Sumbar Dalam Bayang-bayang Ancaman Gempa Megathrust Mentawai

 Sumbar Dalam Bayang-bayang Ancaman Gempa  Megathrust Mentawai
Kepala Badan Nasional Penangulangan Bencana (BNPB), Doni Monardo–foto bnpb

Bukan menakut-nakuti. Namun data Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut Sumatera Barat memiliki potensi gempa megathrust di Kepulauan Mentawai. Peneliti Utama LIPI yang juga ahli Geologi dan Gempa Bumi, Danny Hilman Natawidjaja menyebut, gempa besar dan tsunami masih mengancam Sumatera Barat. “Bahaya megathrust Mentawai masih menyimpan energi 8,8 SR,” tegasnya.

Seperti diketahui,  mengutip  data BNPB terjadi gempa bumi berkekuatan M6 berpusat di 121 km tenggara Kepulauan Mentawai pada 2 Februari 2019 pukul 16.27 WIB, kemudian gempa susulan sebanyak 52 kali. Tidak ada korban jiwa. Kerusakan bangunan berupa satu mercusuar yang tidak terpakai roboh di Sikakap, 1 puskesmas dindingnya retak di Malakopak.

“Dalam beberapa hari belakang  sudah ada 52 gempa yang berada di perairan Sumbar. Letaknya berdekatan di daerah lempeng Mentawai. Ini bisa memicu gempa besar. Masyarakat jangan lengah, harus waspada,” kata Danny Hilman.

Hal senada juga disampaikan Doni Monardo, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana, meminta agar Pemprov Sumatera Barat beserta Pemerintah Kota dan Kabupaten, untuk waspada dan siap dalam menghadapi ancaman bencana gempa bumi dan tsunami.  “Pemerintah Provinsi dan Kabupaten Kota ke depannya harus lebih siap lagi, apalagi kita sudah tahu bahwa telah terjadi gempa di wilayah Mentawai,” ujar Doni Monardo usah menghadiri Rapat Koordinasi Mitigasi dan Penanganan Bencana Gempa dan Tsunami di Padang, baru-baru ini.

Telah terjadi erupsi G. Kerinci, Jambi dan Sumatera Barat pada tanggal 19 Januari 2019 pukul 07:34 WIB dengan tinggi kolom abu teramati ± 200 m di atas puncak (± 4.005 m di atas permukaan laut)–foto PVMBG

Sumbar, lanjutnya, termasuk daerah yang memiliki hampir semua  potensi bencana. Mulai dari vulkanologi seperti  Gunung Marapi, Gunung Talang dan Gunung Kerinci, patahan Lempeng Semangka, Megathrust Mentawai serta siklus tahunan (hindrometeorologi) seperti bencana banjir dan tanah longsor. Oleh sebab itu, ujar Doni, semua pihak harus siap baik itu pemerintah daerah maupun masyarakat setempat.  “Namun begitu, masyarakat Sumbar jangan takut dan panik. Ini potensi ancaman. Yang perlu dilakukan adalah meningkatkan kewaspadaan,” tambah Doni.

Dalam Rapat Koordinasi (rakor) Mitigasi dan Penanganan Bencana Gempa dan Tsunami di Aula Gubernuran Sumatera Barat, Doni menyampaikan sebuah pepatah Minangkabau,  ‘Alam Takambang Jadi Guru’ . Doni maknai pepatah tersebut dalam bahasa Indonesia menjadi  ‘Alam terkembang (terbentang luas) dijadikan sebagai guru’.

Pepatah ini mengajarkan kepada masyarakat untuk senantiasa menjadikan alam sebagai guru. Kita belajar pada alam yang menyajikan berbagai fenomena. Mengamati apa yang ada di alam bisa membuat sebuah pembelajaran yang sangat berharga bagi ilmu kebencanaan. Ilmu sains dan teknologi dapat dijadikan pemandunya.***/ebn

 

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *