SMP Eksperimental Mangunan

 SMP Eksperimental Mangunan
Susana belajar Di kelas. Ada dua guru, seorang mengajar Di depan, seorang lagi mengamati siswa. Foto: Ernaningtyas

JUSUP Bilyarta (JB) Mangunwijaya atau yang kondang dengan panggilan Romo Mangun bercita-cita membangun sistem pendidikan dasar yang berpihak pada anak di Indonesia, mulai dari SD hingga SMP.  Tahun 1994, sembari menyelesaikan sistem tersebut, ia mendirikan SD dengan cara menghidupkan kembali SD Kanisius Mangunan yang hampir mati karena kekurangan murid.

Akan tetapi cita-cita membangun SMP tak pernah terwujud sampai Romo Mangun wafat pada tahun 1999. Sembilan tahun setelah penulis novel “Burung-burung Manyar” ini menghadap Sang Pencipta, mimpi itu menjadi kenyataan. Tahun 2018 SMP Eksperimental Mangunan (SMP E Mangunan) resmi berdiri di areal SD Eksperimental Mangunan yang berlokasi di Jalan Raya Jogja-Solo Km 12 Mangunan, Kalitirto, Berbah, Sleman, Yogyakarta.

“SMP E Mangunan ini berdiri sebagai perwujudan sistem pendidikan dasar yang berpihak pada anak-anak sesuai dengan cita-cita Romo Mangun,” tutur Romo Mulyatno, Ketua Yayasan Dinamika Edukasi Dasar (DED) yang menaungi SD dan SMP E Mangunan. Mulyatno menuturkan bahwa semasa hidupnya Romo Mangun pernah gundah melihat pendidikan dasar di Indonesia. Sekolah menjadi ajang kompetisi dengan semangat pabrik. Yang terjadi kemudian adalah jiwa saling “membunuh”. Tolok ukur keberhasilan hanya terpatok pada nilai atau ranking. “Pada kenyataannya, setiap anak memiliki potensi yang berbeda-beda, dengan demikian sebenarnya tidak ada anak yang bodoh,” tambahnya.

SMP E Mangunan mengembangkan pendidikan eksperimental. Eksperimental menggambarkan sifat sekolah dengan guru-guru, murid-murid serta orang tua yang terus bereksperimentasi.  Eksperimentasi adalah pembelajaran yang bertolak pada pengalaman anak-anak, guru maupun orang tua. Anak-anak terus-menerus didampingi untuk mengenali bakat atau potensi yang menjadi modal mereka.

Di salah satu kelas, murid-murid belajar sambil duduk lesehan. Foto: Ernaningtyas

Ada tujuh modal dasar yang dikembangkan yakni karakter dan religiusitas, bahasa, orientasi diri, matematika dan logika berpikir, pengenalan piranti, kerjasama, kinestetik dan kesehatan jasmani.  “Jadi proses belajar bertolak dari dan mengembangkan modal dasar anak untuk memekarkan diri secara eksploratif, kreatif dan integral,” jelas Mulyatno. Dikatakan, bahwa di SMP E Mangunan anak-anak tidak sekedar mengejar nilai pelajaran, bahkan nilai bukan yang utama, tetapi pembentukan karakter anak menjadi prioritas. Di SMP E Mangunan proses menjadi lebih penting dari pada sekadar hasil akhir.

Religiusitas penting untuk menumbuhkan tata nilai yang menjadi bekal hidup anak sehari-hari.  Melalui religiusitas anak-anak dituntun untuk hormat terhadap hidup serta mencintai dan mengagumi penciptanya. “Tata nilai itu bukan pelajaran, tetapi seperti matahari, ia melingkupi seluruh proses pembelajaran di SMP E Mangunan,“ kata Mulyatno.

Sementara bahasa penting agar anak bisa mengenali diri serta mampu mengekspresikan diri. Ditambahkan, untuk pembelajaran, SMP E Mangunan tetap mengacu kepada kurikulum 2013, karena sekolah ini nantinya akan mendaftarkan diri sebagai sekolah formal. Di tahun pertamanya, SMP E Mangunan mendampingi 45 siswa dari 50 kuota yang disediakan. Mereka dibagi dalam dua kelas paralel, Nusa 1 dan Nusa 2.

Anak-anak SMP E Mangunan ketika memeriahkan acara HUT Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus. Foto: Ernaningtyas

Di sekolah ini para siswa tidak mengenakan seragam, tidak ada buku paket. Ruang kelas ditata lebih santai. Tempat duduk dibuat tanpa sandaran dan posisi murid saling berhadapan seperti sedang menghadiri perjamuan di sebuah meja makan panjang.  Lanskap sekolah diata seperti perkampungan di daerah pedesaan. Ruang kelas terbuat dari materi dinding bambu atau kayu.

Di setiap awal perjumpaan di pagi hari, siswa siswi dan para guru selalu bertegur sapa, mengucap salam dan bertukar senyum. Setiap memberikan materi pelajaran, ada dua guru yang masuk ke dalam kelas. Seorang mengajar, seorang lagi mencatat perkembangan anak. “Kehadiran dua guru ini dimaksudkan agar jika ada sesuatu masalah bisa segera ditindaklanjuti,” kata Mulyatno.

Mulyanto bercita-cita Sekolah Mangunan yang dikelolanya bisa menjadi miniatur Indonesia. Di tempat ini keberagaman sangat dijunjung tinggi. Siswa siswi berasal dari berbagai lapisan sosial, beragam suku bangsa dan agama. SMP E Mangunan juga menerima siswa ABK (anak berkebutuhan khusus). Mulyatno menuturkan, pada awalnya sekolah hanya membatasi empat anak ABK. Masing-masing kelas dua anak. Tetapi, ternyata jumlah yang mendaftar melebihi angka kuota. “Ini justru tantangan bagi kami, para guru pun saya besarkan hatinya agar mereka tetap semangat mendampingi anak ABK yang membutuhkan perhatian ekstra,” tambahnya.

Pelajaran kepanduan. Belajar membuat tali-temali. Foto: Ernaningtyas

Senang Sekolah  

Siswa siswi SMP E Mangunan mengaku senang bersekolah. Zen misalnya, siswa kelas 7 Nusa 1 ini bertekad tidak akan pernah izin sekolah. “Sekolah di Mangunan sangat menyenangkan karena ada pelajaran retorika apalagi saat membahas tema pacaran,” katanya. Menurut Zen, guru-gurunya pun sangat bersahabat, seperti teman sendiri dan tidak ada yang bertampang seram.

Lilo, kelas Nusa 2 pun seperti Zen, senang sekolah di SMP E Mangunan. “Aku krasan sekolah di sini karena kawannya banyak dan baik-baik semua,” kata Lilo. Sementara Exel menyatakan bahwa SMP E Mangunan sangat berbeda dengan sekolah SD tempat menimba ilmu sebelumnya. “Sekolah di SMP Mangunan tidak bikin galau dan pelajarannya menyenangkan,” tuturnya.

Siswa lain, Lusia mengaku sebelum masuk, dia tidak tahu seperti apa sekolah di Mangunan. Setelah bergabung, dia memiliki pengalaman unik berkawan dengan ABK. Lusia mengakui, pada awalnya ada perasaan enggan berkawan dengan ABK. Bukan karena menolak mereka, tetapi Lusia tidak tahu bagaimana harus berkomunikasi dengan ABK yang memiliki keunikan masing-masing antara lain gangguan emosi, mudah tantrum, sensitif, sulit berkomunikasi dll. “Saya tidak pernah menyangka bakal berkawan dengan anak ABK,” aku Lusia.

Setelah sekian waktu bergaul, Lusia justru bersyukur karena akhirnya dia bisa ikhlas menerima kawan ABK dengan kondisi apa pun. Bahkan ia merasa wajib membantu kawan ABK dalam setiap pembelajaran di kelas maupun di luar ruang seperti menjelaskan pelajaran, membenarkan ucapan, mengajak mereka bermain bersama, dll.

Dalam setiap kesempatan membicarakan tema pendidikan, almarhum Romo Mangun selalu mengungkapkan, “Di mana hati diletakkan, di situlah proses belajar dimulai”. Dalam mendampingi anak-anak setiap hari, SMP E Mangunan selalu menjunjung tinggi kata-kata Romo yang terkenal dengan aktivitasnya membela rakyat miskin di bantaran Kali Code Yogyakarta maupun Grigak Wonosari DIY. ***

Kepala sekolah, ibu Ovi (kiri depan), menemani Siswa SMP E Mangunan menyambut api Asian Games Di JL Raya Jogja – Solo. Foto: Ernaningtyas
Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *