setelah adanya hujan deras di kawasan tambang ilegal. Pantauan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Solok menyebutkan struktur tanah labil berkontribusi pada peristiwa itu. Titik terdampak berlokasi di Nagari Sungai Abu, Kecamatan Hiliran Gumanti.

Dari 15 warga meninggal dunia, sebanyak 4 orang telah berhasil dievakuasi dari lokasi kejadian. Laporan sementara BPBD menyebutkan 7 lainnya masih dalam proses pencarian. Kejadian ini juga mengakibatkan 3 orang luka berat.

BPBD dan unsur terkait masih melakukan operasi pencarian dan pertolongan. Personel gabungan dari TNI, Polri dan Basarnas serta dukungan warga setempat membantu dalam operasi darurat tersebut.

Kondisi terakhir, upaya pencarian, pertolongan dan evakuasi masih terkendala kondisi medan yang terdampak longsor. Di samping itu, lokasi kejadian sulit dijangkau oleh kendaraan.

BNPB mengimbau personel gabungan dan warga untuk berhati-hati dalam melakukan operasi di lapangan, khususnya longsor susulan atau kondisi tanah berlumpur. Saat ini wilayah Kecamatan Hiliran Gumanti masih hujan petir dan esok, Sabtu (28/9), masih berpeluang hujan.***/din

Kisah Berdirinya Kerajaan Pagaruyung di Sumatera Barat

JAYAKARTA NEWS – Kerajaan Pagaruyung adalah salah satu kerajaan yang terletak di Sumatera Barat, Indonesia. Dikenal sebagai kerajaan yang kaya akan budaya dan sejarah, Pagaruyung memiliki peran penting dalam perkembangan politik dan sosial di wilayah Sumatera Barat.

Asal Usul dan Pendiri Kerajaan Pagaruyung
Kerajaan Pagaruyung didirikan oleh Adityawarman pada abad ke-14. Adityawarman adalah seorang bangsawan dari Majapahit yang memiliki darah campuran dari keturunan Melayu dan India. Ia dikirim ke Sumatera Barat oleh Majapahit untuk menguasai daerah tersebut dan mengendalikan perdagangan emas yang sangat penting pada masa itu. Pendirian Kerajaan Pagaruyung tidak hanya sebagai pusat kekuasaan politik tetapi juga sebagai pusat kebudayaan dan agama.

Masa Kejayaan Kerajaan Pagaruyung
Pada masa pemerintahannya, Adityawarman berhasil mengonsolidasikan kekuasaan di Sumatera Barat dan menjadikan Pagaruyung sebagai pusat perdagangan dan kebudayaan. Kerajaan ini menjadi terkenal dengan kekayaannya dalam emas, yang menjadi komoditas utama dalam perdagangan internasional pada masa itu. Hubungan dagang dengan berbagai kerajaan dan kesultanan di Nusantara dan Asia Tenggara lainnya memperkuat posisi Pagaruyung sebagai kekuatan ekonomi yang signifikan.

Selain perdagangan, Pagaruyung juga menjadi pusat perkembangan agama Buddha dan Hindu. Adityawarman yang dikenal sebagai pemeluk agama Buddha, mendirikan banyak candi dan tempat ibadah di wilayah kerajaannya. Hal ini menunjukkan bahwa Pagaruyung memiliki hubungan yang erat dengan pusat-pusat agama di Jawa dan India.

Perkembangan Sosial dan Budaya
Kerajaan Pagaruyung juga dikenal dengan perkembangan sosial dan budayanya yang maju. Sistem pemerintahan kerajaan ini berbasis pada adat Minangkabau yang sangat kental dengan nilai-nilai matrilineal. Sistem matrilineal ini, di mana garis keturunan dan warisan diturunkan melalui pihak ibu, memberikan peran penting kepada perempuan dalam struktur sosial.

Adat dan budaya Minangkabau yang berkembang di Pagaruyung mencakup berbagai aspek kehidupan seperti hukum, seni, dan arsitektur. Rumah Gadang, rumah tradisional Minangkabau dengan atap berbentuk tanduk kerbau, menjadi simbol arsitektur yang khas dan menunjukkan kekayaan budaya dan estetika masyarakat Pagaruyung.

Masa Kemunduran dan Perpecahan
Kemunduran Kerajaan Pagaruyung dimulai pada akhir abad ke-16 hingga awal abad ke-17. Salah satu faktor utama yang menyebabkan kemunduran ini adalah konflik internal di antara bangsawan dan perebutan kekuasaan. Selain itu, masuknya pengaruh Islam yang semakin kuat di wilayah Sumatera Barat mengubah dinamika politik dan sosial di Pagaruyung.

Perpecahan dalam keluarga kerajaan dan perebutan tahta menyebabkan kerajaan ini terpecah menjadi beberapa kekuasaan kecil yang saling bersaing. Pada awal abad ke-19, Pagaruyung mengalami serangan dari pasukan Padri yang dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol. Perang Padri, yang berlangsung dari tahun 1803 hingga 1838, menghancurkan banyak aspek kehidupan sosial dan ekonomi Pagaruyung.

Penaklukan Belanda dan Akhir Kerajaan
Pada pertengahan abad ke-19, Belanda mulai melakukan ekspansi ke wilayah Sumatera Barat. Pada tahun 1821, Kerajaan Pagaruyung resmi ditaklukkan oleh Belanda. Penaklukan ini menandai akhir dari kekuasaan kerajaan dan dimulainya era kolonial di wilayah tersebut.

Belanda mengubah struktur pemerintahan tradisional dan memperkenalkan sistem administrasi kolonial. Namun, nilai-nilai adat dan budaya Minangkabau tetap bertahan dan menjadi dasar perlawanan terhadap kekuasaan kolonial. Tokoh-tokoh seperti Tuanku Imam Bonjol dan Haji Piobang memainkan peran penting dalam perjuangan melawan penjajahan Belanda.

Warisan dan Pengaruh Kerajaan Pagaruyung
Meskipun kerajaan ini sudah tidak ada lagi, warisan dan pengaruhnya tetap hidup dalam budaya Minangkabau dan sejarah Indonesia. Adat dan tradisi yang berkembang di Pagaruyung masih dipraktikkan oleh masyarakat Minangkabau hingga saat ini. Rumah Gadang dan sistem matrilineal menjadi simbol kekuatan budaya yang diwariskan dari Kerajaan Pagaruyung.

Selain itu, sejarah Kerajaan Pagaruyung menjadi bagian penting dalam narasi sejarah nasional Indonesia. Kisah tentang kejayaan, perjuangan, dan kemunduran Pagaruyung memberikan pelajaran berharga tentang kekuatan budaya, politik, dan ekonomi yang dapat dicapai oleh masyarakat lokal sebelum era kolonial.

Kerajaan Pagaruyung memainkan peran penting dalam sejarah Sumatera Barat dan Indonesia secara keseluruhan. Berdiri di atas fondasi kekayaan alam dan budaya, kerajaan ini mencapai masa kejayaannya sebagai pusat perdagangan dan kebudayaan di Nusantara.

Meskipun mengalami kemunduran akibat konflik internal dan serangan dari luar, warisan dan pengaruh Pagaruyung tetap hidup dalam adat dan tradisi Minangkabau.

Sejarah Kerajaan Pagaruyung mengajarkan kita tentang pentingnya menjaga nilai-nilai budaya dan perjuangan untuk mempertahankan identitas dalam menghadapi berbagai tantangan zaman. (Heri)

PT KBI Dukung Penguatan Gudang di Sumatera Barat

JAYAKARTA NEWS – PT Kliring Berjangka Indonesia (KBI) terlibat aktif dalam mendukung upaya Pemerintah Provinsi Sumatera Barat menuju ketahanan pangan nasional yang digagas pemerintah pusat. Terkait hal itu pula, sejumlah lembaga bersinergi membahas jalinan kerjasama.

Kegiatan yang dibuka Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah itu dimotori oleh Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Sumatera Barat dan Kadin Sumbar. Hadir perwakilan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), PT Kliring Berjangka Indonesia (KBI), Kliring Perdagangan Berjangka Indonesia (KPBI – anak usaha KBI) serta Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia.

Dari PT KBI, tampak hadir Direktur Pengembangan Bisnis dan Operasional, Saidu Solihin, didampingi direksi PT KPBI, Yose Skundarisa bersama Komisaris Independen PT KBI, Egy Massadiah.

Optimalisasi Resi Gudang

Pemerintah Provinsi Sumatera Barat akan mengoptimalkan keberadaan gudang-gudang yang tersebar di daerahnya guna mencapai program ketahanan pangan nasional yang digagas pemerintah pusat. “Presiden dan Menteri Pertanian sudah menyampaikan bahwa pada 2045 Indonesia akan menjadi lumbung pangan dunia, sehingga perlu penguatan. Salah satunya optimalisasi resi gudang bagi petani,” kata Gubernur Sumbar Mahyeldi di kantor BI Perwakilan Sumbar, Jl, Sudirman 32, Padang, Rabu (29/5).

Mahyeldi berharap, setelah acara, keberadaan lima resi gudang di Sumatera Barat menjadi lebih optimal. Untuk diketahui, Provinsi Sumatera memiliki gudang yang berlokasi di Kabupaten Pasaman Barat, Kabupaten Solok, Kabupaten Tanah Datar dan dua di Kabupaten Limapuluh Kota.

Dukungan PT KBI

Terkait hal itu, Direktur Pengembangan Bisnis dan Operasional, Saidu Solihin menyatakan, KBI sangat mendukung. Selain itu, juga mendorong agar resi gudang bisa segera berjalan, menopang usaha komoditas di Padang, fokus kepada komoditi gambir dan beras.

Hal senada disampaikan oleh Kepala BI Perwakilan Sumbar, Endang Kurnia Saputra. Menurutnya, salah satu keuntungan yang diperoleh para petani apabila memanfaatkan keberadaan resi gudang sebagai tempat penyimpanan hasil pertanian adalah dapat dijadikan agunan ke bank untuk pinjam modal.

Keuntungan lainnya, para petani bisa menentukan kapan waktu yang tepat untuk menjual komoditas miliknya. Artinya, skema resi gudang dapat menjaga stabilisasi harga yang menguntungkan petani.

Penguatan atas pentingnya pemanfaatan resi gudang, juga disampaikan para narasumber lain. Mereka adalah Eka Nusa dan Heryono Hadi Prasetyo, Kepala Biro Pembinaan dan Pengembangan Sistem Resi Gudang dan Pasar Lelang Komoditas Bappebti, Hendra Hartono (Komite Tetap Perundingan Bilateral Kadin Indonesia), dan Dr. Ir. Audy Joinaldy, S.Pt., M.Sc., M.M., IPM, ASEAN.Eng (Wakil Gubernur Sumatera Barat). (*)

Gunung Marapi Erupsi, Status Level III Siaga

JAYAKARTA NEWS— Gunung api Marapi di Sumatra Barat kembali erupsi pada Kamis (30/5) pukul 13.04 WIB. Erupsi ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 30.4 mm dan durasi sementara ini sekitar 2 menit 2 detik.

Kolom abu teramati sekitar 2.000 meter di atas puncak. Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah barat laut. Dentuman pada erupsi kali ini terdengar sampai dengan pos Pengamatan Gunung api Marapi di Bukittinggi, Sumatra Barat.

Saat ini status Gunung api Marapi berada pada Status Level III (Siaga).

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau warga masyarakat yang tinggal di sekitar Gunung api Marapi untuk selalu waspada dan tidak melakukan kegiatan dalam wilayah radius 4,5 kilometer dari pusat erupsi (kawah Verbeek) Gununga api Marapi.

Masyarakat diimbau untuk menjauhi daerah aliran sungai yang berhulu ke Gunung api Marapi dan waspada terhadap potensi risiko bahaya lahar yang dapat terjadi terutama saat terjadi hujan. Masyarakat hendaknya memakai masker penutup hidung dan mulut untuk menghindari dampak jika terjadi hujan abu.

Seluruh pihak agar menjaga suasana yang kondusif di masyarakat, tidak menyebarkan narasi bohong (hoax), dan tidak terpancing isu-isu yang tidak jelas sumbernya. Masyarakat harap selalu mengikuti arahan dari Pemerintah Daerah.***/din

Update Banjir Bandang Agam: Korban Meninggal Bertambah Jadi 19 Orang

JAYAKARTA NEWS— Korban meninggal dunia akibat banjir bandang dan tanah longsor yang menerjang Kabupaten Agam, Sumatera Barat, tercatat menjadi 19 orang berdasarkan laporan yang diterima BNPB pada hari Minggu (12/5) pukul 16:40 WIB. Selain jumlah korban jiwa yang bertambah, korban hilang terdata sebanyak 2 jiwa sementara 19 orang mengalami luka-luka.

Selain itu, wilayah terdampak pun meluas menjadi enam kecamatan dari sebelumnya hanya tiga kecamatan. Kecamatan tersebut di antaranya Kecamatan Sungai Pua di kelurahan Pasar Usang dan Kelurahan Silaing Bawah, Kecamatan Canduang, Nagari Koto Bukik Batabuah, Kecamatan IV Koto, Nagari Koto Tuo, serta Kecamatan Ampek Angkek, Kecamatan Malalak, dan Kecamatan Palembayan.

Petugas gabungan yang dikoordinasikan oleh BPBD Kabupaten Agam hingga kini masih melakukan upaya-upaya penanganan darurat bencana.

Tim Reaksi Cepat BPBD Kabupaten Agam melaporkan, hingga sore ini sebanyak 159 jiwa telah dievakuasi ke pengungsian yang terletak di dua lokasi, yakni 60 jiwa di SMPN 1 Koto Tuo sebanyak dan 74 jiwa di SD 08 Kubang Putiah Duo Koto Panjang, Nagari Bukik Batabuah. Sementara itu 25 kepala keluarga lainnya diungsikan ke rumah warga.

Banjir bandang dan tanah longsor ini juga menyebabkan kerugian materil. Tercatat sebanyak 193 unit rumah terdampak, 15 unit di antaranya rusak ringan (RR) dan 23 unit rumah mengalami rusak berat (RB). Sementara itu 72 hektare lahan terdampak.

Hingga saat ini disamping melakukan upaya penanganan darurat, BPBD setempat juga masih terus melakukan pemutakhiran data dampak dari banjir dan tanah longsor tersebut.***/din

Update Banjir Lahar Dingin Tanah Datar: Korban Meninggal Bertambah Jadi 13 Orang

JAYAKARTA NEWS— Tim pencarian dan pertolongan gabungan menemukan kembali korban bencana banjir lahar dingin Tanah Datar, Sumatera Barat pada Minggu (12/5) siang. Total korban jiwa atas bencana banjir lahar dingin di Tanah Datar hingga hari ini pukul 12.00 WIB menjadi 13 orang. Tim pencarian dan pertolongan gabungan masih terus melakukan upaya evakusi warga terdampak.

Berdasarkan pembaharuan data yang diterima BNPB, korban jiwa pada peristiwa banjir ini terdiri dari 13 orang meninggal dunia, tujuh orang dilaporkan hilang, 12 orang luka-luka dan 84 KK terdampak.

Sementara itu kerugian prasarana terdampak yaitu 84 unit rumah terdampak, 16 jembatan terdampak, dua fasilitas ibadah terdampak, dan 20 ha sawah terdampak.

Kondisi lalu lintas dari Kabupaten Tanah Datar – Padang – Solok lumpuh total. Sementara untuk kondisi jalan di antar nagari masih lumpuh dibeberapa titik dan harus mencari jalan alternatif.

BPBD Kabupaten Tanah Datar dibantu tim Basarnas, TNI, Polri dan unsur terkait lainya masih terus berupaya melakukan penanganan darurat, pendataan serta pertolongan untuk warga terdampak banjir lahar dingin.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau masyarakat Kabupaten Tanah Datar yang bermukim di sekitar bantaran sungai yang berhulu ke Gunung Marapi agar selalu waspada akan potensi risiko bahaya susulan.***/din

Akses Jalan Nasional Padang Panjang ke Bukittinggi Terendam Banjir Lahar Dingin

JAYAKARTA NEWS— Banjir lahar hujan atau yang biasa disebut banjir lahar dingin terjadi di Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat, pada Jumat petang lalu (5/4), pukul 16.30 WIB. Fenomena ini membawa material vulkanik Gunung Marapi yang dikeluarkan pascaerupsi. Kejadian tersebut berlangsung setelah hujan lebat di kawasan hulu atau sekitaran puncak gunung.

Peristiwa tersebut berdampak pada terganggunya akses jalan nasional Padang Panjang – Bukittinggi. Ruas jalan tersebut terendam banjir lahar. Laporan terkini yang diterima oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan, personel BPBD Kabupaten Tanah Datar dan tim gabungan lintas instansi masih melakukan pembersihan sisa-sisa material vulkanik. Para petugas juga menyedot air pada gorong-gorong di sisi jalan nasional.

Kondisi jalan nasional yang berada di wilayah Nagari Aia Angek, Kecamatan X Koto, masih terendam dan mengakibatkan terganggunya lalu lintas kendaraan serta aktivitas masyarakat

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tanah Datar mengimbau masyarakat agar waspada, khususnya mereka yang tinggal di sekitar sungai yang berhulu dari puncak gunung.

Selain itu, tim gabungan masih terus membantu proses pemulihan akses Jalan nasional yang terdampak dengan pengerahan alat berat berupa loader, ekskavator serta truk penyedot air dari dinas pekerjaan umum setempat untuk membersihkan material dari ruas jalan. Dilaporkan dalam peristiwa ini terdapat 1 unit check dam rusak dan 1 unit kedai warga terdampak oleh banjir lahar dingin, sementara Tim Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana BPBD Kabupaten Tanah Datar beserta tim gabungan lintas instansi masih melakukan pendataan dan monitoring di lapangan.

Laporan BPBD kabupaten Tanah Datar menyebutkan wilayah desa atau nagari terdampak berada di Nagari Aia Angek, Sabu, Sungai Jambu, Lima Kaum dan Sungai Tarab.***/din

Doni Monardo: Orang Minang Pedagang, Bukan Penambang

JAYAKARTA NEWS— Novelis Ali Akbar Navis, pengarang “Robohnya Surau Kami” yang fenomenal itu, punya julukan khusus untuk kota kelahirannya: Padang Panjang. “Padang Panjang adalah kota yang berbahagia”. Hawanya yang sejuk, cocok menjadi “Kota Pelajar”.

Adalah Letjen TNI Purn Dr (HC) Doni Monardo, pria berdarah Minang yang kini merisaukan julukan “kota yang berbahagia”. Pasalnya, ia melihat banyaknya kerusakan alam di bumi Sumatera Barat, terutama akibat penambangan.

Kerisauan Doni sudah lama dirasakan. Makin risau ketika ia mendapat amanat Presiden Jokowi memimpin Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) 2019 – 2021.

Dalam berbagai kunjungan ke Sumatera Barat (terkait kebencanaan), ia melihat langsung bagaimana sungai-sungai tidak lagi jernih airnya. Longsor yang mendera serta banjir bandang yang memilukan.

Pencemar sungai adalah praktik penambangan liar. Sekalipun banyak penambang liar ditindak aparat keamanan, faktanya, keberadaan mereka masih marak di lapangan.

Persoalan Sumatera Barat ternyata bukan hanya pada persoalan penambangan liar. Sekadar contoh, berdasarkan hasil pemantauan Tim Gabungan BNPB, Harian Kompas, dan pemerhati lingkungan hidup di Solok Selatan pada akhir 2019, ditemukan fakta bahwa kawasan hutan lindung yang berada di daerah aliran sungai Batanghari telah mengalami kerusakan parah.

Kerisauan Doni ditumpahkan saat ia memberi kuliah umum di hadapan sekitar 400 an mahasiswa ISI Padang Panjang. Acara ini berlangsung 2 jam pada hari Jumat, 21 Oktober 2022 di Gedung Pertunjukan Huriah Adam.

Doni mengajak masyarakat Minang secara umum, serta generasi muda pada khususnya untuk sama-sama menjaga alam Minang agar pulih. Alam yang lestari bukan hanya untuk kita, tetapi warisan bagi generasi yang akan datang.

Dalam kesempatan itu Doni juga menyampaikan kerisauannya terhadap abrasi yang terjadi di Pantai Padang.

“Waktu kecil saya sering lari-lari, main bola di pinggir pantai. Saya ingat, jarak bibir pantai dengan jalanan relatif jauh, tapi kondisi sekarang berbeda sekali. Jarak bibir pantai ke jalan semakin dekat karena abrasi,” kata Doni Monardo.

Doni mengajak masyarakat Minang tanpa kecuali untuk melakukan penyelamatan Pantai Padang dengan opsi mitigasi berbasis vegetasi. Antara lain dengan pembentukan Tombolo.

Yang pertama dengan metode submerged offshore breakwater (Pemecah gelombang lepas pantai terendam) dan Detached offshore breakwater (Pemecah gelombang lepas pantai terpisah). Kelak ombak yang membawa pasir, lambat laun menciptakan gumuk pasir, yang kemudian bisa menjadi tambahan “daratan” baru.

Peran Seniman

Dalam kesempatan itu, Doni juga menceritakan pengalamannya mengatasi problem lingkungan di berbagai daerah. Antara lain program Citarum Harum (Jawa Barat) dan penambangan liar Gunung Botak (Pulau Buru – Maluku).

Pengalaman itu pula yang menyadarkannya bahwa para seniman memiliki peranan penting dalam upaya pelestarian lingkungan. “Para mahasiswa ISI Padang Panjang mestinya juga turut mengambil peran dalam pelestarian lingkungan, baik melalui karya maupun terjun langsung ke lapangan. Dan yang tak kalah pentingnya melakukan perubahan perilaku,” tutur Letjen Doni Monardo.

Para mahasiswa ISI Padang Panjang diharap mampu menjadi bagian dari ecocracy (kedaulatan lingkungan hidup) yang akan mengemban tugas dalam pembenahan lingkungan sekaligus meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar.

Selain kental dengan citra “seniman”, Sumatera Barat juga dikenal banyak melahirkan tokoh-tokoh politik dan ekonomi. Stigma orang Minang pandai berdagang, adalah stigma yang melekat secara turun-temurun.

Bagi Doni Monardo, kemampuan berdagang orang Minang adalah sesuatu yang harus dikembangkan agar makin banyak melahirkan para entrepreneur. Semakin banyak pengusaha, semakin makmur sebuah daerah, atau bangsa.

Profesi sebagai pedagang sebagai ciri orang Minang, jauh lebih terhormat dibanding profesi sebagai “penambang”. Apalagi penambang liar, yang bukan saja merusak alam, tetapi juga profesi yang merugikan. Bukan saja merugikan secara ekonomi juga secara sosial. “Orang Minang itu pedagang, bukan penambang,” tegas Doni.

Berbicara soal “saudagar”, ini juga relevan dengan tuntutan zaman. Seperti diketahui, maju-tidaknya suatu negara, sangat dipengaruhi berapa jumlah saudagarnya. Semakin banyak saudagar di suatu negara, maka semakin maju negara itu.

Indonesia, tercatat baru sekitar 3 persen penduduknya yang berprofesi sebagai pengusaha. Sementara negara-negara maju lebih dari 10 persen. Untuk itulah, ISI juga harus mampu menjawab tuntutan zaman, sekaligus tuntutan kebutuhan, tentang hadirnya jiwa-jiwa entrepreneur.

Dewan Penyantun

Hadirnya Doni Monardo di ISI Padang Panjang, tak terpisahkan dari statusnya sebagai anggota Dewan Penyantun di perguruan tinggi yang terlahir dengan nama ASKI (Akademi Seni Karawitan Indonesia) pada tahun 1965 lalu menjadi STSI itu.

Seperti diketahui, sepanjang karier militer, Doni belum pernah bertugas di daerah Minang. Padahal, ia berdarah Minang, baik dari garis ayah maupun ibu. Sebaliknya, daerah-daerah yang mendapat sentuhan pengabdiannya sebagai militer antara lain Sulawesi Selatan, Aceh, Maluku, Jawa Barat, dan lain-lain.

Di luar karier militer, Doni menjabat Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) 2019 – 2021, sekaligus Ketua Gugus Tugas/Satuan Tugas Penagangan Covid-19. Saat ini ia menjabat Komisaris Utama PT MIND ID dan Ketua Umum Pengurus Pusat PPAD (Persatuan Purnawirawan TNI Angkatan Darat).

Alhasil, ketika pihak ISI Padang Panjang memintanya duduk di Dewan Penyantun, tidak ada keraguan sedikit pun untuk menerimanya. Nama-nama lain yang bersinergi dengan Doni seperti Jusuf Kalla, Mufidah Jusuf Kalla, Andrinof Chaniago, Prof Fasli Djalal, Syahrul Ujud (Mantan Walikota Padang) dan lain-lain.

Sungguh bukan suatu kebetulan, ketika ia hadir dan berbicara di ISI Padang Panjang. Doni telah mencermati sejumlah kearifan lokal yang membuktikan keterkaitan yang sangat erat antara alam dan seni-budaya.

Alhasil, kehadiran Doni Monardo memberi kuliah umum di ISI Padang Panjang, dimanfaatkan untuk bertemu kerabat lama. Selain mengunjungi kampungnya Sungai Tarab serta Lintau Buo di Tanah Datar, Doni juga menyempatkan diri berziarah ke makam leluhur, termasuk mendiang ayah-ibunya. Di luar itu semua, Doni tak lupa memanjakan moment kepulangan ke Sumatera Barat untuk berburu kuliner yang terkenal lamak bana.

Kearifan Lokal

Kepedulian terhadap alam, di sejumlah daerah menjadi akar pengembangan seni dan budaya. Ia mengambil contoh dua provinsi yang kita sama-sama ketahui maju dalam hal seni dan budaya, yakni Bali dan Yogyakarta, yang berbasis kearifan lokal.

Di Bali hampir semua pranata kehidupan sosial dan budaya masyarakatnya disandarkan atas dasar filosofi “Tri Hita Karana”. “Tri” yang berarti tiga, “Hita” yang berarti kebahagiaan dan “Karana” yang berarti penyebab. “Tiga penyebab terciptanya kebahagiaan”.

Konsep kosmologi Tri Hita Karana merupakan konsep yang dapat melestarikan keaneka ragaman budaya dan lingkungan di tengah hantaman globalisasi. Hakikat tri hita karana menekankan tiga hubungan manusia dalam kehidupan di dunia ini. Ketiga hubungan itu meliputi hubungan dengan sesama manusia, hubungan dengan alam sekitar, dan hubungan dengan ke Tuhan yang saling terkait satu sama lain.

Di Yogyakarta, terdapat satu filosofi luhur “memayu hayuning bawana”. Filosofi itu dijadikan pondasi pendirian Negara Yogyakarta Hadiningrat pada 13 Maret 1755 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I. Secara harfiah artinya “mempercantik indahnya dunia”.

Ia kemudian menjadi falsafah hidup melindungi keselamatan dunia baik lahir maupun batin. Masyarakat berkewajiban “memayu hayuning bawana” atau memperindah keindahan dunia. Manusia harus memelihara dan memperbaiki lingkungan fisiknya. Di pihak lain, secara abstrak, manusia juga harus memelihara dan memperbaiki lingkungan spritualnya. Pandangan tersebut memberikan dorongan bahwa hidup manusia tidak mungkin lepas dari lingkungan.

Terbukti, seni dan budaya di Bali dan Yogya tumbuh subur hingga hari ini.

Bagaimana dengan Tanah Minang? Budaya Minangkabau juga mewariskan filosofi hidup yang kurang lebih sama: “Alam Takambang Jadi Guru”. Secara harafiah bisa diartikan “Alam Terkembang Menjadi Guru”.

Falsafah Minang, didasarkan kepada pengajaran yang berasal dari hukum agama dan alam. “Alam Takambang Jadi Guru” mengajarkan orang Minangkabau untuk mengambil pengalaman dari berbagai fenomena dan kejadian alam sebagai bentuk inspirasi, pengalaman hidup, ide dan pola berpikir.

Di sini alam tidak hanya berarti unsur alam saja (seperti air, tanah, angin, dll), tetapi juga lingkungan dimana kita berada. Seorang Minang diharapkan belajar dari lingkungan sekitar: tentunya menjaga alam dari kerusakan.

***Laporan Egy Massadiah dari Minangkabau

Mandeh, Surga Tersembunyi di Pesisir Selatan

Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat ternya menyimpan objek wisata yang sangat indah. Sebelas-duabelas dengan Raja Ampat yang ada di Papua sana. Nama objek wisata yang ada di Pesisir Selatan adalah Kawasan Wisata Bahari Mandeh. Anda bisa mencapai lokasi ini dengan 4 jam perjalanan darat dari kota Padang.