Gelar Pawai Budaya Desa Pakijangan

 Gelar Pawai Budaya Desa Pakijangan
Karnaval warga Desa Pakijangan, Kecamatan Wonorejo, Pasuruan, Jawa Timur memeriahkan HUT Proklamasi Kemerdekaan, akhir Agustus lalu. Foto: Iswati

KARNAVAL, acap digelar dalam rangkaian peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia selain upacara pengibaran bendera. Pelaksanaan karnaval tidak selalu tepat pada 17 Agustus. Selama masih bulan Agustus kegiatan menyemarakkan “Agustusan” terus dilakukan masyarakat di pelbagai kota maupun di kecamatan hingga desa-desa. Salah satunya Desa  Pakijangan.

Desa kecil di Kecamatan Wonorejo, Kabupaten Pasuruan Jawa Timur, ini benar-benar unjuk kreativitas dalam memeriahkan HUT RI ke-73 akhir Agustus lalu. Tak tanggung-tanggung, desa berpenduduk sekitar 4.600 jiwa ini menggelar karnaval yang lebih pas disebut Pawai Budaya karena muatan seni yang diusungnya. Pesertanya warga setempat sebanyak lebih seribu orang yang terbagi dalam 23 kontingen/kelompok.

Masing-masing kelompok mengenakan kostum beragam. Mulai pakaian adat,  busana raja, mahapatih, pasukan kerajaan, uniform bermacam profesi seperti tentara, atlet hingga kostum-kostum aneh hasil kreasi anak-anak muda kampung Pakijangan. Sang Kepala Desa Pakijangan, Suprapto, juga terlibat di dalamnya ikut pawai dengan menunggang kuda mengenakan seragam dinas putih-putih yang biasa dikenakan aparat saat momen penting, sementara istrinya, Atik Suprapto berhias seperti ratu atau putri raja.

Kepala Desa Pakijangan, Suprapto dan istri ikut memeriahkan karnaval dengan menaiki kuda. Foto: Iswati

Masyarakat Kecamatan Wonorejo sangat antusias menyaksikan pawai budaya ini. Daya magnitnya adalah penampilan kostum peserta dengan riasan wajah yang cukup berkarakter. “Kreativitas anak-anak muda di sini sangat bagus. Saya hanya memotivasi,“ kata Suprapto. Kaiikutsertaannya di barisan peserta, aku pak kades ini, biar warganya tambah semangat.

Karnaval Agustusan biasanya diselenggarakan pihak kecamatan, namun belakangan kegiatan ini jarang ditampilkan. Karena itu warga Pakijangan mengadakan Pawai Budaya sendiri untuk memeriahkan Agustusan. “Peringatan Hari Kemerdekaan Ini kan untuk mengenang nilai-nilai dan semangat kepahlawanan pejuang kemerdekaan,“ tambah Suprapto.

Meski hanya tingkat desa, namun Pawai Budaya ini mengingatkan orang pada Jember Festival yang sudah mengglobal dan menjadi agenda pariwisata nasional. Inspirasi Jember Festival tentu sah-sah saja, namun Pawai Budaya semarak yang ditampilkan warga Desa Pakijangan membuat penonton angkat topi.

Ternyata tak hanya show budaya yang membuat desa ini beda. Pakijangan dikenal pula kebersihannya. Selain jalan lingkungan beraspal atau mapping blok untuk gang-gang dan lorong-lorong yang tertata rapi, sungai maupun saluran air di desa ini juga bersih.

Menurut Suprapto, di desanya juga terdapat dua koperasi yaitu koperasi khusus wanita dan koperasi syariah, serta beberapa kelompok usaha bersama. Pembangunan infrastruktur desa berkat kucuran Dana Desa yang merupakan program nasional dalam memajukan desa, diakui Kades Pakijangan dua  periode ini sangat membantu percepatan pembangunan desanya.

Ia dan segenap perangkat desa bertekad dapat memanfaatkan dana desa dengan baik dan tepat. Setelah pembangunan infrastruktur tertata, ke depan fokus kegiatan desa akan lebih menggerakkan sektor perekonomian, di antaranya dengan meningkatkan pelatihan-pelatihan keterampilan bagi  warga desa. (isw)

Festival Jember pun menjadi inspirasi warga Desa Pakijangan dalam memeriahkan momen Agustusan. Foto : Iswati

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.